Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PGM 19: Gerombolan Kuda Biru


__ADS_3

*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*


 


Surya Kasyara dilanda rasa marah bercampur senang. Senang karena Tulanggoyo mengatakan adiknya belum mati, tetapi ditolong seorang lelaki bertangan satu. Dia juga marah karena tidak berhasil menemukan dua orang yang ia curigai sebagai adik dan lelaki bertangan satu.


Akhirnya Pendekar Gila Mabuk pergi berlari marah-marah ke bangunan pusat perjudian.


“Bubar semua! Jangan ada yang main judi lagi!” teriak Surya Kasyara sambil masuk tiba-tiba.


Brakr!


Tiang bangunan kayu itu ia tendang hingga patah.


“Lari! Lariii! Ada orang gila mengamuk!” teriak para pemain judi yang terkejut.


Seperti orang kesetanan. Surya Kasyara menangkapi orang-orang yang ramai berjudi di tempat itu, lalu dilempar satu-satu ke luar.


Warga kadipaten yang memang selalu meramaikan tempat itu, seketika panik dan berlarian ke luar.


Brak!


Surya Kasyara menendang hancur meja yang dipakai untuk permainan koprok. Sang bandar yang bernama Josok, jadi marah. Ia tidak takut. Lucu kalau dia yang bertubuh besar berotot harus takut dengan orang gila mengamuk.


“Heh!” Josok datang mencengkeram bahu Surya Kasyara dari belakang.


Surya Kasyara segera memutarkan kepala dan bahunya ke bawah lalu ke belakang dan naik. Kemudian berhenti setelah bahunya terlepas dari cengkeraman.


Dak!


“Yaidaw idaw idaw!” teriak Josok kesakitan saat Surya Kasyara menghentakkan kepalanya ke belakang. Hidung Josok patah dan mengucurkan darah yang banyak. Namun, Josok tiba-tiba berhenti menjerit, berubah menjadi erangan tak pasti, “Eeekhh!”


Josok terbungkuk sambil memegangi kantong tidurnya yang seolah pecah. Wajahnya yang sudah berdarah semakin memerah dengan urat-urat yang bersembulan. Sepasang matanya mendelik seolah mau keluar.


Dengan seenaknya kaki Surya Kasyara melakukan hentakan ke belakang, membuat tumitnya menghantam kantong pantai di bawah perut Josok. Josok tumbang ke samping sambil meringkuk dengan penderitaan yang mendalam.


“Fruuutr!” Surya Kasyara menyemburkan air dari dalam mulutnya ke tiang-tiang dan dinding-dinding tempat itu.


Blep! Blep!

__ADS_1


Anehnya, air yang disembur, tetapi api yang menyala.


“Kebakaraaan! Kebakaraan!” teriak warga yang melihat api mulai membakar tempat itu.


Ki Lugas sebagai penguasa tempat itu muncul bersama enam orang centeng. Surya Kasyara menengok dan menatap tajam kepada lelaki berbelangkon putih itu.


“Hah! Sontoloyo?!” sebut Ki Lugas terkejut bukan main. Seketika ia terserang ketakutan dan kepanikan, terlebih tatapan Surya Kasyara tajam dan terlihat buas.


Ki Lugas cepat berpegangan pada tangan centengnya. Kedua kakinya gemetar hebat. Kini ia berdiri seperti wanita hamil hendak pembukaan sembilan.


“Harggk!” raung Surya Kasyara seperti hewan buas sambil maju merangsek dan mencengkeram dada baju Ki Lugas.


“A… a… ampun, Sesese… Setan Sontoloyo!” teriak Ki Lugas ketakutan.


“Cuih! Tua Bangka!” maki Surya Kasyara marah sambil mendorong tubuh Ki Lugas jatuh ke lantai tanah. “Pakai kencing seperti kucing!”


Centeng-centeng Ki Lugas tidak ada yang berani mendekat. Jika junjungannya saja sampai bisa terkencing-kencing di celana, mereka tentunya tidak mau sampai ter-ter juga di celana.


“Fruuurt!” Surya Kasyara menyembur wajah Ki Lugas dengan air yang tiba-tiba ada di dalam mulutnya.


“Aaakk!” jerit Ki Lugas. Nasibnya sama dengan Tulanggoyo, kulit wajahnya dibakar oleh cairan yang disemburkan.


“Anggap saja itu hukumanku kepadamu, Ki Lugas, dan hukuman dari orang-orang yang kau peras melalui utang!” kata Surya Kasyara. “Aku Surya Kasyara, yang dulu selalu kau sebut Sontoloyo, kini datang untuk membasmi perjudian di kadipaten ini. Aku juga akan membasmi orang-orang seperti dirimu!”


Surya Kasyara menengok ke luar. Dilihatnya sejumlah warga, lelaki dan perempuan, berlarian ketakutan sambil berteriak-teriak mengingatkan warga yang lain.


Surya Kasyara segera melangkah keluar dari tempat yang sedang terbakar itu. Dengan rasa penasaran dia melihat kekacauan yang terjadi, bukan kekacauan yang dia buat, tetapi kekacauan yang lebih besar.


Dilihatnya, beberapa api besar membakar rumah-rumah warga pusat kadipaten di beberapa tempat yang berbeda.


Tampak agak jauh di depan sana, ada tiga orang asing berjalan gagah sebagai orang sakti menuju ke arah kediaman Adipati.


Ketiga orang itu berpakaian ala orang persilatan.


