Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
46. Ratu Getara Cinta


__ADS_3

Panglima Besar Kerajaan Tabir Angin, Jagaraya, berjalan sendiri memasuki sebuah kebun jeruk yang sedang berbuah. Tampak membuat gembira jika melihat limpahan buah jeruk kuning yang masih bergantungan di tangkainya.


Jagaraya melalui dua prajurit penjaga yang segera menjura hormat ketika ia lewat memasuki pintu kebun itu. Ia tidak menuju ke pepohonan jeruk yang sedang berbuah, tetapi ia menuju ke sebuah pendapa terbuka yang penuh oleh penjagaan para prajurit.


Di salah satu sisi luar pendapa berdiri berbaris sepuluh dayang wanita dengan kepala menunduk. Tidak jauh dari pendapa itu ada sejumlah kolam. Di pinggiran salah satu kolam, berdiri wanita cantik jelita dengan tiara keratuan di kepalanya. Ia tidak lain adalah Ratu Getara Cinta.


Ia sedang memberi makan ikan di kolam. Terlihat ikan-ikan berukuran besar-besar berdesak-desakan di pinggir berebut makan. Di tangannya terpegang mangkuk berisi pakan ikan. Memberi makan ikan di kolam adalah salah satu kegemarannya.


“Hamba menghadap, Yang Mulia Ratu,” lapor Jagaraya seraya membungkuk dengan kedua tangan ditempelkan di depan kepalanya.


“Bangunlah!” perintah Ratu Getara Cinta.


Jagaraya kembali berdiri tegak.


Ia dan Ratu baru saja kembali dari Sumur Juara Hutan Kabut. Hingga mereka sampai ke istana, Ratu Getara Cinta tidak mengajaknya berbicara. Namun kemudian, ia segera dipanggil menghadap ke taman jeruk itu.


“Bagaimana menurutmu dengan pertemuan kedua tadi?” tanya Ratu Getara Cinta sambil menghamburkan pakan ke air.


“Aku tidak menyangka Aswa Tara akan mendapat pendekar asing sedemikian saktinya. Kakek Ular Emas dan Bidadari Seruling Kubur yang kita andalkan, dibuat tidak bisa berkutik. Jelas Ragatos pun tidak bisa menghadapi mereka di pertemuan ketiga,” jawab Jagaraya.


“Aku curiga, kedua pemuda itu bukan pendekar bayaran, tetapi pendekar yang terpaksa bertarung,” kata Ratu Getara Cinta.


“Maksud Yang Mulia Ratu?” tanya Jagaraya.


“Tidak ada karakter pendekar bayaran yang memilih memaksa lawannya untuk menyerah. Jelas, kesaktian Aswa Tara tidak bisa mengalahkan keduanya. Aku curiga Aswa Tara menyandera orang dekat mereka.”


Ratu Getara Cinta berbalik. Dua orang dayang segera datang mendekat membawa nampan kosong dan nampan berisi air di mangkuk dan lipatan kain. Keduanya lalu menyodorkannya kepada Ratu Getara dengan tubuh atas agak membungkuk dan kepala menunduk.


Ratu Getara Cinta meletakkan mangkok pakan ikannya di nampan kosong lalu mencuci tangannya di mangkok air dan mengelapnya dengan kain yang ada. Gerakan jarinya memberi perintah agar kedua dayang itu kembali menjauh.


Ratu Getara melangkah anggun menuju ke pendapa. Jagaraya mengikuti di belakang.


“Ada yang kalian tidak tahu ketika gadis cantik itu menghadapi Kakek Ular Emas,” kata Ratu Getara Cinta lalu duduk di kursi bantal di dalam pendapa. Di hadapannya sebuah mejah kayu pendek yang di atasnya ada sekeranjang buah jeruk serta sebuah kendi tanah liat yang sedang dimasak dan gelas-gelasnya.


Ratu Getara Cinta memberi isyarat agar Jagaraya turut duduk di kursi bantal yang posisinya agak jauh dari meja. Di sana ada enam kursi bantal tanpa meja yang posisinya satu baris saja. Itu menunjukkan bahwa hanya ratu yang berhak makan dan minum.


“Hal apa yang luput dari hamba dan lainnya saat pertarungan itu, Yang Mulia?” tanya Jagaraya.

__ADS_1


“Ada masa ketika gadis sakti itu menghilang sejenak saat pertama di serang ular,” kata Ratu Getara Cinta.


“Benar.”


“Apakah kau tahu saat itu dia ada di mana?”


“Tidak, Yang Mulia.”


“Saat itu dia berada di belakang leherku.”


“Apa?!” kejut Jagaraya. “Dia menyerang Yang Mulia Ratu?”


“Tidak. Namun, jika dia ingin melakukannya, dengan mudah ia bisa menyembelihku. Sedangkan kau tahu sendiri kesaktianku setinggi apa. Ia melakukan cara rahasia untuk berbicara denganku. Ia menanyakan apakah aku memiliki Arak Kahyangan. Aku membenarkan. Ia menawarkan kemenangan bagi kita pada pertemuan ketiga dengan syarat aku memberinya Arak Kahyangan. Aku menyanggupi. Dan ia menanyakan posisi Tabir Angin di arah mana.”


“Itu berarti, mereka memiliki orang yang sangat membutuhkan Arak Kahyangan. Dan dugaanku, orang yang sakit itulah yang disandera oleh Aswa Tara.”


