Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
39. Serangan Berkabut


__ADS_3

Joko Tenang dan rombongannya sudah berada di dalam hutan berpohon besar. Meski siang hari, begitu rimbunnya pohon-pohon yang saling menyilang membuat wilayah itu seperti di senja hari. Hanya sedikit cahaya matahari yang masuk dari celah-celah langit hutan yang membentuk seperti atap dedaunan yang tebal.


Namun, semakin mereka berjalan jauh ke dalam hutan pohon besar itu, cahaya semakin memudar, membuat kepastian dari perjalanan mereka menjadi semakin tanda tanya.


Joko Tenang berhenti melangkah. Ia baru tersadar bahwa wilayah yang mereka masuki semakin berkabut, membuat jarak pandang mulai berkurang lebih pendek.


“Kenapa, Kakang?” tanya Tirana yang berhenti di sisi kanan Joko, lebih dari tiga langkah.


“Wilayah ini jadi berkabut,” jawab Joko sambil mengamati.


Jawaban itu membuat Tirana dan Ginari segera menyadari kebaradaan kabut yang memenuhi ruang kosong di hutan itu. Tirana berbalik memandang ke belakang, tampak keberadaan Hujabayat nyaris tidak terlihat karena jaraknya agak jauh di belakang.


Perasaan Hujabayat yang sedang dilanda kasmaran tingkat tinggi, membuat langkahnya melambat, menjadi mabuk kepayang.


Set! Crek!


Tirana dan Ginari terkejut dengan apa yang mereka saksikan. Satu kejadian yang begitu cepat lalu hening.


“Hujabayat!” seru Tirana memanggil tegang.


Teriakan Tirana membuat Joko segera menengok melihat ke belakang, ke arah keberadaan Hujabayat dan Kembang Buangi. Joko juga mendengar suara singkat yang aneh jauh di belakang, tepatnya di posisi Hujabayat berada.


Joko tidak melihat keberadaan Hujabayat dan Kembang Buangi. Kabut membuat jarak pandangnya terbatas. Sementara Tirana segera berlari pendek ke tempat Hujabayat tadi masih samar-samar terlihat.


Tirana dan Ginari tadi melihat lesatan benda besar yang menangkap tubuh Hujabayat dan Kembang Buangi sekaligus. Benda itu dengan cepat menarik hilang tubuh sepasang kekasih tersebut. Cepatnya dan samarnya benda besar itu membuat Tirana dan Ginari tidak tahu jenis benda tersebut.


“Apa yang terjadi, Tirana?” tanya Joko sambil berjalan mendekati kedua gadis itu, sebab ia tidak melihat kejadian hilangnya Hujabayat dan kekasihnya.


“Ada yang menculik Hujabayat dan Kembang Buangi,” jawab Tirana sambil pandangannya mencoba mencari hal yang mencurigakan.


Tirana memeriksa area yang diduga serangan berasal, tapi ia tidak menemukan ada orang lain atau merasakan keberadaan pihak lain selain mereka.


“Ada jejak,” kata Tirana kepada Ginari. Ia membungkuk memperhatikan rebahan rumput dan serakan dedaunan kering yang membentuk garis panjang. Ginari yang berada di punggung Tirana juga bisa melihat jelas jejak itu.


Tirana berjalan perlahan mengikuti garis jejak seretan, tapi kemudian jejak itu menghilang.


“Kabutnya semakin tebal,” kata Joko yang berada lima langkah dari Tirana.


Kabut yang awalnya sangat halus kini semakin tebal menyerupai asap. Perubahan kondisi itu terjadi dengan cepat. Kini Tirana melihat Joko yang sejauh lima langkah hanya seperti bayangan hitam.


“Kakang jangan menjauh dariku!” seru Tirana.


Joko pun mendekat selangkah.

__ADS_1


“Jangan sampai kau berpisah dengan Ginari,” pesan Joko.


“Justru yang aku khawatirkan aku kehilangan bayangan Kakang,” kata Tirana. “Apakah Kakang tidak merasakan keberadaan orang lain di sekitar kita?”


“Tidak.”


“Aku juga,” kata Tirana.


Hilangnya Hujabayat dan Kembang Buangi yang begitu mudah dan sunyi, membuat Joko dan Tirana memasang kewaspadaan tinggi.


“Hujabayat!” teriak Joko memanggil cukup keras.


Namun sunyi, tidak ada sahutan dari suara Hujabayat atau suara orang lain.


“Orang yang menculik Hujabayat dan Kembang Buangi sangat cepat menghilang,” kata Tirana.


“Pastinya mereka lebih dari satu orang,” kata Ginari.


“Kakang, kabutnya semakit pekat, kau mulai tidak terliha!” teriak Tirana.


“Tidak mungkin aku mendekat lagi kepadamu,” kata Joko.


“Penyakit Kakang wajib dihilangkan, kita harus segera menikah,” kata Tirana.


“Tapi tidak mungkin Kakang mencurigaiku yang menciptakan keadaan ini,” kata Tirana. “Kakang, mendekatlah lagi biar aku bisa melihatmu.”


Tirana kini tidak bisa melihat keberadaan Joko yang berdiri empat langkah darinya. Kabut itu semakin putih pekat seperti asap tebal. Joko pun kini tidak bisa melihat bayangan Tirana dan Ginari, tapi ia masih bisa merasakan keberadaan mereka.


