
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Luncuran tubuh Joko Tenang melesat cepat menyusul tubuh Kerling Sukma yang menuju ke dasar jurang. Joko menabrak peluk tubuh Kerling Sukma di udara.
“Hekh!” keluh Joko Tenang seiring tubuhnya memeluk tubuh Kerling Sukma. Seketika penyakit Joko Tenang bereaksi cepat. Tubuhnya cepat berubah lemah hilang kekuatan. Namun, ia masih sempat mengatur tubuh Kerling Sukma agar berada di atas dan punggungnya sendiri berada di sisi bawah.
“Akk!” jerit Kerling Sukma saat tahu-tahu ada yang menabrak dan memeluk tubuhnya menuju kematian.
Bress!
Brakr! Bdak! Blugk!
Tiba-tiba Rompi Api Emas yang dikenakan Joko memancarkan sinar keemasan yang langsung menyelimuti tubuh kedua remaja itu, bersamaan ketika punggung Joko menghantam dahan besar pohon. Dahan pohon itu patah karena begitu kuatnya hantaman.
Selanjutnya tubuh Joko kembali menghantam dahan besar yang lebih rendah, tetapi tidak sampai patah. Hantaman pada dahan kedua membuat tubuh Joko dan Sukma terpental berpisah lalu sama-sama jatuh di tanah berumput tinggi.
Kerling Sukma tidak akan pernah melupakan pengorbanan Joko yang pempertaruhkan nyawanya demi menolongnya beberapa tahun yang lalu. Padahal semua orang menyimpulkan bahwa ia tidak mungkin bisa diselamatkan ketika terjun bebas ke dasar jurang yang begitu dalam.
Kerling Sukma termenung menangis duduk di pinggir kolam. Sepasang kakinya yang turun berendam di air ia gerak-gerakkan secara random.
Tidak hanya kenangan mengerikan tapi indah saat jatuh ke jurang yang memutuskan Kerling Sukma harus menikah dengan Joko, kenangan indah dan memalukan saat terjerat perangkap jala pun tidak bisa ia lupakan.
“Maafkan aku kalena sudah memelukmu saat jatuh,” ucap Joko seraya tersenyum malu, tetapi ia berjalan sambil menunduk, seolah tidak berani memandang Sukma yang berjalan empat langkah di sisi kanannya. Lidah mereka menjadi cadel karena pengaruh buah cumir yang menjadi makanan favorit Bibi Nara.
“Tidak apa-apa,” ucap Sukma juga, ikut tersenyum malu, tapi ia mencuri pandang kepada Joko, meski sejak tadi mereka sudah tatap-tatapan dalam berkomunikasi.
“Bagaimana bisa kita ada belsama bibi itu?” tanya Joko. Kali ini ia bertanya dengan menengok memandang Sukma.
“Namanya Nala. Bibi Nala menolong kita saat ada halimau mau menyelang kita, saat kau masih pingsan,” jawab Sukma.
“Kau tahu bahwa Bi Nala buta?” tanya Joko.
“Hah!” kejut Sukma. Ia berhenti berjalan dan memandang Joko dengan serius, “Aku tidak tahu kalau Bi Nala buta. Setahuku hanya bahwa matanya belwalna hitam.”
“Apa kau pikil mata Bi Nala sejenis matamu yang indah itu?” kata Joko.
“Telima kasih,” ucap Sukma seraya tersenyum lebar dan tersipu malu.
“Padahal dalam hati aku ingin mengatakan sepelti mata kucing,” kata Joko lau melanjutkan langkahnya.
“Apa kau bilang, Joko?!” bentak Sukma dengan mata mendelik. “Aku hajal kau!”
Tiba-tiba Sukma berlari ke arah Joko sambil mengangkat tangan kanannya, bermaksud memukul pemuda berbibir merah itu.
“Eh! Jangan mendekat!” pekik Joko terkejut panik, lalu buru-buru lari menjauh.
“Kau pikil aku tidak bisa bellali!” teriak Sukma sambil terus mengejar. Ia justru mengencangkan larinya.
“Bialpun kau bisa lali secepat kucing, tetap saja kau tidak akan bisa mengejalku!” balas Joko pula sambil sesekali menengok ke belakang, untuk menjaga jarak aman dari kejaran Sukma.
“Hihihi...!” Sukma tertawa dalam pengejarannya. Joko dilihatnya benar-benar panik, tidak mau didekati.
Joko Tenang terpaksa terus berlari di antara pohon-pohon besar, bahkan menerobos area berumput tinggi.
“Hentikan mengejal aku, Sukma! Kita halus menemukan buah cumil!” teriak Joko.
“Bukan buah cumil, tapi buah cumil!” teriak Sukma, bermaksud meralat sebutan Joko, tetapi ia pun menyebut kata yang sama. Ia sempat lupa bahwa mereka berdua telah sama-sama cadel.
