Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo2: Bencana di Tabir Angin


__ADS_3

*Desa Wongawet*


Setelah menempuh perjalanan selama tiga hari dua malam bersama rajawali raksasa Gimba, akhirnya mereka tiba di daratan Tanah Jawi. Mereka tinggal menunggu waktu untuk tiba di Rimba Berbatu, daerah yang menjadi kekuasaan Kerajaan Tabir Angin.


Sebelumnya, ada dua kerajaan yang ada di Rimba Berbatu, yakni Kerajaan Tabir Angin dan Kerajaan Hutan Kabut. Namun, di masa kedatangan Joko Tenang dan Tirana ke Rimba Berbatu, Kerajaan Hutan Kabut dan ratunya mengalami kehancuran. Tinggallah Kerajaan Tabir Angin yang berkuasa di daerah berhutan dan berbatu itu.


Dalam perjalanannya, Joko Tenang, Tirana dan Puspa beberapa kali memilih untuk singgah di sebuah pulau untuk beristirahat. Termasuk membantu Puspa menyembuhkan luka dalamnya.


“Waaah! Rimba Berbatu! Hihihi! Pulaaang!” teriak Puspa saat mengenali daerah Rimba Berbatu, daerah gunung batu yang juga memiliki hutan yang begitu lebat. Keunikan Rimba Berbatu adalah dia memiliki batu-batu raksasa yang seperti hutan batu.


Tiba-tiba Puspa melompat terjun ke bawah. Sebagai orang yang pernah terjun dari langit, Puspa tidak akan mengalami nasib buruk. Karena itulah, Gimba, Joko dan Tirana tidak mempermasalahkan Puspa melompat terjun. Namun, tindakan Puspa itu membuat mereka akan terpisah.


Gimba terus melayang terbang. Ia mengurangi kecepatannya agar daerah yang mereka tuju tidak terlewatkan.


“Gimba, turun!” teriak Tirana memberi perintah kepada Gimba, setelah ia melihat celah tebing nun jauh di bawah sana.


Sebelumnya, Joko Tenang telah berpesan kepada Gimba agar mematuhi perintah Tirana.


Kaak!


Gimba berkoak tanda patuh. Maka burung berbulu cokelat keemasan itu menukik turun dengan deras, lalu mengerem laju tubuhnya dengan kepakan sayapnya.


Angin dahsyat melanda kawasan luas berbatu itu ketika Gimba turun dengan halus. Tidak jauh dari mereka mendarat, ada satu celah tebing yang memanjang ke atas. Celah tebing itulah jalan masuk ke arah Kerajaan Tabir Angin.


Gimba menurunkan tubuhnya hingga perutnya menempel ke bebatuan.


Tirana melompat turun terlebih dahulu. Ia membiarkan Joko memulihkan tenaganya di atas leher Gimba. Seraya tersenyum Tirana membelai kepala Gimba yang dengan sengaja merendahkan kepalanya.


Tirana telah diajari sedikit oleh Joko tentang cara membaca keinginan Gimba dari gerakannya. Karenanya ia mengerti ketika Gimba menurunkan kepala besarnya.


Tidak berapa lama, Joko Tenang pun melompat turun dengan gagah. Ia sudah pulih dari kelemahan.


Joko Tenang memeluk erat paruh besar Gimba, bahkan menciumnya.


“Terima kasih, Sahabat. Pulanglah untuk beristirahat, kau pasti lelah,” kata Joko sambil mengelus-elus bulu kepala Hewan Alam Kahyangan itu.


Setelah menepuk leher Gimba dua kali, Joko Tenang melangkah mundur agak menjauh.


Kaak!


Gimba berkoak pelan, menyatakan pamit.

__ADS_1


Joko Tenang melambaikan tangan. Tirana ikut melambai dengan senyuman yang lebar.


Sekali bertolak, Gimba langsung meluncur naik dengan kepakan sayang yang kencang. Joko Tenang dan Tirana harus memperkuat kuda-kudanya agar tidak terhempas oleh angin dari kepakan sayap Gimba.


Kaak!


Di angkasa sana, Gimba berkoak kencang. Ia terbang berputar satu kali lalu melesat pergi.


Kini tinggallah Joko dan Tirana berdua.


“Ayo, kita harus segera berikan permata ini kepada Ratu!” kata Joko.


Maka keduanya memilih melesat, tidak berjalan biasa. Mereka tidak memikirkan Puspa lagi, sebab gadis liar itu akan bisa menjaga diri sendiri di daerah tempat ia tumbuh besar.


Setelah melewati celah tebing, mereka harus melalui daerah hamparan bebatuan yang luas. Namun, sekeluarnya dari celah tebing, kedua pemuda sakti itu harus terkejut.


Bau busuk orang mati tercium oleh hidung mereka, seiring netra mereka melihat benda-benda seperti tubuh-tubuh manusia bergeletakan di atas dan celah-celah bebatuan.


Tanpa pikir panjang lagi, Joko Tenang langsung melesat jauh. Tirana segera menyusul. Mereka ingin melihat jelas apa yang berserakan di depan sana. Namun, bau busuk mayat yang lebih dulu tercium membuat mereka langsung menyimpulkan.


