
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
Setelah dimandikan oleh Permaisuri Tirana, kini Ginari terlihat sangat jelita. Ia duduk dengan wajah tanpa ekspresi sedikit pun. Tatapannya lurus tapi kosong, seolah tanpa cahaya roh kehidupan. Kedua tangan halusnya terkulai lemah di atas pangkuannya. Saat ini ia mengenakan pakaian hijau muda berhias sulaman warna putih indah bermotif capung dan bunga.
Meski demikian, Permaisuri Tirana dengan sabar dan telaten mengurusi segala hal untuk merawat Ginari. Senyum selalu mengembang di bibir Permaisuri kepada Ginari.
“Kalau sudah mandi seperti ini, Ginari terlihat sangat cantik seperti bidadari cinta, segar seperti tomat merah, harum seperti bunga mawar,” ucap Permaisuri Tirana yang berlutut di depan Ginari sambil memoleskan gincu merah. “Aku yakin, jika Kakang Prabu melihat penampilanmu, Ginari, Kakang Prabu pasti langsung ingin menikahimu. Eh, tapi nanti dulu, Ginari harus bisa senyum dulu.”
Semua perkataan Permaisuri Tirana hanya masuk ke dalam pendengaran Ginari lalu macet di dalam kepala. Tidak ada respon atau pergerakan sedikit pun di wajah Ginari. Wajahnya benar-benar kaku. Pupil matanya benar-benar tenang, tidak ada pergerakan sedikit pun.
Setelah Permaisuri Tirana menyempurnakan riasan pada wajah Ginari, maka tampaklah wajah jelita yang memiliki pesona tinggi untuk memaksa mata berlama hati menatap lekat keindahan langka itu. Ginari memiliki daya tarik pada mata yang bening dan bibir sensual yang tidak tebal dan juga tidak tipis. Olesan gincu merah membuatnya benar-benar mampu membuat kaum batangan bertekuk hati, hanya dengan memperlihatkan kecantikan parasnya.
Permaisuri Tirana lalu meletakkan gincunya pada baki yang berada pada tadahan tangan dayang. Ada dua dayang yang turut berada di kamar luas itu. Permaisuri Tirana mengambil sebuah pisau kecil sebesar telunjuk.
“Sekarang aku potongkan kuku tanganmu ya, biar jari-jari Ginari juga serasi kecantikannya dengan wajahmu,” ucap Permaisuri Tirana seraya tersenyum.
Ia lalu meraih jemari tangan kanan Ginari. Dengan pisau kecil, Permaisuri Penjaga mulai memotong kuku Ginari.
“Kuku yang baik adalah kuku yang dipelihara secukupnya. Bagian kuku yang tumbuh lebih adalah keburukan. Jadi kuku yang buruk harus dipotong atau dihilangkan. Setiap keburukan pada diri manusia itu harus dihilangkan,” kata Permaisuri Tirana.
Satu demi satu kuku jari tangan Ginari dipangkas. Setelah kesepuluh jari itu dipotong dan dikikir halus, kuku itu diberi pewarna warna hijau muda, menyesuaikan warna pakaiannya.
Permaisuri Tirana hanya tersenyum melihat hasil kerjanya sendiri.
“Waw cantik sekali, serasi dengan warna pakaianmu, Ginari,” ucap Permaisuri Tirana, lalu ia memandang wajah cantik wanita yang pernah mati itu seraya tersenyum.
Permaisuri Tirana lalu meniup-niup sebentar kuku-kuku jari tangan Ginari agar cepat kering catnya.
Ia kemudian bangkit dan beralih ke belakang Ginari. Dayang segera mendekatkan baki yang di atasnya terdapat sisir dan sejumlah perhiasan rambut. Permaisuri Tirana kemudian mulai menyisir rambut panjang si gadis.
“Yang Mulia Ratu tiba!”
Tiba-tiba terdengar teriakan prajurit penjaga pintu kamar.
Tidak lama setelah pemberitahuan itu, dari pintu kamar melangkah anggun sosok jelita Ratu Getara Cinta yang dikawal oleh enam dayang dan dua orang prajurit.
Melihat kedatangan Ratu Getara Cinta, Permaisuri Tirana segera melangkah menyambut.
__ADS_1
“Hormatku, Yang Mulia Ratu!” ucap Permaisuri Tirana sambil merendah menghormat. Sementara dua dayang yang ada turun berlutut.
