Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
62. Misi dari Ratu Getara


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


Di ruang kamarnya yang megah untuk ukuran seorang tamu, Joko telah selesai mengembalikan kondisi raga dan tenaganya. Ia telah normal kembali.


“Aku merasakan ada yang berbeda di dalam tubuhku. Tenaga dalamku terasa terjadi peningkatan. Dan ada hawa asing yang terpendam di dalam perutku,” kata Joko kepada Tirana.


“Mungkin itu pengaruh dari Permata Darah Suci yang telah Kakang telan, sebab itu adalah sumber nyawa bagi Ratu Getara Cinta. Tanpa itu, nyawa Ratu Getara tinggal sepurnama lagi masanya,” kata Tirana.


“Mengapa Ratu Getara mau mengorbankan dirinya demi aku?” tanya Joko.


“Ia terpengaruh oleh Kakang yang sudi mengorbankan nyawa demi Ginari dan Kembang Buangi. Namun, ia meminta kita untuk melakukan tugas untuknya.”


“Kita akan bekerja untuknya selama itu wajar bagi kita.”


“Kakang, Kakak Bidadari sudah tidak menjadi orang bayaran Ratu Getara Cinta. Aku punya usulan, aku ingin membayar Kakak Bidadari untuk membebaskan kaum lelaki yang diperbudak di Lembah Gelap oleh Ratu Aswa Tara. Anak lelaki Sulasih berada di Lembah Gelap. Dan, jika Hujabayat tidak kita bebaskan, dia akan diperbudak di Lembah Gelap. Bagaimana, Kakang?” ujar Tirana.


“Itu niatan yang bagus. Namun, Bidadari Seruling Kubur adalah pendekar yang sudah lama menjadi orang bayaran, tentu bayarannya tidak murah. Dengan apa kita membayar?”


“Sebelumnya aku sudah bicara kepada Kakak Bidadari. Jika Kakang setuju, aku akan berutang dalam pembayaran.”


“Baiklah, jika Bidadari bersedia diutangkan, jalankan rencana itu. Urusan kita tinggal menyelamatkan Hujabayat dan bertarung di Sumur Juara. Aku menduga akan ada tugas baru dari Ratu Getara kepada kita untuk menyelamatkan nyawanya.”


“Aku pun menduga demikian, Kakang,” kata Tirana. Ia lalu mengalihkan topik pembicaraan, “Kakang, tampaknya Ginari sudah mencintai Kakang dengan sepenuh hati.”


“Semoga, Sayang,” kata Joko yang membuat giliran Tirana tersenyum malu.


“Setiap Kakang menyebutku ‘sayang’, hatiku selalu berbahagia,” kata Tirana seraya tersenyum.


Joko tertawa pendek yang enak didengar.


“Yang menjadi pertanyaannya, apakah nanti aku akan memanggil semua istri-istriku dengan sebutan ‘sayang’?”


Tirana tertawa agak keras. Sepertinya ia tertawa dengan gambaran yang muncul di benaknya.


“Kenapa?” tanya Joko.


“Aku membayangkan, ketika kedelapan istri Kakang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, lalu Kakang muncul dan memanggil ‘sayang’, maka kedelapan istri ini aka bersamaan menjawab dan datang bersama-sama,” kata Tirana.


Joko tertawa agak keras.


“Oh ya, Kakang. Bagaimana jika Ratu Getara Cinta jatuh hati kepadamu dan ingin menjadi istri Kakang?” tanya Tirana.

__ADS_1


“Tidak masalah dengan syarat aku berada di atasnya. Yang menjadi pertanyaan, apakah ia mau menurunkan status keratuannya sebagai seorang penguasa di bawah seorang pendekar sepertiku?” kata Joko.


“Tapi Ratu Getara Cinta sudah mengetahui bahwa Kakang adalah seorang pangeran,” kata Tirana dengan mimik muram tanda menyesal.


“Dia tahu?” tanya Joko.


“Iya. Ini salahku. Aku menyebut Kakang dengan sebutan Yang Mulia Pangeran saat aku begitu ketakutan kehilangan Kakang, saat Kakang kehilangan kesadaran. Maafkah hamba, Yang Mulia!”


Tirana tiba-tiba turun menjura hormat sebagai wujud penyesalannya.


