Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Petperma 10: Manusia Lain


__ADS_3

*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*


“Gimbaaa!” teriak Prabu Dira cemas sambil berlari mendapati burung raksasa yang terkapar di antara pepohonan.


Prabu Dira langsung memeluk paruh besar Gimba. Burung itu tidak mati, ia masih hidup dan bergerak. Sementara angin dan hujan masih kencang melanda gunung tersebut. Pepohonan tertiup kencang yang menimbulkan suara yang bising.


“Bagaimana kondisinya?” tanya Putri Yuo Kai agak berteriak kepada suaminya. Ia datang menyusul, juga merasa cemas melihat kondisi Gimba.


Kak!


Gimba berkoak pelan, lirih, seolah sedang menahan rasa sakit.


“Untuk sementara Gimba tidak bisa terbang,” jawab Prabu Dira. “Sepertinya kita akan terdampar di sini.”


Prabu Dira lalu bergerak untuk memeriksa kondisi sayap kiri Gimba. Pada sayap kiri itu ada kerusakan dan luka hangus yang parah.


“Bagaimana kondisi yang lain?” tanya Prabu Dira kepada istrinya.


“Biar aku periksa dulu kondisi mereka,” kata Putri Yuo Kai, lalu segera pergi mencari para abdinya.


Di lokasi jatuhnya, Bo Fei menggeliat mengerang kesakitan. Tubuhnya seolah remuk.


“Nona Bo, kau tidak apa-apa?” tanya Mai Cui khawatir.


“Tidak apa-apa,” ucap Bo Fei seraya mengerenyit dengan tubuh terbaring bebas, membiarkan tubuh dan wajahnya tersiram air hujan.


Di sisi lain, Chi Men segera bangkit dari jatuhnya. Pakaiannya kotor berlumur lumpur tanah gunung. Kondisinya baik-baik saja. Ia segera menghampiri Yi Liun yang mengerang kesakitan.


“Apakah kau terluka, Nona Yi?” tanya Chi Men.


“Tanganku,” jawab Yi Liun meringis kesakitan sambil tangan kanannya memegangi tangan kirinya.


“Coba aku periksa,” kata Chi Men sambil meraih tangan kiri Yi Liun. Setelah memeriksa, ia berkata, “Tahan sedikit!”


Krek!


“Akk!” pekik Yi Liun tertahan karena sakitnya begitu menusuk, ketika Chi Men mendorong tulang tangannya.


Setelah mendorong, Chi Men menarik kembali tangan kiri Yi Liun dengan menghentakkannya. Setelah itu, Yi Liun berhenti menjerit atau mengerang.


“Sudah tidak apa-apa,” kata Chi Men.


Kemudian datang Putri Yuo Kai kepada mereka.

__ADS_1


“Bagaimana kondisi kalian?” tanya Putri Yuo Kai.


“Tidak apa-apa,” jawab Chi Men.


“Iya, tidak apa-apa, Yang Mulia Putri,” sahut Yi Liun pula.


Putri Yuo Kai lalu pergi mengecek kondisi Bo Fei dan Mai Cui.


Pada akhirnya, Prabu Dira dan mereka semua berteduh di bawah sayap Gimba yang dibentangkan.


“Gimba tidak bisa melanjutkan perjalanan. Terpaksa kita harus menunggu badai berhenti dan mencari tahu di mana kita jatuh,” kata Prabu Dira.


“Jika Gimba tidak bisa terbang lagi, apakah dia akan berada di sini terus?” tanya Putri Yuo Kai.


“Kita harus mencari cara untuk mengobati lukanya. Aku pun tidak mau meninggalkan Gimba dalam kondisi seperti ini,” kata Prabu Dira.


“Apakah Gimba akan terancam mati?” tanya Putri Yuo Kai.


“Tidak, dia hanya terluka dan tidak bisa terbang. Aku rasa membutuhkan waktu cukup lama jika harus menunggu sayapnya sembuh,” kata Prabu Dira.


Mereka harus menunggu badai mereda. Prabu Dira duduk memeluk tubuh istrinya di depan para abdinya, demi membuat Putri Yuo Kai tidak begitu kedinginan. Mai Cui dan Yi Liun juga duduk berpelukan, tetapi tidak bagi Bo Fei dan Chi Men.


Akhirnya badai reda juga, demikian pula dengan hujannya. Meski hari masih siang, tetapi matahari belum tampak di langit karena masih tertutupi oleh awan hitam sisa badai.


“Gimba, apakah kau bisa memanggil bantuan dari Alam Kahyangan untuk bisa membawamu pulang?” tanya Prabu Dira.


“Lakukanlah!” kata Prabu Dira.


Kaaak!


Gimba berkoak lirih.


“Kau membutuhkan tenaga banyak. Nanti aku akan mencarikanmu makanan,” kata Prabu Dira kepada Gimba. Lalu katanya kepada Putri Yuo Kai, “Kita nanti harus mencarikan Gimba banyak buah-buahan.”


