
Tirana memasuki kamarnya dengan wajah dingin. Ia membawa sekeranjang bambu buah apel berkulit merah gelap mengkilap. Hilangnya Putri Sagiya menghadirkan pertanyaan-pertanyaan di benaknya.
Saat pandangannya melihat kepada lemari kayunya, Tirana segera meletakkan buahnya ke ranjang dan ia bergerak memeriksa laci tempat ia menyimpan kotak kayu birunya. Ternyata laci itu sudah kosong.
“Putri pencuri!” maki Tirana kesal.
Buru-buru ia berlari ke luar dan langsung ke depan rumah. Di depan ia bertemu dengan ayahnya.
“Yang Mulia Putri membawa kotak birumu,” kata Turung Gali sekeluarnya Tirana.
“Dia akan merasakan bagaimana membuat Gadis Penjaga marah!” kata Tirana marah.
“Kau jangan membuat kacau di istana, Tirana!” kata Turung Gali.
“Aku tidak pernah membuat kacau di istana, Ayah. Putri Sagiya yang sangat memaksaku untuk datang ke istana. Tapi akan aku rebut kembali milikku sebelum masuk ke istana!” kata Tirana. “Bersahabat beberapa tahun memang tidak cukup membuatnya mengenalku dengan baik.”
“Saran Ayah, biarkan Putri Sagiya membawa kotak biru itu, tidak perlu kau masuk istana,” kata Turung Gali.
Dari dalam rumah muncul ibu Tirana, Pira Lili.
“Apa yang ingin kau lakukan, Gadisku?” tanya Pira Lili lembut.
“Putri Sagiya telah mencuri kehormatanku, maka aku harus menyelamatkan kehormatanku. Aku tidak akan sampai membunuh seorang pun, Ibu,” kata Tirana.
“Ibu percaya denganmu, pergilah!” tandas Pira Lili.
Turung Gali tidak berkomentar lagi. Ia dan istrinya sangat mengenal karakter putri sulungnya tersebut.
Bress!
Tirana menghentakkan lengan kanannya seperti melempar sesuatu. Maka tiba-tiba sebuah pola sinar merah berbentuk lingkaran jaring laba-laba besar menempel di pagar halaman. Selanjutnya, Tirana berkelebat masuk ke dalam sinar jaring laba-laba dan lenyap seperti masuk ke alam lain.
Tirana menggunakan ilmu Lorong Laba-Laba untuk memperpendek jarak tempuhnya.
Tirana muncul begitu saja di jalan mendaki yang menuju ke atas hutan. Kemunculannya yang tiba-tiba itu agak mengejutkan warga desa yang sedang berjalan. Namun, warga yang juga bukan orang biasa tersebut bisa mengerti siapa Tirana adanya.
Tirana cukup populer di Kampung Cahaya Bumi dengan nama Gadis Penjaga. Bukan hanya karena kecantikannya yang sulit dicari tandingannya, tapi juga karena kesaktiannya yang tinggi di usia muda membuatnya dihormati di kalangan para pendekar.
__ADS_1
Bress!
Tirana menghentakkan lengan kanannya seperti melempar sesuatu. Maka tiba-tiba sebuah pola sinar merah berbentuk lingkaran jaring laba-laba besar menempel di dinding batu jalanan yang menanjak. Selanjutnya, Tirana berkelebat masuk ke dalam sinar jaring laba-laba dan lenyap seperti masuk ke alam lain.
Tirana menggunakan ilmu Lorong Laba-laba untuk memperpendek jarak tempuhnya.
Dalam hitungan detik semata, Tirana muncul tiba- tiba di jalan sebuah desa di atas bumi di tengah hutan. Kemunculannya yang seperti setan itu hanya menarik perhatian sejenak orang sekitar. Sebab, selanjutnya Tirana kembali melepas Lorong Laba-labanya dan masuk menghilang ke dalamnya.
Tirana kembali muncul di sebuah jalan hutan yang cukup lebar, lalu menghilang kembali dengan cara yang sama.
Sementara itu, dua kuda yang ditunggangi oleh Putri Sagiya Riangga Liya dan pengawal pribadinya, Pengawal Tingkat Tiga Jatria Gaga, berlari kencang di jalan lebar yang diapit oleh barisan pepohonan besar. Barissan pohon membuat jalan itu memiliki kesan keangkeran yang tinggi.
Putri Sagiya tiba-tiba menarik kencang tali kekang kudanya, membuat tunggangannya itu berhenti tajam. Sang Putri berhenti, Pengawal Gaga juga berhenti mendadak dengan tangkas mengendalikan tunggangannya.
Putri Sagiya memandang ke atas pohon nan tinggi dan besar. Ia mengangkat tangan kanannya dan menggerakkan sekilas jemarinya.
Sesosok tubuh tiba-tiba muncul dari atas dan meluncur turun dari ketinggian. Seorang pria berpakaian prajurit turun mendarat di bumi dengan pijakan yang lembut, seperti mendaratnya sehelai daun. Pria muda berusia kepala tiga itu segera menjura hormat di depan kuda Putri Sagiya.
“Sembah hamba, Yang Mulia Putri!” ucap prajurit tersebut dengan pandangan menunduk sedalam-dalamnya.