“Bangkitlah,” ucap Ratu Getara Cinta seraya tersenyum.
Sang ratu lalu berjalan mendekati Ginari yang duduk tetap seperti patung. Ratu Getara Cinta memberikan senyum sejuk keramahannya kepada Ginari, meski gadis itu tidak memandangnya.
“Waaah, kau sudah cantik sekali Ginari. Kakang Prabu pasti akan segera menikahimu jika kau bahagia,” puji Ratu Getara Cinta.
Sang Ratu lalu turun berlutut di depan Ginari. Ia lalu meletakkan kedua tangannya pada kedua lutut Ginari. Ia tatap wajah Ginari tanpa berkedip.
“Ginari,” sebut Ratu Getara Cinta lirih, sambil jari-jarinya menepuk kedua lutut gadis di depannya untuk memberikan sentuhan penggugah pada perasaan Ginari yang mati. “Ingatlah dengan Kakang Joko sebagai calon suamimu. Dia sangat mencintaimu dan sedang menunggu kedatanganmu. Apakah kau ingat dengan Kakang Joko?”
Ginari yang ditanya hanya terdiam tidak bereaksi. Sepasang mata indahnya terus memandang jauh ke depan tanpa berkedip sekali pun, seolah hendak menembus dinding batu kamar.
“Kau pasti akan mengingatnya nanti,” kata Ratu Getara Cinta seraya tersenyum kepada Ginari.
Sang ratu lalu berdiri dan beralih tersenyum kepada Tirana.
“Usaha ini lebih sulit daripada menghadapi Ginari dengan ilmu Roh Langit-nya. Kau harus lebih banyak bersabar, Tirana,” ujar Ratu Getara Cinta.
“Iya, Yang Mulia Ratu. Aku akan berusaha untuk terus bersabar sampai ada perkembangan yang baik pada diri Ginari,” kata Tirana. Ia lalu mengalihkan topik pembicaraan, “Bagaimana dengan perkembangan di perbatasan?”
“Penghuni Hutan Malam Abadi? Maksud Yang Mulia Ratu dengan membuka urusan itu bagaimana?” tanya Tirana.
“Kusuma Dewi telah memberi perlindungan kepada tiga orang warga desa seberang telaga yang sedang diburu oleh penghuni Hutan Malam Abadi. Pemberian perlindungan itu membuat kita telah membuka urusan dengan penghuni Hutan Malam Abadi,” jelas Ratu Getara Cinta yang sudah mendapat laporan tentang hasil di Gunung Prabu dan perbatasan barat hutan wilayah Kerajaan Sanggana Kecil.
Sebelum pergi berkunjung ke kamar Ginari, Ratu Getara Cinta telah menerima penghadapan Asih Marang bersama Adi Manukbumi dan Luring di balairung.
“Ceritakanlah, kenapa kalian bisa sampai ke wilayah Kerajaan Sanggana Kecil dalam keadaan dikejar oleh penghuni Hutan Malam Abadi!” perintah Ratu Getara Cinta kepada ketiga pendekar itu.
“Mohon maafkan kami, Yang Mulia Ratu!” Yang berkata adalah Adi Manukbumi. “Ketika kami tadi malam melihat ke seberang telaga, kami melihat cahaya api di sini. Kami menyangka bahwa istana ini adalah sarang dedemit penunggu telaga….”
Mendengar awal kisah itu, tersenyumlah Permaisuri Kerling Sukma, Kusuma Dewi, Amangkubumi Turung Gali, dan Senopati Badik Mida. Sementara Ratu Getara Cinta tidak tersenyum sedikit pun, ia tetap serius mendengarkan kisah Adi Manukbumi.
“Jadi kami memutuskan untuk menyerang ke sini dengan anggapan bahwa istana ini adalah sarang dedemit. Kami memilih lewat Hutan Malam Abadi. Ternyata saat di hutan, kami disergap dan diserang oleh gerombolan pembunuh itu. Satu teman kami mati dibunuh oleh mereka. Tidak ada cara lain selain melarikan diri ke hutan kerajaan ini,” tutur Adi Manukbumi.
“Jelas kalian melakukan kekeliruan besar dengan menganggap istana ini sebagai sarang dedemit,” kata Ratu Getara Cinta.
__ADS_1
“Mohon maaf, Yang Mulia Ratu. Sebab setahu kami, di seberang telaga tidak pernah ada kerajaan atau istana,” kilah Adi Manukbumi.