Putri Yuo Kai lalu menyampaikannya kepada Bo Fei dan Chi Men.


Sore itu, mereka gotong-royong mencari dan mengumpulkan buah-buahan, buah apa saja, asalkan kulitnya tidak menyakitkan seperti durian atau kelapa.


Dalam perjalanan ini, Gimba memang bekerja keras karena harus terbang jauh pulang pergi dan berhari-hari. Energinya banyak terkuras. Prabu Dira pun tidak tahu bagaimana cara Gimba bisa memanggil bantuan dari Alam Kahyangan. Entah binatang apa yang akan dipanggilnya karena ibunya sudah mati?


Menjelang senja, di saat Prabu Dira dan Putri Yuo Kai memetiki buah mangga yang masih muda-muda, Prabu Dira melihat ada pergerakan manusia di kejauhan.


“Ada manusia lain,” kata Prabu Dira yang berada di dahan atas.

__ADS_1


Putri Yuo Kai segera melompat melayang ke dahan tempat suaminya berada. Ia memandang ke arah pandangan suaminya.


Cukup jauh di sisi yang lebih rendah, ada tiga orang lelaki berpakaian biru-biru gelap berjalan di antara pepohonan. Tidak jelas apa yang mereka lakukan selain berjalan. Namun, arah mereka menuju ke atas, tempat Prabu Dira dan Putri Yuo Kai berada.


“Sepertinya mereka menuju ke mari,” kata Putri Yuo Kai. “Bagaimana jika mereka melihat keberadaan Gimba?”


Prabu Dira terdiam sejenak. Ia berpikir.


“Kita kembali dulu untuk menjaga Gimba,” kata Prabu Dira kemudian.


Prabu Dira lalu merangkul pinggang Putri Yuo Kai dan membawanya melayang turun dengan mesra. Mereka lalu mengumpulkan mangga-mangga yang sudah mereka paneni pada sebuah keranjang anyaman daun kelapa, yang dibuat oleh Prabu Dira. Dengan itu Prabu Dira mudah membawa mangga dalam jumlah banyak.


Keduanya kembali ke tempat Gimba. Kini ia bisa duduk dan berjalan seperti ayam, tetapi tidak bisa terbang.


Ketika Prabu Dira dan Putri Yuo Kai tiba, yang ada bersama Gimba hanyalah Mai Cui dan Yi Liun. Bo Fei dan Chi Men belum kembali.


“Ini makanlah, Gimba!” ucap Prabu Dira sambil meletakkan keranjang anyaman daun kelapa hijau di depan Gimba.


Gimba segera mematuk-matuk buah mangga seperti mematuk biji kacang saja. Setelah satu dua patukan, kepala Gimba mendadak tergidik bergetar.


“Hahaha…!” Mendadak tawa Prabu Dira meledak, membuat istri dan kedua pelayannya terheran. “Kau pasti keasaman!”


“Hihihi…!” tawa Putri Yuo Kai pula setelah mendengar perkataan suaminya.


Kak!


Koak Gimba pelan, lalu kembali mematuk ke keranjang. Ia mengatakan, tidak masalah ia memakan mangga muda, bukan artinya dia sedang “ngidam”.


Namun, ketika Bo Fei dan Chi Men datang membawa buah jambu biji yang banyak, Gimba pun beralih meninggalkan buah mangga asam itu.


“Wah! Aku dan Yuo Kai sudah susah lelah memetik mangga untukmu, tetapi tidak kau habiskan ketika makanan lain datang!” gerutu Prabu Dira kepada Gimba.


Putri You Kai hanya tersenyum lebar melihat suaminya mengomel, hal yang tidak pernah ia saksikan.


“Bo Fei, kau awasi tiga orang di sisi timur yang berjalan mendaki ke arah tempat ini!” perintah Putri Yuo Kai.


“Baik, Yang Mulia!”


Bo Fei segera pergi melaksanakan perintah majikannya.


Bo Fei berhenti di balik sebuah pohon, saat ia melihat keberadaan tiga orang lelaki bertubuh tinggi besar. Uniknya, ketiga lelaki itu berambut kuning emas, memiliki hidung yang besar dan sangat mancung, sangat berbeda dengan hidung mungil Bo Fei.


Posisi tempat Bo Fei bersembunyi dengan posisi ketiga lelaki berkulit kemerahan itu, dipisahkan oleh aliran deras air yang mengalir dari ketinggian gunung.

__ADS_1


Ketiga lelaki itu saling berbincang dengan bahasa yang Bo Fei tidak mengerti. Namun, itu bukan bahasa seperti yang Prabu Dira miliki. Pada kemudiannya, ketiganya memutuskan berbelok arah karena tidak bisa melewati aliran air yang seperti sungai kecil berair deras.


Hujan deras telah membuat sungai di atas gunung meluap dan menciptakan aliran sungai baru berair deras berwarna cokelat. (RH)


__ADS_2