Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
29. Tirana, Gadis Penjaga


__ADS_3

"Hormat hamba, Yang Mulia Pangeran!” ucap gadis asing itu sambil turun berlutut kaki kanan seraya menempelkan kedua telapak tangan di depan kepala yang menunduk dalam.


Tindakan gadis itu membuat Joko Tenang dan Ginari merasa heran.


“Hei, apa yang kau lakukan, Nisanak?” hardik Joko pelan. “Mengapa kau berlutut seperti itu, padahal aku tidak mengenalmu dan aku hanyalah seorang pendekar?”


“Hamba bernama Tirana, Gadis Penjaga. Hamba diutus Gusti Mulia Raja Anjas Perjana Langit untuk menjadi penjaga dan istri pertama Pangeran. Terima sembah hormat hamba, Yang Mulia Pangeran!” lapor gadis itu tetap menunduk dalam dan hanya memandang kedua ujung kaki Joko.


“Apa-apaan ini?” ucap Joko bingung. “Berdirilah. Aku bukan seorang pangeran. Aku yakin kau salah orang, Nisanak!”


Gadis yang mengaku bernama Tirana itu lalu bergerak bangun berdiri memandang kepada Joko dengan senyuman yang sejuk.


“Pangeran Dira yang berubah menjadi lemah saat aku dekati kurang dari tiga langkah menunjukkan bahwa hamba tidak salah orang, Yang Mulia,” tandas Tirana.


“Namaku Joko Tenang, bukan Pangeran Dira, kau salah orang!” tegas Joko.


“Maaf, Yang Mulia. Joko Tenang adalah nama lahir Pangeran, tapi nama kerajaan Yang Mulia adalah Pangeran Dira Pratakarsa Diwana,” kata Tirana.


“Lalu kerajaanku ada di mana?” tanya Joko Tenang seraya tersenyum, ia merasa lucu dengan cerita Tirana.


“Kerajaan Sanggana di tengah Hutan Urat Dewa.”


“Lalu siapa ayahku?” tanya Joko.


“Gusti Mulia Raja Anjas Perjana Langit,” jawab Tirana.


“Apakah kau juga tahu siapa ibuku?”


“Maafkan hamba, Yang Mulia Pangeran, hamba tidak tahu,” kata Tirana.


“Kau ditugaskan apa tadi?” tanya Joko lagi.


“Menjadi penjaga dan istri pertama Yang Mulia Pangeran,” jawab Tirana.


“Nisanak, kau begitu cantik, kenapa kau mau mengorbankan dirimu kepada orang asing sepertiku. Terlebih, kau tidak mungkin menjadi istriku. Kau lihat sendiri, ketika kau mendekatiku, aku langsung mau mati. Aku pun tidak pernah mendengar tentang Kerajaan Sanggana atau ayahku seorang raja, atau aku adalah seorang pangeran. Siapa sebenarnya yang mengutusmu dan apa tujuanmu terhadapku?” ujar Joko.

__ADS_1


“Hamba diutus oleh ayah Yang Mulia Pangeran, Gusti Mulia Raja Anjas Perjana Langit. Tujuannya adalah menjaga Yang Mulia Pangeran dari bahaya dan menyembuhkan penyakit Sifat Luluh Jantan Yang Mulia,” jawab Tirana.


“Jadi, kau sangat yakin bahwa aku adalah pangeranmu, yang akan menjadikanmu istri, dan kau adalah hambaku?” tanya Joko lagi.


“Benar, Yang Mulia.”


Joko menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha membesarkan rongga dadanya agar hatinya pun bisa lapang menerima cerita tidak masuk akal itu.


“Bukti apa yang bisa kau berikan bahwa kau tidak sedang menipuku?” tanya Joko.


“Bukti bahwa hamba tahu guru Yang Mulia Pangeran adalah Ki Ageng Kunsa Pari. Bukti bahwa Yang Mulia memiliki ilmu Surya Langit Jagad, Bulan Pecah Karang, Pisau Api Neraka, Badai Malam Dari Selatan, Langit Membakar Bumi, Langkah Dewa Gaib, Tapak Kucing, Tarian Jari-jari Setan, Sentuh Lebah Neraka, Cubitan Seribu Geli, Serap Luka, Cuci Raga....”


“Sudah sudah sudah, kau membongkar semua kesaktianku!” kata Joko yang terpana dengan pengetahuan Tirana. Dalam hati ia bertanya, “Bagaimana bisa ia mengetahui semua ilmuku? Apakah ini pekerjaan Guru?”


Sementara Ginari hanya menyimak dialog Joko Tenang dengan Tirana.


“Baiklah, Nisanak. Untuk sementara aku menjadi pangeranmu. Aku masih ada beberapa pekerjaan penting,” kata Joko Tenang mengalah.


“Nama hamba Tirana, Yang Mulia,” kata Tirana.


“Baik, semoga engkau nyaman, tapi jangan lakukan hal seperti tadi. Bisa kau bebaskan Hujabayat?” kata Joko.


Tirana lalu memercikkan jari tangan kanannya ke arah posisi Hujabayat mematung. Satu gelombang halus tak terlihat melesat menerpa tubuh Hujabayat yang langsung membuatnya bisa bergerak dan agak bingung sendiri.


