
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
Permaisuri Kerling Sukma duduk di kursi kebesarannya di atas panggung yang menghadap ke arah panggung arena. Di kursi lain di panggung itu juga duduk Amangkubumi Turung Gali dan Senopati Batik Mida. Sebelumnya, kedua lelaki itu adalah prajurit khusus andalan di Kerajaan Sanggana yang dirajai oleh Raja Anjas Perjana Langit, ayah Prabu Dira. Hanya bedanya, Turung Gali adalah prajurit yang tidak pernah masuk ke dalam lingkungan istana, sementara Batik Mida sebaliknya.
Permaisuri Mata Hijau sedang menilai calon prajurit baru, yaitu Adi Manukbumi dan Luring. Syarat untuk lulus menjadi prajurit unggulan nonmiliter adalah cukup mengalahkan sepuluh prajurit umum Kerajaan Sanggana Kecil.
Orang yang pertama bertarung adalah Adi Manukbumi. Pendekar kampung bertubuh gemuk itu handal dalam pertarungan tangan kosong. Meski gemuk, tetapi kelincahannya sama cepatnya dengan lelaki yang kurus. Kelincahan dan ketahanan tubuh membuatnya sanggup bertarung melawan sepuluh orang prajurit berseragam hitam-hitam.
Sementara para prajurit yang tidak bertugas, berkumpul menonton. Demikian pula dengan Reksa Dipa, Surya Kasyara, ketiga kelompok bajak laut serta Senandung Senja dan Nyai Kisut, mereka turut menonton.
Dua cekalan kuat mencengkeram kedua lengan besar Adi Manukbumi, kemudian dari depannya datang dua prajurit dengan tinjunya.
Bukk!
Dua tinju yang mendarat bersamaan pada perut Adi Manukbumi tidak membuatnya sakit atau terpengaruh.
Dak dak!
Setelah tinju itu, kedua kaki Adi Manukbumi cepat naik dan bergantian menendang dagu dua prajurit itu. Kedua prajurit terjengkang.
Kedua kaki Adi Manukbumi lalu bergerak cepat menendangi kaki kedua prajurit pencekalnya, membuat kedua prajurit itu kesakitan dan melepaskan cekalannya. Barulah tinju kanan dan kirinya berkelebat cepat menghajar keras kedua prajurit pencekalnya.
“Maknyooos! Jangan kasih napas! Jangan permalukan orang gendut!” teriak Swara Sesat mendukung Adi Manukbumi. Mereka memang sama-sama gendut.
“Hahaha…!” tertawalah para prajurit dan rekan-rekan Swara Sesat.
“Hihihi…!” Senandung Senja juga tertawa nyaring mendengar teriakan Swara Sesat.
“Eaaa! Eaaa! Jger jger jger!” teriak Swara Sesat penuh keseruan, heboh sendiri. Ketika Adi Manukbumi menghindari serangan, maka Swara akan berteriak “eaaa”. Jika Adi Manukbumi berhasil menghajar lawan, maka ia akan berteriak “jger”.
Ketuliannya membuat Swara Sesat tidak mempedulikan para prajurit dan rekan-rekannya yang menertawakannya.
Di saat keseruan berlangsung di panggung arena dan sekelilingnya, tampak di koridor depan istana berdiri Permaisuri Tirana dan Asih Marang sedang berbincang. Mereka juga sambil memandang ke panggung arena. Di belakang Permaisuri Tirana berdiri enam orang dayang.
“Aku dengar kau tidak berniat bergabung mengabdi di kerajaan ini?” tanya Permaisuri Tirana.
“Awalnya, sebelum aku tahu bahwa penguasa kerajaan ini adalah Pendekar Joko Tenang dan istrinya,” jawab Asih Marang seraya tersenyum.
__ADS_1
“Berarti kau mau bergabung dalam pemerintahan Kerajaan Sanggana Kecil?” tanya Permaisuri Tirana lagi sebagai penegasan.
“Tapi aku tidak mau menjadi prajurit, Yang Mulia Permaisuri” jawab Asih Marang, membuat Permaisuri Tirana tersenyum.
“Bagaimana jika kau aku angkat sebagai utusan khusus?” tawar Permaisuri Tirana.
“Utusan ke mana?” tanya Asih Marang.
“Ke desamu. Desa Wongawet.”
Asih Marang terkejut dalam diamnya mendengar jawaban Permaisuri Tirana. Ia lalu mendengarkan kembali penuturan Permaisuri Kedua.
“Ketika aku dan Kakang Prabu menumbangkan kekuasaan Ki Daraki, kalian menginginkan kami menjadi pemimpin kalian. Saat itu kami berdua belum tahu-menahu tentang kerajaan ini. Dan hingga aku belum bertemu denganmu di sini, aku sedikit pun tidak berpikir tentang Desa Wongawet. Namun, setelah kita bertemu, aku jadi memiliki pemikiran baru. Apakah jika Kakang Prabu memimpin di bukan Desa Wongawet, warga Desa Wongawet masih mau dipimpin oleh Pendekar Joko dan istri-istrinya?”
