
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
Keenam permaisuri berdiri berjejer tidak jauh di depan Gimba yang duduk merendah. Bahkan Ginari diturutsertakan pada posisi paling ujung di sisi Permaisuri Tirana.
Prabu Dira alias Joko Tenang berpenampilan gagah dengan pakaian bagusnya yang berwarna serba putih. Tetap dilengkapi oleh rompi pusakanya yang berwarna merah.
Kini Prabu Dira berdiri di hadapan Ratu Getara Cinta. Ia memegang kedua tangan halus Permaisuri Darah Suci.
“Aku percayakan kerajaan ini kepadamu, Getara,” ucap Prabu Dira.
“Baik, Kakang,” ucap Ratu Getara Cinta seraya tersenyum manis.
Cup!
Prabu Dira lalu mengecup dahi Permaisuri Ketiga, lalu memeluk tubuh harumnya. Prabu Dira kembali menyusupkan satu kecupan pada leher sang ratu yang membuat darahnya berdesir indah.
Setelah itu, Prabu Dira bergeser ke hadapan Permaisuri Mata Hati. Ia pun memegang kedua tangan istri tertuanya itu.
Cup!
Namun, Permaisuri Mata Hati lebih dulu mengecup dahi Prabu Dira.
“Hahaha!” tawa Prabu Dira, yang juga membuat para permaisuri yang lain tersenyum lebar.
Prabu Dira lalu memeluk Permaisuri Mata Hati.
“Aku titipkan para permaisuri yang lain dalam lindunganmu, Mata Hati,” bisik Prabu Dira lalu menyusupkan satu kecupan pada leher Permaisuri Mata Hati.
Kecupan di leher itu membuat Permaisuri Mata Hati jadi “ingin”, tetapi ia harus tahan.
Selanjutnya Prabu Dira bergeser kepada Permaisuri Mata Hijau. Ia mengecup dahi wanita bermata hijau itu lalu memeluknya erat. Permaisuri Mata Hijau juga balas memeluk erat. Sama seperti Permaisuri Tirana dan Getara Cinta, ia sudah cukup lama tidak memeluk tubuh gagah suaminya, bahkan belum bertarung ranjang lagi.
“Bersabarlah, Sayang!” bisik Prabu Dira lalu mencium leher Permaisuri Mata Hijau.
“Iya,” ucap Permaisuri Mata Hijau seraya tersenyum dengan sepasang mata berkaca-kaca. Ia merasa sedih akan kehilangan suaminya dalam beberapa hari mendatang.
Prabu Dira lalu bergeser ke hadapan si mungil yang menggemaskan. Permaisuri Serigala tersenyum-senyum malu dengan wajah yang memerah. Jika hanya berdua di dalam kamar, mungkin ia tidak akan malu lagi. Namun, jika di hadapan para permaisuri lainnya, ia masih merasa malu.
Melihat Permaisuri Serigala tersenyum-senyum malu, Prabu Dira jadi tertawa rendah. Ketika Prabu Dira mengecup keningnya, Permaisuri Serigala semakin menunduk malu. Setelah itu, Prabu Dira memeluknya.
__ADS_1
“Hihihi…!” kikik Permaisuri Serigala kegelian saat suaminya mencium lehernya. ia sampai mengerutkan lehernya sambil tertawa-tawa, sehingga Prabu Dira tidak bisa berbisik kepadanya.
Akhirnya Prabu Dira melepas wajahnya dari leher Permaisuri Serigala dan melepas pelukannya, tetapi wanita mungil itu masih menyisakan tawanya.
“Sambut kepulanganku dengan bebasnya Hutan Malam Abadi!” pesan Prabu Dira.
Cup!
Bukannya menjawab, tiba-tiba Permaisuri Serigala melompat kecil mencium bibir Prabu Dira yang posisinya lebih tinggi.
“Hihihi!” tawa Permaisuri Serigala cekikikan.
Melihat aksi curian itu, permaisuri yang lain hanya tersenyum lebar dan geleng-geleng kepala. Prabu Dira sendiri hanya membalas dengan colekan ujung jarinya kepada ujung hidung mancung nan mungil Permaisuri Serigala.
Setelahnya, Prabu Dira bergeser ke hadapan Permaisuri Pedang. Ia lalu mengecup dahi Permaisuri Kusuma Dewi dan memeluknya.
“Aku harap kau bisa menjadi permaisuriku hingga akhir hayat!” bisik Prabu Dira. Ia tahu, di antara para permaisurinya, Kusuma Dewi yang paling rentan mengalami perubahan cinta. Ia lalu mengecup leher Permaisuri Pedang.
“Aku tidak akan menyerah untuk terus menikmati cintamu, Kakang,” ucap Permaisuri Pedang.
