Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
111. Cincin Darah Suci


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Putra Mahkota Negeri Ci Cin, Pangeran Baijin, bersujud ketika Kaisar Negeri Ci Cin, Bai Siga, mengambil sebuah kotak emas sebesar dua genggaman telapak tangan yang selama ini tersimpan di atas batu pualam berwarna biru langit.


Untuk mencapai puncak batu pualam besar itu, Kaisar Bai Siga harus menaiki tangga batu berwarna putih berlapis karpet tebal berwarna biru terang. Sebelum mengambil kotak emas, terlebih dulu kaisar bertubuh tinggi besar itu menjura hormat terhadap kotak. Lalu menciumnya. Barulah mengambilnya.


Kaisar Bai Siga adalah sosok berwajah bulat dengan sorot mata yang tajam. Alis, kumis dan jenggotnya lebat yang sudah memiliki dua warna, hitam dan putih. Saat itu ia mengenakan pakaian kebesarannya sebagai seorang kaisar, berwarna biru terang. Sulaman benang emas yang tebal membentuk gambar burung phonix yang sedang terbang menukik. Paruhnya  menganga lebar seolah sedang memperdengarkan pekikan kerasnya ke alam semesta.


Kaisar Bai Siga menuruni tangga kemudian berjalan di atas karpet biru tebal ke hadapan putranya.


Saat itu Pangeran Baijin mengenakan pakaian serba hitam model pakaian perang yang dibelakangnya memiliki sayap tebal. Pakaiannya dihiasi dengan asesoris besi-besi perak yang membuat sosoknya terlihat gagah. Di sisi tubuhnya terbaring sebuah pedang yang masih tersarung dalam warangkanya yang berwarna hijau.


“Bangunlah, Putraku!” perintah Kaisar Bai Siga.


Pangeran Baijin mengangkat kepalanya dari lantai hingga kini ia berlutut. Ia memandang sejenak wajah ayahnya yang berwibawa, lalu beralih memandang kotak emas di tangan ayahnya.


“Putraku, suatu kehormatan yang tinggi bagimu bahwa kau dipilih sebagai pemimpin yang akan membawa Ci Cin menjadi negeri besar dari timur hingga ke barat. Para kaisar Ci Cin terdahulu tidak ada yang berani mengambil tugas dan cita-cita ini karena mereka tidak berani menerima Cincin Darah Suci di jari tangannya. Sebelum aku berikan cincin warisan leluhur Ci Cin ini, sekali lagi aku tanya kepadamu, wahai putraku. Apakah kau siap berkorban nyawa demi kejayaan Negeri Ci Cin?”


“Aku siap berkorban nyawa demi kejayaan Ci Cin dan mengembalikan kehormatan Kaisar Ci Cin yang telah diinjak-injak dan dilecehkan oleh Jang!” tegas Pangeran Baijin. Sebelumnya, beberapa kali Kaisar Bai Siga mengulang pertanyaan itu kepadanya.


“Baiklah,” kata Kaisar Bai Siga.


Cklek!


Terdengar kotak emas itu dibuka. Penutup atas dibuka oleh Kaisar Bai Siga. Cahaya warna hijau menyeruak keluar ke atas yang bersumber dari benda yang ada di dalam kotak.


Berdebar dada Pangeran Baijin. Wajah tampannya yang masih berkumis tipis itu tampak tegang. Keningnya mengerut dengan mata agak melebar menyaksikan cahaya yang keluar dari dalam kotak yang posisinya hanya sejangkauan di depan kepalanya.


Kaisar Bai Siga mengambil benda di dalam kotak emas dengan jari tangan kanannya.


“Benda yang luar biasa,” ucap Pangeran Baijin takjub saat melihat sebuah cincin emas di tangan ayahnya.


Bukan ring cincinnya yang membuat benda itu menjadi sangat indah, tetapi batu permata berwarnah hijau bening dan memancarkan cahaya. Itulah benda pusaka Negeri Ci Cin yang bernama Cincin Darah Suci. Pusaka yang katanya, juga ditakuti oleh para kaisar Negeri Ci Cin.


“Ulurkan tanganmu!” perintah Kaisar Bai Siga.


