
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Pangeran Zulkar Nain memacu kudanya. Ia akhirnya tiba di sebuah halaman rumah mewah. Di halaman itu berkumpul dan berbaris pasukan berseragam Kerajaan Tarumasaga.
Seorang prajurit segera menyambut kedatangan kuda Pangeran Zulkar Nain. Sang pangeran buru-buru turun dari punggung kudanya. Ia bergegas mendatangi seorang pemuda tampan lagi gagah yang berdiri memantau pasukan yang sedang di atur oleh seorang komandan.
“Mana ayahmu, Dewa Yuda?” tanya Pangeran Zulkar Nain kepada pemuda berpakaian hitam bagus itu.
“Di dalam,” jawab pemuda bernama Dewa Yuda, ia sudah menyandang busur di badannya dan setabung anak panah menggantung di pinggangnya.
“Ada apa, Pangeran?” tanya seseorang sambil melangkah keluar dari dalam rumah. Orang itu adalah Mahapati Yudi Mandala. Ia sudah berpenampilan dalam pakaiannya sebagai seorang Mahapatih, bertelanjang dada tapi lengkap dengan asesoris pangkatnya.
Pangeran Zulkar Nain juga memandang sejenak kepada sosok gadis cantik berpakaian putih yang berjalan di belakang Mahapatih. Gadis berambut agak ikal itu adalah putri Mahapatih dan adik Dewa Yuda, namanya Sariya. Satu wanita lagi adalah istri Mahapatih Yudi Mandala, usianya sepadan dengan Mahapatih.
“Mahapatih akan ke mana?” tanya Pangeran Zulkar Nain justru balik bertanya.
“Menyerang orang yang mengacau di Istana,” jawab Mahapatih Yuda Mandala. “Aku sudah mendapat laporan dari prajurit pembawa pesan.”
“Lebih baik Mahapatih batalkan rencana. Mereka orang-orang sakti yang entah sampai setinggi apa kesaktiannya. Penyerang itu adalah calon suami Ratu Getara. Dia datang bersama tiga orang wanita berkesaktian tinggi. Ditambah Ratu Getara Cinta sudah sehat dan kesaktiannya pun mengerikan, Mahapatih,” ujar Pangeran Zulkar Nain menggebu-gebu.
“Kau merendahkanku, Pangeran,” ucap Mahapatih Yuda Mandala pelan, tapi rona mukanya tidak senang.
“Bu... bukan begitu, Mahapatih. Aku sangat tahu bahwa Mahapatih tidak terkalahkan, tetapi kali ini sangat berbeda,” kata Pangeran Zulkar Nain.
“Cukup, Pangeran!” bentak Mahapatih Yuda Mandala. “Lalu apa yang kau lakukan sebagai putra dari ayahandamu?”
Terdiam Pangeran Zulkar Nain disudutkan seperti itu. Ia menelan salivanya. Kemudian katanya, “Ayahanda sudah mati, dieksekusi langsung oleh Ratu Getara Cinta.”
“Apa?!” kejut Mahapatih Yuda Mandala dan keluarganya.
“Sekarang Ratu Getara yang menguasai Tarumasaga,” kata Pangeran Zulkar Nain.
“Seharusnya kau lebih baik mati membela tahta sebagai Putra Mahkota, Pangeran!” tandas Mahapatih Yuda Mandala. Lalu katanya lagi yang menunjukkan ambisinya, “Baik, jika aku berhasil membunuh Ratu Getara dan orang-orangnya, berarti tahta itu akan menjadi milikku!”
Mendelik terkejut Pangeran Zulkar Nain mendengar perkataan Mahapatih Yuda Mandala, termasuk istri dan kedua anaknya.
“Kita berangkat!” teriak Mahapatih Yuda Mandala lalu berjalan menuju kudanya.
“Dewa Yuda, apakah kau juga akan ikut menyerang ke Istana?” tanya Pangerang Zulkar Nain kepada sahabatnya.
“Aku mengikuti Ayahanda,” jawab Dewa Yuda singkat. Ia lalu berjalan pergi menuju kudanya yang sudah disiapkan.
“Dewa, pikirkan lagi!” seru Pangeran Zulkar Nain.
__ADS_1
Namun, Dewa Yuda tidak mungkin menentang perintah ayahnya. Ia hanya diam, tidak menanggapi peringatan sahabatnya.
Akhirnya Pangeran Zulkar Nain hanya bisa menghembuskan napas panjang.
“Yang Mulia Pangeran, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Sariya lembut.
Pangeran Zulkar Nain menarik napas dalam. Lalu jawabnya lirih, “Kekuasaan Prabu Cokro Ningrat sudah runtuh, hanya karena diserang oleh beberapa orang sakti saja. Aku pernah melihat kesaktian Mahapatih, tetapi kesaktian orang-orang ini lebih berbahaya.”
Sariya memandang kepada ibunya yang hanya menunjukkan wajah cemas, tanpa bisa berbuat apa-apa. Sementara itu, Mahapati Yudi Mandala sudah bergerak bersama pasukannya meninggalkan halaman rumah besar itu.
Kediaman Mahapati Yudi Mandala terletak di sebuah desa yang tidak jauh dari Kuthenegara. Membutuhkan waktu satu jam perjalanan untuk tiba ke Kerajaan Tarumasaga.
