Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PAC32: Cara Membebaskan Dewi


__ADS_3

*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*


Joko Tenang terkejut melihat kondisi wanita yang ingin mereka selamatkan. Wanita yang adalah Dewi Bayang Kematian itu dalam kondisi terjerat dalam ikatan jala sinar biru. Selain itu, sepasang kakinya dalam kondisi terikat oleh tali biasa, membuatnya benar-benar tidak bisa berkutik. Tidak hanya itu, wajah cantiknya terlihat pucat dan lemah.


“Hihihi...!”


Tiba-tiba tawa Tirana meledak. Bukan menertawai kondisi Dewi Bayang Kematian, tetapi ia langsung teringat dengan cerita calon suaminya ketika berhadapan dengan gadis berdada jumbo itu.


Tawa Tirana membuat Getara Cinta dan Dewi Bayang Kematian heran. Sementara Joko Tenang sendiri mengerti apa yang sedang Tirana tertawakan. Buktinya, Tirana tertawa sambil memandang kepadanya.


Joko Tenang melempar pandangannya ke arah lain, ia tidak mau terus menatap kepada Dewi Bayang Kematian yang masih berbaring di dalam semak belukar dalam kondisi menantang. Meski Dewi Bayang Kematian dalam kondisi masih berpakaian, tetapi jika dalam kondisi terlentang tidak berdaya seperti itu, tetap saja memberikan rayuan alam yang begitu menggoda nafsu lelaki.


“Kenapa kau tertawa, Tirana?” tanya Getara Cinta.


“Aku teringat cerita Kakang Joko beberapa waktu lalu, Ratu,” jawab Tirana seraya tersenyum-senyum. Ia masih menyebut Getara Cinta dengan panggilan “Ratu”. “Nanti akan aku ceritakan.”


“Joko, kau pasti bisa membebaskanku dari jeratan jala sinar ini,” kata Dewi Bayang Kematian.


“Tirana, lepaskan ikatan kakinya agar ia bisa berdiri!” perintah Joko Tenang, tanpa sudi memandang ke arah Dewi Bayang Kematian.


“Baik, Kakang,” ucap Tirana patuh.


Tirana menghampiri Dewi Bayang Kematian. Dengan mudah ia melepas ikatan pada kedua kaki gadis berpakaian hijau muda itu.


“Bagaimana bisa kau terjerat seperti ini, Dewi?” tanya Tirana sambil membantu Dewi Bayang Kematian untuk berdiri.


“Kau mengenalku?” Dewi Bayang Kematian justru balik bertanya.


“Tentu. Calon suamiku menceritakan tentang dirimu yang sangat cantik dan menggoda ini,” jawab Tirana tersenyum sambil melirik kepada Joko.


Joko Tenang yang bertemu pandang dengan Tirana, hanya diam.


“Calon suami? Kau juga calon istrinya Joko?” tanya Dewi Bayang Kematian yang terkejut mendengar status Joko bagi Tirana.


“Iya. Ratu Getara Cinta juga calon istrinya Kakang Joko,” jawab Tirana dengan bersemangat. Lalu seraya tersenyum, ia berbisik kepada Dewi Bayang Kematian, “Jika kau tertarik juga ingin menjadi calon istri Kakang Joko, aku bisa atur.”


“Aku beberapa hari yang lalu hampir membunuh kekasihku karena dia selingkuh!” kata Dewi Bayang Kematian yang secara tidak langsung menjawab tawaran Tirana.


“Kau tahu bahwa Kakang Joko memiliki calon istri lain, apakah kau pernah bertemu dengan Ginari, calon istri Kakang yang lain?” terka Tirana.


“Jala sinar biru itu adalah ilmu milik Ginari. Bukankah begitu, Dewi?” kata Joko Tenang.


“Bahaya, Joko tahu bahwa aku sebelumnya bertarung dengan calon istrinya. Bisa-bisa dia tidak bersedia menolongku. Lebih baik aku pura-pura tidak mengetahui bahwa pemilik jeratan ini adalah calon istrinya,” membatin Dewi Bayang Kematian sambil memandangi Joko yang menyampinginya.


“Mengapa kau bisa berurusan dengan calon istriku?” tanya Joko Tenang.


“Aku tidak tahu jika wanita cantik itu adalah calon istrimu, Joko. Aku hanya ingin membunuh Arjuna Tandang, tetapi wanita itu justru membantunya. Kemudian aku dijerat seperti ini olehnya. Ia lalu menyuruh Arjuna membuangku jauh-jauh, sehingga aku selama tiga hari terbuang sendiri di jurang ini,” kilah Dewi Bayang Kematian.


“Jelas Ginari akan mencegahmu membunuh Raja Pedang itu, karena jika kau membunuhnya, Ginari juga akan ikut mati dengan sendirinya,” kata Tirana.