“Bangunlah, Sayang!” perintah Joko.


Tirana pun bergerak bangkit kembali.


“Meski semua orang tahu bahwa aku adalah seorang pangeran, itu tidak masalah bagiku. Hanya saja, aku memang belum terbiasa menyandang status tinggi seperti itu. Ada rasa ketidaknyamanan bagiku setiap kau bersikap begitu tunduk seperti seorang hamba. Padahal kau adalah calon istriku,” kata Joko.


“Tapi, Kakang. Meski nanti aku resmi sebagai istrimu, aku tetaplah hambamu yang setia mengabdi,” tandas Tirana.


Joko Tenang hanya tersenyum.


Pada akhirnya, Joko telah berkumpul bersama ketiga gadis cantiknya. Ginari tampil cantik dan segar laksana bunga mawar yang baru mekar di pagi hari berhias embun-embun bening. Ia mengenakan pakaian merah terang yang cantik dengan sabuk berwarna hitam berhias sulaman perak. Joko Tenang sempat terdiam tersenyum menikmati kecantikan Ginari beberapa saat lamanya, membuat gadis itu tersipu malu kembali.


Sementara Kembang Buangi telah mengganti pakaian putihnya dengan pakaian putih yang lain. Ia penyuka kain berwarna putih.


Ada sepuluh pelayan wanita yang duduk di sekitar batu.


Tidak jauh dari posisi Ratu Getara Cinta, duduk Panglima Jagaraya.


Sementara Joko dan ketiga gadisnya duduk bersila di lantai berlapis karpet permadani warna kuning. Joko duduk agak jauh di belakang ketiga gadisnya agar tidak terjadi apa-apa dengannya.


“Mengapa kau begitu jauh, Pangeran? Duduklah di sisi Panglima Besar Jagaraya!” pinta Ratu Getara Cinta.


“Baik, Yang Mulia Ratu,” ucap Joko patuh. Ia pun bangkit dan berpindah duduk. Setelah itu ia langsung berkata, “Aku minta maaf kepada Yang Mulia Ratu karena menciptakan kondisi yang memaksa Yang Mulia turun berkorban nyawa untukku.”


“Tidak perlu kau pikirkan hal itu, Pangeran. Anggaplah aku ingin mengikatmu dengan sebuah utang nyawa. Biarkanlah Permata Darah Suci bersemayam di tubuhmu. Ia akan meningkatkan tenaga sakti dan membuatmu kebal terhadap segala jenis racun,” kata Ratu Getara Cinta.


“Lalu bagaimana dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Joko.


“Aku menggantungkan nyawaku kepadamu, Pangeran Joko. Jika Ginari dan Kembang Buangi bisa menggantungkan nyawanya kepadamu, tentu aku pun bisa. Jika mereka bisa menggantungkan harapan karena statusnya sebagai calon istrimu, tentunya aku pun bisa,” kata Ratu Getara Cinta yang mengandung makna yang harus jeli ditangkap oleh Joko. “Bukankah begitu, Tirana?”


“Tentu, tentu sangat bisa, Yang Mulia Ratu!” jawab Tirana cepat dengan senyum mengembang. Tirana bisa menangkap dengan jelas maksud dari perkataan sang ratu.

__ADS_1


“Semoga aku tidak membuat Yang Mulia kecewa,” kata Joko Tenang. “Lalu apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan nyawa Yang Mulia?”


“Kau harus mendapatkan Permata Darah Suci yang lain untukku. Hanya saja, aku tidak tahu sedikit pun di mana dan siapa yang memiliki permata sakti itu,” kata Ratu Getara Cinta.


Sejenak petunjuk dari Ratu Getara Cinta membuat mereka kerutkan kening. Jelas itu tugas yang sangat mustahil. Bagaimana bisa mencari sesuatu yang tidak memiliki petunjuk sama sekali?


“Apakah benar-benar tidak ada petunjuk, Yang Mulia Ratu?” tanya Jagaraya.


“Mungkin ada satu orang yang bisa memberikan petunjuk, tapi aku tidak yakin apakah dia benar-benar bisa mengetahui di mana permata itu berada,” jawab Ratu Getara Cinta.


“Bagaimana bisa Ratu Getara mempertaruhkan nyawanya sedangkan ia pun tidak bisa memastikan memiliki petunjuk tentang permata yang lain?” membatin Tirana.


