
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Gadis belia berpakaian serba merah itu melakukan lompatan salto di udara sebanyak dua kali.
Paksss!
Selanjutnya ia mendarat ke bumi dengan telapak tangan lebih dulu. Tenaga dalamnya yang tinggi lagi mengandung racun menyebar ke segala arah. Akibatnya, semua rerumputan hijau dan tanaman yang terkena gelombang tenaga itu hingga lima tombak jauhnya, seketika mati menghitam.
“Berhasil,” ucap gadis berambut hitam panjang itu. Ia berdiri tersenyum sendiri sambil mengelap wajah jelitanya yang berkeringat.
Gadis berkulit putih bersih itu memiliki wajah yang begitu jelita untuk gadis belia seusianya. Ia memiliki bentuk hidung mungil tapi mancung. Bibir bawahnya agak tebal, tetapi memiliki model belah seperti dagunya, membuat bibir itu begitu enak dipandang. Tubuhnya menebarkan aroma harum bunga mawar yang berfungsi menutupi bau racun yang keluar dari dalam tubuhnya.
Meski memiliki fisik sebagai seorang gadis yang sempurna, tetapi gadis bernama Sri Rahayu ini memiliki kelainan yang sangat maut, yaitu seluruh kulit tubuhnya mengandung racun berbahaya. Dalam usia semuda itu, kesaktiannya sudah tinggi.
Saat itu ia sedang berlatih di hutan belakang istana. Meski statusnya sebagai seorang putri kerajaan, tetapi Sri Rahayu sejak usia dini sangat giat berlatih. Ia baru saja menjajal ilmu yang baru ia kuasai, yaitu Gelombang Racun Cantik.
Kaak!
Belum lagi Putri Sri Rahayu melangkah pergi menuju gerbang belakang istana, tiba-tiba terdengar suara koakan burung yang keras.
Putri Sri Rahayu terkejut, karena baru kali ia mendengar suara burung sekeras itu. Suaranya mirip-mirip koakan burung gagak, meski tidak sama.
Ia cepat mendongak ke langit, mencoba mencari sumber suara itu. Seiring itu, tiba-tiba terang menjadi gelap sekilas, karena ada sesuatu yang sangat besar melintas di angkasa dan menghalangi cahaya matahari.
Putri Sri Rahayu terbelalak takjub. Ini pertama kalinya ia melihat burung raksasa yang sangat besar. Dua sayapnya membentang luas seolah hendak menutupi seluruh alam.
Clap!
Tiba-tiba Putri Sri Rahayu menghilang dari tempatnya berdiri. Sebenarnya ia tidak menghilang, tetapi melesat sangat cepat ke arah yang sama dengan arah terbang burung raksasa itu. Dalam usia lima belas tahun seperti itu, Putri Sri Rahayu memang sudah memiliki ilmu gerak yang sangat tinggi.
Putri Sri Rahayu mengejar arah terbangnya burung raksasa yang dilihatnya. Ia mengejar sampai jauh meninggalkan kerajaan. Namun akhirnya, ia tetap kehilangan jejak.
“Lalu aku mencari tahu tentang keberadaan hewan raksasa seperti itu kepada sejumlah orang yang menurutku memiliki pengetahuan yang luas. Hingga akhirnya aku bertemu dengan tokoh sakti bernama Malaikat Serba Tahu. Ia mengatakan bahwa itu adalah Hewan Alam Kahyangan. Ia menceritakan bahwa Hewan Alam Kahyangan adalah hewan-hewan raksasa yang tinggal di Alam Kahyangan ciptaan seorang sakti. Ia hanya bercerita seperti itu,” tutur Putri Sri Rahayu kepada Joko Tenang yang masih terbaring kaku di tanah berumput.
Joko Tenang masih dalam keadaan tertotok oleh Totokan Sejengkal milik Sobenta. Tadi Putri Sri Rahayu sudah mencoba membebaskan totokan itu, tetapi ternyata tidak bisa. Totokan itu benar-benar rumit.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menunggu Sobenta tersadar dari pingsannya. Sobenta, kakek berkepala botak licin, kini tergeletak bebas di tanah tidak sadarkan diri karena diberi Tikaman Kecil oleh tusukan jari tangan Putri Sri Rahayu.
