
*Cincin Darah Suci*
“Kalian prajurit dari mana?” tanya Jenderal Qong Liong, mewakili Pangeran Baijin.
Su Ntai segera menerjemahkan pertanyaan sang jenderal. Mendengar hal itu, pahamlah pihak Ci Cin bahwa ketiga orang bertampang asing yang masih duduk di punggung kuda itu tidak bisa berbahasa seperti mereka.
“Kami mencari Permata Darah Suci!” seru Joko lantang yang diterjemahkan oleh Su Ntai.
Terkejutlah Pangeran Baijin mendengar niat Joko dan teman-temannya.
“Hei! Apakah yang kalian maksud adalah Cincin Darah Suci ini?!” teriak Pangeran Baijin. Dengan percaya diri dia memperlihatkan tangan kanannya, yang pada jari manisnya tersemat sebuah cincin emas bermata batu permata berwarna hijau bening.
Joko Tenang tidak pernah tahu seperti apa itu Permata Darah Suci yang pernah dimasukkan Tirana ke dalam mulutnya, di saat dia berada diambang gerbang kematian.
“Permata itu sama dengan permata milik Ratu Getara Cinta, Kakang,” kata Tirana kepada Joko Tenang.
“Ayo kita ambil, upayakan jangan membunuhnya. Kita hanya memerlukan cincinnya,” kata Joko Tenang.
“Hei, Ayam Pingit!” bentak Puspa kepada Joko. “Kau pikir bisa mengambil cincin itu tanpa membunuhnya?”
Joko Tenang tidak menjawab. Sebenarnya ia membenarkan perkataan Puspa. Akan sangat sulit untuk merebut cincin itu tanpa membunuh pemiliknya, terlebih orang yang tidak mereka kenal itu adalah pemimpin pasukan yang sangat besar.
“Dengan hormat, kami meminta cincin itu. Jadi kami tidak perlu membunuh,” seru Joko yang kemudian diterjemahkan oleh Su Ntai.
“Meminta? Hahaha...!” Tertawa keraslah Pangeran Baijin. Pemuda tampan itu benar-benar tertawa sampai mengeluarkan air mata. Lalu katanya kepada Sala A Jin yang juga ikut tertawa, “Bodoh sekali orang asing itu. Hahaha...!”
Su Ntai menerjemahkan kata-kata Pangeran Baijin yang didengarnya. Joko Tenang dan Tirana hanya tersenyum.
“Hei, Orang Asing! Dengarkan!” teriak Pangeran Baijin, kali ini dia berdiri di atas kereta perangnya. “Cincin sakti ini adalah pusaka Kekaisaran Negeri Ci Cin. Apakah kalian pikir aku adalah pangeran yang begitu bodoh akan memberikan pusaka ini seperti memberi tulang kepada anjing? Kecuali, hahaha!”
Pangeran Baijin berhenti berkata dan memilih tertawa, seolah memberi kesempatan kepada Su Ntai untuk menerjemahkan kata-katanya teruntuk Joko dan dua wanitanya.
“Kecuali apa?” tanya Joko dengan tetap tenang.
“Kecuali kedua gadis itu menyerahkan tubuh indahnya untukku selamanya!” jawab Pangeran Baijin setelah Su Ntai menerjemahkan.
Su Ntai pun menerjemahkannya. Melebarlah lingkar mata Tirana dan Puspa mendengar terjemahan itu. Tatapan Joko Tenang pun berubah tajam kepada Pangeran Baijin.
“Orang busuk rupanya!” desis Joko pelan yang didengar oleh Tirana dan Puspa. Ia merasa tersinggung.
“Aarggk!” teriak Puspa murka sambil melompat naik ke udara meninggalkan punggung kudanya. Sementara kedua tangannya mengayun melepaskan maut.
Sweerrss!
Terkejut Pangeran Baijin, Sala A Jin, Jenderal Qong Liong dan seluruh pasukan saat melihat puluhan sinar hijau berpola daun melesat dari kedua lengan Puspa. Ilmu Gerimis Hijau pun menghujani posisi Pangeran Baijin.
Bsuts!
Blarblar...!
Refleks Pangeran Baijin menghentakkan kedua tangannya ka atas, menciptakan kubah hijau gelap yang melindungi dirinya, Sala A Jin dan kusirnya beserta dua kuda penarik keretanya.
__ADS_1
Puluhan ledakan dahsyat mengerikan terjadi di atas perisai hijau Pangeran Baijin. Yang lebih mengerikan, tubuh Jenderal Qong Liong dan puluhan prajurit yang tidak bisa menghindari hujan sinar Gerimis Hijau itu, berhancuran bersama sejumlah kuda tunggangan.
“Tirana!” seru Joko.
Tirana paham maksud calon suaminya itu. Sekarang waktunya bertarung habis-habisan.
Bress!
Tirana melepaskan sinar merah jaring laba-laba ke tanah.
“Ki Suntai!” sebut Tirana.
Su Ntai yang sudah mengerti rencana mereka, cepat melompat masuk ke dalam sinar jaring laba-laba. Su Ntai pun menghilang seiring sinar jaring laba-laba juga lenyap.
Joko Tenang mengatur rencana, Su Ntai akan ikut menjadi penerjemah. Namun, jika pertarungan sudah dalam kondisi rumit, Su Ntai akan dikirim pergi dengan ilmu Lorong Laba-Laba. Itupun menjadi tanda berakhirnya jasa Su Ntai digunakan dan menjadi momentum perpisahan mereka.
“Panah!” perintah seorang komandan.
Seset...!
Hujan panah berterbangan ke arah ketiga pendekar asal Tanah Jawi itu. Giliran Tirana bertindak. Ia naik ke angkasa sambil menggerakkan kedua tangannya. Ratusan anak panah itu tersedot oleh kekuatan tenaga dalam Tirana sehingga terkumpul lalu dihempaskan dengan keras.
