
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Ginari akhirnya membuka matanya. Ia mendapati tubuhnya terasa lemas dan berada di sebuah ruangan berdinding papan yang bagus. Kini ia terbaring di atas sebuah ranjang kayu bertilam empuk berwarna putih bersih.
Kamar itu tergolong mewah karena memiliki sejumlah perhiasan kayu berukir. Kayu ranjang pun berpahat bagus. Di atasnya ada kelambu tipis berwarna kuning yang digulung dan diikat ke atas. Pintu kamar itu tertutup rapat. Ada lentera minyak menyala di kamar itu, menunjukkan hari telah malam.
Gadis berpakaiah hitam itu bergerak bangun. Tidak makan dan minum dalam waktu beberapa hari membuatnya agak gemetar. Ginari merasa lapar. Namun, ia harus perjelas dulu, di mana kini ia berada.
Gadis yang berjuluk Pendekar Tikus Langit itu bergerak ke pintu kamar. Pintu itu tidak dikunci, sehingga mudah bagi Ginari membukanya.
Namun, baru saja Ginari melangkah keluar, ia berpapasan dengan pemuda tampan yang bernama Arjuna Tandang. Ginari langsung mengenalnya sebagai pemimpin pasukan yang menyerang Kerajaan Tabir Angin.
Arjuna Tandang yang bermaksud pergi ke kamar tersebut, terkejut. Sementara Ginari, amarahnya seketika memuncak.
“Lelaki binatang!” maki Ginari marah lalu langsung dengan ganas menyerang Arjuna Tandang.
Meski dalam kondisi lemas, tetapi untuk urusan membayar kematian warga Kerajaan Tabir Angin, Ginari akan berbuat apa pun, meski nyawa taruhannya.
Mendapat amukan ganas dari Ginari, Arjuna Tandang agak kelabakan, hingga ia kehilangan ritme pertarungan.
“Tunggu tunggu tunggu!” teriak Arjuna Tandang cepat.
Dak!
Satu terjangan, cepat lagi keras, menghajar dada Arjuna Tandang yang dilapisi dengan telapak tangan. Arjuna Tandang terdorong nyaris jatuh di ruang depan rumah besar itu.
Beberapa lelaki berseragam cokelat bercelana putih segera muncul di pintu. Mereka datang karena mendengar suara keributan di dalam rumah kayu bagus itu.
“Tenang, tenang!” ucap Arjuna Tandang lembut. Ia tahu sedang berhadapan dengan wanita yang seperti harimau betina.
“Apa yang kau lakukan terhadapku di saat aku tidak sadarkan diri?!” tanya Ginari membentak. Tatapannya begitu garang, seolah benar-benar bermaksud membunuh.
“Aku tidak melakukan apa-apa terhadapmu, karena kau adalah wanita yang kucintai. Jadi....”
“Mulut busuk!” maki Ginari gusar bukan main. “Kalian telah membantai orang-orang Tabir Angin, menahan kami dengan menyendera Ratu Getara, lalu tanpa dosa bicara cinta. Sungguh busuk kau, Kisanak!”
Ginari melakukan tinju jarak jauh. Arjuna Tandang terkejut dan buru-buru berkelebat keluar rumah.
Bdark!
Sebuah tiang kayu penyanggah atap hancur dan patah terkena tinju jarak jauh Ginari yang bernama Tinju Menembus Gunung.
Ginari berlari keluar.
__ADS_1
Bugr! Bugr!
Dua lelaki berseragam cokelat yang sudah menghunuskan pedangnya, jadi sasaran amukan Tinju Menembus Gunung. Dua anak buah Arjuna Tandang itu langsung tewas dengan dada hancur di dalam.
Wuss!
Satu angin pukulan Ginari lepaskan kepada Arjuna Tandang yang kini berada di halaman rumah yang gelap. Pemuda itu cekatan menghindar. Orang-orang berseragam cokelat bersenjatakan pedang berdatangan dalam jumlah yang banyak. Mereka segera mengepung posisi Ginari yang mulai terlihat kelelahan.
Napas Ginari mulai memburu. Kuda-kudanya tidak gagah sebagai seorang pendekar perempuan, demikian pula ketegakan punggungnya. Arjuna Tandang bisa membaca kondisi Ginari.
“Bubar kalian semua! Biar aku yang menanganinya!” seru Arjuna Tandang kepada seluruh anak buahnya.
Puluhan lelaki berpedang itu segera mundur teratur, tetapi mereka tetap berbaris dalam radius yang cukup jauh di halaman luas rumah kayu besar itu.
Di halaman berpagar tembok itu tumbuh dua pohon besar. Di halaman ada pula dua buah tiang kayu dan digunakan sebagai tempat obor besar di malam itu.
“Katakan! Di mana Ratu Getara?!” tanya Ginari kepada Arjuna Tandang.
“Akan aku beri tahu. Namun, aku ingin mengatakan lebih dulu, kau tidak bisa pergi jauh dariku. Jika itu kau lakukan, maka kau akan mati dengan sendirinya,” ujar Arjuna Tandang.
“Benar-benar iblis kau. Apa yang telah kau lakukan kepadaku?!” geram Ginari. Ia benar-benar marah.