Pangeran Baijin mengulurkan tangan kanannya kepada tangan kiri ayahnya. Kaisar Bai Siga lalu memasukkan jari manis tangan kanan Pangeran Baijin yang jantungnya semakin berdebar. Sebelumnya ia diberi tahu oleh ayahnya, ketika cincin itu dikenakan di jari, maka akan terjadi sesuatu yang ayahnya sendiri tidak pernah melihatnya semasa hidupnya.


Ketika cincin itu terpasang dengan pas di jari manis Pangeran Baijin, cahaya hijau yang dipancarkan berubah menghilang. Kini mata cincin itu hanya seperti batu yang berwarna hijau sebening embun. Setelah itu tidak terjadi apa-apa, melegakan perasaan sang pangeran. Kaisar Bai Siga pun sudah melepaskan tangannya dari tangan putranya.

__ADS_1


Zerrsss!


“Aaarrkkk...!”


Tiba-tiba dari Cincin Darah Suci menyebarkan aliran sinar seperti listrik berwarna hijau yang menyelimuti seluruh tubuh Pangeran Baijin, memaksa putra mahkota itu menjerit meraung. Tubuhnya disengat, tidak hanya sebatas kulit, tetapi terasa menyengat sampai ke dalam daging dan tulang.


Seketika Pageran Baijin mengejang keras dalam posisi berlutut seperti itu. Mulutnya terbuka lebar. Tak lama, sepasang matanya bersinar hijau, tapi hanya sekejap.


Kaisar Bai Siga, meski sudah menduga akan ada yang terjadi setelah pemasangan cincin itu, ia tetap terkejut. Langkahnya sampai termundur dua tindak. Perasaan dan wajahnya menjadi tegang. Ada rasa takut dalam dadanya, takut jika putranya akan mati saat itu juga.


Namun, sengatan listrik hijau itu akhirnya padam, berhenti setelah sepuluh hitungan.


Tampak Pangeran Baijin masih terlutut kejang, seolah seluruh otot dan urat tubuhnya ingin ia kencangkan. Mulutnya yang menganga lebar karena teriakan, perlahan bergerak menutup. Seiring itu, otot-ototnya mulai mengendur, begitu jelas terlihat pada urat dan otot lehernya.


Pangeran Baijin pun perlahan bergerak berdiri. Ia memandangi dirinya dan kedua telapak tangannya, seolah sedang menilai apa yang sudah terjadi pada dirinya.


Zerzz!


Ketika Pangeran Baiji mengepalkan tangan kanannya, tiba-tiba muncul jilatan-jilatan listrik, tetapi hanya di lingkup genggaman itu. Ketika ia renggangkan lagi jari-jemarinya, jilatan listrik itu hilang. Saat ia coba menggenggamkan lima jari tangan kirinya, hal yang sama terjadi.


“Ini luar biasa, Ayah! Hahaha!” teriak Pangeran Baijin lalu tertawa puas. Ia merasakan dirinya seolah memiliki kekuatan yang sebelumnya tidak ada. Namun, ia tidak bisa menjelaskan kekuatan apa itu.


“Aku sangat yakin. Aku merasa sekarang aku adalah Iblis Penakluk!” desis Pangeran Baijin yang tiba-tiba kepercayaan dirinya naik berkali lipat.


Kaisar Bai Siga tersenyum bangga. Ia selama ini hanya bermodal keyakinan tentang kehebatan Cincin Darah Suci tanpa pernah menyaksikan secara langsung kesaktian benda pusaka itu. Ia hanya tahu dari sebuah kitab yang khusus menceritakan tentang kesaktian cincin itu. Kini ia semakin yakin bahwa masa jaya Negeri Ci Cin tinggal menunggu hari saja.


“Putraku! Berangkatlah! Tuntaskan tugas suci kejayaan Negeri Ci Cin!” teriak kaisar berusia 62 tahun itu.


Crak!


Cukup mengarahkan telapak tangannya ke arah pedang, senjata itu bisa tertarik ke atas seperti besi disedot oleh besi berani.


“Aku berangkat, Ayah!” ucap Pangeran Baijin lalu menjura hormat.