“Jika begitu, bisa kalian membantuku melenyapkan jeratan ini?” kata Dewi Bayang Kematian lemah, menaruh harapan yang besar.

__ADS_1


“Tapi, aku ingin tahu dulu, kenapa kau ingin membunuh Raja Pedang itu,” kata Joko.


“Kau tahu sendiri, Joko, adiknya telah membunuh kakakku. Jadi, aku juga berniat membunuh kakaknya saat kami bertemu,” kata Dewi Bayang Kematian, tanpa mau mengungkapkan bahwa ia dan Arjuna Tandang adalah sepasang kekasih sebelumnya.


“Baiklah, Dewi. Biarkan Tirana yang mencoba melenyapkan ilmu itu,” kata Joko yang secara tidak langsung meminta Tirana melakukannya.


Tirana hanya tersenyum. Ia paham, tidak mungkin Joko Tenang mendekati Dewi Bayang Kematian. Meskipun Joko Tenang punya cara sendiri agar tidak lemah ketika mendekati seorang wanita, Tirana khawatir justru “Joko Kecil” akan terbangun gelagapan jika “Joko Besar” begitu dekat dengan Dewi Bayang Kematian.


Tirana lalu meraih sinar biru dari ilmu Jala Ringkus Penjahat milik Ginari di tubuh Dewi Bayang Kematian. Ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk memutus jala itu. Namun, tidak bisa.


“Hebat juga ilmu jerat Ginari,” kata Tirana. Lalu katanya kepada Joko, “Kakang, aku sepertinya tidak bisa. Jika aku menggunakan ilmu Bola Kulit Langit, aku khawatir justru akan melukai Dewi, tetapi tidak jelas apakah jalanya akan sirna atau tidak.”


“Bagaimana denganmu, Getara?” tanya Joko kepada Getara Cinta yang lebih banyak diam.


“Biar aku coba,” jawab Getara.


Tirana segera menyingkir, memberi ruang kepada Getara Cinta. Getara meraih jaring sinar itu pada bagian di bawah dada Dewi Bayang Kematian. Getara Cinta mengerahkan ilmu saktinya untuk melawan jeratan itu.


“Rasanya tidak bisa, Kakang,” kata Getara Cinta memutuskan.


Joko Tenang menghempaskan napas kecewa, karena harus dia yang turun tangan untuk melenyapkan jala sinar itu. Mendapati kondisi itu, maka berdebarlah jantung Joko karena telah tertuntun oleh sugesti pikirannya. Namun, Joko harus menunjukkan sikap tenangnya.


Joko Tenang terdiam, berpikir.


“Joko, tolong lepaskan aku. Aku berjanji, jika kau lepaskan aku, aku akan menuruti apa pun yang kau mau,” bujuk Dewi Bayang Kematian karena melihat Joko cenderung terdiam, seolah enggan untuk menolongnya.


“Baiklah, tapi kau akan menderita luka kecil,” ucap Joko. “Tapi, kau jangan bergerak sedikit pun dari tempatmu!”


Joko lalu bergerak. Ia beralih arah kepada Dewi Bayang Kematian.


Deg!


Rasa aneh kembali menyentak di jantungnya ketika Joko harus memandang lekat tubuh Dewi Bayang Kematian sejenak. Ia harus mengukur tepat jaraknya dengan wanita itu.


Sementara itu, Tirana berbuat nakal. Sambil tersenyum-senyum, ia melirik bagian atas celana Joko, mewaspadai jika ada satu gerakan aneh terjadi di sana.


“Perhatikan celana Kakang Joko!” bisik Tirana kepada Getara Cinta.


Mendelik Getara Cinta mendapat bisikan seperti itu dari Tirana. Getara Cinta tidak banyak bertanya. Meski ia tidak mengerti, tetapi ia juga mencuri pandang kepada bagian atas celana calon suami mereka itu.


Sementara itu, Joko Tenang telah memejamkan mata. Ia pun mensugesti pikirannya agar tidak terpengaruh oleh sosok perempuan Dewi Bayang Kematian.


“Anak setan baik tersangkut jala. Anak setan baik tersangkut jala. Anak setan baik tersangkut jala...” ucap Joko merapal satu kalimat berulang-ulang dalam kondisi mata terpejam.


Mendelik Dewi Bayang Kematian mendengar rapalan Joko Tenang yang menyebutnya anak setan baik. Tirana dan Getara Cinta hanya tertawa.


Setelah sugesti di dalam pikiran Joko terbentuk sehingga gambaran sosok Dewi Bayang Kematian hilang, berubah menjadi sosok setan mengerikan tapi baik dan lucu, Joko lalu tiba-tiba bergerak maju dengan mata terpejam.


