Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 11: Ajian Serat Darah


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*


 


Blarr!


Reksa Dipa dan Terakak sama-sama terpental dan jatuh terjengkang setelah keduanya beradu pukulan bertenaga dalam tinggi. Ajian Sukma Bayang Wujud milik Reksa Dipa sudah tidak berlaku bagi Terakak. Karenanya, Reksa Dipa sudah tidak bisa mengandalkan ilmu bayangan itu.


Sementara itu, Terakak sudah melepas cangkang penyunya dari punggung. Kini cangkang itu diletakkan di tangan seperti layaknya tameng seorang prajurit. Itu pertanda bahwa akan lebih sulit untuk menembus pertahanan Terakak.


Reksa Dipa mengalirkan tenaga sakti ke tangan kanan. Selanjutnya, ….


Wuss…! Dudum…!


Reksa Dipa menghentakkan tinju kanannya. Sepuluh bayangan kepalan tangan berwarna merah samar melesat beruntun menyerang Terakak. Terakak cepat berlindung di balik cangkang kura-kuranya. Kesepuluh tinju sinar merah itu semua menghantam perisai Terakak.


Ketika Terakak menggeser perisai kura-kuranya, dari baliknya melesat tenaga tidak terlihat yang balas menyerang Reksa Dipa.


Reksa Dipa melompat cepat ke udara dan langsung kembali melepaskan sepuluh bayangan tinju mengincar kepala Terakak. Lagi-lagi Terakak melindungi tubuhnya dengan perisai kura-kura.


“Giliranku, Reksa!” teriak Terakak.


Ia lalu melesatkan perisainya kepada Reksa Dipa yang baru menjejak tanah. Di saat perisainya itu melesat, Terakak berlari kencang mengikuti.


Dak! Bak!


Bersamaan Reksa Dipa melompat naik ke udara menghindari serangan perisai, Terakak juga melompat mengelebatkan kedua tendangannya bergantian. Tendangan pertama dapat Reksa Dipa tangkis, tetapi tendakan kedua Terakak berhasil lolos ke dada.


Reksa Dipa jatuh keras ke tanah.


Belum lagi Reksa Dipa bangun, satu tenaga sakti tidak terlihat menderu keras menyerang Reksa Dipa. Pemuda tampan itu buru-buru berguling ke kanan.


Blar!


Tanah di dekat tubuh Reksa Dipa meledak, mementalkan tubuhnya.


Buru-buru Reksa Dipa bangun seperti orang kehilangan arah, ia takut serangan berikutnya datang lagi lebih cepat. Ternyata benar. Kali ini yang datang adalah perisai kura-kura.


Zess! Blar!


Reksa Dipa cepat menahan serangan perisai merah itu dengan ilmu bersinar merahnya. Sinar kesaktian itu meledak sendiri tidak jauh di depan Reksa Dipa. Hanya membuat perisai itu terdorong mundur. Sementara Reksa Dipa terpental.


“Hoekh!”


Reksa Dipa muntah darah. Sambil menahan rasa sakit di dalam tubuhnya karena terluka dalam, Reksa Dipa lalu duduk bersimpuh.


“Maafkan aku, Terakak!” ucap Reksa Dipa lirih dengan tatapan tajam.


Reksa Dipa cepat melakukan gerakan-gerakan tangan bertenaga dalam.

__ADS_1


Melihat hal itu, mendeliklah Terakak. Ia teringat bahwa sahabatnya itu memiliki satu ilmu yang berbahaya.


“Hiaaat!” teriak Terakak, buru-buru melesat maju sambil kirimkan tenaga sakti tidak terlihat.


Zwess! Blar!


Reksa Dipa mengencangkan genggaman kedua tangannya di depan dada. Seketika muncul lapisan sinar merah sebagai perisai. Ternyata dinding perisai itu kuat, karena serangan Terakak meledak tanpa warna dan tidak menggeser sedikit pun posisi duduk Reksa Dipa.


“Hah!” sentak Reksa Dipa dengan sepasang tangan menghentak dan mulut terbuka lebar.


Zerzzz…!


Dari sepasang telapak tangan dan dalam mulut Reksa Dipa melesat banyak aliran sinar merah halus seperti ratusan serat listrik.


Terakak cepat berkelebat untuk menjauhi serangan itu. Namun, selain lesatan ujung-ujung sinar merah halus itu cepat, sifatnya juga mengisap. Terbukti, tubuh Terakak yang sudah berkelebat, tiba-tiba tertarik mundur dan terjerat oleh banyaknya garis-garis sinar merah.


“Aakk!” jerit Terakak saat ratusan ujung serat sinar itu menembus seluruh tubuhnya dari belakang.


Ilmu Reksa Dipa yang bernama Ajian Serat Darah itu tidak hanya menembus kulit-kulit Terakak, tetapi juga bisa menjeboli perisai kura-kura yang tadi begitu ampuh. Ujung-ujung serat sinar itu bahkan tembus dari belakang ke depan tubuh Terakak.


Ratusan serat sinar merah itu mengangkat tubuh Terakak di udara dan bertahan, melakukan proses penyedotan kesaktian. Ilmu yang jarang Reksa Dipa gunakan itu bisa menyedot kesaktian korban satu atau dua ilmu.


“Ilmu yang kejam dan mengerikan,” ucap Kerling Sukma mengomentari ilmu Reksa Dipa.


