
Matahari senja baru saja menenggelamkan dirinya di selimut alam. Sementara langit masih kemerahan seolah terbakar luas nun jauh di barat.
Dua kuda yang dikendalikan oleh Hujabayat dan seekor yang ditunggangi Joko, harus berhenti. Demikian pula gerobak pedati yang diisi oleh tiga orang gadis cantik-cantik laksana bidadari. Sebuah bukit sudah mereka putari dan kini mereka mencoba menaklukkan bukit yang lain.
Jalan yang begitu menanjak di bukit itu sudah tidak bisa diteruskan dengan kuda dan pedati. Mereka harus naik ke atas punggung bukit untuk sampai ke kediaman Nyi Lampingiwa, guru Hujabayat.
Hujabayat mengikat tali kuda dengan kuat di batang pohon. Demikian pula dengan Joko. Hujabayat memandang ke atas.
“Di rimbunan pohon bambu itu!” tunjuk Hujabayat ke atas.
Dari tempat mereka berdiri, mereka bisa melihat adanya kumpulan tanaman bambu di sisi atas bukit. Mereka harus melalui jalan undakan tanah dan bebatuan bukit untuk sampai ke sana. Itu jalan yang tidak mudah bagi orang biasa, tetapi bukanlah jalan yang sulit bagi orang-orang persilatan.
Tirana turun dari gerobak dan dengan lembut meraih tubuh Ginari lalu memanggulnya dengan gerakan selembut mungkin.
“Kehadiranmu memang benar-benar memberi jalan keluar bagiku, Tirana,” kata Joko Tenang.
“Adalah tugas hamba mengabdi jiwa dan raga untuk Kakang Joko,” kata Tirana seraya tersenyum manis dan ikhlas. Ia tetap menjaga jarak dengan Joko yang ia klaim sebagai Pangeran Dira.
Sementara Hujabayat mengangkat tubuh Kembang Buangi, ia memilih membiarkannya di kedua tangan kekarnya daripada memanggulnya.
Dengan dipimpin Hujabayat selaku tuan rumah, mereka naik mendaki. Joko Tenang tetap menjaga jarak dari Tirana ataupun Hujabayat.
Upaya mereka tidak memakan waktu lama. Setibanya di area pepohonan bambu, mereka melihat sebuah rumah sederhana. Untuk sampai ke sana, harus melalui sebuah jembatan bambu yang di bawahnya mengalir bening aliran air yang cukup deras, karena kemiringannya yang cukup curam, menimbulkan irama air yang alami.
Seiring tibanya rombongan di depan rumah bambu sederhana itu, pintu rumah dibuka dari dalam. Mereka semua memandang ke ambang pintu.
Seorang wanita tua bertubuh bungkuk muncul dengan membawa tongkat besi dan sebuah lentera minyak. Dengan bantuan tongkatnya, lentera itu ia gantungkan di atas, di bawah atap, menerangi teras yang dilengkapi dengan balai-balai bambu cukup lebar.
Wanita bungkuk itu berambut putih agak awut-awutan karena sanggulan yang tidak rapi. Ia mengenakan jubah merah gelap. Namun ternyata, sepasang mata si nenek buta. Meski fisiknya demikian, tapi ia adalah salah satu tokoh sakti dunia persilatan yang bernama Nyi Lampingiwa dan berjuluk Nyi Pandang Ireng.
“Siapa yang kau bawa, Hujabayat? Aku merasakan, satu pun aku tidak ada yang kenal,” kata Nyi Lampingiwa sambil mendekati muridnya. Ia kemudian menyentuhkan jemari tuanya ke kepala Kembang Buangi. Lalu beralih menyentuh kepala Ginari. “Baringkan keduanya di balai-balai, agar bisa aku periksa separah apa lukanya.”
__ADS_1
Hujabayat dan Tirana membaringkan Kembang Buangi dan Ginari bersebelahan di balai-balai.
“Ini Kembang Buangi dan Ginari Pendekar Tikus Langit, Guru,” jawab Hujabayat.
“Murid Pangeran Tapak Tua dan Setan Genggam Jiwa,” ucap Nyi Lampingiwa seketika bisa mengenali. Sambil meraih pergelangan tangan Ginari, si nenek kembali bertanya, “Lalu gadis sakti itu?”
Hujabayat langsung memandang kepada Tirana. Sebutan Nyi Lampingiwa tentang “gadis sakti” membuat Tirana hanya delikkan matanya sedikit. Joko pun jadi kagum dengan ketajaman indera peraba Nyi Lampingiwa.
“Maksud Guru, apakah Tirana?” tanya Hujabayat.