Seset....!
“Ak! Akh! Akk...!”
Para prajurit panah berjeritan saat panah-panah mereka melesat balik menghujani barisan mereka.
“Seraaang!” teriak komandan prajurit yang lain.
Puspa dan Tirana telah berdiri gagah di tanah dengan pakaian berkibar-kibar memberi nuansa keperkasaan sebagai dua wanita jelita yang sangat berbahaya.
Kini giliran Joko Tenang yang unjuk gigi. Ia melompat turun dari kudanya.
Wusss!
Hentakan tangan kiri Joko melepaskan ilmu Badai Malam Dari Selatan. Tirana dan Puspa baru kali ini melihat ilmu Joko yang satu ini.
Angin dahsyat yang begitu kuat dan besar tercipta laksana badai yang benar-benar mengamuk. Pasir membadai bersama ratusan prajurit yang berterbangan jauh menabrak barisan pasukannya sendiri. Barisan yang belum menyerang di sisi belakang juga turut terhempas berantakan tidak karuan, bahkan menciptakan jalan terbuka.
Alangkah terkejutnya Pangeran Baijin dan pasukannya menyaksikan kedahsyatan ilmu Badai Malam Dari Selatan. Itupun Joko baru mengerahkan separuh kekuatan ilmu itu.
“Seraaang!”
Tidak belajar dari apa yang mereka saksikan, kali ini para prajurit dari sisi kanan yang menyerang beramai-ramai.
Wusss!
Lagi-lagi Joko Tenang melepaskan Badai Malam Dari Selatan. Kembali badai pasir tercipta bersama berterbangannya ratusan prajurit di sisi kanan.
“Seraaang!” teriak barisan prajurit di sebelah kiri.
__ADS_1
Wess!
Tirana maju ke kiri seraya menghentakkan pelan kedua lengannya ke bawah, mengerahkan ilmu Pemutus Waktu. Satu gelombang angin halus membelai seluruh prajurit yang datang dari sisi kiri.
“Puspa!” seru Tirana seiring mematungnya semua prajurit yang berlari datang, bahkan mereka bertumbangan sendiri karena ketika mematung keseimbangan mereka hilang.
“Hihihi...!” Puspa terkikik nyaring mengandung tenaga dalam. Ia segera berkelebat ke depan Tirana sambil menghempaskan kedua lengannya.
Sweerrss!
Blarblar...!
Puspa kembali melepaskan Gerimis Hijau. Puluhan sinar hijau berpola daun melesat berledakan membantai pasukan Ci Cin.
“Jenderal Luh Moha maju!” teriak seorang jenderal Ci Cin menyebut namanya sambil berkelebat masuk ke dalam medan pertarungan dengan senjata pedangnya. Ia menargetkan Tirana.
“Jenderal Hing Bai maju!” teriak seorang jenderal lagi menyebut namanya sambil melompat dengan tombak besi di tangan. Ia menargetkan Puspa.
“Jenderal Ksai Ro maju!” teriak satu jenderal terakhir sambil berlari ringan di atas kepala-kepala barisan prajurit. Dia membawa dua bola besi berduri yang memiliki rantai.
Baks!
“Huks!”keluh Jenderal Ksai Ro dengan tubuh terlempar balik dan mendarat di antara kaki-kaki para prajurit. Kondisi sang jenderal sudah tanpa nyawa dengan zirah pada bagian dada hancur dan dadanya bolong hangus.
Saat Jenderal Ksai Ro berkelebat di udara, Joko Tenang melepaskan Pukulan Tapak Kucing. Jenderal Ksai Ro yang tidak sesakti Jenderal Ujung Langit, harus jadi korban Pukulan Tapak Kucing hanya sekali hantam saja.
“Langsung bunuh!” perintah Joko kepada Tirana dan Puspa.
Jenderal Luh Moha yang merasa memiliki kesaktian tinggi, harus terperangah panik saat mendapati dirinya tidak bisa melangkah di hadapan Tirana.
“Heaat!” teriak Jenderal Luh Moha sambil menghentakkan dua tinjunya.
Zerss! Sess!
Bluarr!
Dua sinar biru seperti komet besar melesat menyerang Tirana. Namun, Jenderal Luh Moha hanya bisa terperangah menjelang mautnya. Dua sinar ilmunya sirna begitu saja saat sampai dua jengkal dari fisik Tirana. Gadis jelita itu balas melepaskan bola sinar biru di tangannya.
Hancurlah tubuh Jenderal Luh Moha.
Nasib buruk dialami pula oleh Jenderal Hing Bai. Tombak besinya yang bersinar merah, tidak berfungsi apa-apa terhadap Puspa.
Crass!
Dengan mudahnya Puspa mengelaki tusukan panas dari tombak Jenderal Hing Bai. Tubuh Puspa bergerak sangat cepat memepet tubuh besar sang jenderal. Telapak tangan kanan Puspa yang membara kuning berkelebat cepat. Kuku-kuku jari tangan itu begitu cepat bergerak merobek leher sang jenderal.
Pelindung leher sang jenderal yang terbuat dari besi, tidak mampu menahan ilmu Genggam Inti Bumi milik Puspa yang panasnya bisa melebur besi.
Melihat keempat jenderalnya telah gugur, Pangeran Baijin jadi syok berat. (RH)
*******
__ADS_1
TERIMA KASIH kepada seluruh READERS yang sudah setia dan AUTHORS sahabat yang sudah mendukung karya OM RUDI.
Sebentar lagi season "Cincin Darah Suci" akan berakhir dan masuk ke season "DESA WONGAWET" yang akan disingkat "Dewo".