
*Cincin Darah Suci*
Kereta kuda mewah itu dikawal oleh enam penunggang kuda. Sementara kereta ditarik oleh dua ekor kuda berwarna putih.
Mereka memasuki sebuah gapura usang yang di atasnya terdapat tulisan berbunyi “Kuil Tanpa Dosa”. Tempat itu tampak sepi.
Hingga akhirnya, kereta kuda itu sampai di sebuah tangga batu yang memiliki ratusan undakan untuk sampai ke halaman sebuah kuil berwarna merah hijau. Warnanya sudah usang. Pada setiap undakan tangga ada bagian yang ditumbuhi lumut.
Satu tangan putih nan halus menyingkap tirai kereta. Seorang wanita cantik berpakaian hitam tampak membungkuk dan turun, menginjak paha seorang pengawalnya yang sudah memposisikan dirinya. Wanita cantik itu tidak lain adalah Tu Xie Yua.
Ia sejenak memandang ke kuil yang ada di atas sana.
“Kalian tidak usah ikut!” kata Xie Yua.
“Baik, Nona!” ucap keenam pengawal yang sudah turun dari kudanya seiring turunnya majikan mereka dari kereta.
Hari ini, Xie Yua punya target akan mendatangi dua tempat yang jaraknya cukup berjauhan. Sebenarnya dia mendengar berita tentang pertandingan antara sahabatnya, Putri Yuo Kai, dengan seorang pendekar asing di Lapangan Kaisar pagi ini. Namun, ia lebih memilih mengutamakan rencana rahasianya yang sudah ia sepakati dengan Bangsawan Sushan.
Xie Yua tidak mau menunda waktu. Maka ia menggunakan ilmu peringan tubuhnya untuk naik sampai ke depan pintu besar kuil. Hanya dua kali tolakan kaki, Xie Yua sudah tiba. Wanita itu tidak menemukan satu orang pun di sekitar tempat itu.
Dilihatnya pintu kuil terbuka sedikit, tidak rapat. Tanpa pikir panjang, ia segera menyelinap masuk.
Xie Yua kini berada di sebuah ruangan luas yang sepertinya tidak terawat. Terlihat debu yang menempel memiliki ketebalan yang cukup tidak nyaman dirasakan. Sawang dan sarang laba-laba menggantung berlapis-lapis di langit-langit dan kerangka bangunan besar itu.
Agak jauh ke depan, tampak berdiri empat patung raksasa berwujud mengerikan, seolah menyimbolkan sosok setan atau iblis. Dua patung di sisi kanan dan dua patung di sisi kiri. Namun, jauh di depan sana, masih ada patung lain yang menyatu dengan tembok besar kuil.
Patung itu tidak kalah seramnya dengan empat patung yang lain, warna tubuh dan wajahnya merah gelap. Kedua matanya besar melotot dengan hidung pendek tapi besar. Mulutnya terbuka lebar menunjukkan gigi-gigi runcing besarnya dengan lidah yang menjulur. Patung itu memakai kalung yang terbuat dari rangkaian patung tengkorak manusia.
Xie Yua melangkah terus masuk ke dalam. Ia tidak begitu peduli dengan kondisi kuil yang tidak terurus.
__ADS_1
Setelah berada di antara para patung raksasa, barulah Xie Yua melihat seseorang. Orang itu berpakaian biksu berwarna kuning dengan kain selempang besar berwarna merah. Lelaki berkepala gundul plontos itu memiliki tubuh yang gemuk besar. Ia begitu khusyuk duduk bersila menghadap ke arah patung merah.
“Biksu Hitam!” panggil Xie Yua.
Lelaki gemuk itu sudah menyadari kedatangan Xie Yua sejak wanita itu melewati pintu kuil. Ia menghentikan pembacaan doanya. Ia kemudian bangkit dan berbalik. Maka tampaklah wajah tua beralis putih panjang, berkumis putih dan berjenggot putih sedada. Tangan kanannya menenteng selingkaran tasbih besar berwarna hitam. Jari-jari tuanya terus memainkan butiran tasbih bergiliran sambil bibirnya komat-kamit, entah apa yang dirapalnya. Mata tuanya menatap tajam kepada Xie Yua.
“Apakah Nona tersesat sehingga sampai ke tempatku ini?” tanya biksu tua itu.
“Aku ada tawaran untukmu, Biksu Hitam,” kata Xie Yua, langsung kepada maksudnya.
