
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
Resi Tambak Boyo adalah salah satu tokoh persilatan aliran putih yang terdapat dalam daftar orang-orang yang harus ditemui oleh Joko Tenang. Karenanya, ketika mendengar namanya disebut, Joko Tenang langsung memutuskan untuk menemuinya.
Joko Tenang dangan didampingi oleh Tirana mendatangi salah satu meja yang ditempati oleh beberapa prajurit kadipaten. Satu prajurit segera mencolek lengan Sugira saat melihat kedatangan Joko Tenang dan Tirana.
“Permisi, Kisanak Prajurit!” sapa Joko Tenang beriring senyum kepada para prajurit yang ditemuinya.
“Iya, ada apa, Kisanak Pendekar? Adakah yang dapat kami bantu?” tanya Sugira, berusaha bersikap wibawa, baik sikap maupun nada bicaranya.
“Aku dengar kalian menyebut nama Resi Tambak Boyo, bisakah kami tahu arah menuju Padepokan Hati Putih?” tanya Joko Tenang.
“Maaf, jika boleh tahu, apa hubungan kalian dengan Resi Tambak Boyo?” tanya Sugira, kepo. Padahal ia sendiri tidak punya hubungan apa pun dengan Resi Tambak Boyo, bahkan bertemu pun tidak pernah.
“Aku sahabat Resi Tambak Boyo,” jawab Joko Tenang ramah.
“Wow!” desah Sugira dan teman-temannya terkejut.
“Semuda ini tapi jadi sahabat Resi Tambak Boyo?” tanya Sugira seakan tidak percaya.
“Benar,” jawab Joko Tenang seraya tersenyum.
“Dari sini kalian bisa mengikuti jalan yang menuju barat. Setelah melewati jalan hutan dan menyeberangi jembatan sungai, kalian akan melewati celah bukit. Nah, setelah itu hanya ada satu jalan yang langsung menuju ke Padepokan Hati Putih,” jelas Sugira.
“Terima kasih, Kisanak,” ucap Joko Tenang seraya sedikit menundukkan kepalanya.
“Tapi hati-hati, Gerombolan Kuda Biru sering berkeliaran di daerah hutan!” kata Sugira.
“Siapa mereka?” tanya Joko Tenang.
“Gerombolan penjahat yang dipimpin oleh Kuda Biru. Mereka kelompok pemberontak yang ingin merebut Kadipaten Suroso. Anggota mereka banyak orang-orang saktinya,” jelas Sugira.
“Itu tidak masalah, Kisanak. Istri-istriku sangat cukup bisa mengatasi mereka,” kata Joko Tenang dengan tenang.
“Apa? Istri-istri?!” kejut Sugira yang dimakmumi oleh rekan-rekannya.
Joko Tenang dan Tirana hanya tersenyum, merasa lucu dengan keterkejutan para prajurit itu.
“Terima kasih, Kisanak sekalian,” ucap Joko Tenang.
“Iya iya iya,” ucap Sugira manggut-manggut, dengan wajah yang masih terkesima oleh daya hayalnya sendiri, tentu hayalan tentang ranjang surga dengan tiga bidadarinya.
Joko Tenang dan Tirana berbalik kembali pergi ke meja mereka, tempat Getara Cinta dan Kerling Sukma sudah menghadapi hidangan dalam jumlah besar.
“Aku bingung, ada lelaki seberuntung itu,” ucap Sugira kepada taman-temannya.
Para istri Joko Tenang hanya tertawa kecil mendengar perkataan Sugira dari tempat mereka duduk.
Brak!
__ADS_1
Alangkah terkejutnya semua prajurit kadipaten, terutama Sugira dan teman semejanya. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba dari atas ada sesosok tubuh jatuh begitu saja ke atas meja mereka dalam posisi terbaring. Makanan di atas meja langsung berantakan. Sugira dan teman-temannya segera menjauhi meja sambil cabut pedang.
Joko Tenang, ketiga istrinya dan Turung Gali juga memandang ke sumber keributan.
“Aduh! Jatuh di mana ini?” keluh orang yang terbaring di atas meja, wajahnya tepat mengenai bakul nasi, membuatnya wajah lelaki muda dan tampan itu jadi belepotan nasi.
