Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PAC9: Sarang Pedang Angin


__ADS_3

*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*


Untuk memastikan bahwa Suci Sari tidak berbohong lagi, Joko Tenang berhenti bertanya kepada seorang pengembala. Ia menanyakan arah ke Hambur Angin. Ternyata mereka sudah tiba tidak jauh dari batas Desa Hambur Angin.


Joko melanjutkan perjalanannya menuju ke Hambur Angin. Namun, mereka berhenti ketika tiba di pinggiran sebuah kebun pisang. Ada serombongan lelaki berpedang berseragam cokelat dan putih. Kemunculan rombongan itu membuat Joko Tenang dan kedua gadisnya disulut amarah.


Bluk!


Dengan seenaknya Tirana melempar tubuh Suci Sari yang dipanggulnya ke tanah.


“Akh!” pekik Suci Sari yang tidak bisa berbuat apa-apa.


“Suci Sari!” sebut pemimpin rombongan kesepuluh lelaki berpedang itu. Ia mengenali Suci Sari.


“Rugiwang, tolong aku!” teriak Suci Sari yang mengenali pemimpin rombongan itu.


Melihat perlakuan Tirana kepada Suci Sari, para lelaki berseragam cokelat itu serentak mencabut pedang.


Namun, dendam atas kematian ratusan prajurit Kerajaan Tabir Angin telah sampai ke ubun-ubun Joko Tenang. Ia tidak bisa mengendalikan amarahnya.


Babak...! Krek kerekr...!


“Fukr! Akh! Hekh...!”


Tidak tanggung-tanggung, Joko Tenang memainkan jurus Bayang-Bayang Malaikat. Seperti diserang oleh setan yang tidak terlihat, kesepuluh lelaki berpedang itu tahu-tahu tersentak melengkung dengan mulut menyemburkan darah. Tidak hanya itu, beberapa lelaki tahu-tahu kepalanya miring dengan leher mengeluarkan suara tulang patah. Sepasang mata mereka mendelik berlebihan dan memerah.


Beberapa saat kemudian, kesepuluh lelaki berpedang itu bertumbangan dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Tulang leher-leher dan dada-dada mereka semuanya hancur dihajar oleh amukan Joko Tenang tanpa terlihat jelas oleh mata biasa.


Yang terakhir, Joko tahu-tahu berhenti di sisi pemimpin pasukan kecil itu. Joko menyambar tangan kanan lelaki yang bernama Rugiwang lalu mencengkeramnya.


“Aaak!” pekik Rugiwang tinggi.


Rugiwang tidak kuat. Cengkeraman Joko yang menyalurkan ilmu Sentuh Lebah Neraka membuat seluruh tubuhnya seperti tersengat lebah yang memberi rasa panas menyengat hingga menembus daging dan tulang. Pedang Rugiwang jatuh terlepas. Ia pun jatuh berlutut, karena sengatan itu membuat seluruh tenaganya terbakar habis.


“Di mana Ketua Raja Pedang?” tanya Joko mulai menginterogasi.


“Tidak tahu!” jawab Rugiwang dengan berteriak, menahan rasa sakit dan panas.


“Jangan berbohong!” bentak Joko sambil tangannya mempekuat cengkeramnnya.


“Aaak!” jerit Rugiwang tinggi. Rasa sakit yang menyengatnya semakin tinggi. “Aku tidak berbohong. Ketua memang belum pulang!”


Joko Tenang melepaskan cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Rugiwang. Tangan Rugiwang jatuh terkulai pasrah, seiring dengan kondisinya yang sangat lemah.


Tak!


Joko Tenang menendang ujung gagang pedang milik Rugiwang. Pedang itu melesat dan menancap di bagian bawah sebuah batang pohon pisang.

__ADS_1


“Buang saja perempuan itu!” perintah Joko kepada Tirana. “Orang ini yang akan membawa kita ke sarangnya.”


“Baik, Kakang,” ucap Tirana patuh.


Tirana lalu mengangkat tubuh Suci Sari yang tertotok dan memanggulnya.


“Hei! Apa yang akan kau perbuat?!” teriak Suci Sari panik.


“Aku hanya memindahkanmu!” kata Tirana sambil berjalan ke arah kebun pisang.


Tirana lalu melempar tubuh Suci Sari ke antara batang-batang pisang. Setelah itu ia berbalik meninggalkan Suci Sari tergeletak meringis dalam kondisi tertotok.


“Jangan tinggalkan aku di sini!” teriak Suci Sari.


Namun, Tirana dan Joko tidak mengindahkannya.


“Antar kami ke sarang kalian!” ujar Joko kepada Rugiwang.


“Ba... baik!” ucap Rugiwan lemah.


Rugiwang berusaha untuk berdiri. Dengan tertatih ia berjalan.


“Hei! Lepaskan aku! Aku akan mengadukan kalian kepada kakakku!” teriak Suci Sari keras.


Namun, Joko Tenang dan kedua wanitanya sudah tidak peduli lagi dengan Suci Sari. Rugiwang pun tidak bisa berbuat apa-apa.