“Semua ilmu yang bisa membunuh aku rasa sama saja,” timpal Tirana.


“Kenapa ketika melawan Kakang dan Ratu, Reksa Dipa memilih menyerah, tidak menggunakan ilmu itu?” tanya Kerling Sukma.


“Setelah itu, Reksa Dipa akan terluka parah,” kata Tirana memprediksi.


Blug!


Tubuh Terakak akhirnya jatuh ke tanah. Ia sudah lepas dari jeratan Ajian Serat Darah. Namun, kondisinya mengerikan. Selain sudah tanpa nyawa, ratusan lubang kecil tercipta pada kulit tubuhnya yang mengeluarkan darah berwarna hitam. Bahkan pada wajah tercipta banyak lubang kecil yang mengeluarkan darah hitam.


Reksa Dipa sudah berhenti mengerahkan ilmu ajiannya.


“Fukrrt!” Reksa Dipa menyemburkan darah panas dari dalam mulutnya.


Ketika Reksa Dipa mengerahkan Ajian Serat Darah, itu sangat berisiko baginya yang dalam kondisi terluka dalam. Namun, ia melakukan pertaruhan demi bisa menang dari Terakak.


Reksa Dipa pun tumbang ke belakang.


Turung Gali segera berkelebat memeriksa kondisi Reksa Dipa. Setelah memeriksa denyut nadinya, Turung Gali segera menempelkan kedua telapak tangannya ke dada Reksa Dipa. Ia mencoba mengobati Reksa Dipa.


“Selesai, Kakang,” kata Tirana.


“Belum,” jawab Joko Tenang. “Adipati Tambak Ruso tidak terlihat.”


“Biar aku yang mencarinya, Kakang!” kata Kerling Sukma.

__ADS_1


Dewi Mata Hijau segera berkelebat menuju rumah Adipati Tambak Ruso yang hancur pada bagian atasnya.


“Belang, Bintang, bantu cari!” perintah Sandaria.


Maka serigala yang bernama Belang dan Bintang segera bangun dan berbalik mengejar Kerling Sukma.


Setibanya di kediaman Adipati Tambak Ruso, Kerling Sukma memeriksa ke dalam rumah. Tampak puing-puing atap dan dinding berserakan.


Setelah memeriksa rumah besar itu, Kerling Sukma menemukan tubuh Adipati Tambak Ruso tergeletak bersimbah darah di halaman belakang. Ada luka robek besar di dahinya. Tidak jauh darinya tergeletak sebatang balok kayu besar.


Entah bagaimana ceritanya, tampaknya Adipati Tambak Ruso terhantam balok kayu besar dari bagian atap rumahnya pada dahinya. Ia bahkan masih menyandang keris pada depan perutnya.


Sementara Belang dan Bintang berjalan sambil mengendus-endus lantai dalam rumah, mencari bau jejak.


Gerr! Gerr!


Belang dan Bintang menggeram sambil menatap tajam ke sudut dapur, tempat sejumlah barang ditumpuk.


Mendengar geraman dan dengkingan kedua serigala di dalam rumah, Kerling Sukma segera masuk kembali ke dalam bagian dapur.


Di dapur, Kerling Sukma melihat kedua serigala sedang menggeram-geram sambil berdiri mewaspadai sudut dapur. Hal itu jelas membuat Kerling Sukma curiga. Ia lalu menajamkan insting perasanya. Barulah kemudian Kerling Sukma mernyimpulkan, ada empat kehidupan di bawah lantai dapur.


Kerling Sukma memperhatikan sejenak lantai yang ditempati oleh barang-barang yang menumpuk. Ia melihat ada garis di lantai dan ada yang terbuat dari papan.


Kerling Sukma segera pergi ke sudut dan memindahkan barang-barang yang menumpuk satu per satu. Belang dan Bintang bahkan membantu menarik seret beberapa barang dengan gigitannya.


Tok tok tok!


Setelah semua barang dipindahkan dari atas pintu di lantai, Kerling Sukma mengetuk pintu itu.


“Siapa di dalam?” tanya Kerling Sukma.


Ketukan dan pertanyaan itu mengejutkan Pitaloka, istri Adipati Tambak Ruso, dan tiga orang yang bersamanya di ruang bawah tanah. Pitaloka yang bersama dua orang pelayannya dan Bukira, tidak menyahut, mereka tegang.


“Aku tahu kalian ada empat orang, menjawablah!” kata Kerling Sukma lagi, karena mereka yang ada di bawah sana tidak menjawab.


“Aku Pitaloka, istri Adipati!” sahut Pitaloka akhirnya.


“Aku Kerling Sukma, istri Pangeran Dira,” kata Kerling Sukma. “Aku akan membuka pintu.”


“Baik!” sahut Pitaloka.


Kerling Sukma lalu membuka pintu lantai dengan cara mengangkatnya. Meski demikian, Kerling Sukma juga tetap siaga.


Cahaya pagi langsung menyeruak masuk ke dalam ruangan bawah. Kerling Sukma melihat Pitaloka berdiri di dekat tangga sambil mendongak ke lubang pintu.


“Naiklah, Nyai!” perintah Kerling Sukma.


“Ak!” pekik Pitaloka saat kepalanya keluar ke atas lantai. Ia begitu terkejut mendapati dua serigala besar yang menatap tajam.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, dia jinak, Nyai,” kata Kerling Sukma sambil mengulurkan tangannya kepada Pitaloka. (RH)


__ADS_2