“Siapa orang itu, Yang Mulia Ratu?” tanya Jagaraya.


“Puspa,” jawab Ratu Getara Cinta.


Panglima Besar Jagaraya manggut-manggut sebagai tanda mengenal siapa adanya orang yang bernama Puspa.


“Puspa adalah salah satu anggota keluarga besar kerajaan di Rimba Berbatu. Namun, ia sangat membenci aku dan Aswa Tara. Ia memilih hidup liar di hutan. Ia sangat sulit ditemukan. Karena ia memiliki ilmu Gerbang Tanpa Batas, aku menduga bahwa ia akan bisa tahu di mana Permata Darah Suci berada saat ini,” papar Ratu Getara Cinta.


“Aku mengenal Puspa, kami pernah bertemu. Tapi, bagaimana bisa dia akan membantu jika dia takut kepada Yang Mulia?” ujar Joko.


“Kau bertemu dengannya?” tanya ulang Ratu Getara Cinta, seakan tidak yakin.


“Iya. Saat aku mencari jalan menuju Tabir Angin, aku bertemu dengannya. Ia menunjukkan jalan sampai ke Lorong Hitam,” jawab Joko.


“Hmm,” gumam Ratu Getara Cinta. “Berarti aku memiliki harapan yang cukup besar karena Pangeran sudah berkenalan dengannya. Puspa memang membenci aku dan Aswa Tara, karena ia menyangka kami ingin menyelakai dia. Jadi untuk meyakinkan dia agar mau menggunakan ilmu Gerbang Tanpa Batas, adalah perkara yang tidak mudah.”


“Sebagai bekal untuk membujuk Puspa, bolehkah aku tahu siapa sebenarnya Puspa di dalam keluarga kerajaan?” tanya Joko.


“Awalnya, hanya ada satu kerajaan, yaitu Kerajaan Rimba Berbatu. Namun karena perseteruan keluarga, Kerajaan Rimba Berbatu pecah menjadi dua yang kini diperintah oleh aku dan Aswa Tara. Kami berdua tidak mau jika ada dua penguasa kerajaan di Rimba Berbatu. Perseteruan aku dan Aswa Tara sangat bisa memicu perang saudara. Kerajaan Tabir Angin lebih kuat dari Hutan Kabut. Untuk menghindari kehancuran, Aswa Tara kemudian mengajukan perjanjian dengan pertarungan di Sumur Juara. Pemenang Sumur Juara berhak memerintah lebih luas dan menguasai sumber kekayaan alam di Rimba Berbatu tanpa harus mengusik kerajaan lain. Puspa adalah pewaris sah Kerajaan Rimba Berbatu. Ia anak satu-satunya dari Raja Gertak Semesta, Raja Kerajaan Rimba Berbatu. Ia sangat sayang ayahnya. Kematian ayahnya membuat akalnya terganggu. Terlebih Kerajaan Rimba Berbatu telah pecah menjadi dua kerajaan yang lebih kecil. Aku dan Aswa Tara adalah anak dari adik Raja Gertak Semesta. Itulah hubungan aku dengan Puspa.”


“Baik, aku akan berusaha mencari cara untuk menemukan Puspa dan membujuknya untuk bersama mencari Permata Darah Suci,” kata Joko.


“Jagaraya, pendekar yang mewakili kita di Sumur Juara besok adalah Pangeran Joko, Tirana dan Ragatos,” kata Ratu Getara Cinta kepada panglimanya.


“Baik, Yang Mulia Ratu,” jawab Jagaraya.


“Adapun rencana kalian untuk menyerang Hutan Kabut dan membebaskan perbudakan di Lembah Gelap, Kerajaan Tabir Angin sedikit pun tidak terkait. Itu urusan kalian. Jadi aku sebagai penguasa Tabir Angin sedikit pun tidak akan memberikan saran kepada kalian. Aturlah rencana itu sendiri,” kata Ratu Getara Cinta.


“Baik, Yang Mulia Ratu,” kata Joko.

__ADS_1


“Aku rasa cukup. Kalian semua boleh pergi, aku ingin bicara berdua saja dengan Pangeran Joko!” perintah Ratu Getara Cinta. (RH)


__ADS_2