
*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*
Wanita yang berjuluk Dewi Selendang Maut itu terus berlari keluar dari kota Munyang. Racun yang terkandung pada jarum-jarum milik Lung Tin membuatnya kian melemah. Ia tidak bisa lagi mengandalkan ilmu peringan tubuhnya. Kondisi itu membuatnya kian terkejar oleh orang-orang Sekte Bulan Hijau.
Pandangannya yang masih perih dan tidak bisa dibuka sebentar saja, membuatnya harus berjuang melihat jalan dalam kesamaran dan dugaan.
“Ah!” keluh wanita yang bernama asli Chang Chi Men itu, saat tubuhnya berguling jatuh dari ketinggian tanah turun ke arah jalan berdebu.
Ketika tubuhnya berhenti berguling, Chi Men hanya bisa meringis kesakitan. Tidak berapa lama, ia berusaha bangkit kembali untuk berlari.
Pada saat yang sama, dari ujung jalan yang menikung muncul sebuah kereta kuda mewah berwarna merah, ditarik oleh dua ekor kuda putih, dan dikawal oleh dua orang wanita berkuda hitam. Satu wanita berpakaian biru gelap dan yang satu lagi tampil layaknya wanita, berpakaian hijau gelap dan berparas cantik pula.
Penglihatan yang terlalu buram dan masih sangat pedas untuk dibuka, membuat Chi Men tidak melihat kemunculan kereta kuda, meski samar-samar ia mendengar suara langkah kuda tersebut.
“Itu dia!” teriak satu suara lelaki dari sisi atas.
Belasan lelaki berpakaian bebas, tetapi sama-sama bersenjata pedang, berlarian turun ke jalan. Mereka langsung membentuk formasi mengepung di tengah jalan.
Setelah itu, di tanah atas muncul Lung Tin dan seorang lelaki berpakaian putih bagus. Lelaki tampan bermata sipit itu berambut panjang. Meski sudah ada sebagian yang digelung dan diikat dengan pita hitam, tetap saja rambutnya terlihat panjang seperti rambut wanita. Ia tidak membawa senjata apa pun di tangan atau tubuhnya. Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu bernama Goi Hlang. Ia salah satu pentolan di Sekte Bulan Hijau.
“Siapa kereta kuda itu?” tanya Goi Hlang kepada Lung Tin.
“Aku tidak tahu. Sepertinya pejabat Jang,” jawab Lung Tin.
“Tidak peduli pejabat atau kaisar, jika ikut campur, habisi saja. Nyawa Dewi Selendang Maut lebih penting dihabisi!” kata Goi Hlang.
“Jika demikian, langsung habisi saja!” desis Lung Tin lalu berkelebat turun sambil menghentakkan kedua lengannya.
Seset!
Dua set jarum beracun melesat cepat langsung menyerang Chi Men yang sedang di kepung.
Blets!
Chi Men masih sanggup mengeluarkan selendang hitamnya dan dikebutkan memblokir kumpulan jarum beracun tersebut.
Set! Teps!
“Akk!” pekik tertahan Chi Men, karena di belakang serangan jarum menyusul serangan logam tipis yang kemudian menancap di dada kiri Chi Men. Ternyata logam itu berbentuk segi tiga, menancap hampir seluruh logam.
__ADS_1
Chi Men terjengkang ke tanah. Ia benar-benar sudah seperti kambing yang dikepung oleh para serigala yang siap mencabik.
“Serang!” teriak satu orang lelaki pengepung memberi komando.
Set set set!
“Akk! Akh! Akk!”
Namun, tiba-tiba sebuah pedang terbang melesat cepat mengirisi tangan-tangan para lelaki yang bermaksud mencincang Chi Men. Pedang-pedang mereka terlepasan dari tangan.
Adanya pedang terbang itu mengejutkan orang-orang Sekte Bulan Hijau. Semuanya langsung memandang kepada sosok wanita cantik berpenampilan lelaki yang duduk di atas kuda hitam. Pedang terbang itu kembali masuk ke dalam warangkanya yang tergenggam di tangan kiri wanita bernama Bo Fei.
“Lepaskan wanita itu!” seru Bo Fei.
“Siapa kalian, hah?!” tanya Lung Tin membentak kepada Bo Fei dan temannya yang bernama Su Mai.
“Lepaskan dan tinggalkan wanita itu, maka tidak akan ada yang mati dari kalian!” ancam Bo Fei.
“Hahaha! Kalian pikir jika kalian pejabat, lalu mau seenaknya mengancam orang-orang Sekte Bulan Hijau?” kata Goi Hlang sambil tertawa meremehkan. Lalu perintahnya kepada orang-orang berpedangnya, “Bunuh wanita itu!”
Clap! Wuss!
Baru saja orang-orang itu hendak mencacah tubuh Chi Men yang sudah tidak berdaya karena pengaruh luka dan racun pada tubuhnya, tiba-tiba di sisi tubuh Chi Men telah berdiri seorang wanita. Seiring itu, satu putaran angin keras muncul yang langsung mementalkan belasan lelaki berpedang. Demikian pula dengan Lung Tin dan Goi Hlang, keduanya terhempas liar oleh putaran angin yang terlihat samar karena debu yang ikut terbawa.