“Memang di sini ada berapa gadis? Dua gadis sudah ku kenal, sedangkan dia belum,” kata Nyi Lampingiwa lalu menunjuk sejenak Tirana.
“Namaku Tirana, Nek. Aku Gadis Penjaga Kakang Joko,” jawab Tirana santun seraya tersenyum.
“Bagaimana bisa, kau semuda ini sudah sesakti ini?” tanya Nyi Lampingiwa.
“Aku rasa Nenek begitu melebihkan,” kata Tirana seraya tertawa kecil.
“Itulah masalahnya, Guru. Obat penawarnya tidak ada. Pemilik racunnya, Nenek Kerdil Raga, telah tewas,” kata Hujabayat.
“Siapa yang membunuh orang jahat itu?” tanya Nyi Lampingiwa sambil beralih meraih pergelangan tangan Kembang Buangi.
“Joko Tenang,” jawab Hujabayat.
“Pemuda sakti di luar itu?” terka Nyi Lampingiwa tanpa menunjuk.
Joko Tenang sejak tadi memang berdiri di luar, karena ia dituntut wajib menjaga jarak.
“Benar, Guru,” jawab Hujabayat.
Nyi Lampingiwa lalu berkata kepada Kembang Buangi, “Nasibmu tidak jauh berbeda dengan Ginari, hanya berbeda jenis racun dan rasa sakit. Namun, aku sangat sayangkan, aku tidak memiliki kemampuan untuk mengobati kalian berdua.”
__ADS_1
“Arak Kahyangan!” kata Joko agak keras. “Pengemis Maling sebelum matinya menyebut nama Arak Kahyangan untuk menyelamatkan cucunya.”
“Apa? Kau bilang Pengemis Maling sudah mati?!” tanya si nenek dengan nada terkejut, karena wajahnya sulit menunjukkan ekspresi kaget.
“Iya, Nek,” sahut Joko.
“Bagaimana bisa dia mati? Padahal, dia itu orang susah yang beruntung, berulang kali nyawanya bisa selama dalam kondisi yang sangat berbahaya,” ucap Nyi Lampingiwa lirih, yang ia tujukan kepada dirinya sendiri.
Sejenak wanita tua itu terdiam, seolah sedang berpikir.
“Nama apa yang tadi kau sebut, Joko?” tanyanya setelah teringat.
“Pengemis maling menyebut nama Arak Kahyangan,” jawab Joko.
“Kemarilah kau, Joko Tenang!” panggil Nyi Lampingiwa.
“Hahaha, maaf, Nek,” ucap Joko. “Itu tidak mungkin.”
“Joko tidak bisa berdekatan dengan wanita, Guru,” bisik Hujabayat, tapi tetap terdengar oleh semuanya.
“Dasar bocah kurang ajar. Kau pikir aku yang ringkih ini bisa membangkitkan nafsu birahimu?” rutuk Nyi Lampingiwa, tapi kemudian justru tertawa kecil.
Perkataan si nenek membuat Joko dan Tirana turut tertawa rendah. Joko tetap tidak beranjak mendekat, ia memilih tetap berdiri agak jauh di luar.
“Setahuku, Arak Kahyangan dimiliki oleh Ratu Getara Cinta di timur jauh sana. Membutuhkan waktu 15 hari perjalanan berkuda. Sedangkan daya tahan keduanya paling lama lima hari. Itu pun baru tiba di wilayahnya, Rimba Berbatu. Entah membutuhkan berapa hari untuk bisa mendapatkan obat langka itu. Yang ingin aku tahu, bagaimana cara kalian sampai ke sana sebelum kedua gadis ini meninggal?” ujar Nyi Lampingiwa.
“Kita berangkat besok pagi!” kata Joko dengan nada yakin.
“Tapi bagaimana caranya, Joko?” tanya Hujabayat.
“Meski menurut hitung-hitungannya sudah tidak mungkin, tapi kedua gadis itu adalah orang-orang tercinta kita. Ginari adalah calon istriku, Kembang Buangi adalah kekasihmu. Karenanya, aku tidak akan berhenti berusaha dan mencari jalan sebelum mereka meninggal. Jika pun mereka harus meninggal, itu harus di saat kita sedang berusaha menyelamatkannya,” ujar Joko.
__ADS_1
Kata-kata Joko membuat semuanya terdiam. Tirana tersenyum, senang dengan pemikiran Joko. Sementara Kembang Buangi jadi merasa terharu, terlebih Ginari yang semakin diakui sebagai calon istri. Hujabayat pun merasa terdorong semangat juangnya. Sementara Nyi Lampingiwa manggut-manggut kecil tanda membenarkan pemikiran pendekar muda itu. (RH)