Saat ini Putri Sri Rahayu yang berwajah bopeng dan ada bekas luka bakarnya itu, duduk santai di rerumputan dengan kedua kaki di bengkokkan ke kanan, layaknya seorang wanita yang begitu anggun. Ia duduk empat langkah dari posisi Joko Tenang.
__ADS_1
“Hingga tujuh tahun ini, aku masih memimpi-mimpikan memiliki burung raksasa dari Alam Kahyangan. Hingga aku khusus menugaskan Gulung Lidah untuk berkelana mencari keberadaan burung itu atau Hewan Alam Kahyangan yang lain. Mungkin sekitar tiga pekan lalu, Gulung Lidah melihat keberadaan burung raksasa yang terbang tinggi di langit. Namun, ketika di Lembah Cekung, semuanya menjadi jelas. Ternyata pemilik burung raksasa itu adalah kau, Joko,” kata Putri Sri Rahayu.
Joko Tenang tersenyum mendengar kisah perjuangan Putri Sri Rahayu dalam mencari burung rajawali asal Alam Kahyangan.
“Mungkin yang pertama kau lihat adalah Simba, ibu dari Gimba. Gimba adalah rajawali milikku. Setelah kau tahu, lalu apa yang ingin kau lakukan?” tanya Joko Tenang.
“Aku bingung,” jawab Putri Sri Rahayu seraya tersenyum kepada Joko.
“Kenapa?” tanya Joko Tenang seraya tertawa kecil mendengar jawaban Putri Sri Rahayu.
“Jelas aku ingin memiliki burung rajawali, tetapi itu adalah milikmu. Tidak mungkin untuk memiliki burung itu lalu aku harus menikah dengan pemiliknya. Hihihi!” kata Putri Sri Rahayu lalu tertawa malu sendiri.
“Kenapa tidak mungkin?” tanya Joko, mulai mengeluarkan jurus-jurus jeratan cintanya, sepertinya ia mulai belajar dari pengalaman dan pengamalan. “Aku sudah punya istri. Tirana dan Ratu Getara Cinta adalah calon istriku yang mungkin akan aku nikahi dalam beberapa hari. Aku masih membutuhkan banyak istri.”
“Apa?!” kejut sang putri. Ia jadi memandang pemuda tampan berbibir merah itu dengan serius.
Syuur!
Meski ada satu gelombang desiran yang membelai perasaannya saat memandangi wajah Joko, Putri Sri Rahayu jadi berpikiran buruk terhadap Joko.
“Pemuda seperti apa sebenarnya orang ini? Kenapa ia mencari banyak istri, padahal ketika disentuh wanita ia terkulai tidak berdaya? Apakah Joko seorang penikmat wanita dan dia memiliki keanehan dalam hubungan asmara?” batin Putri Sri Rahayu.
“Apa yang kau pikirkan, Putri?” tanya Joko.
“Kebingungan,” jawab sang putri. Ia lalu menjelaskan kebingungannya, “Lama aku mendamba-dambakan, tetapi ketika bertemu aku justru kebingungan. Apakah tidak ada cara lain untuk memiliki burung rajawali daripada harus menjadi istri pemilik burung? Pasti kau tahu cara lain.”
“Burung rajawali dari Alam Kahyangan tinggal satu. Ayah dan ibunya Gimba sudah mati, jadi tinggal Gimba seekor sebagai burung rajawali. Tokoh sakti penguasa dan pemilik Alam Kahyangan telah bersumpah tidak akan memberikan Hewan Alam Kahyangan yang lain kepada seseorang, setelah satu pendekar sakti yang diberikan seekor harimau merah memilih jalan hitam di dunia persilatan. Hal seperti itu tidak boleh terjadi lagi,” tutur Joko.
“Jadi aku tidak memiliki peluang?” tanya sang putri.