Pemuda berpakaian biru lusuh itu menggeliat dan menggulingkan tubuhnya ke samping. Tak ayal, tubuhnya jatuh begitu saja seperti benda mati.
Dak!
Apesnya, jidad pemuda berambut gondrong awut-awutan itu menghantam ujung kursi panjang.
“Adaw! Edo edo edo!” pekik pemuda itu sambil buru-buru bangun berdiri dan memegangi jidadnya.
Namun, ketika pemuda itu berdiri, ia langsung sempoyongan hendak jatuh lagi, tetapi kakinya cepat pindah posisi sehingga menahan tubuh. Terlihat ia menahan posisinya agar tidak jatuh, sementara tubuh atasnya bergerak-gerak lemah seperti pucuk pohon kelapa tertiup angin kencang.
Terlihat sepasang mata pemuda itu sayu, seperti orang mengantuk. Ia berdiri menghadap kepada tiang penyanggah kedai.
“Maharani bekerja memikul kayu, sekali pikul tujuh kali ikat. Beraninya kau memukul kepalaku, sekali sentil kubuat kau sekarat!” kata pemuda itu marah dengan cara berpantun kepada si tiang kayu.
“Hahaha….!” Tertawalah para prajurit melihat tingkah pemuda itu berpantun marah kepada tiang kayu. Sugira yang awalnya marah, jadi ikut tertawa.
Joko Tenang dan ketiga istrinya turut tersenyum-senyum.
Mendengar ditertawakan, pemuda yang berbekal sebuah tabung bambu sepanjang sehasta itu jadi terdiam. Ia lalu memandang ke sekitar dengan berusaha mempertajam pandangannya yang sayu. Ia lalu mengambil bumbung bambunya yang menggantung di tubuhnya. Ia mendongak dan menuang isi bumbungnya.
“Hahaha…!”
“Hehehe!” kekeh si pemuda setelah sadar bahwa penutup bumbungnya belum dibuka. “Bumbung tuakku memang bodoh!”
“Kau yang bodoh, Orang Mabuk!” umpat seorang prajurit.
Wus! Dak!
Tiba-tiba bumbung bambu di tangan si pemuda melesat cepat, seperti melesat sendiri. Sementara si pemuda bergerak mengikuti bumbung seperti tertarik dengan tangan yang memegang kuat tali bumbung.
Bumbung itu menghantam jidat prajurit yang mengumpat tadi hingga terjengkang.
Melihat satu rekannya diserang, Sugira jadi gusar.
“Serang!” teriak Sugira berkomando.
“Oooh, kekasihku!” teriak si pemuda mabuk sambil menghambur memeluk Sugira, sebelum pemimpin prajurit itu melakukan serangan kepadanya.
Para prajurit yang lain jadi menahan serangan, karena mereka takut serangan justru mengenai pemimpin mereka.
“Kayuni sayang, aku rindu padamu!” ucap si pemuda sambil memeluk Sugira erat-erat, termasuk memeluk kedua tangannya, sehingga Sugira tidak bisa berkutik melawan.
“Lepaskan! Lepas! Jijik aku!” jerit Sugira gelagapan sambil menarik jauh-jauh wajahnya ke belakang, karena pemuda mabuk itu sudah memonyongkan bibirnya mau mencium.
Karena tidak bisa mengontrol dirinya, Sugira akhirnya jatuh ke belakang. Alhasil, tubuh pemuda mabuk itu juga jatuh menimpanya, sehingga wajah keduanya bertabrakan.
__ADS_1
“Kena kau, Pemabuk!” teriak seorang prajurit sambil ayunkan pedangnya hendak menebas punggung si pemuda berbaju biru.
Namun, cepat orang mabuk itu berguling dengan membawa tubuh Sugira, membalik posisi Sugira jadi di atasnya. Prajurit yang hendak menebas jadi menahan pedangnya. Demikian pula dengan prajurit yang lain.
“Aaa…! Aku diperkosa! Aku dinodai! Tolong…!” teriak si pemuda mabuk kencang, menjerit seperti perawan yang dinodai.
