Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo12: Bisikan Bangirayu


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo)*


“Aku rasa perselisihan di seberang sudah selesai,” kata Bangirayu kepada Tirana. Mereka melihat kaum pemuda di area seberang sudah kembali ke dalam aktivitasnya masing-masing.


“Apakah pertengkaran sesama warga sering terjadi?” tanya Tirana sambil mengikuti Bangirayu yang turut membubarkan diri mengikuti para wanita muda lainnya.


“Sebenarnya jarang. Namun, dalam sehari ini kondisi tidak berjalan tenang, mungkin orang-orang yang berniat berontak berusaha mencari perhatian dari tamu yang datang,” kata Bangirayu.


“Maksudmu mencari perhatian dari aku dan suamiku?” tanya Tirana ingin tertawa.


“Iya,” kata Bangirayu tersenyum seraya memandang wajah Tirana. “Yang aku ketahui, ada beberapa warga desa yang ingin memberontak, tetapi mereka tidak bisa melawan Kepala Desa. Desas-desus yang aku dengar, orang-orang itu ingin minta tolong kepada pendekar sakti yang bermalam di desa ini untuk menumbangkan kepemimpinan di desa ini.”


“Kenapa mereka ingin memberontak, apakah ada kejahatan yang mereka rasakan dari pemimpin desa ini?” tanya Tirana.


“Mungkin mereka menilai aturan-aturan di desa ini memenjarakan kehidupan mereka,” jawab Bangirayu.


“Tampaknya kau tahu banyak tentang orang-orang yang memberontak itu?” tanya Tirana curiga.


“Ah, tidak, aku hanya... hanya mendengar dari pembicaraan sesama wanita di desa ini,” kata Bangirayu dengan sikap yang cukup salah tingkah dan gagap.


Tirana hanya tersenyum melihat reaksi Bangirayu atas pertanyaannya.


“Kalaupun kau bagian dari kelompok yang mau memberontak, tidak ada urusannya dengan aku dan suamiku,” kata Tirana, sengaja membuka pintu.


Bangirayu hanya tersenyum mendengar perkataan Tirana.


“Bolehkah aku bertanya-tanya kepada Tirana?” tanya Bangirayu.


“Silakan?”


”Ke mana tujuan kalian?”


“Kami sedang mengejar Kelompok Pedang Angin.”


“Itu artinya kalian akan tertinggal jauh,” kata Bangirayu.


“Kami sedang menunggu Kepala Desa selesai semadi untuk menanyakan peluang bisa pergi hari ini juga,” kata Tirana.


“Aku rasa keinginan kalian itu tidak mungkin terwujud, karena kalian tidak memiliki syarat yang bisa membuat kalian bisa pergi hari ini juga,” kata Bangirayu.


“Kau tahu?” tanya Tirana.


“Hanya menerka saja,” jawab Bangirayu seraya setengah berbisik. “Nah, ini tempat bermalam Tirana.”

__ADS_1


Mereka telah tiba di sebuah rumah berpanggung pendek. Di teras kecilnya ada sebuah balai bambu. Bangirayu mengajak Tirana duduk sambil menikmati pemandangan sebuah lapangan berumput kecil. Ada sejumlah kaum wanita sedang berlatih kemampuan beladirinya di sana.


“Menurutmu apa syarat yang harus kami berikan agar bisa diizinkan pergi hari ini juga?” tanya Tirana.


“Aku tidak tahu pasti, tetapi dugaanku adalah wanita. Jika berurusan dengan Kepala Desa, biasanya tidak jauh dari perkara wanita,” kata Bangirayu  dengan suara setengah dipelankan, sambil matanya melirik ke sekitar dulu. “Kepala Desa sangat suka dengan wanita, karenanya ada istilah Kekasih Sementara.”


“Kau berani berbicara seperti ini?” tanya Tirana.


“Sulit mencari peluang seperti ini. Bagaimana jika Kepala Desa meminta wanita sebagai syarat, apakah kalian akan memenuhinya?” Bangirayu kembali berbisik lagi.


“Aku tidak mau dikorbankan,” tandas Tirana.


“Berarti kalian harus menunggu tiga hari dan tertinggal jauh dari Kelompok Pedang Angin. Lalu, apakah kalian mau jika diminta membantu?” Bangirayu masih berbisik, tetapi menunjukkan sikap biasa saja jika dilihat dari kejauhan.


“Membantu apa?”


“Memberontak oleh para warga yang berniat melawan,” jawab Bangirayu.


“Kami tidak mau berurusan dengan orang sedesa dan bertarung dengan Kepala Desa,” kata Tirana.


“Tetapi, jika kalian melawan Kepala Desa, aku yakin kalian akan menang,” kata Bangirayu.


Percakapan mereka terhenti saat ada seorang gadis datang.


“Aku rasa aku tidak bisa memilih,” kata Tirana, juga ramah.


Mereka bertiga tertawa akrab.


“Aku terpaksa meninggalkan kalian berdua, aku harus berlatih memanah,” kata Asih Marang lalu bergerak masuk.


Tidak lama, Asih kembali keluar dengan membawa busur dan tabung bambu sebagai tempat sekumpulan anak panah.


