
*Desa Wongawet (Dewo)*
“Menyeralah, Tungkur Wagi!” seru Palang Segi yang memimpin penyergapan di alun-alun. Ia dan keempat belas rekan lelaki dan perempuannya mengepung Tungkur Wagi dan kelima temannya.
“Tetap saja kau tidak akan menang melawan Ki Daraki!” teriak Tungkur Wagi penuh ketegangan. Sebenarnya ia tahu risiko memilih bertahan membela Ki Daraki. Namun, menurutnya hasil akan sama, jika ia menyerah, tetap saja para pemberontak akan gagal dan ia akan dianggap berkhianat.
“Seharusnya kalian yang menyerah!” seru Satikwa.
“Penyiksaanmu terhadap Riri Liwet harus kau bayar dengan nyawamu, Tungkur Wagi!” teriak Bangirayu yang benar-benar dirasuki rasa dendam.
Bangirayu melesat menusuk masuk, langsung menyerang ke arah Tungkur Wagi. Namun, Tungkur Wagi termasuk orang andalan untuk keamanan di desa itu.
Bergeraknya Bangirayu, serentak disusul oleh serangan yang lainnya. Maka pertarungan tidak seimbang pun terjadi.
Ketangguhan Tungkur Wagi membuat Bangirayu agak kesulitan mendaratkan serangannya. Namun, masuknya seorang gadis yang membantunya, membuatnya berhasil memasukkan serangannya.
Bak bak!
Dua pukulan telapak tangan Bangirayu masuk ke dada Tungkur Wagi, mendesak pertahanan pemuda bercambang itu.
Teman Bangirayu maju menyusulkan tiga tendangan mengibas berturut-turut. Tungkur Wagi dengan cekatan sanggup menangkis semuanya.
“Laras!” seru Bangirayu.
Gadis yang bernama Laras yang mengerti arti panggilan itu, langsung melentingkan tubuhnya ke udara.
Seset! Seb!
Senaiknya tubuh Laras ke atas, beberapa senjata rahasia melesat menyerang Tungkur Wagi. Pemuda itu terklejut bukan main. Secepat mungkin ia mencoba menghindar dengan meliukkan tubuhnya.
“Akh!”
Namun, dari lima bilah sembilu yang dilesatkan oleh Bangirayu, satu berhasil mengiris pundak Tungkur Wagi.
Bangirayu tahu-tahu telah maju dengan telapak tangan bertenaga dalam. Tungkur Wagi yang oleng keseimbangannya, terpaksa mengadu tenaga dalam di saat ia tidak siap.
Paks!
Dua pukulan telapak tangan bertenaga dalam beradu. Namun, ketidaksiapan Tungkur Wagi membuatnya terjajar empat langkah. Lengan kanannya seketika terasa bengkak semua.
Seset! Seb seseb!
Tungkur Wagi terkejut, ia lengah bahwa Laras masih melambung di udara. Lima sembilu Laras lesatkan dari atas.
“Aak!” pekik Tungkur Wagi, karena kelima sembilu itu menancap di tubuhnya.
“Ini balasan untuk penderitaan Riri Liwet, Tungkur!” teriak Bangirayu dengan sepasang telapak tangan berubah warna menjadi gelap.
Ia maju dengan kecepatan tercepatnya.
Bak! Set!
Tungkur Wagi masih berusaha menahan pukulan Bangirayu dengan mengadukan telapak tangannya. Namun, detik berikutnya ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika kelebatan jari-jari tangan kiri Bangirayu mengiris lehernya dengan begitu tajam, seolah tanpa ada rasa.
__ADS_1
“Hekrrr!”
Dalam kondisi tubuh telah penuh luka, Tungkur Wagi mendelik sambil memegangi lehernya, berusaha menutup robekan besar yang membuat darahnya mengucur deras. Sedetik kemudian, Tungkur Wagi tumbang mengenaskan seperti hewan kurban.
Di sisi lain, jangan tanya seperti apa kondisi Satikwa dengan empat rekan lainnya.
“Aku menyerah!” teriak Satikwa sambil berlutut mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Sejumlah luka senjata tajam telah ia derita.
“Aku juga menyerah, jangan bunuh kami!” seru teman Satikwa yang lain, yang kemudian disusul oleh tiga orang lainnya.
Kelima orang kubu Ki Daraki itu berlutut menyerah berkumpul menjadi satu.
“Kenikmatan Ratu Bulu!” seru Palang Segi.
Serentak beberapa dari kubu pemberontak menaburkan serbuk ke udara, lalu langsung melompat mundur. Sementara Rawing yang masuk dalam anggota pemberontak mengirimkan angin tenaga dalam kecil, menuntun serbuk racun gatal itu menerpa Satikwa dan keempat temannya.
Tidak menunggu waktu lama, Satikwa dan rekan-rakannya mulai menggaruk-garuk kegatalan.
“Itu hukuman untuk kalian!” kata Rawing yang pernah membuat si pendekar gagap merasakan bubuk racun yang sama.
Semua warga Desa Wongawet memiliki obat penawar untuk bubuk Kenikmatan Ratu Ulat. Jika mereka memakannya, itu akan mengurangi rasa gatal itu, meski membutuhkan enam jam untuk benar-benar hilang.
Setelah itu, Palang Segi dan yang lainnya segera mendatangi Si Kucing Merah yang masih memangku tubuh kekasihnya. Si Kucing Merah membuka topengnya dan membuangnya begitu saja, maka tampaklah wajah tampan Wiro Keling.
