Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Pusesa 9: Murid Dewi Mata Hati


__ADS_3

*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*


Joko Tenang menyampaikan perihal undangan Tiga Malaikat Kipas tentang pertemuan di Jurang Lolongan pada purnama kedua kepada Ki Ranggasewa.


“Aku tahu seperti apa medan menuju Jurang Lolongan. Dalam kondisi terbaruku ini, tentunya aku sudah tidak bisa berbaur dengan para tokoh yang lain,” kata Ki Ranggasewa.


“Tapi, aku rasa keluasan pengetahuan Ki Ranggasewa masih sangat diperlukan oleh dunia persilatan,” kata Joko.


“Cukuplah kau saja yang mewakili kami yang tua-tua,” kata Ki Ranggasewa.


Setelah menyampaikan apa yang diamanahkan oleh Tiga Malaikat Kipas, Joko memilih akan pergi ke sejumlah kediaman tokoh sakti aliran putih yang ada di dalam daftar undangan rahasia.


Namun sebelum berangkat, Ki Ranggasewa menjamu keempat tamunya sealakadarnya, meski kondisi batinnya sedang berduka.


Setelahnya, Joko dan ketiga wanita yang bersamanya meninggalkan kediaman Ki Ranggasewa. Mereka akan pergi sambil mencari petunjuk siapa yang telah mencuri Pusaka Serap Sakti.


“Aku khawatir pencuri itu juga menyerang sejumlah tokoh sakti aliran putih lainnya,” kata Getara Cinta saat mereka dalam perjalanan.


“Pencuri itu sifatnya pengecut karena menyerang Ki Ranggasewa dari belakang. Anehnya, bagaimana pencuri itu bisa tahu bahwa ada pusaka di gubuk Ki Ranggasewa,” kata Tirana.


“Kalian harus selalu waspada. Pencuri itu tidak berjiwa pendekar, bisa saja dia menyerang kita dari belakang,” kata Joko yang berjalan sendiri di depan, tanpa menengok ke belakang.


Fii uuu fuuu uuu…!


Tiba-tiba terdengar suara alunan seruling nan merdu. Tidak terlihat dari mana sumber alunan seruling itu.


Namun bagi Joko, sudah kali kedua ia mendengar irama seruling ini. Seperti halnya dulu, saat ini Joko juga tidak mampu menolak pengaruh yang ditimbulkannya. Tiba-tiba sepasang kelopak matanya terasa sangat berat dan kepalanya menjadi pusing.


Kondisi seperti itu bukan hanya Joko yang mengalaminya, Getara Cinta, Tirana dan Helai Sejengkal juga merasakan hal yang sama.


Joko mengerahkan tenaga dalamnya, mencoba melawan pengaruh irama seruling tersebut. Namun, sia-sia belaka. Akhirnya sepasang mata Joko Tenang terpejam, di saat dia tetap berdiri dengan kepala terkulai ke depan.


Getara Cinta, Tirana dan Helai Sejengkal telah terpejam lebih dulu dalam posisi tetap berdiri.


Irama seruling tetap mengalun mendayu-dayu memanjakan pendengaran.


Tiba-tiba dari atas rimbunnya sebuah pohon, melayang turun dengan begitu ringannya seumpama kapas sesosok tubuh lelaki tua. Ia turun lurus dan mendarat begitu ringan di tanah. Sementara bibir tuanya terus meniup lubang utama di serulingnya yang panjangnya sedepa. Kedelapan jari tangannya bermain-main di lubang-lubang nada seruling itu.

__ADS_1


Orang tua peniup seruling itu memiliki kepala botak licin dengan jenggot putih sedada. Ia mengenakan jubah hijau yang memiliki jahitan membentuk pola susunan daun.


Orang tua itu akhirnya menghentikan permainan serulingnya. Setelahnya, Joko Tenang dan ketiga wanitanya terbangun. Mata mereka bisa langsung menangkap keberadaan si kakek yang kini berdiri menghadang.


“Aku kira wanita itu lagi yang melakukannya, ternyata kau, Kakek Botak. Bagaimana kabarmu?” sapa Joko basa-basi, seolah ia tidak mempermasalahkan perbuatan si kakek.


“Aku lelah menunggu kedatanganmu, Joko,” kata si kakek yang sebelumnya dikenal oleh Joko bernama Sobenta dan berjuluk Pendekar Seruling Panjang.


“Sebenarnya ada urusan apa aku denganmu?” tanya Joko, meski ia sudah bisa menduga urusan apa yang mau dipermasalahkan kepadanya.


“Kau harus menikah dengan muridku, karena kau lelaki pertama yang membuka cadarnya. Dan kau aku tetapkan sebagai Ketua Perguruan Seruling Sakti,” tandas Sobenta.


Perkara ketika Joko Tenang menjadi orang pertama yang membuka cadar murid Sobenta terkisah dalam bab ke-18 yang berjudul “Menyingkap Wajah di Balik Topeng”.


“Apa yang kau pikirkan, Kakek Tua? Dulu kau begitu ceroboh mempertaruhkan muridmu dengan cara mencari jodoh yang tidak masuk akal. Sekarang kau seenaknya saja menetapkanku sebagai ketua perguruan,” kata Joko. “Terlebih aku sudah menikah. Kau lihat ketiga gadis di belakangku, dua di antaranya adalah calon istriku.”