Hujabayat segera datang mendekati Joko dan bertanya, “Apa yang terjadi?”


“Tidak apa-apa. Namanya Tirana, dia calon istriku yang lain,” kata Joko.


Hujabayat diam terperangah mendengar perkataan Joko. Ia memandang sejenak gadis cantik asing itu. Tirana hanya mengangguk kecil kepada Hujabayat seraya tersenyum manis.


“Kita harus mengubur Pengemis Maling lebih dulu, baru kita mencari obat untuk Ginari dan Kembang Buangi,” kata Joko Tenang. Lalu teriaknya memanggil, “Jagur!”


“Siap, Pendekar!” sahut Jagur datang mendekat.


“Dapatkan untuk kami sebuah pedati dan dua kuda!” perintah Joko.

__ADS_1


“Baik, Pendekar,” jawab Jagur lalu bergegas pergi.


“Artinya kau akan melakukan apa pun yang aku perintahkan?” tanya Joko kepada Tirana.


“Benar, Yang Mulia. Hingga Yang Mulia Pangeran memerintahkan untuk tidur bersama, aku akan lakukan dengan setia,” jawab Tirana.


“Aku sangat perlu orang yang bisa menggendong Ginari ke sini dan ke sana, karena aku tidak mungkin bisa melakukannya,” kata Joko.


“Baik, Yang Mulia Pangeran,” jawab Tirana seraya sedikit menunduk. 


*****


Ginari alias Pendekar Tikus Langit terbaring tidak berdaya. Gadis berwajah jelita nan indah itu hanya mengikuti irama putaran roda kayu pedati yang ditarik oleh dua ekor kuda. Namun, Ginari tidak sendiri. Di sisi kanan Ginari juga terbaring tidak berdaya seorang gadis cantik berwajah putih bersih. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia merasakan sakit yang pedih di dalam tubuhnya. Ia mengenakan pakaian serba putih, kontras dengan Ginari yang serba hitam. Gadis cantik itu adalah Kembang Buangi. Jika Ginari menderita karena di dalam tubuhnya ada racun Pil Gerogot Jantung milik mendiang Nenek Kerdil Raga, di dalam tubuh Kembang Buangi ada racun Ajian Sayat Nyawa milik mendiang Ki Demang Rubagaya.


Di dekat kedua gadis cantik bernasib malang itu duduk gadis cantik nan jelita lainnya, yaitu Tirana alias Gadis Penjaga. Tirana mengaku sebagai hambanya Joko Tenang dan muncul dengan tujuan menjadi istri pemuda berbibir merah itu. Tirana sesekali merapikan bantalan kepala Ginari dan Kembang Buangi agar kedua gadis itu merasa nyaman saat ada guncangan di jalan.


Gerobak pedati beroda dua itu memiliki atap kain tebal yang dibuat untuk melindungi mereka dari terik matahari.


Dua kuda yang menarik gerobak dikendalikan oleh Hujabayat yang berlakon sebagai sais. Di sisi kiri pedati berkuda itu berjalan seekor kuda hitam yang ditunggangi oleh Joko Tenang, pendekar sakti bercaping berbibir merah, yang oleh Tirana diakui sebagai Pangeran Dira Pratakarsa Diwana, putra Raja Kerajaan Sanggana. Namun, Joko belum mempercayai klaim Tirana yang dianggapnya aneh.


Sementara Jagur, mantan centeng mendiang Ki Demang Rubagaya, perannya selesai setelah ia menyiapkan semua kebutuhan yang diperlukan oleh Joko dan rombongannya. Padahal ia berkeras ingin ikut dan mengabdi kepada Joko, tapi Joko menolaknya. Joko hanya berpesan kepadanya agar menjadi orang baik yang tidak merugikan orang lain.


“Kau begitu cantik, Ginari,” kata Tirana seraya tersenyum manis kepada Ginari. “Sejak kapan kau mengenal Pangeran Dira?”


“Apakah benar dia seorang pangeran?” Ginari yang bersuara pelan justru bertanya.


“Iya, tapi dia tidak pernah tahu, bahkan gurunya pun belum memberi tahu dia. Sejak kapan kau mengenal Pangeran Dira?”


“Aku ingin membunuhnya,” kata Ginari datar.


“Hah!” kejut Tirana. “Kenapa? Bukankah Pangeran Dira calon suamimu?”


“Dia memperkosaku,” jawab Ginari dingin, seolah menyimpan dendam dalam kelemahan suaranya.


“Hah!” kali ini Tirana memekik lebih kencang, membuat Joko Tenang jadi memandang kepadanya. Mendapat pandangan dari Joko, Tirana hanya tersenyum manis seraya mengangguk hormat.

__ADS_1


“Karena itu, Kakek berwasiat kepada Joko agar mau menikahiku,” kata Ginari.


Sementara Kembang Buangi dan Hujabayat menjadi pendengar yang baik saja. Kembang Buangi memang tidak bisa bicara karena lukanya yang begitu parah, sementara Hujabayat tidak mau turut campur dengan urusan pribadi Ginari dan Joko Tenang. (RH)


__ADS_2