“Terhitung tadi malam, Telaga Fatara dan hutan di selatan adalah wilayah Kerajaan Sanggana Kecil. Jika kalian masuk tanpa sepengetahuan prajurit kami, maka kalian bisa dianggap penyusup dan pantas dipenjara. Adalah keputusan cerdas ketika kalian memutuskan meminta perlindungan kepada kerajaan ini. Kami sebagai orang yang mengayomi, tentu berkewajiban untuk melindungi orang yang meminta perlindungan. Namun, tentunya kalian pun tahu, dengan demikian, perlindungan yang kami berikan kepada kalian menjadi awal perseteruan Kerajaan dengan Hutan Malam Abadi. Lalu apa yang akan kalian lakukan setelah mendapat perlindungan dari kami?” ujar Ratu Getara Cinta.
“Jika orang-orang dari Hutan Malam Abadi datang menyerang, izinkan kami untuk turut bertarung membela Kerajaan, sebagai balas budi kami,” kata Asih Marang.
“Maafkan hamba, Yang Mulia Ratu. Akan lebih baik jika menawarkan mereka mengabdi kepada Kerajaan Sanggana Kecil dan untuk memperkuat keprajuritan,” kata Kusuma Dewi. Sejak mendengar laporan telik sandinya, Kusuma Dewi memang berniat menjerat posisi Asih Marang dan kedua rekannya menjadi berutang budi.
“Ini adalah kerajaan yang baru berumur satu hari. Kerajaan ini sangat kekurangan prajurit. Aku menawarkan kalian peluang menjadi prajurit unggulan di kerajaan ini, tentunya sesuai dengan tingkat kemampuan kalian sebagai seorang pendekar,” kata Ratu Getara Cinta.
Adi Manukbumi dan Luring saling memandang mendengar tawaran tersebut. Keduanya pun memandang Asih Marang yang tidak memandang kepada mereka.
“Sebagai prajurit generasi awal, perjalanan keprajuritan kalian akan cerah,” kata Kusuma Dewi memberi harapan kepada ketiga orang itu.
“Aku sangat tertarik menjadi penjaga sebuah kerajaan dari pada penjaga sebuah kampung!” kata Adi Manukbumi antusias.
“Aku juga bersedia menjadi prajurit di kerajaan ini!” kata Luring pula bersemangat, seolah melupakan kesedihannya atas kematian Mumu Kedalang.
“Aku tidak!” kata Asih Marang yang membuat kedua teman lelakinya terkejut.
“Kenapa, Asih?” tanya Adi Manukbumi.
“Aku seorang pendekar yang suka dengan kebebasan. Aku tidak mau terikat oleh aturan. Namun, untuk urusan balas budi atas perlindungan Kerajaan terhadap kami, jika Yang Mulia Ratu izinkan, aku akan tinggal di sini untuk menunggu orang-orang Hutan Malam Abadi menyerang,” kata Asih Marang.
“Baiklah. Aku paham,” kata Ratu Getara Cinta. “Adi Manukbumi dan Luring, besok Permaisuri Kerling Sukma akan menilai kemampuan kalian untuk menjadi prajurit.”
“Ba… baik, Yang Mulia Ratu,” ucap Adi Manukbumi.
“Jika kalian resmi menjadi prajurit Sanggana Kecil, aku akan membuat para pembunuh teman kalian bertanggung jawab atas perbuatannya,” kata Permaisuri Kerling Sukma.
“Terima kasih, Yang Mulia,” ucap Adi Manukbumi sambil menjura hormat kepada Permaisuri Kerling Sukma.
“Izinkan hamba untuk berusul, Yang Mulia Ratu,” ucap Amangkubumi Turung Gali.
“Silakan, Amangkubumi,” kata Ratu Getara Cinta.
“Sebelum ada serangan dari Gunung Prabu ataupun Hutan Malam Abadi, lebih baik Permaisuri Serigala melakukan tugas pertamanya untuk bertemu dengan pemimpin kedua wilayah atau salah satunya. Cara itu lebih damai daripada menunggu serangan datang, kecuali memang pemimpin kedua wilayah itu tidak memiliki niatan yang baik,” ujar Amangkubumi Turung Gali.
__ADS_1
“Baik, akan aku sampaikan kepada Gusti Prabu,” tanggap Ratu Getara Cinta. (RH)