“Bagaimana kondisi Riri Liwet, Wiro?” tanya Palang Segi.
“Kondisinya buruk,” jawab Wiro Keling sedih.
Sementara itu, warga Desa Wongawet yang awalnya sudah terlelap, telah berkeluaran melihat situasi yang terjadi. Ledakan keras pada rumah Ki Daraki telah membangunkan mereka.
“Apa yang kalian lakukan, Palang Segi?” tanya Tudurya yang baru bangun dari tidurnya.
“Kami memberontak, sebentar lagi Ki Daraki akan mati!” jawab Palang Segi tegas.
“Aaah, baguslah kalau itu terwujud,” kata Tudurya. Ia memang bersikap netral selama ini, meski Ki Daraki suka memerintahnya.
Bluar!
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh peraduan dua tenaga ilmu. Sumber suaranya berasal dari kediaman Ki Daraki.
Sedap Malu dan Titin Susina barus saja beradu ilmu ajian bertenaga dalam tinggi.
“Tidak aku sangka, ternyata Sedap Malu yang selama ini adalah gadis pendiam dan lemah yang berlindung di bawah ketiak Sudarka, menyimpan jati dirinya yang sebenarnya,” kata Titin Susina.
“Agar aku tidak cepat mati seperti kakakku,” jawab Sedap Malu yang kini tampil laksasna gadis yang haus membunuh.
“Siapa kakakmu?” tanya Titin Susina dengan senyuman tipis yang sinis.
“Mawar Embun.”
“Oh, wanita yang menjadi budak nafsu Tetua Desa. Kini nasibnya lebih buruk dari kematian dan lebih hina dari hewan. Ia ada di gua terlarang,” kata Titin Susina.
Terkejut Sedap Malu mendengarnya. Perkataan Titin juga menarik perhatian Tirana.
__ADS_1
“Berarti wanita di dalam kerangkeng itu adalah kakak Sedap Malu,” membatin Tirana.
“Kau bisa menyelamatkannya jika kau bisa melewati malam ini dalam kondisi bernyawa,” kata Titin Susina.
“Dan kau adalah korban pertamaku, Titin!” teriak Sedap Malu marah. “Hiaaat!”
Tiba-tiba Sedap Malu melesat menyerang Titin Susina dengan kecepatan yang mengejutkan lawannya itu.
Tendangan membabat Sedap Malu ke arah kepala datang menyamping. Titin Susina cepat melindungi kepalanya dengan memasang batang tangannya yang sudah bertenaga dalam tinggi.
Bukk!
“Hekh!” keluh Titin Susina dengan tubuh terdorong mundur nyaris jatuh.
Ia terkejut. Tendangan Sedap Malu tiba-tiba menghilang begitu saja dan tangkisannya tidak menangkis apa-apa. Tahu-tahu tendangan Sedap Malu justru datang dari depan menghajar keras perutnya.
Sedap Malu langsung mendesak Titin yang sedang kehilangan kuda-kudanya. Pukulan beruntun datang menghujani ke arah wajah Titin. Lagi-lagi Titin harus terkesiap, pukulan beruntun yang datang seolah hanya ilusi, gerakan tangkisan kedua tangannya tidak menangkis apa-apa.
Dak! Blug!
Titin Susina tidak melihat bahwa ada serangan di daerah bawah. Tahu-tahu kakinya dihantam keras oleh sapuan kaki Sedap Malu, membuatnya terbanting ke tanah.
Zurs! Sweet!
Bluar!
Jatuhnya Titin Susina cepat dimanfaatkan oleh Sedap Malu untuk membunuhnya. Telapak tangan Sedap Malu membara biru. Namun, sebelum Sedap Malu menghantamkan ilmu Sentuhan Maut-nya kepada Titin Susina, dari arah atas melesat cepat sinar kuning berekor langsung ke arah Sedap Malu.
Dari pada harus mati juga saat membunuh Titin Susina, Sedap Malu lebih memilih mengadu ilmu Sentuhan Maut-nya dengan sinar kuning yang menyerangnya.
Sinar biru melesat menghadang sinar kuning sehingga menimbulkan ledakan dahsyat di udara. Sedap Malu langsung terlempar deras berguling-gulingan di tanah hingga terhenti oleh akar pohon.
“Hoekh!” Sedap Malu langsung muntah darah gelap.
Tubuh Titin pun terpental dan berguling-guling. Lalu berhenti tidak jauh dari sepasang kaki seseorang.
“Hoekh!” Titin Susina ternyata juga terluka parah akibat efek adu ilmu tadi.
Sepasang kaki lelaki itu mendekati tubuh Titin yang menggeliat kesakitan.
Buks!
Lelaki yang adalah Ki Daraki itu melesatkan pukulan maut kepada Titin Susina tanpa menyentuhnya.
“Hukrr!”
Tubuh Titin Susina tersentak keras dengan mulut menyemburkan banyak darah. Ia mendelik lebar kepada kekasihnya itu. Dia tidak menyangka bahwa ia akan diakhiri oleh lelaki yang ia layani selama ini.
“Kau sudah tidak berguna, Titin,” kata Ki Daraki dingin.
Setelah mendengar itu, kepala Titin Susina terkulai lemah dengan mata yang kehilangan cahaya kehidupan.
Ki Daraki yang baru mengadu ilmu dengan Sedap Malu melangkah lebih dekat kepada posisi gadis cantik itu. Untuk sementara ia mengabaikan keberadaan Joko dan Tirana. (RH)
__ADS_1