Setibanya di tengah-tengah, mereka melihat dengan jelas pemandangan yang mengenaskan dan mengerikan. Puluhan mayat lelaki berseragam hitam-hitam tergeletak tidak beraturan. Tidak hanya sekedar itu, rata-rata tubuh mayat itu terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Kepala mayat-mayat itu diikat dengan pita merah.


“Gawat, terjadi sesuatu sepeninggal kita!” kata Joko kepada Tirana, lalu segera melesat menuju ke mulut sebuah gua yang gelap.


“Setiap mayat prajurit Tabir Angin terpotong-potong halus. Prajurit-prajurit berbaju cokelat itu pasti dibekali satu ilmu pedang yang tinggi dan serupa untuk ukuran seorang prajurit,” kata Tirana sambil melesat di sebelah calon suaminya.


“Jika mayat-mayat itu telah dibiarkan sampai beberapa hari, itu artinya penguasa Tabir Angin tidak baik-baik saja,” kata Joko Tenang.


Mereka melesat masuk ke dalam gua yang gelap. Mereka terus berlari cepat menggunakan ilmu peringan tubuhnya, hingga ada cahaya di ujung lorong yang mereka kenal bernama Lorong Hitam.


Sekeluarnya dari Lorong Hitam, mereka kembali mendapati sejumlah mayat prajurit berseragam hitam-hitam berikat kepala merah. Kondisi mayat mereka sama-sama terpotong rata menjadi beberapa bagian.


Joko Tenang dan Tirana tidak berhenti. Mereka hanya melihat sekilas.


“Jangan sampai terjadi sesuatu kepada kalian, Ratu,” membatin Joko Tenang dalam lesatannya. “Jantungku berdebar-debar.”


Dalam perjalanan mereka menuju Kerajaan Tabir Angin, mereka hanya menemukan beberapa mayat prajurit penjaga pos-pos tertentu. Cara mati mereka sama, yaitu terpotong-potong putus.


Namun, ketika Joko Tenang dan Tirana tiba tidak jauh di depan benteng istana, keduanya berhenti.


Kali ini pemandangan yang mereka saksikan bukan lagi puluhan mayat, tetapi ratusan mayat. Mayat-mayat yang sudah berbau itu berserakan, menumpuk, bahkan ada yang tergantung di atas benteng. Ada pula mayat-mayat yang tubuhnya utuh dan berseragam cokelat putih dengan cara mati beragam. Warna darah kering bertebaran di mana-mana.

__ADS_1


Bentuk gerbang utama dari istana itu sudah rusak dan hancur, seperti terkena pukulan tenaga dalam berkekuatan tinggi.


Joko Tenang tidak lama mematung, dia kembali melesat masuk.


Di dalam lingkungan istana, pemandangan yang mereka saksikan tidak jauh berbeda. Di dalam, tidak hanya prajurit lelaki yang mereka lihat mayatnya, tetapi juga para prajurit perempuan. Nasib mereka sama.


Pada satu titik, mereka bisa melihat ada kehancuran pada dinding bangunan istana, sebagai tanda bahwa yang pernah bertarung di tempat itu bukan prajurit biasa.


“Kakang, langsung ke istana ratu!” seru Tirana.


Joko Tenang mengikuti saran Tirana. Keduanya segera melesat menuju kediaman Ratu Getara Cinta, ratu dari Kerajaan Tabir Angin itu.


“Panglima Jagaraya!” sebut Joko Tenang terkejut.


Joko Tenang cepat mendapati sesosok tubuh lelaki tua yang berpakaian kebesaran berwarna hijau gelap. Lambung dan separuh perut kirinya hancur mengerikan, sepertinya terkena satu ajian seorang lawan tangguh. Perwira itu tidak lain adalah Panglima Besar Jagaraya, orang kepercayaan Ratu Getara Cinta.


Melihat tewasnya orang nomor dua Kerajaan Tabir Angin, Tirana langsung melesat ke kediaman Ratu Getara Cinta.


Namun, Tirana tidak melihat adanya satu pun kehidupan di istana keratuan itu, kecuali serakan dan tumpukan mayat-mayat. Di istana keratuan itu lebih banyak prajurit wanita yang tewas.


Di sini pula, prajurit-prajurit berseragam cokelat putih bersenjata pedang lebih banyak yang tewas.


Tirana mencoba memeriksa dengan teliti hingga ke dalam kamar pribadi Ratu Getara Cinta. Setiap mayat perempuan, ia periksa wajahnya. Namun, Tirana tidak menemukan keberadaan mayat Ratu Getara Cinta.


“Bagaimana, Tirana?” tanya Joko dari luar kamar.


“Aku tidak menemukan Ratu Getara, Kakang,” jawab Tirana lemah.


“Aaa!” teriak Joko Tenang gusar sambil tinjunya menonjok dinding.


Brol!


Kuatnya tenaga dalam di tinju Joko, membuat dinding yang tebal jebol.


“Tenangkan dirimu, Kakang!” seru Tirana. “Kita harus mencari ke seluruh sudut istana ini!”


“Ginari!” sebut Joko, seolah baru teringat.


Buru-buru ia berbalik dan melesat pergi menuju ke tempat kamar Ginari dan Kembang Buangi berada. Tirana cepat menyusul. (RH)


__ADS_1


__ADS_2