“Jadi, Yang Mulia ingin mengutusku untuk menyampaikan tentang kerajaan ini dan menawarkan kepada Mak Gandur, apakah mau masuk ke dalam kekuasaan Kerajaan Sanggana Kecil?” tanya Asih Marang.
“Benar, Asih,” jawab Permaisuri Tirana.
Sementara di atas arena tarung, Adi Manukbumi berhasil mengalahkan kesepuluh prajurit pengeroyoknya, tetapi mereka tidak sampai mati atau terluka parah.
“Hidup orang genduuut! Hidup orang genduuut!” teriak Swara Sesat dan Gembulayu girang.
“Adi Manukbumi lulus!” teriak Permaisuri Kerling Sukma.
“Yeaaah!” teriak Adi Manukbumi sambil mengangkat kedua lengan besarnya ke atas.
“Luring! Naik ke arena!” teriak Senopati Batik Mida.
Maka Luring segera melompat penuh percaya diri ke atas arena. Ia optimis bisa menang, sebab kemampuannya tidak jauh berbeda dengan sahabatnya itu.
Sepuluh prajurit yang masih segar juga segera berlompatan ke atas panggung arena, siap mengeroyok Luring.
Buk!
Sebagai tanda pembuka, Luring menghentakkan kaki kanannya ke lantai arena sebagai gertakan. Gerakan itu membuat empat prajurit bergerak bersama menyerang Luring. Pertarungan pun terjadi sengit.
“Jika Mak Gandur bersedia menyatukan Desa Wongawet ke dalam kekuasaan Kerajaan Sanggana Kecil, itu tidak akan mengganggu kekuasaannya di Desa Wongawet, justru akan menguatkannya sebagai pemimpin dan menguatkan Desa Wongawet sendiri. Dengan masuknya Desa Wongawet di bawah kekuasaan Kerajaan Sanggana, berarti kesejahteraan, perlindungan dan keamanan desa dan warganya akan menjadi tanggung jawab Kerajaan,” jelas Permaisuri Tirana kepada Asih Marang. “Bagaimana, kau menerima untuk menjadi utusan khusus?”
__ADS_1
“Hamba dengan senang hati menerima tugas ini, Yang Mulia Permaisuri Kedua!” ucap Asih Marang setelah turun berlutut menghormat. “Tapi sebelum hamba ditugaskan ke Desa Wongawet, hamba harus pulang ke Desa Gatalangot terlebih dulu untuk menemui ayahku.”
“Bangkitlah!” perintah Permaisuri Tirana.
Asih Marang kembali bangkit.
“Jika kau kembali ke desamu nanti, kau bisa mengumumkan bahwa Kerajaan Sanggana Kecil membuka pendaftaran untuk menjadi prajurit,” kata Permaisuri Tirana lagi.
“Baik, Yang Mulia Permaisuri!” ucap Asih Marang.
Seorang prajurit berkuda datang dengan lari yang kencang dari arah gerbang benteng Istana. Prajurit itu membawa kudanya mendekati posisi Permaisuri Tirana. Kuda itu berhenti beberapa tombak di depan Permaisuri Tirana dan Asih Marang.
Prajurit itu langsung melompat turun sebelum kuda benar-benar berhenti. Ia berlari kecil lebih mendekat ke hadapan Permaisuri Tirana.
“Lapor, Yang Mulia Permaisuri!” ucap prajurit itu sambil berlutut menghormat.
“Katakan!” perintah Permaisuri Tirana.
“Pemimpin dan penguasa Gunung Prabu ingin bertemu dengan Yang Mulia Gusti Prabu. Dia datang bersama dua puluh orang pengikutnya!” lapor prajurit itu.
Melebar sepasang mata Permaisuri Tirana mendengar laporan itu.
“Bangkitlah!” perintah Permaisuri Tirana. Setelah prajurit itu berdiri kembali, ia kembali memberikan perintah, “Kawal mereka sampai ke Ruang Jamuan!”
“Baik, Yang Mulia Permaisuri!” ucap prajurit itu patuh. Ia kembali menjura hormat lalu melangkah mundur sampai ke posisi kudanya.
“Rupanya Permaisuri Serigala sangat handal dalam tugasnya,” ucap Permaisuri Tirana yang tidak memerlukan tanggapan dari siapa pun.
“Eaaa! Eaaa! Jger! Aww! Aww!” teriak Swara Sesat ramai sendiri saat melihat Luring berhasil mengelaki dua serangan, lalu balas menendang seorang prajurit, tetapi kemudian dia terkena dua kali pukulan.
Namun, Luring dengan cekatan cepat bangkit berdiri. Selanjutnya, dia mengamuk.
Berbeda dengan Adi Manukbumi, Luring harus berulang kali jatuh bangun oleh serangan para prajurit yang mengeroyoknya. Meski demikian, kegigihannya membuahkan hasil. Satu demi satu dia bisa menumbangkan lawannya. Ketika Luring berhasil menumbangkan kesepuluh prajurit lawannya, ia sudah memar di wajah dan berdarah di bibir. Bahkan satu bawah matanya bengkak oleh pukulan. Ketika ia berjalan, langkahnya agak pincang.
“Luring lulus!” teriak Permaisuri Kerling Sukma memutuskan.
“Yeee!” sorak para prajurit nonmiliter. (RH)
__ADS_1