Joko menghampiri Dewi Bayang Kematian dengan cepat. Tanpa melihat, tangan Joko bergerak cepat meraih tali sinar pada bagian di bawah dada wanita itu.


“Waw!” desah Tirana yang melihat tangan calon suaminya nyaris menyentuh “gunung putri”.

__ADS_1


Ternyata desahan Tirana terdengar oleh Joko yang mengganggu konsentrasinya. Akibatnya, Joko penasaran dan membuka mata. Ia terpancing untuk tahu siapa yang mendesah.


“Wah!” pekik Joko terkejut bukan main, telah mendapati dirinya sangat dekat dengan wajah Dewi. Ia pun melihat tangan kanannya sudah memegang tali sinar tepat di bawah dada yang begitu merisaukannya.


Press!


Sebelum tenaganya hancur meleleh, Joko Tenang buru-buru menyalakan ilmu Surya Langit Jagat-nya.


“Aak!” jerit Dewi Bayang Kematian saat sinar hijau menyilaukan mata muncul sejenak di tangan Joko.


Setelah itu, Joko Tenang melompat mundur menjaga jarak dari Dewi Bayang Kematian.


Jantung Joko berdebar cepat, pikirannya kacau dalam arti membayangkan keindahan milik Dewi Bayang Kematian. Keringat dingin sempat keluar di dahi Joko. Yang lebih tidak terkendali, benda di dalam celana Joko terbangun segar bugar.


Tirana mencolek Getara Cinta, memberi kode agar melihat calon suami mereka. Mendelik Getara Cinta melihat pergerakan anggota kecil tubuh bawah Joko.


“Hihihi!” Sambil tertawa geli, Tirana segera merangsek ke depan Joko, memegang bahunya dan berdiri menutupi pandangan Dewi Bayang Kematian.


Saat itu juga, Joko Tenang terkulai lemas, seiring terkulainya pula “Joko Kecil”. Sementara Tirana hanya tertawa lalu menahan jatuh tubuh Joko.


Sementara itu, Dewi Bayang Kematian meringis merasakan perih pada kulitnya. Kain baju pada bagian perut hangus yang juga membuat kulit perutnya melepuh terbakar. Untung saja, ilmu Joko tadi tidak merusak kain dan kulit dada Dewi. Jala sinar biru telah lenyap sejak terkena sinar ilmu Surya Langit Jagad.


“Ada apa dengan Joko?” tanya Dewi Bayang Kematian cemas seraya mendekat. Ia khawatir jika karena mengeluarkan ilmunya tadi jadi berefek buruk pada diri pemuda itu. Padahal ia akan duel tarung melawan Arjuna Tandang siang ini.


“Tidak apa-apa, Dewi. Ini hanya kejutan sejenak setelah mengeluarkan ilmu itu,” jawab Tirana. “Menjauhlah, biarkan Kakang Joko memulihkan tenaganya.”


Tirana lalu menjauhi Joko, demikian pula Dewi Bayang Kematian.


“Bagaimana kondisimu, Dewi?” tanya Tirana.


“Aku hanya luka ringan, tapi aku lemah sekali, tiga hari tidak makan minum,” ucapnya.


“Kau mau ikut Kakang Joko atau pergi?” tanya Tirana menawarkan.


“Ingin rasanya aku ikut Joko, tetapi aku tidak mau dinilai sebagai gadis penggoda,” jawab Dewi Bayang Kematian seraya tersenyum.


Getara Cinta dan Tirana turut tersenyum. Tirana melirik ke calon suaminya yang dalam waktu singkat sudah pulih. Namun, tiba-tiba Joko berkelebat pergi naik ke atas meninggalkan mereka tanpa kata.


“Heh, Joko pergi begitu saja!” ucap Dewi Bayang Kematian terkejut. “Apakah dia marah kepadaku?”


“Tidak, tetapi Joko tidak mau terlalu bahagia jika lama-lama bersama denganmu,” ucap Getara Cinta. Ia lalu melesat menaiki jurang.


“Dewi, kami tidak boleh terlambat. Aku pamit, senang bisa mengenal wanita cantik sepertimu,” ucap Tirana seraya tersenyum manis.


“Padahal kau jauh lebih cantik,” ucap Dewi Bayang Kematian seraya tersenyum lebar.


Tirana lalu melesat menaiki tebing jurang, meninggalkan Dewi Bayang Kematian, satu-satunya wanita yang bisa mengganggu ketenangan seorang Joko.


“Bagaimana bisa wanita-wanita cantik itu bersatu menjadi calon istri satu orang lelaki?” membatin Dewi Bayang Kematian. (RH)


**********

__ADS_1


Season PAC akan berakhir dalam beberapa bab/chapter lagi dan akan beralih ke season "Pusaka Serap Sakti" yang akan disingkat "Pusesa".


__ADS_2