Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PGM 18: Jajal Ilmu Baru


__ADS_3

*Pendekar Gila Mabuk (PGM)* 


 


Tirana dan Kerling Sukma berkelebat dari atas kereta kuda. Mereka mendarat bak sepasang dewi turun dari pelangi ke hadapan Joko Tenang dan Getara Cinta. Sinar hijau yang menyelimuti tubuh sepasang suami istri itu telah padam.


“Apa yang terjadi, Kakang?” tanya Tirana heran.


“Entahlah, kita hanya bisa menduga. Mungkin Ratu lebih tahu,” jawab Joko Tenang.


Mereka semua merasa heran dengan kejadian yang dialami oleh Joko Tenang. Meski di dalam tubuh suami mereka ada Permata Darah Suci, seharusnya permata itu tidak bisa aktif karena Joko Tenang tidak memiliki tenaga dalam untuk sementara.


Seperti yang Malaikat Serba Tahu umpamakan, Permata Darah Suci itu seperti minyak dan tenaga dalam adalah apinya. Namun, terbukti kini Permata Darah Suci milik Joko Tenang bisa bangkit serta memberikan kekuatan dan kesaktian baru.


“Setiap aku membangkitkan kekuatan Permata Darah Suci di dekat Kakang, maka Permata Darah Suci dalam tubuh Kakang juga bangkit. Pada hubungan malam pengantin, Kakang bersinar, tetapi tidak sampai membuat Kakang mendapat kesaktian itu. Tapi kali ini berhasil,” tutur Getara Cinta.


“Bisa diduga bahwa kedua Permata Darah Suci yang Ratu dan Kakang miliki adalah sepasang kekasih yang saling menyambut,” kata Tirana menyimpulkan.


“Mungkin seperti itu,” kata Getara Cinta.


“Meski sekarang aku memiliki tenaga dalam, tetapi tetap saja aku belum bisa menggunakan satu pun ilmu yang aku miliki sebelumnya,” kata Joko Tenang.


“Masih ada empat orang yang harus kita singkirkan,” kata Kerling Sukma. Ia lalu tersenyum senang sambil merangsek memeluk lengan kekar suaminya, “Giliran aku dan Kakang yang bertarung bersama.”


“Hahaha!” tertawalah Joko Tenang lalu mencium singkat pipi kiri Dewi Mata Hijau.


Tirana dan Getara Cinta turut tertawa melihat tingkah Kerling Sukma.


Blep!


Sepeti mati lampu karena belum bayar tagihan listrik, tiba-tiba alam menggelap. Suasana senja yang masih terang tiba-tiba laksana tengah malam tanpa cahaya dian sedikit pun.


“Empat Setan Penjuru sudah menyerang,” kata Getara Cinta.


Kondisi seperti ini sudah pernah mereka alami sebelumya ketika meninggalkan kediaman Nyi Lampingiwa.


Sesszz!


Sama juga seperti sebelumnya, tiba-tiba dari atas langit yang gelap muncul hujan sinar merah. Dan sama seperti sebelumnya, Kerling Sukma mengerahkan ilmu perisai Payung Kebajikan. Satu tombak di atas mereka terbentang sinar merah tipis, datar dan luas.


Ces ces ces…!


Puluhan sinar merah itu jatuh pada bidang sinar merah dan melebur.

__ADS_1


“Ratu, lindungi yang lain dengan Selubung Alam! Aku mau coba ilmu baru!” seru Joko Tenang cepat sebelum datang serangan lain dari langit yang gelap.


Tik! Swiit!


Getara Cinta menjentikkan jarinya di atas kepala. Maka kubah sinar hitam langsung muncul mengurung ketiga wanita itu. Sementara Joko Tenang sudah melesat ke dinding hitam ilmu Alam Maut milik Setan Empat Penjuru.


Joss!


Kedua tangan Joko berubah menjadi warna hijau, tetapi tidak memancarkan sinar hijau. Meski demikian, Joko Tenang tahu bahwa ilmu yang tidak memiliki nama itu punya kekuatan yang dahsyat, mungkin sebanding dengan kekuatan ilmu Surya Langit Jagad.


Buuum!


Dan ketika tinju kanan Joko Tenang menghantam dinding gelap ilmu Alam Maut, suara dentuman keras menggema hebat di daerah itu. Suaranya sampai ke Padepokan Hati Putih. Resi Tambak Boyo dan murid-muridnya hanya bereaksi dengan memandang ke langit. Namun, mereka tidak tahu apa yang terjadi.


Namun, bagi ketiga istri Joko Tenang, mereka tidak melihat dan merasakan apa pun dari hantaman yang mengguncangkan dalam dan luar kurungan Alam Maut.