“Berangkatlah!” sahut Kaisar Bai Siga.


Pangeran Baijin berbalik dan melangkah gagah penuh kepercayaan diri. Ia merasa, di setiap anggota tubuhnya ada kekuatan yang terpendam. Seperti ketika ia menarik naik pedangnya. Bahkan langkahnya terasa enteng, ia tidak merasakan tubuhnya memiliki berat.


Keluar dari ruangan rahasia itu, Pangeran Baijin menelusuri lorong panjang yang di sisi kanan kirinya berjejer prajurit yang khusus berjaga di jalan masuk ke ruangan.

__ADS_1


Setelah berjalan cukup jauh, Pangeran Baijin akhirnya keluar ke sebuah balkon besar. Ada beberapa prajurit berseragam hitam berjaga di balkon itu.


Pangeran Baijin memandang ke bawah.


Di bawah sana sangat ramai. Puluhan ribu pasukan berseragam hitam telah berbaris rapi berdasarkan kelompok dan komandannya masing-masing. Pasukan berkuda dan infanteri, semuanya telah siap. Bendera-bendera hitam bergambar kepala burung elang dengan paruh terbuka berkibar-kibar tertiup angin, memberi nuansa pembakar semangat.


Pangeran Baijin naik ke atas pagar balkon. Sayap pakaiannya berkibar deras ditiup angin.


“Pasukan Negeri Ci Cin!” teriak Pangeran Baijin membahana, mengandung tenaga dalam.


“Perkasa! Perkasa! Hancurkan Musuh!” teriak seluruh prajurit Negeri Ci Cin sambil memukul-mukulkan senjatanya ke lantai lapangan yang luas.


Terdengar begitu menggetarkan nyali bagi musuh dan mengangkat keberanian bagi prajurit.


“Hari ini adalah hari kita memulai kejayaan Negeri Ci Cin! Hari ini, negeri barat akan kita buat tidak bisa tidur! Hari ini kalian mulai membangun kepahlawanan untuk masa depan negeri kepada kemakmuran yang tidak terhingga! Siapa yang gugur dalam tugas suci ini, Kaisar akan menjamin keluarganya dengan emas dan perak! Siapa yang pulang dengan kejayaan, pangkat baru dan harta rampasan akan kalian nikmati sepuasnya!”


Pangeran Baijin membakar semangat pasukannya dengan kata-kata spirit dan iming-iming kesejahteraan materi.


“Pasukan Negeri Ci Cin!” teriak Pangeran Baijin memanggil lagi.


“Perkasa! Perkasa! Hancurkan Musuh!” teriak seluruh prajurit Negeri Ci Cin sambil memukul-mukulkan senjatanya.


“Kita berangkat ke perbatasan kota Taele!” teriak Pangeran Baiji sambil melesat terbang dari atas balkon seperti seekor elang menukik mangsa.


“Jaya Yang Mulia Putra Mahkota!” teriak seluruh prajurit yang takjub sekaligus terkejut melihat kehebatan Pangeran Baijin.


Para pejabat yang berdiri berbaris di sisi bawah balkon juga terkejut melihat Putra Mahkota yang tiba-tiba bisa sehebat itu.


Aksi terbang itu sebelumnya tidak pernah ditunjukkan oleh Pangeran Baiji, yang artinya kemampuannya belum setahap itu. Namun, hari ini sangat berbeda.


Unjuk kesaktian baru itu jelas menaikkan semangat dan kepercayaan diri pasukan.


Begitu ringannya Pangeran Baijin mendarat di depan pasukannya, tepat di sisi kudanya. Pria berusia 40 tahun itu segera menaiki kudanya yang dipegang oleh pengawal pribadinya, Sala A Jin.


“Berangkaaat!” teriak Pangeran Baijin.


“Perkasa! Perkasa! Hancurkan Musuh!” teriak seluruh prajurit lalu mulai bergerak secara teratur.


Sebanyak 40.000 pasukan Negeri Ci Cin mulai bergerak yang akan menuju ke kota Taele, perbatasan timur Negeri Lor We. (RH)

__ADS_1


__ADS_2