Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 35: Peperangan Berhenti


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*  


 


Tewasnya Laga Patra membuat Jalur Bukit di sisi barat terbuka. Para prajurit di bawah komando Laga Patra yang tinggal puluhan orang, segera dihabisi oleh pasukan berkuda Senopati Duri Manggala yang tersisa belasan orang.


Sementara itu, pasukan berkuda di bawah komando Nayaka Segar Labu dan pasukan infanteri di bawah komando Sepak Bilas dan Tepuk Geprak, terus berusaha merangsek menuju sisi barat, tujuannya adalah mundur dan keluar dari peperangan. Meski mereka terus mendekat ke sisi barat, tetapi tetap saja pasukan Balilitan menumpuk menghadang.


Mundur adalah jalan terbaik bagi pasukan Kerajaan Baturaharja, karena memang mereka tidak mungkin menghadapi pasukan yang jumlahnya jauh lebih besar.


“Munduuur ke baraaat!” teriak Senopati Duri Mandala yang sudah duduk kembali di atas seekor kuda. Ia berteriak tidak hanya kepada belasan prajurit berkudanya yang tersisa, tetapi ia juga berteriak kepada Nayaka Segar Labu dan dua pendekarnya.


“Mundur ke barat! Mundur ke baraaat!” teriak Nayaka Segar Labu berulang, seolah menunjukkan jalan kehidupan bagi pasukannya.


Teriakan komando itu seolah memberi harapan besar bagi pasukan Baturaharja yang masih bertahan dalam keputusasaan. Mereka pun bertempur menjadi lebih semangat. Namun, jumlah pasukan Balilitan yang menumpuk membuat mereka tidak berdaya, tetap saja mereka tumbang satu demi satu.


Serangan tombak dan pedang datang susul-menyusul menyerang Nayaka Segar Labu dan pasukannya. Mengetahui pasukan Baturaharja berusaha mencapai sisi barat, komandan pasukan Balilitan cepat berkomando.


“Tutup jalan ke baraaat! Jangan biarkan ada prajurit musuh yang kabur!” teriak seorang komandan pasukan Balilitan.


Sebenarnya jalan ke sisi barat sudah ditutup oleh pasukan Balilitan yang menumpuk, tetapi perintah itu membuat para prajurit Balilitan yang lain juga bergerak cepat melakukan penumpukan, menutup rapat jalan bagi Nayaka Segar Labu dan pasukannya yang tersisa tinggal beberapa ratus saja.


Melihat terkuncinya posisi pasukan Nayaka Segar Labu, Senopati Duri Manggala tidak bisa berbuat apa-apa. Segelombang pasukan Balilitan justru berlari datang menuju ke arahnya dan pasukannya yang tersisa.


“Mundurlah, Senopati! Biar aku membukakan jalan bagi pasukanmu yang ada di tengah!” seru Sandaria dengan tenang. Ia mengetahui kegalauan Senopati Duri Manggala.


“Baik!” sahut Senopati Duri Manggala yang kondisinya sedang terluka parah. Jika ia pun memaksakan terus berperang, itu sama saja ia bunuh diri. Ia lalu berseru kepada belasan prajurit berkudanya yang tersisa, “Munduuur!”


Maka, resmi sudah Senopati Duri Manggala mundur dari peperangan. Ia menggebah kudanya menuju arah barat yang segera diikuti oleh belasan prajuritnya meninggalkan Jalur Bukit.


Melihat kesulitan yang dialami oleh pasukan Baturaharja, Tirana segera mengarahkan burung sinar merahnya menyambar pasukan Balilitan yang menumpuk di sisi barat.

__ADS_1


Bruss!


“Aak…! Panas…! Panas…!”


Sederet pasukan Balilitan berpentalan dengan badan dikobari api. Nayaka Segar Labu dan kedua pendekarnya cepat memanfaatkan ruang yang sejenak kosong untuk menggiring pasukannya merangsek terus ke barat. Namun, dengan cepat pergerakan mereka kembali dihadang oleh rapatnya pasukan Balilitan.


Di ujung barat, Sandaria telah mengangkat tongkat biru kecilnya ke atas. Dari ujung tongkat itu berkeluaran sinar biru kecil-kecil sebanyak lima butir. Masing-masing sinar kemudian bergerak turun dan masuk ke kepala kelima serigala.


Sess!


Yang terjadi kemudian, seluruh tubuh kelima serigala telah diselimuti sinar biru.


“Maju!” seru Sandaria sambil mengerutkan hidung mancungnya dan tongkat menunjuk ke depan, lagi-lagi memberi ekpresi yang menggemaskan.


Serentak kelima serigala itu berlari maju ke arah timur, ke arah pasukan yang justru datang ke arahnya. Ketika berlari, muncul lapisan sinar di depan moncong para serigala yang tertarik hingga ke belakang, seolah menjadi benteng perisai sekaligus senjata.