“Hahaha!” tertawa Joko yang mengerti maksud Sukma itu.
Merasa ditertawakan, Sukma semakin gusar. Ia benar-benar harus memukul Joko.
“Ada yang belum kau tahu daliku!” seru Sukma.
__ADS_1
Tiba-tiba Sukma berhenti mengejar. Ia merunduk di dalam ketinggian rumput. Bahkan napas pun ia tahan. Posisi kaki dan tangan tampak seperti memasang ancang-ancang.
Joko Tenang menengok ke belakang, tetapi ia tidak melihat keberadaan Sukma yang mengejarnya. Joko pun berhenti. Ia sejenak mencari. Pikirnya, Sukma pasti bersembunyi di balik rerumputan yang tingginya sepinggang itu. Namun, Joko tidak melihat adanya tanda-tanda rumput bergerak oleh sesuatu. Semua diam. Joko mengitarkan pandangannya ke area sekitar. Bahkan ia mendongak untuk mencari di pepohonan.
“Kena kau!” seru Sukma tiba-tiba.
Tubuhnya tahu-tahu mencelat begitu cepat keluar dari dalam rumput. Jangkauannya jauh dan langsung menyasar tubuh Joko.
Joko Tenang begitu terkejut, ia sedikit pun tidak menduga hal itu. Buru-buru ia menggunakan ilmu peringan tubuhnya untuk berkelebat menghindar dengan cara melesat mundur. Namun, telat.
Buk!
Srekrs!
Brussrr!
Lompatan tubuh Sukma yang seperti gaya binatang itu terlalu cepat dan Joko telat mengelak. Alhasil, kedua tangan Sukma berhasil menangkap tubuh Joko. Akibatnya, kedua tubuh pemuda itu jatuh bersamaan ke tanah yang penuh tumpukan daun kering.
Joko tidak bisa menghindari tubuhnya jatuh tertindih. Bahkan dahi Sukma menghantam hidung Joko.
Namun, keduanya lebih terkejut lagi, ketika tempat mereka jatuh bisa bergerak dan membuat tubuh mereka terangkat ke atas.
Selanjutnya suasana hening.
Kini, tubuh Joko dan Sukma saling himpit di dalam jala besar yang menggantung di atas pohon besar. Bahkan kedua pipi mereka saling tempel menekan. Tubuh mereka pun saling menekan tidak karuan.
Ternyata mereka berdua tadi jatuh tepat di atas sebuah perangkap jaring yang tertutupi oleh tumpukan dedaunan kering. Jaring perangkap itu langsung menjerat mereka berdua dan menariknya ke atas, menggantung di dahan pohon besar.
“Apa yang teljadi?” tanya Joko lemah, karena memang tenaganya langsung hilang.
“Kita masuk jelatan pelangkap,” kata Sukma. Ia berbicara sangat dekat di wajah Joko.
Berat dua tubuh mereka membuat jaring jeratan itu semakin kencang menekan tubuh mereka.
“Susah. Jika aku gesel, nanti aku malah menciummu,” kata Sukma. “Tapi tolong pindahkan tanganmu. Tanganmu menekan dadaku!”
“Maaf, aku tidak bisa menggelakkan tanganku sedikit pun. Tenagaku habis,” kata Joko.
Kondisi seperti itu membuat mereka mau tidak mau harus saling menahan rasa malu di dalam hati masing-masing. Jika wajah Joko terlihat pucat dan berkeringat, wajah Sukma justru bersemu merah.
“Tapi tolong, talik tanganmu dari sela pahaku,” bisik Joko.
“Hihihi!” Kerling Sukma justru tertawa.
“Kenapa kau teltawa dalam kondisi sulit sepelti ini?’ tanya Joko.
“Aku balu sadal tanganku ada di sana. Benal-benal kondisi yang sangat memalukan,” kata Sukma.
“Ini semua gala-gala kau!” tukas Joko, tapi dengan suara berbisik lemah.
“Kenapa menyalahkanku? Aku tidak akan mengejalmu jika kau tidak meledekku!” kata Sukma dengan nada agak kencang, membuat Joko kerenyitkan wajah.
“Jangan teliak, telingaku ada di dekat mulutmu,” kata Joko.
“Kondisinya sudah sepelti ini. Jika kita bisa bebas, lebih baik kita menikah saja,” kata Sukma, kali ini suaranya kembali pelan.
“Mana bisa sepelti itu,” protes Joko, kondisinya semakin lemah.
“Halus bisa. Tanganmu sudah ada di dadaku, tanganku sudah ada di pahamu,” tandas Sukma.
“Aku tidak mau,” kata Joko.
“Halus mau!” tegas Sukma.
__ADS_1
“Tidak.”
“Halus!”
Akhirnya Joko berhenti membantah.
“Kau... punya kesaktian. Apakah... kau punya... cala melobek jaling ini? Aku sudah... mau mati... lasanya,” tanya Joko. Kondisinya kian lemah.
