
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
“Apa pandangan kalian tentang permaisuri yang akan mendampingiku di singgasana?” tanya Prabu Dira Pratakarsa Diwana kepada para istri dan abdinya.
“Aku pasti mengusung Dewi Mata Hati sebagai permaisuri. Jangan kalian tanya apa alasannya,” kata Sandaria menjawab lebih dulu sambil tersenyum-senyum.
“Aku pun sependapat,” kata Getara Cinta.
“Kalian jangan menyeretku. Seratus tahun lebih aku hidup tanpa sedikit pun tertarik dengan tahta. Aku adalah orang dunia persilatan dan selamanya akan menjadi orang dunia persilatan. Hanya bedanya, kini aku tinggal di istana. Aku tidak sedikit pun mempermasalahkan siapa yang menjadi permaisuri pendamping, Kakang Prabu,” bantah Nara.
“Aku lebih cenderung kepada Ratu Getara. Jika dilihat dari pengorbanan Ratu demi cinta kepada Kakang Prabu, sudi lengser sebagai ratu dan rela melepas Kerajaan Tabir Angin, maka sepatutnyalah Ratu mendapatkan kembali keratuannya,” kata Tirana.
“Wow! Aku baru tahu cerita pengorbanan cinta Ratu kepada Gusti Prabu,” ucap Sandaria dengan mimik terkejut, membuat Tirana dan Getara Cinta tersenyum.
“Aku setuju,” kata Kusuma Dewi.
“Tapi, jika Ratu menjadi permaisuri, apakah status istri yang lain adalah selir?” tanya Kerling Sukma.
“Tidak akan aku biarkan ada derajat seperti itu di antara para istriku,” kata Prabu Dira.
“Aku rasa kita semua sepakat bahwa Ratu yang menjadi permaisuri. Namun, aku punya ide yang mencontoh ayahku ketika memimpin Perguruan Tiga Tapak. Kedua ibu kami disebut Ibu Pertama dan Ibu Kedua. Untuk menghindari status selir, lebih baik semua istri diberi gelar permaisuri berdasarkan urutan pernikahan dengan Kakang Prabu. Untuk permaisuri yang mendampingi Kakang Prabu, diberi gelar Ratu,” ujar Kerling Sukma.
“Aku setuju dengan pandangan Sukma. Aku juga memikirkan Putri Yuo Kai. Seharusnya, kurang tepat jika kita mengatur kedudukan para istri tanpa melibatkan Putri Yuo Kai sebagai istri pertama Kakang Prabu,” kata Tirana yang menjadi orang paling dekat dengan Putri Yuo Kai.
“Baik, aku putuskan untuk memberi gelar kepada Putri Yuo Kai dengan gelar Permaisuri Pertama dan Permaisuri Negeri Jang. Gelar Permaisuri Kedua dan Permaisuri Penjaga kepada Tirana. Gelar Permaisuri Ketiga dan Permaisuri Darah Suci kepada Getara Cinta. Gelar Permaisuri Keempat dan Permaisuri Mata Hijau kepada Kerling Sukma. Gelar Permaisuri Kelima dan Permaisuri Mata Hati kepada Nara. Dan aku putuskan pula untuk mengangkat Getara Cinta sebagai Ratu Kerajaan Sanggana Kecil!”
Pada kalimat terakhir, Prabu Dira lebih menaikkan nada suaranya.
“Getara Cinta menerima dengan patuh titah dan ketetapan Gusti Prabu!” ucap Getara Cinta setelah turun berlutut menghormat.
Tindakan dan ucapan yang sama juga dilakukan oleh Tirana, Kerling Sukma, dan Nara.
“Ketetapanku mulai berlaku terhitung saat ini juga!” tandas Prabu Dira. Lalu perintahnya, “Bangkitlah!”
Keempat istri sah Prabu Dira segera bangun dan kembali duduk di kursinya.
“Ratu, duduklah di singgasanamu!” perintah Prabu Dira sambil menunjuk dengan sopan ke sebuah kursi di sisi kanan singgasana raja. Posisi kursi mewah itu adalah yang paling dekat dengan tahta Prabu Dira, meski tidak begitu dekat.
Ratu Getara Cinta pun menjura hormat, lalu beranjak pergi dengan langkah lembut duduk di kursi permaisuri.
“Maafkan hamba, Kakang Prabu,” ucap Getara Cinta sebelum suaminya berkata lagi.
Prabu Dira mengangguk mempersilakan.