Meski langkahnya pelan, tetapi Rugiwang dengan pasti membawa Joko Tenang ke Desa Hambur Angin. Tenaganya perlahan-lahan pulih dengan sendirinya, tetapi Rugiwang tidak berani melawan, terlebih ia tidak memegang pedang. Salah satu kelemahan orang Pedang Angin adalah mereka akan menjadi macan tanpa cakar dan gigi jika tidak memegang pedang.


“Apanya yang aneh?” tanya Joko.


“Biasanya... biasanya di sekitar sini ada orang Pedang Angin, tetapi ini kosong,” jawab Rugiwang agak terbata. Ia lalu menunjuk sebuah pagar batu di kejauhan. “Itu Perguruan Pedang Angin!”


Setelah itu, Joko langsung menyambar tubuh Rugiwang, membawanya melesat untuk cepat sampai ke markas Kelompok Pedang Angin. Tirana dan Kembang Buangi menyusul melesat.


Namun, mereka harus terkejut. Mereka mendapati orang-orang berseragam cokelat putih pada bergelimpangan tanpa nyawa. Pedang-pedang mereka pun berserakan tidak beraturan. Tidak hanya di sekitar gerbang, tetapi ada lebih banyak mayat di dalam sana.


Cara mati puluhan orang Kelompok Pedang Angin itu hampir sama, rata-rata mereka mati oleh luka cakaran yang dalam. Hanya saja, luka cakar itu memiliki unsur kehangusan juga, seolah menunjukkan bahwa yang merobek leher dan tubuh mayat-mayat itu adalah cakaran yang sangat panas.


Rugiwang berdiri gemetar menyaksikan mayat dari teman-temannya. Padahal dia baru meninggalkan tempat itu sejam yang lalu untuk berpatroli.


Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi segera memeriksa ke dalam. Di dalam mereka juga menemukan cara mati dengan tubuh yang hancur berantakan.


“Kita terlambat,” kata Kembang Buangi.


“Siapa yang melakukannya?” tanya Joko.


“Aku mencurigai seseorang, tetapi aku tidak yakin,” kata Tirana.

__ADS_1


“Siapa?” tanya Joko.


“Puspa.”


Terdiam Joko Tenang dan Kembang Buangi mendengar nama yang disebut oleh Tirana.


“Berarti dia menggunakan ilmu Gerbang Tanpa Batas untuk sampai ke tempat ini,” kata Joko setelah memikirkan bagaimana caranya Puspa bisa sampai begitu cepat.


“Kau! Sini!” teriak Kembang Buangi memanggil Rugiwang yang berdiri ketakutan.


Rugiwang datang dengan wajak ketakutan.


“Selain tempat ini, apakah kalian memiliki sarang lain?” tanya Kembang Buangi.


“Ti... tidak ada, Pendekar,” jawab Rugiwang.


“Lebih baik kita langsung ke Tarumasaga, itu lebih pasti,” kata Tirana.


“Ada yang aku herankan, kenapa Puspa tidak langsung melacak keberadaan Ratu Getara, tetapi justru datang ke sini?” pikir Joko.


“Entahlah,” kata Tirana.


“Kita salah perhitungan,” kata Joko. Ia lalu bertanya kepada Rugiwang, “Ke arah mana untuk pergi ke Kerajaan Tarumasaga?”


“Selatan, Pendekar,” jawab Rugiwang.


“Untung kau jujur,” kata Joko yang sebelumnya telah mengetahui bahwa arah ke Kerajaan Tarumasaga adalah ke selatan, sesuai petunjuk si pak petani. “Berapa lama perjalanan berkuda?”


Mendengar perkataan Joko tadi, Rugiwang jadi ngeri-ngeri sedap, takut jika jawabannya dengan apa yang Joko miliki tidak cocok.


“Sasa... satu hari, Pendekar,” jawab Rugiwang dengan wajah takut, memberikan pemandangan iba.


“Baiklah,” kata Joko lalu memegang bahu kiri Rugiwang.


Rugiwang langsung memejamkan mata saat tangan Joko menyentuh bahunya. Ia trauma dengan sengatan ilmu Sentuh Lebah Neraka milik Joko. Namun, itu tidak terjadi.


“Kau lihat teman-temanmu,” tunjuk Joko.


“I... i... iya,” ucap Rugiwang manggut-manggut, tetap ketakutan, seolah Joko Tenang yang tampan berbibir merah itu benar-benar makhluk yang menakutkan.


“Kuburkan mereka semua!” perintah Joko.


“Hah! I.. i.. iya, Pendekar!” jawab Rugiwang terkejut, tapi terpaksa “iya”.


“Ayo kita ke Tarumasaga!” kata Joko kepada kedua gadisnya.


Dalam hati sebenarnya Joko Tenang semakin khawatir. Mereka sudah menempuh pengejaran yang cukup jauh, tetapi belum juga dapat kabar pasti tentang nasib Ratu Getara Cinta dan Ginari. Seharusnya mereka tidak mengikuti saran Guru Merah, Minati Sekar Arum.

__ADS_1


Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi meninggalkan Desa Hambur Angin yang hanya dihuni oleh orang-orang Kelompok Pedang Angin. Desa itu memang menjadi sepi karena sebagian besar penghuninya mengikuti pemimpin mereka pergi berperang ke Rimba Berbatu.


Senja telah tiba. (RH)


__ADS_2