“Rasakan saja keberadaanku. Jika aku mendekatimu, sama saja aku bunuh diri,” kata Joko.


“Apa yang harus kita lakukan? Berjalan pun sulit, jalan dan arah tidak terlihat,” kata Tirana.


Kondisi itu memang menciptakan ketegangan. Meski ketiga orang muda itu memiliki kesaktian yang tinggi, tapi kondisi alam seperti itu sulit bagi mereka untuk bisa berbuat banyak.


“Kita hanya bisa menunggu,” jawab Joko.


“Uhuk uhuk uhuk!” Ginari mendadak terbatuk. “Aku menghirup asap, uhuk uhuk uhuk!”


“Ada asap beracun di dalam kabut!” ucap Tirana segera sadar setelah penciumannya mengendus bau asing yang samar. Ia segera membekap mulut dan hidungnya dengan satu telapak tangan. Sementara tangan kirinya memeriksa keadaan Ginari di punggunya. “Ginari?”


Ginari tidak bereaksi di punggung Tirana. Gadis jelita itu telah terkulai tidak sadarkan diri.


“Kakang, Ginari pingsan!” kata Tirana dengan mulut tetap dalam bekapan tangan kanannya.

__ADS_1


“Aku juga,” sahut Joko dengan suara lemah, seperti orang kehabisan tenaga.


Blugk!


Betapa terkejutnya Tirana mendengar suara tubuh yang jatuh ke bumi. Segera ia bergerak ke posisi Joko berada. Ia mendapati Joko telah tergeletak tidak bergerak di rerumputan. Joko pun telah pingsan.


Namun kemudian, Tirana mengerenyitkan wajah menahan rasa yang melemahkan seluruh tenaganya. Akhirnya Tirana pun terkulai lemah dan turut pingsan di atas tubuh Joko. Wajahnya bahkan jatuh di wajah pemuda calon suaminya itu. 


*****


Pada waktu berikutnya.


Mata indah Tirana terbuka. Ia merasakan kedua kakinya agak sakit, demikian pula dengan kedua pergelangan tangannya. Punggungnya terasa bersandar pada sesuatu.


Terali besi besar-besar yang pertama Tirana lihat, lalu dinding batu yang tidak halus. Ia segera sadar bahwa dirinya berada di dalam sebuah penjara batu berterali besi-besi tebal. Selanjutnya ia sadar bahwa saat ini kepalanya berada di bawah dan kakinya di atas.


Kedua kaki Tirana diikat satu dengan tali merah yang menggantung di langit-langit penjara. Sementara kedua pergelangan tangannya diikat satu dengan tali merah yang menarik kencang ke lantai. Baik tali yang menggantung kaki dan tali yang mengikat ke lantai tidak kendor sedikit pun. Rambut dan pakaian merah gelapnya menjuntai terbalik.


Tirana mencoba melihat ke belakangnya. Ternyata tubuh Joko Tenang dan Ginari alias Pendekar Tikus Langit bernasib sama dengannya. Tubuh mereka pun digantung terbalik rapat dengan punggungnya.


“Kau sudah tersadar, Tirana?” tanya satu suara dengan lemah di belakang kepala Tirana. Suara itu milik Joko yang ternyata sudah sadar lebih dulu.


“Kakang, kau sudah bangun? Bagaimana kondisimu?” tanya Tirana.


“Serasa mau mati. Menjauhlah kalian dariku,” kata Joko dengan napas yang nyaris habis.


Tirana tidak menjawab. Ia tahu bahwa Joko dalam kondisi sangat lemah, karena tubuhnya ditempel oleh dua tubuh wanita. Tirana mencoba mengangkat kepalanya lalu sedikit ditempelkan kepada wajah Ginari yang terpejam seperti orang yang sudah mati.


“Kondisi Ginari semakin parah, tubuhnya sudah mengeluarkan bau busuk,” kata Tirana.


“Apa yang bisa kau perbuat, Sayang?” tanya Joko dengan menyebut Tirana “Sayang”.


Sebutan itu menjadi siraman air segar bagi perasaan Tirana. Kata “Sayang” itu membuatnya bahagia. Ia tersenyum. Sebutan itu jelas-jelas adalah pengakuan bahwa ia adalah kekasih Sang Pendekar.


“Tali yang mengikat kita bukan tali biasa. Aku tidak bisa mengerahkan sedikit pun tenaga dalam. Kita hanya bisa menunggu dilepaskan dari ikatan tali ini,” jawab Tirana. “Saranku, lebih baik Kakang terus terlihat tidak berdaya jika nanti kekuatan Kakang pulih. Itu bisa mengecoh penguasa tempat ini.”


“Kau melihat keberadaan Hujabayat dan Kembang Buangi?” tanya Joko.


“Tidak,” jawab Tirana singkat. Lalu katanya lagi, “Kita hanya bisa menunggu dilepaskan dari ikatan.”


“Lebih baik aku tidur. Semoga aku masih bisa bangun,” kata Joko lemah.


“Jangan tidur, Kakang, kondisimu terlalu lemah. Terlebih ada yang datang,” bisik Tirana. (RH)

__ADS_1


__ADS_2