Si pemuda mabuk cepat melepaskan pelukannya pada tubuh Sugira. Tanpa ada yang mengetahui, ia hentakkan perutnya, membuat ada tenaga dalam yang melemparkan tubuh Sugira tinggi ke udara.
“Aaa!” jerit Sugira yang tidak bisa mengontrol tubuhnya yang melejit naik lalu meluncur jatuh.
Set! Blet!
Tiba-tiba seutas tali berwarna kuning melesat cepat dan membelit pinggang Sugira dan menariknya. Ketika tubuhnya itu lepas dari belitan, Sugira mendarat ke lantai kedai dengan hanya sedikit gesekan.
Semua prajurit yang dibuat terkejut, cepat melihat kepada orang pemilik tali yang telah menolong Sugira.
Orang itu adalah seorang wanita muda nan cantik berkulit putih bersih mengenakan pakaian biru gelap, membuat kulitnya seolah bercahaya dalam gelap. Rambutnya panjang terurai hingga punggung, tanpa ikat kepala atau ikat rambut. Ia memiliki sepasang alis yang cukup tebal memperindah matanya yang berbulu lentik. Ia memiliki kumis halus yang begitu tipis memperindah bibirnya tipisnya yang bergincu merah muda. Gadis berbaju lengan pendek itu memegang seutas cemeti tali berwarna kuning. Cemeti kuning itulah yang tadi menolong Sugira. Gadis itu bernama Rara Sutri yang berjuluk Putri Cemeti Bulan.
Si pemuda mabuk sudah bangun dan berdiri sempoyongan, seolah nyaris hilang keseimbangan.
“Surya, Guru Linglung tadi mencarimu!” kata Rara Sutri sambil berjalan mendekati si pemuda mabuk. Ia menghentakkan cemetinya sehingga bergerak menggulung diri sendiri menjadi rapi. Cemeti itu lalu ia sematkan di pinggang kanan.
“Eh, sepertinya kenal suara ayam ini,” ucap si pemuda yang dipanggil dengan nama Surya. Nama lengkap pemuda itu tidak lain adalah Surya Kasyara.
Surya Kasyara lalu menjulurkan wajahnya ke depan, seperti orang rabun sedang mencoba mengenali wajah cantik yang datang.
“Hehehe! Kau pasti ayam cantikku, Rara Cantik Sutri!” terka Surya Kasyara menceracau.
“Benar. Ayo!” ucap Rara Sutri tersenyum sambil meraih tangan pemuda mabuk itu. Lengan Surya Kasyara lalu ia letakkan pada pundaknya.
Rara Sutri lalu memapah Surya Kasyara untuk berjalan keluar dari kedai makan.
Namun, tiba-tiba Surya Kasyara berhenti. Ia melepaskan tangannya dari bahu Rara Sutri dan berbalik menghadap kepada para prajurit.
“Hei! Dengarkan, kalian semua!” teriak Surya Kasyara kepada para prajurit. “Sarapan pisang buat aku perkasa, pedagang gula minta ke pelaminan. Sampaikan pesanku kepada Adipati Tambak Ruso, Pendekar Gila Mabuk akan datang tuntut kematian!”
Terkejutlah para prajurit mendengar pantun si tukang mabuk itu.
Surya Kasyara sudah berjalan sendiri dengan sempoyongan keluar dari kedai. Rara Sutri mengikutinya.
Blugk!
Surya Kasyara jatuh tersungkur di dekat kaki kuda yang sedang ditambatkan. Rara Sutri segera membantunya berdiri.
“Rara Cantik, kau lihat ketiga wanita yang bersama pemuda berbibir merah itu?” tanya Surya Kasyara dengan pelafazan kata yang lebih normal, tidak terkesan terlalu mabuk.
“Iya, kenapa?” jawab Rara Sutri sambil memapah Surya Kasyara.
“Aku begitu merasakan adanya tiga kesaktian tinggi yang berkumpul di satu tempat sekaligus. Siapa sebenarnya mereka?” ucap Surya Kasyara. Omongannya semakin normal.
Ia lalu melepaskan lagi tangannya dari bahu Rara Sutri. Selanjutnya, ia tiba-tiba berkelebat pergi. Rara Sutri segera berkelebat menyusul. (RH)
__ADS_1