“Tidak masalah, tidak masalah, hehehe!” kata si kakek botak lalu tertawa, membuat Joko mendelik tidak bisa berdalih lagi. “Aku tidak peduli apakah kau sudah beristri sepuluh, pokoknya kau harus menikah dengan muridku karena aku sudah berjanji kepadanya.”


“Aku juga tidak peduli janjimu kepada muridmu, aku tetap tidak mau menikah dengan muridmu. Aku tidak mau dipaksa dan aku sudah punya istri. Titik,” tandas Joko.


“Aku tidak peduli jika kau menolak. Jika kau menolak, maka aku akan memaksamu menikahi muridku dengan caraku,” tegas Sobenta.


Sementara ketiga gadis di belakang Joko hanya terdiam mendengar perdebatan dua pria beda usia itu. Mereka tidak mau ikut campur, terlebih Joko berkeras hati untuk menolak pemaksaan Sobenta.


Belum lagi Sobenta ataupun Joko melakukan suatu Tindakan, tiba-tiba terdengar teriakan satu suara.


“Kakang Sobenta!”


Mereka semua kompak menengok melihat ke arah selatan. Tidak lama, muncullah seorang lelaki tua yang berlari cepat dari selatan dengan rambut panjang yang terurai. Ia memelihara jenggot sedada, tetapi masih berwarna hitam. Sepasang matanya sipit tapi cekung. Ia membawa sebuah tongkat merah panjang setebal kelingking. Ia mengenakan jubah putih berbahan tipis transparan, membuat pakaian hijaunya terlihat. Tampak jelas pula, ada sebuah benda yang terselip di sabuk kulitnya pada sisi pinggang belakang.


Melihat kedatangan orang itu, terkejutlah Helai Sejengkal.


“Jangan biarkan perempuan berambut pendek itu lolos, Kakang. Dia telah membunuh Mayilayi!” teriak lelaki tua yang baru datang.


Terkejutlah Sobenta mendengar perkataan lelaki bertongkat yang baru datang. Ia langsung menatap serius kepada Helai Sejengkal yang terlihat gelisah di tempat berdirinya.


“Mayilayi dibunuh olehnya?” tanya Sobenta seakan tidak percaya.

__ADS_1


“Benar. Kali ini jangan biarkan ia lolos. Sudah beberapa kali ia lolos dariku!” kata lelaki berjubah transparan.


“Aku tidak pernah membunuh adik seperguruan kalian, Robenta! Bukan aku yang membunuh Mayilayi!” teriak Helai Sejengkal cepat menyangkal.


“Hah! Sangkalanmu tidak ada gunanya, Helai Sejengkal. Jika bukan kau pemilik Jarum-Jarum Hijau, siapa lagi?” tukas kakek gondrong yang disebut bernama Robenta. Ia adalah tokoh persilatan yang berjuluk Pendekar Tongkat Merah, salah satu murid Dewi Mata Hati.


“Apakah setelah kalian membunuhku lalu kalian puas? Sedangkan pembunuh sebenarnya tertawa karena melihat kebodohan kalian karena telah terpancing. Lagipula, jika kalian berhasil membunuhku, guruku tidak akan memandang kalian lagi!” kata Helai Sejengkal, mencoba untuk melawan.


“Jika bukan kau, siapa lagi yang memiliki Jarum-Jarum Hijau yang membunuh Mayilayi? Siapa lagi?” tanya Robenta menyudutkan Helai Sejengkal.


“Tidak ada, kecuali….” Jawaban Helai Sejengkal terhenti ketika ia teringat sesuatu.


“Kecuali siapa?” desak Sobenta pula.


“Kecuali guruku,” ucap Helai Sejengkal pelan dan berat. Lalu batinnya, “Apakah Guru yang melakukannya?”


“Berarti sama saja. Guru dan murid, dua-duanya harus sama-sama mati!” kata Robenta.


“Robenta, aku kira kau bisa mengatasi Helai Sejengkal sendirian. Aku akan menangkap pemuda berbibir merah ini untuk aku nikahkan dengan Kumala Rimbayu!” kata Sobenta kepada adik seperguruannya.


“Joko, kau akan membantuku kan?” tanya Helai Sejengkal dari belakang Joko.


“Aku tidak bisa sekedar percaya kepadamu, Helai. Orang yang dibunuh adalah murid tokoh ternama aliran putih, itu sama saja kau menyerang golongan putih. Dan aku termasuk di dalamnya. Aku rasa kau harus menyelesaikan permasalahanmu sendiri. Kau lihat, aku harus mengatasi permasalahanku sendiri dengan kakek botak itu,” kata Joko Tenang.


“Tidak ada waktu untuk berdiskusi!” bentak Robenta lalu hendak bergerak menyerang.


“Tunggu dulu, para tetua!” seru Joko Tenang sambil angkat tangan kanan memberi tanda “tahan dulu”.


“Kenapa?!” bentak Robenta mendelik.


“Apakah benar kalian murid-murid Dewi Mata Hati?” tanya Joko.


Sobenta dan Robenta jadi saling berpandangan.


“Benar. Lalu untuk apa kau tanyakan itu, Jokoku?” tanya Sobenta.


“Apakah kalian memiliki adik seperguruan bernama Kerling Sukma?” tanya Joko.

__ADS_1


“Benar,” jawab Sobenta. “Untuk apa kau menanyakan adik kami?”


“Aku adalah calon suami Kerling Sukma!” ujar Joko Tenang. (RH)


__ADS_2