“Prajurit, jika ada seorang wanita cantik berpakaian putih, halangi dia, jangan sampai lolos ke arah kerajaan!” perintah Putri Sagiya.
Setelah itu, Putri Sagiya langsung beranjak pergi bersama kudanya. Pengawal Gaga pun mengikutinya. Si prajurit kembali naik ke atas pohon dengan kecepatan memanjat yang tidak biasa. Prajurit itu adalah salah satu dari prajurit jaga di kawasan yang merupakan jalan masuk ke arah kerajaan.
Setelah keluar dari jalan angker itu, Putri Sagiya dan Pengawal Gaga masih harus melalui sebuah desa yang posisinya berada di depan benteng utama kerajaan. Desa itu bernama Pupus Gelap. Antara Desa Pupus Gelap dan tembok tinggi kerajaan ada tanah lapang nan luas berumput hijau.
Putri Sagiya dan Pengawal Gaga terus memacu kudanya menyusuri jalan utama yang membelah Desa Pupus Gelap menuju kerajaan yang istananya menjulang tinggi. Sekeluarnya dari Desa Pupus Gelap, keduanya melintasi tanah lapang menuju gerbang utama benteng kerajaan.
Benteng kerajaan yang tinggi dan panjang dibangun dari bahan batu yang tebal dan kuat. Pintu gerbangnya dari kayu yang kuat, keras dan tebal. Di depan gerbang berwarna merah yang tertutup itu berbaris sepuluh prajurit penjaga.
Melihat kedatangan dua kuda yang berlari kencang dari kejauhan, membuat kesepuluh prajurit yang berjaga segera siaga. Pengawal Gaga dari jauh mengangkat tangan kanannya memberi tanda. Prajurit yang di atas menara gerbang segera mengenali siapa yang datang.
“Yang Mulia Putri Sagiya tiba! Buka gerbang!” teriak prajurit di atas menara.
Kesepuluh prajurit penjaga depan gerbang segera membelah menjadi dua kelompok, memberi jalan yang lebar. Mereka turun berlutut memberi penghormatan. Sementara prajurit pembuka pintu gerbang yang besar segera bekerja. Dua daun pintu gerbang bergerak membuka.
Kuda Putri Sagiya dan Pengawal Gaga datang dengan cepat. Putri Sagiya terus melesat bersama kudanya masuk ke dalam benteng dengan melalui sebuah lorong besar sejauh beberapa tombak. Sementara Pengawal Gaga menghentikan kudanya di depan gerbang.
__ADS_1
“Jika ada wanita cantik berpakaian putih datang, jangan biarkan masuk!” kata Pengawal Gaga kepada para prajurit itu.
“Baik, Pengawal!” jawab mereka kompak.
Pengawal Gaga segera memacu kembali kudanya menyusul Putri Sagiya.
Di tempat lain, ternyata pesan Putri Sagiya benar adanya bagi para penjaga di daerah berpohon tinggi dan besar.
Beberapa prajurit yang berjaga di daerah berpohon besar itu agak terkejut saat mendapati kemunculan seorang wanita berpakaian putih seperti munculnya sesosok siluman dari alam lelembut.
Bress!
Namun, baru saja para prajurit itu saling memberi isyarat untuk melompat turun, sosok wanita yang adalah Tirana itu sudah berkelebat maju seraya melepaskan sinar jaring laba-laba ke batang pohon. Selanjutnya, Tirana pun menghilang. Sementara para prajurit itu hanya bisa saling pandang bingung.
Tirana kemudian muncul di tengah tanah lapang di depan tembok benteng kerajaan. Kemunculan yang tiba-tiba cepat ditangkap oleh prajurit di atas menara.
“Perempuan berpakaian putih datang!” teriak prajurit di atas menara.
Peringatan itu tidak hanya membuat sepuluh prajurit di depan gerbang bersiaga dengan tombak panjangnya masing-masing, tapi belasan prajurit panah yang ada di atas tembok benteng segera menarik senar busurnya dengan anak panah siap dilepaskan.
“Bidik...!” teriak pimpinan prajurit yang bertanggung jawab di area gerbang utama itu.
Tirana berlari kencang ke arah gerbang laksana seekor kuda yang hendak menabrakkan diri ke pintu gerbang yang tertutup.
“Berhenti!” seru pemimpin prajurit kepada Tirana.
Namun, Tirana tidak mengindahkan seruan itu, ia tetap berlari cepat ke arah sepuluh prajurit yang siap menghadang dengan tombak-tombak panjangnya.
Ketika Tirana semakin mendekat, pemimpin prajurit di atas tembok bertitah, “Panah!”
Seseset...!
Namun, Tirana yang berlari cepat tiba-tiba berubah melesat laksana anak panah. Sejumlah anak panah yang menyerangnya berjatuhan menancap di tanah yang ditinggalkannya.
Bress!
Sepuluh prajurit yang sudah bersiaga di depan gerbang jadi terkejut karena Tirana tahu-tahu sudah mencapai mereka. Sebelum mereka menggerakkan tombaknya, mereka sudah terdorong berjatuhan ke tanah. Seiring itu, Tirana melepaskan sinar merah jaring laba-laba yang menempel di pintu gerbang.
__ADS_1
Tirana masuk begitu saja dan hilang bersama hilangnya sinar merah itu. (RH)