“Setahuku seperti itu, kecuali….” Jawab Joko lalu menggantungkan jawabannya.
“Kecuali apa?” tanya Putri Sri Rahayu cepat.
“Kau menjadi istri pemilik burung,” jawab Joko Tenang seraya tersenyum.
Putri Sri Rahayu tersenyum kecut mendengar jawaban Joko. Lalu katanya, “Aku kira ada jawaban lain.”
“Hahaha!” tawa Joko agak keras.
__ADS_1
“Berapa wanita yang rencananya akan kau peristri?” tanya Joko.
“Delapan. Tampaknya kau mulai tertarik, Putri,” kata Joko.
“Aku hanya ingin tahu. Itu tidak menunjukkan bahwa aku tertarik!” sangkal Putri Sri Rahayu cepat, ia kembali mendelik malu oleh sangkaan Joko.
“Aku tahu, kau pasti sudah memiliki kekasih atau calon suami,” terka Joko.
“Kau mencoba mengorek aku, Joko,” kata Putri Sri Rahayu.
“Aku harus memperjelas bahwa aku tidak membujuk wanita yang salah,” kilah Joko.
“Aku adalah orang yang sangat memuja kesaktian, jadi aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan seorang lelaki, apalagi calon suami,” kata Putri Sri Rahayu.
“Tapi sekarang kau memikirkanku,” goda Joko Tenang.
“Hihihi!” tawa pendek sang putri. “Aku benar-benar salah mengira tentangmu, Joko. Dua pertemuan kita sebelumnya, aku kira kau adalah lelaki yang dingin terhadap wanita, tapi kenyataannya sangat tidak. Dalam kondisi tidak berdaya seperti ini pun kau masih berusaha memikatku.”
“Hahaha! Tidak ada salahnya berusaha agar tugasku lebih cepat selesai dan penyakitku lebih cepat sembuh.”
“Penyakit lemah jika disentuh wanita?” tanya ssang putri.
“Benar. Istri banyak tujuannya adalah itu.”
“Aku rasa masih banyak wanita yang ingin menjadi istrimu, seperti murid kakek botak itu. Memilihku adalah pilihan yang buruk. Aku rasa kau tidak mungkin mau ambil risiko mati oleh racunku, terlebih aku adalah wanita yang buruk rupa,” kata Putri Sri Rahayu.
“Semua orang atau semua wanita memiliki kesempatan yang sama. Tinggal mereka masing-masing yang menentukan dan menempatkan diri mereka pada posisi yang mana. Miskin atau kaya memiliki hak yang sama, cantik atau buruk pun demikian. Apalah artinya kejelitaan dan ketampanan jika dibenci banyak orang. Apalah artinya kesaktian tinggi jika hanya menjadi orang yang diharapkan kematiannya oleh banyak orang. Demikian pula kebahagiaan, semua orang memiliki hak yang sama untuk merasakannya,” tutur Joko, ia masih ingat pengajaran dari gurunya.
Mendengar itu, Putri Sri Rahayu tersenyum-senyum. Ia seolah mendapat siraman rohani dari Joko Tenang yang faktanya adalah lelaki “doyan” perempuan.
“Eh, kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu?” tanya Joko dengan sepasang alis yang naik.
“Jarang-jarang ada orang yang memberi wejangan kepadaku,” kata sang putri seraya tersenyum manis. Namun, semanis apa pun senyum sang putri, tetap saja wajahnya terlihat buruk.
“Setelah mendengar wejanganku, apakah kau mau menikah dengan pemilik burung?” tanya Joko, kembali kepada jalur upaya cintanya.
“Usahamu terlalu dini, Joko. Kau belum mengenal siapa aku. Justru aku yang tidak mau kau menyesal seumur hidup jika kau tahu siapa aku,” kata Putri Sri Rahayu seraya tersenyum tipis, seolah memang ada hal besar yang ia rahasiakan.
“Ukh!” tiba-tiba terdengar suara keluhan dari Sobenta yang mulai bergerak. Ia sudah siuman. (RH)
__ADS_1