Sosok yang berdiri di dekat Chi Men adalah seorang wanita berkulit putih bersih lagi cantik jelita. Ia mengenakan pakaian mewah berwarna putih bercampur warna kuning telor. Bibir bawah wanita itu bermodel sedikit belah, membuat kecantikannya sulit dicari duanya. Sanggulnya pun cantik dengan hiasan tusuk rambut emas bertahta permata. Usianya sudah cukup matang, tetapi kecantikannya sangat terpelihara. Ia tidak lain adalah Putri Tutsi Yuo Kai, istri pertama Raja Sanggana Kecil.
Putaran angin yang barus saja ia lepaskan adalah satu dari dua ilmu barunya yang bernama Selimut Angin.
“Apakah kau pantas ditolong, Nyonya?” tanya Putri Yuo Kai kepada Chi Men.
“Sangat pantas!” sahut Chi Men lemah, rasanya ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi kepada dirinya.
Lung Tin dan Goi Hlang sudah bangkit kembali setelah terhempas keras oleh angin. Beberapa lelaki juga mampu bangkit kembali. Mereka cepat memungut kembali pedangnya.
“Kenapa kalian mau membunuh wanita ini?” tanya Putri Yuo Kai dingin kepada kedua pemimpin kelompok lelaki berpedang itu.
“Dia telah mengetahui satu rahasia Sekte Bulan Hijau. Chi Men sangat patut mati!” tukas Lung Tin.
“Apakah rahasia itu ada hubungannya dengan Istana Jang?” tanya Putri Yuo Kai.
“Tidak ada,” jawab Lung Tin.
__ADS_1
“Apakah rahasia itu membahayakan keamanan Negeri Jang?” tanya Putri Yuo Kai lagi.
“Tidak sedikit pun,” jawab Lung Tin lagi.
“Jika demikian, biarkan wanita ini aku yang membawanya. Dia harus diobati. Selama dia ada bersamaku, dia tidak akan merugikan sekte kalian!” tandas Putri Yuo Kai dingin.
“Tidak bisa!” sergah Goi Hlang.
“Aku memiliki kesaktian baru. Jangan sampai kalian menjadi orang percobaan dari ilmu baruku,” kata Putri Yuo Kai mengingatkan.
“Aku sudah mengatakan, biarpun kaisar yang campur tangan urusan ini, aku tidak peduli!” teriak Goi Hlang lalu melakukan gerakan tangan bertenaga dalam tinggi.
Melihat gerakan tangan Goi Hlang, Lung Tin segera menjauh.
Gerakan tangan itu akhirnya berhenti di depan dada. Dengan jari-jemari yang saling mengait rumit, tangan itu kemudian diselimuti api biru yang berkobar.
Set set!
Namun, Goi Hlang harus terkejut. Sebelum ia melepaskan ilmu kesaktiannya, tiba-tiba kedua batang tangannya telah dililit oleh benang yang sangat halus, sehalus benang laba-laba kecil. Lilitan itu nyaris tidak terasa. Benang halus tidak terlihat itu sebenarnya terhubung pada jari tangan kanan Putri Yuo Kai.
Set! Bluk!
Tahu-tahu kedua tangan Goi Hlang jatuh di depan kakinya. Kedua batang tangannya telah putus rapi. Sejenak Goi Hlang hanya terperangah melihat tangannya yang jatuh.
“Aak…!” jerit Goi Hlang beberapa saat kemudian, setelah rasa sakit muncul pada tangannya.
Ketika Putri Yuo Kai menarik hentak jarinya, dua benang halus itu langsung memotong kedua tangan Goi Hlang dengan begitu tajamnya.
“Satu benangku sudah melilit di lehermu. Jika kau masih tidak mau pergi, lehermu akan putus seperti tanganmu,” kata Putri Yuo Kai datar.
Terkejutlah Goi Hlang dalam kesakitannya. Ia memang merasakan ada seperti sehelai rambut yang melingkar di batang lehernya.
Lung Tin pun terkejut. Mereka pun sadar bahwa wanita yang mereka hadapi bukanlah wanita berkesaktian biasa.
“Jangan bunuh Hlang, Nona!” seru Lung Tin cepat. “Kami akan pergi! Kami akan melepaskan Chi Men!”
Putri Yuo Kai lalu melemaskan jari-jari tangan kanannya, membuat benang halus yang melilit pada leher Goi Hlang mengendur, lalu lepas dan kembali masuk ke dalam ujung jari tangan sang putri. Seperti itulah kehebatan ilmu Serat Sutra, ilmu baru Putri Yuo Kai yang diberikan oleh gurunya, Penebar Mimpi Buruk.
“Jika kalian benar-benar ingin menuntut perhitungan, carilah Putri Yuo Kai di Istana Negeri Jang!” seru Putri Yuo Kai sebelum orang-orang Sekte Bulan Hijau itu pergi.
Kian terkejutlah Lung Tin dan Goi Hlang mendengar hal itu. Jelaslah mereka tahu cerita tentang Putri Yuo Kai yang kesaktiannya sulit terkalahkan.
__ADS_1
Lung Tin cepat menarik baju Goi Hlang agar pergi. Sementara darah terus mengucur deras dari kedua potongan tangan Goi Hlang. Pemuda itu bahkan sudah merasa lemah.
Orang-orang berpedang dari Sekte Bulan Hijau segera saling bahu-membahu meninggalkan jalanan itu. Mereka mengikuti Lung Tin dan Goi Hlang. (RH)