“Bagaimana kau yakin bahwa kami akan menang?” tanya Tirana melanjutkan, setelah Asing Marang pergi.


“Kami sudah menguji suamimu,” bisik  Bangirayu yang kali ini menggunakan kata “kami” yang mempertegas posisinya.


“Aku butuh penjelasan, kau sudah berani mengakui tempatmu berdiri,” kata Tirana.


“Aku sudah mendapat izin untuk membuka diri kepada kalian. Itu artinya kami menaruh kepercayaan tinggi kepada kalian berdua,” kata Bangirayu.


“Apa yang kau lakukan ini sangat berbahaya, dengan menaruh harapan kepada orang asing. Kita belum saling kenal, baru sekedar mengenal nama, tetapi kalian sudah mempertaruhkan perjuangan yang kalian bangun sudah lama di desa ini,” ujar Tirana.


“Kami selalu menilai setiap pendekar asing yang datang ke desa ini. Setelah menguji suamimu dengan serangan dari Si Kucing Merah, kami segera menyimpulkan. Memang berisiko, tetapi kami harus mengambil peluang yang sangat sulit ada,” jelas Bangirayu.

__ADS_1


“Jadi Si Kucing Merah memang berniat menyerang Kakang Joko?” terka Tirana untuk memastikan.


“Benar.”


“Tetapi serangan itu mengarah kepada Sudarka. Apakah Sudarka anggota kalian juga karena dia sengaja menghindar daripada mengadu ilmu dengan Si Kucing Merah?” buru Tirana lagi.


“Bukan, Sudarka bukan bagian dari kami. Sudarka tahu bahwa ia tidak bisa menahan ilmu Darah Amarah Si Kucing Merah, karenanya ia menghindar. Jika suamimu tidak unggul dari adu ilmu itu, kami tidak bisa berharap kepadanya. Namun, ilmu suamimu jauh lebih tinggi dari ilmu Darah Amarah yang tidak bisa mengalahkan kesaktian Kepala Desa,” jelas Bangirayu.


“Aku dan suamiku hanya memiliki tujuan mengejar Kelompok Pedang Angin. Kami tidak punya alasan untuk membantu kalian atau membuat keonaran di desa ini. Pada umumnya, kelompok pemberontak adalah pihak yang bersalah dan harus diberantas,” tandas Tirana.


“Kau bisa lihat bahwa peraturan di desa ini sangat....”


Bangirayu langsung menghentikan kata-katanya di tengah kalimat, saat Tirana memberi isyarat tangan kepadanya agar berhenti bicara.


Tirana memberi isyarat gerakan mata dan wajah yang halus, memberi tahu bahwa ada orang di belakang rumah. Tirana juga memberi isyarat dengan langkah perlahan dua jari tangan kanannya di atas punggung tangan kirinya, yang memberi pesan bahwa orang di belakang rumah berjalan mengendap-endap.


Tirana menambahkan dengan menunjuk ke lantai rumah sebelah dalam. Memberi pesan bahwa orang itu masuk ke bawah rumah secara diam-diam.


Bangirayu hanya mengangguk.


“Aku melihat, para wanita di bagian dapur bekerja membuat makanan yang banyak,” kata Tirana, mengalihkan topik pembahasan.


“Aturan di desa ini adalah makan dan minum satu kali bersama-sama di alun-alun, laki-laki dan perempuan, dipimpin oleh Kepala Desa. Jadi, siapa pun yang kedapatan makan atau minum bukan di waktu itu, akan dihukum penjara satu hari penuh dan mendapat tugas membersihkan tempat buang air selama tiga puluh hari,” jelas Bangirayu.


“Serumit itu aturannya?”


“Yah, begitulah. Jika kau berniat, ayo kita pergi membantu gadis-gadis memasak,” kata Bangirayu.


“Baik,” jawab Tirana tersenyum.


Mereka pun bangkit dari balai dan melangkah pergi meninggalkan rumah. Penguping di bawah rumah pun tidak mendapatkan hasil.


Sementara itu, Joko masuk ke sebuah bilik setinggi dada tanpa atap atau penutup di bagian atasnya. Uniknya kakus itu, sistem salurannya tidak langsung membuang ke sungai, tetapi masuk ke dalam tanah. Kakus itupun memiliki pipa air bambu yang airnya dialirkan oleh sebuah kincir di sungai. Jadi air selalu mengalir ke dalam kakus yang bisa digunakan untuk istinja.


Joko Tenang berjongkok di dalam kakus. Sebelum ia menunaikan hajatnya, ia lebih dulu membuka gulungan daun pisang muda yang melilit di batang lidi. Celah-celah kecil yang ada pada dinding dan pintu bilik, membuat Joko bisa mengintip ke area luar. Sementara ini daerah itu sepi dari warga desa.


Ternyata di dalam potongan kecil daun pisang itu tertera sebaris kalimat yang tertulis.


“Tepat tengah malam temui aku di bawah pohon randu.”


Itulah bunyi tulisan yang ada di daun tersebut.


Joko Tenang terdiam sejenak berpikir.

__ADS_1


“Sepertinya desa ini memiliki konflik di dalamnya,” membatin Joko sambil membuang gulungan daun pisang ke lubang kakus. (RH)


__ADS_2