“Bagaimana menurutmu, Jagaraya?”


“Meski kita masih memiliki Ragatos dan dua pendekar bayaran lainnya, tetapi saya tidak bisa yakin jika jagoan Aswa Tara masih kedua orang itu. Kita harus melakukan sesuatu. Namun, Yang Mulia, Arak Kahyangan bukanlah hal yang bisa diberikan begitu mudahnya kepada seseorang. Arak Kahyangan adalah harta berharga Kerajaan Tabir Angin.”


Dari luar pendapa datang masuk Bidadari Seruling Kubur.


“Duduklah!”


Nintari pun duduk di sisi Jagaraya.


“Kali ini kau tidak memberiku manfaat sama sekali, Kubur,” kata Ratu Getara Cinta.


“Maafkan aku. Sudah tiga kali aku membelamu dalam pertarungan Sumur Juara, tetapi baru kali ini aku dikalahkan. Aku akui, lawanku kali ini mengejutkan,” jawab Nintari.


“Kau mengenalnya?”


“Namanya Joko Tenang. Sebelumnya aku bertemu dengannya ketika ia masih anak ingusan. Tidak aku sangka ilmunya bisa sehebat itu sekarang.”


“Apakah Ragatos, Pawang Mayat dan Dewi Sentuh Takluk bisa menghadapinya?”


“Aku terlalu ragu. Kesaktian mereka ada di bawah kesaktianku dan Kakek Ular Emas. Aku sarankan Yang Mulia melakukan sesuatu untuk menang,” ujar Nintari. “Joko menitipkan pesan untukmu, Yang Mulia. Dia akan datang kepadamu.”

__ADS_1


“Jika dia berada di bawah kendali Aswa Tara, apakah dia bisa datang,” ucap Ratu Getara Cinta yang tidak memerlukan jawaban.


“Joko Tenang sedang mencari istri banyak, Yang Mulia,” kata Nintari.


“Istri banyak?” Ratu Getara Cinta menyebut ulang perkataan Nintari. Apa yang disampaikan Nintari baginya agak aneh.


“Mungkin Yang Mulia salah satu yang ingin dia nikahi,” kata Nintari lagi.


Terdiam sejenak Ratu Getara Cinta menatap Nintari. Ia masih begitu ingat ketika Joko tersenyum kepadanya dan memberikan rasa yang aneh tapi indah di dalam dadanya.


“Kau jangan membual, Kubur!” hardik Ratu Getara Cinta kemudian.


“Hihihi!” Nintari justru tertawa. “Jika aku seorang pendekar wanita yang sedikit lebih berhati mulia, mungkin dia bisa jatuh hati kepadaku. Kau tahu, Yang Mulia, aku cantik dan menggemaskan dengan raga mudaku. Hihihi.”


“Hentikan bualanmu, Kubur!” hardik Jagaraya.


“Aku tidak membual. Lelaki mana yang tidak akan jatuh hati dengan seorang ratu muda yang cantik jelita seperti Yang Mulia Ratu Getara Cinta. Punya kuasa dan harta. Hanya lelaki yang takut mati yang tidak berani jatuh cinta kepada seorang ratu. Dan Joko Tenang bukan karakter lelaki yang takut mati,” kata Nintari.


Perkataan Nintari membuat Ratu Getara Cinta diam berpikir. Menurutnya, perkataan Nintari ada benarnya.


“Menurut hamba, perkiraan Seruling Kubur jauh dari dugaan. Jika Joko itu sampai datang ke Tabir Angin, tentunya bukan karena perkara mencari istri. Terlebih, tidak mungkin Yang Mulia begitu mudah memberikan hati kepada pria asing setelah 13 tahun memilih sendiri,” kata Jagaraya.


“Maaf, Yang Mulia. Aku rasa tugasku sebagai pendekar bayaran di kerajaan ini sudah selesai. Maka itu, aku pamit diri untuk pergi.”


“Baiklah,” kata Ratu Getara Cinta.


Nintari lalu menjura hormat kemudian beranjak pergi.


Setelah kepergian Nintari, Ratu Getara Cinta terdiam merenung. Jagaraya melihat ketermenungan ratunya. Ada muncul kekhawatiran melihat wanita cantik itu termenung.


“Apakah Ratu memikirkan pemuda itu?” tanya Jagaraya dalam hati. Lalu tanyanya langsung, “Apa Yang Mulia Ratu pikirkan?”


“Tidak. Tapi bagaimanapun juga, kita harus mempersiapkan pendekar asing yang sekiranya bisa mengatasi kesaktian Joko Tenang dan calon istrinya itu. Tidak ada jaminan saat ini bahwa mereka akan berpihak kepada kita,” kata Ratu Getara Cinta. “Jika kita membiarkan Aswa Tara menang tahun ini, ia akan melakukan penambangan besar-besaran secara asal dan tidak memikirkan keseimbangan alamnya.”


“Baik, Yang Mulia. Aku akan segera memerintahkan orangku untuk pergi menemui Rampang Setati, semoga ia mau membantu Yang Mulia,” kata Jagaraya.


“Jangan sia-siakan waktu. Utus orangmu sekarang juga!” perintah Ratu Getara Cinta.

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia.” (RH)


__ADS_2