“Punya, tetapi posisiku halus dibenalkan dulu,” kata Sukma.
“Lakukanlah.”
“Tapi belisiko.”
“Apa?”
“Aku takut aku akan menciummu,” kata Sukma dengan suara yang nyaris tidak terdengar, ia malu mengungkapkan itu.
“Dalipada... kita telus sepelti ini,” ucap Joko.
“Baik, tapi janji, jangan menyalahkanku,” kata Sukma.
“Iya.”
Maka Sukma mulai berusaha bergerak karena untuk bisa mengeluarkan salah satu ilmu yang ia miliki, posisi tubuhnya harus mendukung. Mau tidak mau ia harus berusaha menggeser sedikit tubuhnya yang terpaksa tubuh depannya harus menggesek tubuh depan Joko, terlebih satu tangan Joko mengganjal di dada Sukma. Sukma harus berkorban besar demi mereka bisa lepas dari jaring itu.
Seiring bergesernya tubuh Sukma, wajahnya juga harus ikut bergeser melalui wajah Joko. Beruntung Sukma masih bisa sekuat tenaga menarik kepalanya ke belakang, sehingga bisa menciptakan jarak dua jari antara bibirnya dengan bibir merah Joko.
Saling berhadapannya wajah mereka berdua dalam jarak yang begitu dekat, hingga napas pun bisa saling merasakan, membuat jantung Sukma berdebar kencang tapi indah penuh sensasi yang berbunga-bunga. Wajahnya yang putih jadi merah muda menahan rasa malu yang berbahagia.
Meski agak berbeda dengan Joko Tenang yang justru merasakan penderitaan karena kehabisan tenaga, tetapi rasa berdebar dan berdesir itu juga ada, meski porsinya tidak sebanyak yang dirasakan Sukma.
Ketika posisi wajah mereka saling berhadapan dan bibir mereka hanya berjarak dua jari, tiba-tiba....
“Akk!” jerit tertahan Joko Tenang dengan sepasang mata yang awalnya sayu jadi mendelik.
Hal itu jadi mengejutkan Sukma, sehingga tenaga untuk menahan kepalanya jadi kendor. Akibatnya....
Cup!
Bibir dan wajah Sukma maju dengan sendirinya, menempel ke bibir dan wajah Joko.
“Hemp!” Seketika Sukma panik. Buru-buru ia menggeser kepalanya secara paksa sehingga bibir dan wajahnya menggesek wajah Joko. Bibirnya pun lepas dari bibir Joko hingga akhirnya wajah Sukma kini berada di sisi kepala Joko tetapi menghadap ke sisi belakang Joko.
“Akk!” Joko masih mengerang kesakitan. “Bulungku!”
Semakin terkejut Sukma mendengar satu kata dari Joko. Sukma pun kemudin tersadar bahwa dalam gerakan itu, kakinya juga bergerak. Tanpa ia sadari, lutut kanannya menekan pangkal paha Joko. Tekanan ke perkakas keperkasaaan itulah yang membuat Joko bisa menjerit dan mendelik, meski ia dalam kondisi lemah tidak berdaya.
“Maaf, maafkan aku, Joko,” ucap Sukma dengan wajah mengerenyit karena merasa bersalah. “Aku janji akan beltanggung jawab jika anumu kenapa-napa.”
Joko Tenang tidak merespon, ia hanya pasrah. Setidaknya lutut Sukma sudah berpindah tempat.
“Hihihi!” tiba-tiba Kerling Sukma yang sudah dewasa itu tertawa di dalam tangisnya. Ia menyeka air mata yang membanjir di wajahnya.
Kenangan indah yang memalukan di dalam jaring perangkap itu akan selalu membuat Sukma tersenyum jika mengingatnya kembali.
“Aku tidak boleh hanya menangis. Aku harus bertemu dengan Joko. Aku harus menagih penjelasan darinya,” pikir Kerling Sukma.
Sukma juga selalu mengingat kata-katanya kepada Joko saat mereka sama-sama berada di dasar jurang.
“Setelah kau belkolban dili untuk menolongku, aku melasa bahwa aku ini sudah menjadi milikmu. Kalena jika tidak, pasti aku sudah mati. Dengan demikian, aku pun melasa kau juga adalah milikku. Jadi aku tidak akan malu kepadamu, tapi aku akan malu kepada olang lain. Tellebih, dipelkuat dengan kejadian di dalam jaling,” kata Sukma seraya tersenyum-senyum malu. Hatinya memang berbunga-bunga jika membahas masalah insiden-insiden memalukan di antara mereka berdua.
“Kenapa kau menangis, Mata Hijau?” tanya satu suara wanita dari belakang.
__ADS_1
Kerling Sukma menggeragap terkejut. Hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan sebutan “Mata Hijau”, yaitu gurunya, Nara yang melegenda dengan julukan Dewi Mata Hati. (RH)