Ketika Joko Tenang meninju dinding hitam itu, ilmu Alam Maut pun sirna. Seiring itu, keempat orang yang disebut Setan Empat Penjuru yang sedang duduk bersila di empat titik berjauhan, terjengkang dan langsung muntah darah. Kondisi seperti ini juga pernah mereka rasakan, ketika Joko Tenang menghantam ilmu mereka dengan pukulan Surya Langit Jagad.


Seketika berubah terang kembali, seperti judul lagu Yus Yunus 2006 “Terang Kembali”, tetapi suasana alam cukup berubah. Beberapa pohon terdekat tampak tumbang tercabut bersama akar-akarnya. Sejumlah bebatuan besar berserakan seperti habis terguling atau berpindah tempat. Kereta kuda Joko Tenang telah berpindah tempat menjadi agak jauh, seolah sengaja mengamankan diri dari arena pertarungan.


Namun, Joko Tenang tidak mau terpaku. Seiring munculnya kembali ketiga sosok istrinya karena ilmu Selubung Alam dicabut oleh Getara Cinta, ia segera melompat ke udara.


“Ratu Belalang!” seru Joko Tenang memberi isyarat.


Sementara Tirana dan Getara Cinta juga menghilang dari tempatnya berdiri, mereka melesat kea rah lain.


Kerling Sukma membawa peluk tubuh suaminya dalam terbangnya ke arah utara. Saat tiba di titik yang mereka tuju, mereka melihat seorang lelaki botak plontos baru saja bangkit dari jatuhnya.


Lelaki berpakaian biru gelap itu terkejut dengan kemunculan Joko Tenang dan Kerling Sukma yang begitu cepat.


Zerzz!


“Aaakk!” jerit lelaki botak itu saat lima aliran listrik hijau telah menyergap tubuhnya.


Kerling Sukma kembali menggunakan Lompatan Ratu Belalang untuk mengejar anggota Setan Empat Penjuru yang kabur di titik timur. Ia membiarkan suaminya menghabisi anggota Setan Empat Penjuru berkepala botak itu.


Akhirnya, lelaki botak itu berhenti menjerit dan bergerak. Joko Tenang menghentikan ilmu listriknya. Si botak tumbang dengan seluruh kulit tubuh menghijau gelap dan mengeluarkan asap tipis berbau sangit.


Sementara itu, Kerling Sukma yang melesat terbang di udara, mendapati seorang lelaki jangkung berbelangkon sedang berkelebat pergi. Orang itu adalah salah satu anggota Setan Empat Penjuru.


Lelaki jangkung itu hanya bisa terkejut sebelum nyawanya putus. Lesatan tubuh Kerling Sukma yang begitu cepat tahu-tahu sudah berada di atas kepalanya. Kerling Sukma langsung menghancurkan tubuh lelaki itu dengan ilmu Api Putih.


Blar!

__ADS_1


Tanpa ampun, tubuh lelaki itu hancur berkeping-keping karena terkena langsung ilmu Api Putih.


Setelah itu, Kerling Sukma kembali ke area Gerbang Hati Putih menemui suaminya.


Kerling Sukma tersenyum manis kepada suaminya yang menyambut kedatangannya dengan senyum.


“Bagaimana kesaktian Kakang yang baru?” tanya Kerling Sukma.


“Cukup bisa diandalkan untuk bertarung,” jawab Joko Tenang.


Getara Cinta datang dengan berkelebat lembut di udara dan mendarat laksana merpati di antara mereka.


“Perempuan yang ada di barat sudah aku bunuh,” kata Getara Cinta.


Tampak di belakang, kereta kuda datang disaisi oleh Tirana.


“Setan yang ada di selatan sudah aku bunuh!” sahut Tirana, setor laporan pula. “Ayo, siapa yang mau ikut?”


Joko Tenang lalu bergerak naik ke posisi kusir.


“Istirahatlah, Sayang!” kata Joko Tenang sambil mengambil alih tali kekang kuda.


Tirana hanya tersenyum mesra. Ia lalu mengikuti dua istri lainnya masuk ke dalam bilik kereta.


“Kakang sekarang memiliki berapa ilmu baru?” tanya Kerling Sukma.


“Dua,” jawab Joko Tenang sambil menghentakkan tali kekang kudanya.


“Bayi barunya sudah diberi nama?” tanya Kerling Sukma.


“Hihihi!” tawa Tirana dan Getara Cinta mendengar Kerling Sukma menyebut kata “bayi”.


“Hemmm, sudah langsung mau punya bayi,” kata Tirana.


“Siapa yang bilang? Aku masih ingin berlama-lama dengan suamiku, hanya berdua!” sangkal Kerling Sukma cepat dengan wajah melengos, tapi menahan senyum.


Mereka kemudian hanya tertawa ramai.


“Lima Jerat Terakhir dan Tinju Dewa Hijau. Itu nama ilmu baruku, bukan nama calon bayiku!” kata Joko Tenang dari sisi depan.


“Hihihi…!”


Mereka kembali tertawa semarak. (RH)

__ADS_1


__ADS_2