
*Cincin Darah Suci*
Kejar-kejaran antara penculik Putri Ling Mei dengan para prajurit terus terjadi.
Untuk keluar dari lingkungan istana dengan membawa satu tubuh manusia, pelayan pembunuh memilih jalur aliran sungai.
Di Taman Selatan ada sebuah sungai yang mengalir dari gunung sisi selatan kota He. Sungai itu juga melewati sisi selatan Ibu Kota. Dengan cara mengikuti aliran sungai, penculik Putri dapat keluar dari lingkungan istana, meski harus melalui jalan yang cukup sulit.
Jalur itu justru membuat para prajurit kesulitan melakukan pengejaran, terutama ketika mereka harus terhenti di pinggir sungai yang tidak bisa dilewati.
Namun, si penculik yang bukan penculik biasa, bisa melewati sungai dengan ilmu peringan tubuhnya. Ia melempar sepotong kayu ke sungai. Meski ia membawa satu tubuh manusia di bahu kanannya, ia berkelebat ke tengah sungai lalu kayu yang mengapung terbawa arus ia jadikan sebagai pijakan untuk bertolak melompat lagi. Dengan demikian, ia mampu tiba di seberang sungai.
Set! Teb!
Terkejut wanita pelayan itu saat ia mendengar suara halus yang datang cepat ke arahnya dari belakang. Refleks ia menggeser sedikit tubuhnya ke samping. Saat itu, sebuah tombak prajurit melintas cepat sangat dekat di sisinya dan menancap dalam di batang pohon yang tumbuh di pinggir sungai. Ia terkejut ada seorang prajurit yang bisa melakukan lemparan tombak yang jauh, cepat dan akurat. Jika saja ia telat bergeser, pasti tombak itu menusuk habis punggungnya.
Ia segera melihat ke belakang. Saat itu juga, seorang prajurit yang menenteng pedang, sedang berkelebat di atas sungai. Ia menggunakan batang bambu yang dilemparnya ke air sebagai tolakan untuk sampai ke seberang.
Buru-buru si pelayan penculik berkelebat melarikan diri sebelum prajurit itu tiba di tempatnya. Prajurit yang bisa menyeberang itu berhasil mendarat dengan selamat di darat.
Ia adalah seorang prajurit yang seragamnya merah juga, tetapi berbeda dan lebih bagus dengan baju zirah berwarna merah gelap. Ia masih tergolong muda dengan usia 30 tahun. Kepalanya ditutupi dengan kain merah gelap yang pada bagian dahi ada lempengan logam perak. Lelaki ini memiliki rambut yang agak gondrong di belakang. Ia adalah Komandan Naga Hitam Selatan bernama So Song, salah satu komandan yang berada di bawah perintah Jenderal Wae Yie, Kepala Pasukan Naga Hitam.
Pasukan yang mengejar pembunuh dan penculik tadi, yang kini tidak bisa menyeberangi sungai, adalah pasukan di bawah komando Komandan So Song. Ia bertanggung jawab atas keamanan istana untuk area selatan.
Melihat buronan itu kabur, Komandan So Song berteriak kepada pasukannya, “Beri tanda!”
So Song mencabut tombak yang menancap di batang pohon. Ia harus sedikit mengeluarkan tenaga untuk mencabutnya sampai lepas. Sebelum penculik hilang ke balik ketinggian tanah, So Song kembali melempar tombak di tangannya.
Set! Bret! Tsek!
Lemparan tombak itu lebih kencang dari sebelumnya, sehingga tombak melesat lebih cepat menargetkan si penculik. Sama seperti sebelumnya, si penculik bisa mendengar desiran halus di belakangnya yang begitu cepat mendekat.
Refleks si penculik mengelak kembali, tetapi ia harus terkejut, sebab mata tombak itu mengenai kain bajunya di sisi lambung kiri dan menusuk bolong. Tombak terus lolos menancap di tanah tinggi. Namun, itu membuat si penculik hilang keseimbangan dan sejenak jatuh bersama tubuh Putri Ling Mei yang ada di bahu kanannya.
Sebenarnya lemparan Komanda So Song itu sangat berisiko, sebab ada tubuh sang putri dipanggul oleh si penculik. Jika salah perhitungan, alih-alih membunuh si penculik, justru bisa membahayakan nyawa sang putri.
__ADS_1
Cuss! Ctar!
Prajurit di seberang sungai melesatkan satu suar warna merah ke langit. Ledakan suar berada lurus di atas posisi si penculik.
Komandan So Song segerang menggunakan kesempatan jatuhnya si penculik untuk mendapatkan buruannya.
Set! Tring!
Namun, belum lagi So Song berlari maju, si penculik sudah lebih dulu melesatkan sesuatu yang mengejutkan sang komandan. Sebagai seorang komandan yang memiliki kesaktian, So Song dapat melihat serangan benda yang sangat halus kepadanya. Ia menggunakan sarung pedang untuk menangkis tiga batang jarum berwarna kebiruan yang kemudian jatuh ke tanah.
“Jarum beracun,” ucap So Song agak terkejut. Dari model serangan itu ia bisa menakar setinggi apa kemampuan yang dimiliki si penculik.
Si penculik sudah melompat ke balik tanah tinggi. Komanda So Song berlari cepat mendaki naik. Setibanya di atas, ia melihat si penculik sudah berlari menuju ke wilayah permukiman warga.