Ketika berdiri di hadapan Permaisuri Penjaga, Prabu Dira agak lama menatap mata istrinya itu.
“Hahaha!” tawa Prabu Dira sambil mencium kening Permaisuri Penjaga. Ia lalu memeluk erat tubuh Permaisuri Penjaga.
Permaisuri Penjaga sampai memejamkan mata saat memeluk erat tubuh suaminya, seolah ia begitu menikmati kondisi itu. Terlebih ketika lehernya dicium oleh Prabu Dira, seketika nafsu birahinya terpancing.
“Aku mengandalkanmu!” bisik Prabu Dira. Ia kembali menarik kepalanya dan menatap Permaisuri Penjaga. Dilihatnya Permaisuri Tirana justru meneteskan air mata. “Kenapa menangis, Sayang?”
Prabu Dira menyeka air mata Permaisuri Penjaga.
“Maafkan aku, Kakang Prabu. Air mataku tidak sesakti ilmuku. Aku akan selalu khawatir jika kau pergi tanpa aku. Dan aku akan sangat rindu,” kata Permaisuri Penjaga.
“Kepergianku hanya sebentar. Kepergian itu akan kian memperdalam rasa cinta kalian,” kata Prabu Dira.
Permaisuri Penjaga hanya tersenyum sambil mengangguk.
Terakhir, Prabu Dira bergeser ke hadapan Ginari yang berdiri diam tanpa perubahan ekspresi sejak tadi.
Prabu Dira meraih kedua tangan Ginari. Sentuhan itu ternyata membuat pandangan mata Ginari fokus kepada kedua mata Prabu Dira.
__ADS_1
“Cepatlah sehat agar kita bisa menjadi suami istri. Aku akan selalu menunggumu dengan penuh cinta,” ucap Prabu Dira.
Mendengar kata-kata Prabu Dira, tidak ada reaksi pada wajah jelita itu. Namun, ketika sang prabu mengecup keningnya, sepasang mata indah gadis itu berkedip, tetapi tidak dilihat oleh siapa pun.
Setelahnya, Prabu Dira hanya tersenyum menatap wajah Ginari.
Selanjutnya Prabu Dira berbalik dan melangkah pergi kepada Gimba. Langkah pergi itu membuat Ginari tergerak maju selangkah, seolah ingin mengejar Prabu Dira.
“Kakang Prabu!” teriak Permaisuri Tirana cepat.
Prabu Dira cepat menengok ke belakang. Ia mencoba membaca apa yang terjadi. Dilihatnya ternyata Ginari telah maju satu langkah. Dan saat itu, tangan kanannya bergerak perlahan mengangkat seolah menggapai ke arah Prabu Dira.
Melebar sepasang mata Prabu Dira melihat gerakan pada Ginari. Hal itu membuat Prabu Dira memutuskan berbalik dan berlari kecil memeluk tubuh Ginari, lalu diangkatnya sedikit naik ke atas.
“Hahaha…!” tawa Prabu Dira lalu mencium pipi kanan Ginari.
“J… Jo… Joko,” sebut Ginari lirih, tetapi pandangannya masih lurus dan wajahnya tanpa ekspresi.
“Kau harus sudah sehat saat aku kembali, Ginariku sayang!” kata Prabu Dira.
Ia lalu menurunkan tubuh Ginari menginjak tanah. Sambil tertawa-tawa samar, Prabu Dira lalu berbalik kembali dan pergi memeluk paruh burung rajawali raksasanya.
Setelah mengelus beberapa kali kepala Gimba, Prabu Dira lalu melompat naik ke pangkal leher Gimba.
Para permaisuri melambaikan tangan kepada Prabu Dira yang perkasa di segala medan. Hanya Permaisuri Nara dan Ginari yang tidak melambaikan tangan. Prabu Dira pun melambaikan tangannya.
Kaaak!
Gimba berkoak pelan lalu lepas landas dengan meninggalkan angin kencang dari kepakan sayapnya.
Seluruh warga Kerajaan Sanggana Kecil yang melihat raja mereka terbang dengan burung raksasa, hanya bisa terperangah takjub. Ada kebanggaan yang hadir di dalam dada mereka karena memiliki pemimpin yang hebat.
Sementara itu, sebulir air bening muncul di mata indah Ginari, lalu terjun bebas di pipi mulusnya.
Maka dimulailah perjalanan Prabu Dira menuju ke negeri seberang samudera untuk menjemput Permaisuri Pertama, yaitu Putri Yuo Kai.
Kini Kerajaan Sanggana Kecil berada di bawah kepengurusan para permaisuri di bawah pimpinan Ratu Getara Cinta, di bawah perlindungan Permaisuri Nara dan dibawah pelaksanaan Mahapati Turung Gali, ayah Permaisuri Tirana. (RH)
__ADS_1