“Aku memberimu Racun Ikatan Seratus Langkah. Jadi, jiwamu terikat denganku sekarang. Kau tidak bisa pergi lebih dari seratus langkah dariku. Jika itu terjadi, kau akan mati dengan sendirinya. Kau aku ikat dengan benang gaib,” tutur Arjuna Tandang.
Mendelik Ginari mendengar hal itu.
Teriakan Ginari disertai pengerahan ilmu Tinju Menembus Gunung beberapa kali.
Bruakr! Bruakr!
Dengan sigap Arjuna Tandang mengelaki semua serangan jarak jauh itu, sehingga menjebol tembok halaman di beberapa titik.
Setelah serangan itu, Ginari semakin lemah. Tanpa asupan makanan dan minuman dalam beberapa hari, membuat tubuhnya terasa begitu cepat kehabisan tenaga.
“Aku tidak bermaksud berbuat jahat kepadamu, Nisanak. Aku telah jatuh hati kepadamu, aku tergila-gila kepadamu. Karena itu, aku mengikatmu dengan Racun Ikatan Seratus Langkah,” ujar Arjuna Tandang tanpa rasa malu dengan tindakan liciknya.
“Jangan bicara cinta. Orang sepertimu tidak pantas bicara tentang hal itu. Di mana ratuku kau sekap?” tanya Ginari.
“Ratu Getara Cinta dibawa ke Kerajaan Tarumasaga. Jauh dari kadipaten ini,” jawab Arjuna Tandang.
Ginari terdiam. Ia menatap tajam penuh benci kepada pemuda di depan sana. Ia sedikit pun tidak peduli dengan kegagahan dan ketampanan Arjuna Tandang.
“Aku tidak boleh membabi buta. Orang ini sangat licik,” membatin Ginari.
__ADS_1
“Lebih baik kau beristirahat. Kau sudah lima hari tidak makan dan minum. Lihat, kondisi tubuhmu lemah. Aku berjanji, aku tidak akan bersikap kurang ajar kepadamu atau menyentuhmu, hingga kau dengan ikhlas mau menjadi istriku,” ujar Arjuna Tandang.
“Cuih!” Ginari meludah ke tanah, menunjukkan rasa bencinya. “Kau kira begitu mudah urusah hati seperti itu. Ketahuilah, aku calon istri Joko Tenang. Tidak akan lama lagi, dia pasti datang untuk membunuhmu!”
“Apa boleh buat, jika calon suamimu datang, aku akan menantangnya bertarung secara ksatria demi merebutmu darinya!” tandas Arjuna Tandang.
“Aku ragu kau berani bertarung secara ksatria. Terbukti, kau adalah pendekar paling licik yang pernah aku jumpai,” kata Ginari.
“Baik, baik. Aku akui aku memang licik. Namun, untuk urusan memikat hatimu, aku tidak akan berlaku licik,” kata Arjuna Tandang.
“Kalau begitu, berikan obat penawar racunmu dan kita bertarung sampai mati!” tandas Ginari.
“Oh, kalau itu tidak bisa. Aku tidak mau berpisah jauh dari orang yang aku cintai,” kata Arjuna Tandang seraya tersenyum manis, tetapi memuakkan bagi Ginari.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Ginari tiba-tiba berkelebat cepat di udara sambil melesatkan pukulan maut Tinju Menembus Gunung.
Buks!
Kali ini Arjuna Tandang tidak menghindar, ia mau mencoba melawan ilmu itu dengan ilmu pertahanannya. Arjuna Tandang langsung berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh, kedua lengan saling menyilang di depan dada, menciptakan lapisan tenaga tidak kasat mata.
Namun, Arjuna Tandang terkejut, tanaga pertahanannya bisa tembus. Dia terjengkang, tetapi tidak sampai mengalami luka dalam. Ia lebih terkejut ketika melihat Ginari terbang di langit gelap meninggalkan halaman kediaman adipati itu.
“Cepat kejar! Dia tidak akan jauh!” teriak Arjuna Tandang kesal. Lalu makinya, “Sial!”
Puluhan anak buah Arjuna Tandang segera bergerak, beberapa orang membawa obor.
“Ada apa, Ketua?” tanya Rajimin yang baru datang.
“Dari mana saja kau?!” tanya Arjuna Tandang agak membentak.
“Urusan perut, Ketua,” kilah Rajimin.
“Gadisku kabur,” kata Arjuna Tandang kesal.
“Siapa, Ketua? Dewi Bayang Kematian?” tanya Rajimin.
“Wanita dari Tabir Angin itu!” ucap Arjuna Tandang kesal.
“Bagaimana bisa? Bukankah Ketua sudah memberinya racun?”
“Sudah aku beri tahu. Jika dia percaya kepadaku, dia pasti bersembunyi di dekat daerah sini juga. Namun jika tidak, terpaksa dia mati,” kata Arjuna Tandang. (RH)
__ADS_1
Demi rasa cintanya kepada Masjid Al-Aqsha di Palestina, Afrizal berjalan kaki dari pesisir Lampung menuju ke Ibu Kota Jakarta.