“Keputusan penting seperti ini semuanya harus tercatat dan berwujud sebagai bukti kuat dari keputusan itu sendiri, Kakang Prabu,” kata Ratu Getara Cinta.
__ADS_1
“Kau berpengalaman sebagai ratu di Tabir Angin. Untuk sementara aku serahkan tugas pencatatan itu kepadamu, Ratu, sambil menunggu ada orang yang tepat untuk tugas pencatatan seperti itu!” perintah Prabu Dira.
“Baik, Kakang Prabu,” ucap Ratu Getara Cinta patuh. “Namun, mengenai derajat keratuan, izinkan hamba berusul pula, Kakang Prabu.”
“Silakan, Ratuku!”
“Aku akan terlihat buruk jika terus-terusan menduduk kursi keratuan. Aku mengusulkan agar posisi ratu diserahkan secara bergiliran untuk masa setiap satu tahun,” ujar Ratu Getara Cinta.
“Setuju!” teriak Sandaria cepat.
Sikap Sandaria itu membuat semua langsung memandang kepadanya. Merasa dirinya menjadi pusat perhatian, Sandaria hanya tertawa malu, membuatnya menjadi lucu menggemaskan. Mereka semua akhirnya tertawa rendah melihat tingkah Sandaria.
“Baiklah. Setiap satu tahun berlalu, posisi ratu akan diganti. Namun, permaisuri yang berhak menempati kursi keratuan hanyalah Delapan Dewi Bunga. Aku harap kau bisa mengerti, Kusuma Dewi,” kata Prabu Dira.
“Hamba akan ikhlas hati menerima kebaikan dari Gusti Prabu,” jawab Kusuma Dewi.
“Aku berikan hakku kepada Kusuma Dewi jika ia sudah resmi sebagai istri Kakang Prabu!” kata Dewi Mata Hati.
“Baiklah,” ucap Prabu Dira.
“Beribu terima kasih atas kemurahan hatimu, Permaisuri Kelima!” ucap Kusuma Dewi seraya menjura hormat kepada Dewi Mata Hati.
“Aku akan menempatkan Permaisuri Kelima sebagai Penasihat Kerajaan. Aku harap kau tidak menolaknya, Nara!” kata Prabu Dira.
“Hamba patuh, Kakang Prabu,” ucap Nara.
“Hamba patuh, Kakang Prabu,” ucap Tirana.
“Siapa yang bisa melaporkan atau punya pendapat tentang bagaimana cara kita untuk mendanai kerajaan ini?” tanya Prabu Dira.
“Aku!” sahut Putri Sagiya cepat. Ia lalu tersenyum kepada Batik Mida yang sebenarnya diberi tanggungjawab untuk segala urusan di istana itu sebelum kedatangan Prabu Dira dan rombongannya.
“Silakan, Putri!” kata Prabu Dira.
“Ayahanda sudah memberikan emas dan perak sebagai dana awal untuk berjalannya kerajaan ini. Sebenarnya arah yang Ayahanda inginkan adalah agar Sanggana Kecil ini menjadi sebuah kerajaan mandiri. Namun, Ayahanda sengaja memberikan dalam bentuk mentah, karena Ayahanda ingin melihat kemampuan Gusti Prabu. Namun, harta yang dihadiahkan Ayahanda tidak akan bertahan lama, jadi diperlukan sumber penghasil uang agar roda perekonomian kerajaan kecil ini bisa terus berputar, dan bahkan bisa membesar membangun diri. Untuk sementara potensi yang aku lihat sebagai sumber untuk mendulang uang adalah Telaga Fatara. Gambaran besarnya adalah kita menjadikan telaga ini sebagai sumber keuangan dengan air dan ikannya. Adapun seperti apa rincinya, itu bisa kita pikirkan di kemudian hari,” tutur Putri Sagiya.
“Berapa lama kau akan menetap di sini, Adikku?” tanya Prabu Dira.
“Sampai ada utusan Ayahanda yang memerintahkan aku kembali ke Sanggana,” jawab Putri Sagiya.
“Jika demikian, aku serahkan urusan kesejahteraan Kerajaan Sanggana Kecil kepadamu!” perintah Prabu Dira.
“Dengan senang hati, Gusti Prabu!” sahut Putri Sagiya gembira dan semangat. “Tapi apa jabatanku?”
“Mahapatih,” jawab Prabu Dira.