Terlihat, para prajurit yang tersentuh oleh lapisan sinar biru itu ketika ditabrak, langsung berpentalan kencang. Jadi kelima serigala itu tidak perlu menerkam atau mencakar lagi, mereka cukup berlari menyeruduk seperti banteng.


Jalan terbuka yang dibuat oleh Tirana dan Sandaria membuat pasukan Baturaharja mendapat harapan baru.


“Munduuur! Munduuur!” teriak Nayaka Segar Labu cepat.


“Munduuur!” teriak Sepak Bilas pula.


Buru-buru pasukan Baturaharja berlari kencang mengikuti pimpinan mereka. Pasukan Balilitan yang berjubel harus menahan diri, sebab burung sinar merah datang dari udara dan kelima serigala datang menyeruduk melakukan pertahanan membentengi para prajurit Baturaharja.


Pada akhirnya, Nayaka Segar Labu, Sepak Bilas dan Tepuk Geprak berhasil lolos ke ujung barat bersama sekitar tiga puluh prajurit berkuda dan dua ratus pasukan pejalan kaki yang tersisa.


Pasukan Baturaharja yang tersisa akhirnya resmi meninggalkan peperangan dan meninggalkan Jalur Bukit.


Di sisi lain, Kusuma Dewi menjadi benteng kuat bagi rekan-rekannya yang kelabakan menghadapi jumlah prajurit lawan, yang seolah tidak ada habisnya. Kusuma Dewi bersama naga hitamnya melakukan manuver terbang berputar rendah yang mengelilingi posisi pengikut Joko Tenang yang dipimpin oleh Reksa Dipa.

__ADS_1


Kusuma Dewi melakukan hal itu terus-menerus membuat pasukan Balilitan tidak berani mendekati posisi Reksa Dipa dan rekan-rekannya. Jika ada yang berani masuk dalam zona lingkaran, maka mereka akan habis oleh Reksa Dipa dan yang lainnya. Jika tidak ada prajurit yang mendekat, maka naga hitam yang akan memperlebar putaran terbangnya, menyambar puluhan prajurit sekaligus.


Melihat lawan yang tersisa tinggal para pendekar yang berkesaktian, akhirnya para pemimpin pasukan Balilitan mengambil keputusan untuk menarik mundur pasukannya.


Ribuan pasukan itu menghentikan serangannya, lalu bergerak menjauhi kelompok Reksa Dipa. Para pemimpin pasukan tidak mau mengorbankan banyak nyawa pasukannya hanya demi membunuh beberapa nyawa saja.


Reksa Dipa, Surya Kasyara, Nyai Kisut, Garis Merak, Kurna Sagepa, dan Swara Sesat jadi bernapas lega dengan napas yang tersengal-sengal. Beberapa di antara mereka harus menderita luka luar yang tercipta saat mereka dikeroyok beramai-ramai.


Melihat pasukan Balilitan mundur, Tirana dan Kusuma Dewi pun berhenti menargetkan para prajurit.


Tirana kembali memasukkan burung sinar merahnya ke dalam tubuhnya. Ia mendarat di tanah dengan sempoyongan. Garis Merak cepat memeganginya agar tidak jatuh.


“Uhhuk uhuk!” batuk Tirana yang kondisi lukanya kembali memburuk. Ia batuk darah.


“Putri, lukamu semakin parah,” ucap Garis Merak khawatir.


“Tidak apa-apa, Manis,” kata Tirana seraya tersenyum. “Lukaku masih terkendali.”


Dari udara Kusuma Dewi melayang turun. Pada saat itu, naga hitam melesat masuk ke dalam tubuhnya.


“Kau semakin hebat, Kusuma!” puji Tirana.


“Masih sangat jauh jika dibandingkan denganmu, Tirana,” kata Kusuma Dewi seraya tersenyum. Ia memang merasa sangat hebat dalam pertempuran ini. Naga hitam membuatnya menjadi luar biasa, berbeda dari sebelumnya saat ia hanya seorang pendekar wanita yang hanya berbekal ilmu pedang. Namun, ia harus akui, kesaktiannya masih terlalu jauh di bawah para istri Joko Tenang yang termasuk dalam calon Delapa Dewi Bunga.


Pada akhirnya, peperangan di tingkat bawah terhenti. Yang tersisa tinggal pertarungan tingkat tinggi para orang sakti.


Para prajurit Balilitan dan pengikut Joko Tenang kini hanya jadi penonton. Pasukan Balilitan mulai merapikan diri dalam formasi. Mereka tinggal separuh dari jumlah awal. Artinya, sekitar sebanyak lima ribu pasukan Balilitan telah tewas oleh keganasan makhluk Cincin Mata Langit, lima serigala dan para pendekar pengikut Joko Tenang. (RH)


***********


AYO DUKUNG NOVEL INI! Jangan lupa ekspresikan emosimu dengan komentar setelah membaca chapter ini!

__ADS_1


__ADS_2