Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PGM 2: Penjudi yang Terhina


__ADS_3

*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*


Keenam centeng Ki Lugas menghentikan penganiayaannya terhadap Surya Kasyara sesuai perintah. Surya Kasyara meringkuk meringis kesakitan.


“Utangmu sudah terlalu banyak, Sontoloyo. Jika pun kau bayar dengan menjual adikmu yang cantik itu, tetap saja itu belum bisa melunasi. Aku memang memberi pinjaman, tapi aku bukan bapaknya para pengutang. Aku memberimu utang karena aku kira kau bisa membayarnya seperti yang lain. Sekarang pergilah, cari harta karun untuk membayar utang-utangmu!” ujar Ki Lugas.


Surya Kasyara berusaha untuk bangun berdiri, tetapi semua tubuhnya terasa sakit. Otot-ototnya bersakitan dan tenaga pun lemas.  Sambil meringis dengan bibir yang bergetar dan belepotan oleh darah, Surya Kasyara berusaha berdiri. Namun, Surya Kasyara kembali jatuh. Kedua pahanya seolah lumpuh dan tidak sanggup menahan berat tubuhnya.


“Jika tidak bisa berjalan, merayaplah! Jangan mengotori pandangan mataku. Jangan sampai para centengku menggiringmu ke luar dengan tendangan!” kata Ki Lugas agak keras.


Maka berusahalah Surya Kasyara untuk pergi dengan merayap, meski kedua tangannya juga bersakitan. Surya Kasyara terus merayap dan terus merayap. Orang-orang yang ada di kedai itu hanya bisa melihat dengan iba.


“Gowo! Gowo!” panggil seorang pemain judi kepada Gowo Tungga yang masih asik bermain kopro.


“Apaan?” tanya Gowo tanpa menoleh, ia fokus memandang kepada mangkok bandar yang akan dibuka.


“Sontoloyo dihajar sama centeng-centengnya Ki Lugas!” kata orang itu.


“Hah! Adduh, pasti dia mau pinjam uang lagi…. Mawaaar!” kejut Gowo, lalu tiba-tiba berteriak karena taruhannya kena.


Setelah mendapatkan pembayaran uang taruhannya dari bandar, Gowo Tungga segera berhenti bermain. Ia keluar dari kerumunan.


Gowo Tungga melihat Surya Kasyara sedang merayap di tanah di dekat pintu keluar. Gowo Tungga segera melangkah hendak membantu sahabatnya. Namun, ia harus menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya.


Yang membuat Gowo Tungga berhenti adalah kedatangan seorang wanita cantik berpakaian merah muda. Ia baru saja turun dari kudanya dan berjalan hendak masuk ke kedai. Gadis cantik berkulit putih terang itu membawa sebuah pedang di tangan kirinya. Ia memiliki alis yang tebalnya sedang tapi panjang, memperindah sepasang matanya. Bibirnya yang merah selalu terlihat basah, seolah sengaja diolesi minyak pelumas.


Gadis itu adalah putri Adipati Tambak Ruso, namanya Kayuni Larasati.


Meski Kayuni Larasati adalah seorang gadis yang cantik, tetapi tidak ada yang berani mendekatinya, apalagi sampai berurusan dengannya.


Melihat kemunculan Kayuni Larasati, Ki Lugas agak panik. Ia buru-buru mengusir kedua perempuannya.

__ADS_1


“Kalian berdua cepat pergi, lewat pintu dapur! Cepat!” perintah Ki Lugas kepada kedua perempuannya yang berusia sudah di atas tiga puluh tahun.


Kedua perempuan penghibur itu buru-buru beranjak pergi sebelum Kayuni Larasati melihat ke dalam.


Kayuni sedang fokus memperhatikan sosok pemuda yang berwajah berdarah sedang merayap.


Upaya Surya Kasyara untuk keluar jadi terhenti, sebab di depan wajahnya kini berdiri dua kaki berwarna putih bersih. Perlahan ia mendongak, maka ia bisa melihat sosok bertubuh indah di atasnya.


Belum lagi Surya Kasyara sempat melihat wajah perempuan itu, ujung kaki kanan Kayuni Larasati sudah menempel di dagu bawah si pemuda, untuk mengangkat wajah Surya Kasyara agar terlihat jelas.


Kepala Surya Kasyara terdongak dengan tatapan yang sangat tajam kepada wajah cantik itu. Bibir Surya Kasyara bergetar menahan penghinaan itu. Ia begitu merasa direndahkan. Dada Surya Kasyara mendidih. Ingin rasanya saat itu dia membalas, tanpa peduli bahwa orang yang di hadapannya itu adalah seorang gadis cantik.


“Kasihan sekali,” ucap Kayuni Larasati sambil sedikit membungkuk menunjukkan wajah cantiknya yang seperti siluman perempuan, karena bukannya memberikan rasa senang, melainkan memberikan rasa benci.