“Apakah aku mengenalmu, Nona?” tanya biksu itu lagi. Meski ia berbicara, tapi jemarinya terus bermain.
“Tidak, tapi aku mengenalmu sebagai orang buruan Negeri Jang,” kata Xie Yua.
Melebarlah sepasang mata tua sang biksu yang disebut Xie Yua bernama Biksu Hitam. Ia terkejut.
“Namun, tetap saja jika Istana Jang tahu tentang keberadaanmu, kau akan kembali menjadi buruan besar-besaran pasukan Jang,” kata Xie Yua.
“Bagaimana jika aku membunuhmu?” kata Biksu Hitam dengan pembawaan yang tetap tenang dan berwibawa.
“Catatan tentangmu dan keluargamu yang kau tinggalkan ada di tanganku. Jika aku tidak kembali siang ini juga, artinya aku dibunuh. Maka hari ini juga, semua keluargamu, bahkan anakmu, akan mati. Dua ribu pasukan Negeri Jang akan menyerbu ke sini,” ujar Xie Yua.
“Hahaha! Seorang gadis kecil mengancamku,” ucap Biksu Hitam yang didahului oleh tawanya. “Mungkin aku nanti berniat membunuhmu. Sebutkan namamu!”
“Aku Tu Xie Yua, putri Menteri Kehakiman Negeri Jang.”
“Pantas kau berani. Tawaran apa yang ingin Nona Tu tawarkan?”
“Membunuh Putri Yuo Kai.”
__ADS_1
“Putri Yuo Kai adalah murid Penebar Mimpi Buruk. Dia adalah murid tersakti. Membunuhnya tidak mudah.”
“Aku tahu, karenanya aku mendatangimu. Hanya orang sakti sepertimu yang bisa melakukannya.”
“Apa yang kau berikan kepadaku untuk tugas seperti ini?”
“Catatanmu dan catatan keluargamu akan aku musnahkan semuanya. Selain itu, bayaran yang begitu tinggi dan jikapun kau meminta sebuah kota sebagai bayaran, akan kami berikan.”
“Kami?” ucap Biksu Hitam dengan tatapan tajam. “Siapa pihak yang ada di belakangmu?”
“Aku hanya bisa mengatakan sebuah negeri. Kelak kau akan tahu jika kau berhasil membunuh Putri Yuo Kai.”
“Tawaran yang begitu menarik. Tapi ingat, sedikit saja keingkaran dari janji itu, maka kau dan seluruh anggota Keluarga Tu akan musnah!” ancam Biksu Hitam.
“Baik,” kata Xie Yua singkat. Ia lalu berbalik dan melangkah pergi. Lalu teriaknya, “Laksanakan tugasmu secepatnya!”
“Saragatha,” ucap Biksu Hitam seraya tersenyum sinis dengan tatapan yang tajam kepada kepergian Xie Yua.
Seperginya dari Kuil Tanpa Dosa, rombongan Xie Yua langsung pergi ke sebuah daerah berhutan. Ia mendatangi kediaman seorang sakti berjuluk Jenderal Ujung Langit.
Orang sakti bernama asli Mong Tsing itu memiliki sejarah kelam seperti Biksu Hitam. Ia dan Biksu Hitam memiliki sejarah hitam berupa pembantaian dua keluarga jenderal Negeri Jang lebih sepuluh tahun yang lalu. Namun kemudian, keduanya menghilang karena memilih bersembunyi.
Biksu Hitam dan Jenderal Ujung Langit adalah orang-orang sakti yang selevel dengan Penebar Mimpi Buruk. Xie Yua sebagai murid Penebar Mimpi Buruk tahu di mana tempat persembunyian kedua buronan itu karena mencuri informasi dari gurunya.
Sejak tahu tempat persembunyian kedua buronan kelas atas itu, Xie Yua melakukan pelacakan dan pengumpulan informasi tentang keluarga mereka, kemudian menyimpan datanya untuk digunakan suatu hari nanti di masa depan.
Hari inilah ia menggunakan hasil kerjanya yang dijadikan bahan untuk mengancam Biksu Hitam dan Jenderal Ujung Langit.
Pada hari itu pula, satu pendekar sakti telah masuk ibu kota He. Pendekar ini memiliki kesaktian yang lebih tinggi dari para pendekar bayaran yang semuanya telah tewas. Ia memiliki cara sendiri untuk membuat kekacauan di Ibu Kota, bahkan berniat mengobrak-abrik Istana Jang. (RH)
__ADS_1