Orang pertama adalah seorang nenek tua berjubah merah. Rambutnya putih. Jika biasanya rambut itu digelung satu di atas kepala, tetapi nenek ini digelung dua. Meski terlihat lucu, tetapi tidak akan yang berani tertawa jika melihat sorot matanya yang tajam dengan bibir tua yang berwarna hitam pekat. Ia membawa sebuah tongkat kayu bengkok sembarang berwarna merah sebagai kaki ketiganya, karena punggungnya sedikit bungkuk. Kuku-kuku jari tangannya yang panjang berwarna merah gelap. Nenek inilah yang dikenal dengan nama Nenek Haus Jantung.


Orang kedua yang berjalan di tengah adalah seorang wanita berusia empat puluh tahun berpakaian warna biru terang. Ia adalah seorang yang cantik dengan kulit warna putih dan masih kencang. Rambut panjangnya digelung separuh dan separuh lagi dibiarkan terurai. Leher baju birunya ketat mencekik leher. Di pinggangnya melilit tali berbahan benang halus warna hitam. Wanita bermata agak sipit itu bernama Nila Mawangi. Lebih terkenal dengan julukan Gadis Kuda Biru. Dialah Ketua Gerombolan Kuda Biru.


Orang ketiga adalah seorang pemuda tampan berpakaian serba hijau. Ia berkumis tipis, memiliki rambut yang dikepang pendek. Ia membawa busur tanpa ada anak panahnya. Pemuda tampan itu bernama Siluman Panah Setan.

__ADS_1


Seorang warga yang berlari panik, tidak sadar kalau ia berlari ke arah kepada ketiga orang itu. Namun, saat mengetahui dirinya berlari ke arah tiga orang asing, warga lelaki itu terkejut ketakutan dan cepat berbalik.


“Aaa… tolong…!” teriaknya.


Bcrak!


Nenek Haus Jantung menghentakkan lengan kirinya. Satu tenaga tidak terlihat langsung menjebol dada lelaki tidak bersalah itu. Warga itu tumbang tanpa bisa berlari lagi dan tanpa bisa bernapas lagi.


“Hahaha!” tawa Siluman Panah Setan. Sambil berjalan, ia menarik senar busurnya dan membidikkannya jauh ke depan.


Tas! Sets!


Ketika senar yang ditarik dilepas, dari busur itu melesat sinar kuning berbentuk anak panah. Sinar itu berhasil menembus dua tubuh warga yang sedang berlari kencang sekaligus.


Warga berlarian membawa anak-anak dan istri-istrinya karena ada beberapa penunggang kuda yang membawa obor dan membakari atap-atap rumah yang terbuat dari rumbia.


Melihat kejadian itu terkejutlah Surya Kasyara. Amarahnya seketika mendidih.


Sementara itu di sebuah penginapan yang ada di kadipaten itu, Turung Gali sedang memantau dari jendela kamarnya di lantai dua. Perasaannya terbakar melihat serangan orang-orang itu.


Turung Gali segera berbalik hendak turun dan pergi untuk melakukan pencegahan. Namun, ketika dia berbalik, ternyata di ruang kamarnya sudah berdiri seorang lelaki tua kurus ringkih bertongkat kayu bercabang. Orang itu tidak lain adalah tabib yang Turung Gali dan Joko Tenang temui di kediaman Adipati Tambak Ruso.


“Mau ke mana kau, Kisanak?” tanya kakek bermata sayu itu.


“Tabib Rakitanjamu!” sebut Turung Gali terkejut. “Orang-orang itu harus dihentikan, Tabib!”


“Dengarlah!” kata Tabib Rakitanjamu.


Turung Gali segera memfokuskan pendengarannya. Ia mendengar ada banyak suara lari kuda, padahal tadi hanya terlihat beberapa kuda yang berlari ke sana ke sini membakari rumah-rumah warga.


Turung Gali segera kembali berbalik dan melalui jendela ia melihat kembali ke luar sana. Tabib Rakitanjamu juga mendekat ke jendela.


Terkejut Turung Gali melihat kondisi terbaru di jalanan sana. Satu rombongan berkuda datang dari hampir semua jalan yang ada di sisi selatan. Gerombolan berkuda yang lebih dari dua puluh kuda itu, datang dan berhenti berbaris di belakang Gadis Kuda Biru, Nenek Haus Jantung dan Siluman Panah Setan.


Rombongan berkuda itu bukanlah satu pasukan berseragam, tetapi satu pasukan pendekar. Mereka tampil dengan karakter dan gaya masing-masing.


“Siapa mereka, Tabib?” tanya Turung Gali tegang.


“Mereka adalah Gerombolan Kuda Biru. Pasukan berkuda itu bukan pasukan biasa, mereka semua berasal dari dunia persilatan. Tiga orang itu adalah pemimpinnya,” jawab Tabib Rakitanjamu. “Jika kau turun seorang diri, aku ragu kesaktianmu akan mampu membuatmu selamat.”

__ADS_1


“Berhenti!” teriak Surya Kasyara yang ternyata sudah berdiri menghadang langkah ketiga pemimpin Gerombolan Kuda Biru. Ia berdiri gontai dengan gaya mabuknya, empat tombak dari ketiga pemimpin Gerombolan Kuda Biru.


“Siapa pemuda mabuk itu? Mau mati konyol dia!” rutuk Tabib Rakitanjamu gusar. (RH)


__ADS_2