So Song cepat mengejar seorang diri. Ia tidak mau kehilangan.
Kejar-kejaran itu terjadi di bagian selatan Ibu Kota.
Tanda suar yang dilepaskan dari pinggir sungai tadi tertangkap mata oleh penjaga menara pemantau di selatan istana dan selatan Ibu Kota.
Penjaga menara selatan istana segera memberi pesan sandi di dinding atas menaranya yang mengabarkan bahwa si penculik sekaligus si pembunuh berada di bagian selatan Ibu Kota. Demikian pula pesan sandi yang dipasang oleh penjaga menara selatan Ibu Kota.
Tidak hanya memberi pesan visual, penjaga menara pemantau selatan Ibu Kota juga menabuh genderang yang memang dimiliki oleh setiap menara pemantau. Ia menabuh genderang dengan tabuhan berirama tertentu. Jenis sandi audio khusus itu dihafal oleh setiap jenderal dan komandan di istana dan Ibu Kota.
Irama tabuhan genderang dari menara selatan Ibu Kota kemudian diikuti oleh penjaga menara di selatan istana untuk memberi pesan kepada menara pusat.
Tabuhan genderang itu diperuntukkan kepada Komandan Naga Merah Selatan, komandan yang bertanggung jawab atas keamanan bagian selatan dari Ibu Kota. Pesan genderang itu memberi arahan agar Komandan Naga Merah Selatan dan pasukannya segera bertindak karena penjahat yang diburu sedang berada di wilayahnya.
“Berhenti!”
Maka tidak heran jika sekelompok prajurit berseragam hitam berbekal tombak panjang muncul dari jalan. Ketua rombongan prajurit itu langsung meneriaki si penculik ketika melihatnya melintas di depan sana.
Sreet seset!
“Akh! Aaa! Akk!”
Penculik itu berhenti sekejap, lalu menghentakkan sepasang tangannya. Maka puluhan jarum beracun melesat menghujani rombongan prajurit yang datang dari samping. Enam dari sepuluh prajurit yang datang bertumbangan seketika saat terkena jarum-jarum beracun.
__ADS_1
Selanjutnya, penculik itu melanjutkan larinya di sepanjang parit.
Komandan So Song masih mengejar. Jaraknya bartambah dekat dengan si penculik.
“Siapa sebenarnya penculik itu? Meski membawa tubuh Putri Ling Mei, tetapi aku tidak bisa mengejarnya,” membatin Komandan So Song.
Kini Komandan So Song juga berlari di sepanjang tanggul parit mengejar si penculik.
Si penculik melompat ke sebuah perahu kecil yang sedang di dayung di tengah parit, lalu melompat kembali ke seberang dan selanjutnya berlari lagi. Pria pemilik perahu terkejut, karena perahunya sampai bergoyang keras. Terlebih ketika Komandan So Song juga melompat ke perahu itu sebagai tolakan untuk mengejar ke seberang. Hampir-hampir saja perahu itu oleng terbalik.
Secara kebetulan, dua prajurit yang sedang berjalan santai muncul di depan lintasan pelarian si penculik.
“Tahan penculik itu!” teriak Komandan So Song kepada dua prajurit yang ada di depan sana.
Kedua prajurit terkejut. Ketika melihat adanya seorang wanita berlari kencang, mereka segera bersiaga.
Set!
“Aak!”jerit keduanya dan tumbang seketika saat jarum beracun telah lebih dulu masuk ke dada mereka.
“Hei!” teriak seorang pelanggan warung bakmi yang sedang duduk makan di meja pinggir jalan, ketika Komandan So Song menyambar mangkuknya begitu saja.
Set! Prak!
Mangkuk yang masih berisi mie dilemparkan oleh Komandan So Song. Namun, meleset. Mangkuk itu hancur menghantam pagar jembatan kecil di atas parit.
Si penculik berkelebat di atas jembatan. Ia melewati seorang wanita yang berdiri diam di atas jembatan sambil memayungi dirinya dengan payung berwarna merah, padahal hujan tidak turun atau panas matahari belum begitu terik. Wanita berpayung itu mengenakan pakaian hanfu berwarna hijau muda. Sanggulannya sederhana.
Set! Trak!
Ketika Komandan So Song hendak berkelebat ke atas jembatan dengan maksud memotong lari si penculik, tiba-tiba wanita muda berpayung merah menggerakkan satu tangannya.
Dua benda seperti jarum, tetapi lebih besar, melesat menyerang Komandan So Song. Perwira itu terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. Ia tidak menyangka bahwa wanita berpayung akan menyerangnya. Awalnya ia mengira wanita itu adalah warga biasa.
Terpaksa Komandan So Song menggunakan warangka pedangnya guna melindungi dirinya dari senjata yang adalah dua buah paku. Namun, serangan itu membuat ia terdorong jatuh ke bawah dan menimpa lantai perahu yang banyak bertambat di parit lebar itu.
“Kepung!” teriak seorang perwira prajurit dari sisi lain.
__ADS_1
Dari dua sisi parit, bermunculan pasukan berseragam hitam-hitam berbekal tombak, pedang dan panah. Jumlah pasukan itu sekitar lima puluh orang prajurit. Mereka adalah Pasukan Naga Merah Selatan. (RH)