__ADS_1
“Hah! Seorang perempuan sebagai mahapatih?” kejut Putri Sagiya sendiri.
“Ya, kenapa tidak? Ini untuk sementara sambil aku mencari orang yang tepat,” kata Prabu Dira.
“Baiklah,” kata Putri Sagiya.
“Semuanya hampir terpenuhi, yang belum adalah mendapat pengakuan dari penguasa wilayah-wilayah sekitar. Batik Mida, laporkan pengetahuanmu tentang wilayah-wilayah yang mengelilingi kita!” kata Prabu Dira.
“Baik, Gusti Prabu. Aku tiba di sini sejak awal pembangunan istana ini. Sejak itu aku mengumpulkan catatan sebanyak-banyaknya tentang wilayah-wilayah sekeliling wilayah kekuasaan Sanggana Kecil. Di selatan ada Gunung Prabu yang juga memiliki penguasa. Di timur ada hutan rimba yang luas, aku rasa hutan itu sangat jarang dijamah oleh manusia. Di utara adalah seberang telaga. Ada tujuh desa yang bersentuhan dengan Telaga Fatara. Ketujuh desa itu masuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Walangan. Menurut kabar yang aku kumpulkan, penguasa Kerajaan Walangan adalah seorang raja yang bengis. Sementara di barat ada hutan yang bernama Hutan Malam Abadi. Konon hutan yang selalu gelap itu dihuni oleh kelompok orang sakti yang bernama Penagih Nyawa,” lapor Batik Mida agak panjang.
“Artinya kerajaan kita terkepung oleh orang-orang yang mengancam?” tanya Prabu Dira.
“Bisa dikatakan demikian, Prabu,” jawab Batik Mida.
“Apakah kau sudah mengetahui siapa penguasa di Gunung Prabu?” tanya Prabu Dira.
“Dugaan kuatku adalah mereka orang dunia persilatan. Pada masa pembangunan, beberapa pendekar datang hendak mengacau, tetapi kami tergolong lawan berat bagi mereka,” jawab Batik Mida.
“Sebenarnya kau adalah perwira Kerajaan Sanggana pimpinan ayahku atau kau perwira untuk Sanggana Kecil?” tanya Prabu Dira.
“Aku sudah diserahkan untuk mengabdi kepada Gusti Prabu,” jawab Batik Mida.
“Baiklah, aku angkat kau sebagai Senopati Kerajaan Sanggana Kecil. Sandaria, aku angkat sebagai Utusan Khusus untuk menyepakati perjanjian dengan penguasa sekitar atau menaklukkannya. Permaisuri Mata Hijau, aku angkat kau sebagai Mantri Keprajuritan untuk perekrutan para prajurit dan pembentukan pasukan-pasukan, termasuk penanggung jawab Pasukan Pengawal Bunga. Kita masih membutuhkan banyak pendekar untuk satuan itu!” titah Prabu Dira.
“Hamba patuh menerima titah dan jabatan yang Gusti Prabu berikan!” ucap Batik Mida seraya menjura hormat.
“Hamba sangat gembira menerima tugas baru, Gusti Prabu,” ucap Sandaria seraya tersenyum lebar.
“Terima kasih penuh hormat atas kepercayaan yang Kakang Prabu berikan,” ucap Kerling Sukma.
“Dan kau, Kusuma Dewi, bantu aku di bagian teliksandi dan pembentukan pasukan wanita!” perintah Prabu Dira.
“Hamba akan berusaha melakukan yang terbaik, Gusti Prabu,” ucap Kusuma Dewi.
“Ayah Turung Gali akan aku angkat sebagai amangkubumi (perdana menteri)!” titah Prabu Dira.
“Tapi, Gusti Prabu…” ucap Turung Gali sambil buru-buru turun menjura hormat. “Hamba hanyalah seorang prajurit dari Pasukan Seratus Siluman!”
“Untuk sementara ini tidak ada orang yang lebih layak dari Ayah!” tandas Prabu Dira.
“Baik, Gusti Prabu!” ucap Turung Gali tanpa bisa beralasan lagi.
“Aku juga minta Ayah agar menjadi penanggung jawab keamanan dalam benteng Istana!” kata Prabu Dira.
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Turung Gali yang sudah kembali duduk di kursinya.
__ADS_1
“Besok siang kita langsungkan pernikahanku dengan Sandaria. Sehari setelahnya aku akan menikahi Kusuma Dewi. Setelah itu, aku akan menjemput Putri Yuo Kai!” (RH)