Kayuni Larasati lalu melepaskan ujung kakinya dari dagu Surya Kasyara.


Ki Lugas segera turun dari peraduannya dan buru-buru berjalan mendatangi Kayuni Larasati dengan penuh rasa hormat. Rasa kejumawaannya seketika hilang.


“Apa yang dia lakukan sehingga kau menyiksanya sampai seperti ini, Lugas?!” tanya Kayuni Larasati bernada membentak, sehingga Surya Kasyara menyangka bahwa gadis galak itu berpihak kepadanya.


“Eee…. Dia telah banyak berutang dan tidak bisa melunasinya. Utangnya sudah melangit, bahkan nyawanya saja tidak mampu untuk melunasinya. Hari ini dia mau meminjam uang lagi, jadi aku beri pelajaran agar membayar utangnya, bukan menambah utangnya, Den,” jelas Ki Lugas dengan nada dan sikap sedikit tertakut-takut.


“Tindakanmu sangat tepat, Lugas,” kata Kayuni Larasati. Ia lalu berjalan melangkah dengan menginjak punggung Surya Kasyara seenaknya, seperti menginjak batu di tanah.


Kali ini Surya Kasyara tidak bisa menahan rasa penghinaan itu. Namun, karena ia tidak bisa berbuat apa-apa, Surya Kasyara hanya bisa menangis tanpa suara.


“Lempar cecunguk itu!” perintah Kayuni Larasati sambil masuk ke dalam kedai makan.


“Lempar Sontoloyo jauh-jauh!” perintah Ki Lugas kepada para centengnya.


Maka empat centeng segera bergerak. Masing-masing mengangkat satu tangan dan kaki. Surya Kasyara diangkat dan dibawa agak menjauh dari kedai.

__ADS_1


Surya Kasyara kemudian dilempar ke jalanan berdebu seperti karung pasir. Sungguh satu penghinaan yang tidak akan bisa dilupakan oleh Surya Kasyara. Dia tidak pernah menyangka akan mendapat penghinaan yang luar biasa dari penguasa kadipaten itu.


Namun, sepertinya Surya Kasyara tidak akan pernah bisa berbuat apa-apa, sebab ia memang tidak memiliki apa-apa.


Di tanah jalanan itu, Surya Kasyara berusaha bangkit, tetapi ia kembali jatuh. Sama seperti tadi, seluruh tubuhnya sakit dan lemas. Untuk berlutut pun ia tidak sanggup. Akhirnya ia hanya bisa berusaha merayap.


Orang-orang sekitar hanya bisa melihat kemalangan yang dialami oleh Surya Kasyara, tetapi tidak menolong.


Tiba-tiba dari tikungan jalan muncul sebuah kereta kuda yang berlari cukup kencang. Surya Kasyara dan orang-orang jadi terkejut. Bisa-bisa Surya Kasyara akan tertabrak atau terlindas.


Sais kereta kuda yang adalah seorang pemuda berbadan kekar, jadi terkejut melihat keberadaan tubuh yang disangkanya seonggok mayat. Dengan lihai sais itu menarik satu sisi tali kekang kudanya sehingga kedua kuda penarik kereta berbelok sedikit.


“Matilah aku!” pekik Surya Kasyara dalam hati sambil memejamkan matanya. Yang ada di dalam benaknya hanya satu kata, yaitu “mati”.


Wess!


Kuda dan keretanya melintas tepat di depan wajah Surya Kasyara. Roda kayu kereta melintas hanya sejengkal dari kepala Surya Kasyara. Pemuda itu begitu merasakan angin keras yang melintasi wajahnya. Selain itu tidak ada yang ia rasakan, kecuali mendengar lari kuda dan suara roda kereta yang menjauh.


“Tapi bohong,” ucap Surya Kasyara lirih dengan suara yang sangat bergetar, karena begitu syoknya. “Aku masih hidup.”


“Sontoloyo!” panggil seseorang.


Belum lagi Surya Kasyara menoleh, Gowo Tungga sudah tiba di dekatnya dan meraih lengannya.


Gowo Tungga segera membantu Surya Kasyara untuk berdiri. Meski sakit ia rasakan, Surya Kasyara juga berusaha berdiri.


“Apa itu tadi, Bukira?” tanya Arya Permana, pemuda tampan berpakaian ala bangsawan berwarna merah hati. Ia adalah putra Adipati Tambak Ruso, kakak dari Kayuni Larasati.


“Sepertinya mayat di tengah jalan, Den,” jawab kusir yang bernama Bukira.


“Setibanya di rumah, kau langsung istirahat, sebab nanti sore aku harus pergi lagi menghadiri pertemuan di Padepokan Hati Putih. Aku harus bertemu dengan Kakek Resi Tambak Boyo,” kata Arya Permana. (RH)

__ADS_1


__ADS_2