Sementara itu, di Istana Tarumasaga sedang berkumpul Joko Tenang bersama gadis-gadis cantiknya. Ratu Getara Cinta, Tirana, Puspa dan Kembang Buangi memang masih seorang gadis perawan. Mereka belum ada yang pernah menikah. Hanya saja, Ratu Getara Cinta usianya lebih matang, yaitu kepala empat, disusul oleh Puspa yang kepala tiga. Sementara Tirana masih di bawah dua puluh tahun, beberapa tahun lebih muda dari Kembang Buangi.
Mereka sudah memeriksa seluruh sudut Kerajaan Tarumasaga, tetapi mereka tidak menemukan keberadaan Ginari dan Hujabayat.
Akhirnya mereka memanggil Putri Alifa Homar untuk diinterogasi.
“Mahapatih Yudi Mandala hanya membawa Yang Mulia Ratu ke sini, tidak membawa tawanan lain,” jawab Putri Alifa Homar di hadapan Ratu Getara Cinta yang duduk di kursi kebesaran yang biasa diduduki oleh Prabu Cokro Ningrat.
“Lalu di mana Mahapatih Yudi Mandala dan Ketua Raja Pedang?” tanya Ratu Getara lagi dengan pembawaan yang berwibawa.
“Mahapatih ada di kediamannya di Desa Butok luar Kuthanegara, dan Ketua Raja Pedang ada di Kadipaten Rebaklaga,” jawab Putri Alifa Homar.
“Dugaanku, Mahapatih Yudi Mandala akan datang sendiri ke sini. Namun, untuk membebaskan Ginari dan Hujabayat, kita harus menjemput ke Kadipaten Rebaklaga,” kata Joko Tenang.
“Ratu Puspa, apakah kau tidak bisa pergi langsung ke Kadipaten Rebaklaga?” tanya Tirana.
“Siapa yang harus Puspa cari?” tanya Puspa sambil makan buah apel.
“Ginari,” jawab Tirana.
“Puspa tidak kenal,” kata Puspa.
“Bukankah Ratu Puspa bisa melacak Kelompok Pedang Angin?” tanya Tirana lagi.
“Yang mana? Orang-orang jelek berpedang itu? Sudah Puspa habisi mereka semua!” kata Puspa.
“Kenapa Ratu Puspa tidak langsung menyelamatkan Ratu, tapi justru pergi ke sarang Kelompok Pedang Angin?” tanya Joko, yang perasaannya sudah lebih tenang karena berhasil menyelesaikan tugasnya dan menyelamatkan Ratu Getara Cinta. Namun, tetap ada rasa kecemasan yang tersisa, karena Ginari belum jelas nasibnya.
“Puspa mau langsung menolong Getara, tapi Puspa lupa mukanya seperti ayam atau seperti bebek. Hihihi...! Jadi Puspa membayangkan saja orang-orang jelek yang menyerang Tabir Angin,” kilah Puspa.
“Kelompok Pedang Angin belum habis. Yang Ratu Puspa bunuh hanyalah jumlah sedikit, pemimpinnya ada di Kadipaten Rebaklaga,” kata Tirana.
__ADS_1
“Hah! Puspa sangat bernafsu membunuh biang bajingnya!” kata Puspa geram.
“Kita harus segera ke Kadipaten Rebaklaga, Joko. Aku khawatir sesuatu telah terjadi kepada Kakang Hujabayat,” kata Kembang Buangi.
“Puspa ikut!” teriak Puspa cepat.
“Tidak, Ratu Puspa harus tetap di sini!” tandas Ratu Getara Cinta.
“Sekarang Puspa adalah ratu, tidak bisa dilarang!” sentak Puspa.
“Lalu siapa yang akan membunuh Mahapatih jika dia datang ke sini?” tanya Joko.
“Puspa!” jawab Puspa lantang.
Joko Tenang tersenyum melihat sikap Puspa, karena membuat bingung.
Dari luar muncul seorang prajurit Tarumasaga.
“Lapor Yang Mulia Ratu!” ucap prajurit itu seraya menjura hormat.
“Katakan!” perintah Ratu Getara Cinta.
“Mahapatih Yudi Mandala dan pasukannya datang, Yang Mulia Ratu,” kata prajurit itu.
“Pergilah!” perintah sang ratu.
“Cepat sekali dia datang,” kata Kembang Buangi.
“Ratu Puspa, jika Ratu Puspa mau ikut ke Kadipaten Rebaklaga, maka biarkan Tirana yang melawan Mahapatih,” kata Joko.
“Tidak bisa! Puspa yang harus membunuh Mahapatih. Tadi Getara sudah mengambil jatah Puspa untuk membunuh raja bau sapi itu!”
“Berarti Ratu Puspa tidak boleh ikut ke Kadipaten Rebaklaga!” tandas Joko.
“Iya iya iya!” kata Puspa kesal lalu tiba-tiba melesat keluar, pergi menuju ke area depan kerajaan.
“Ayo kita ke depan!” kata Joko Tenang.
Joko Tenang dan para wanitanya bangkit, termasuk Putri Alifa Homar. Sang putri berstatus sebagai tawanan, tetapi ia tidak dipenjara. Ia berjanji tidak akan melakukan perlawanan. Ia berada di bawah pengawasan Tirana saat ini.
Mereka tiba di lapangan depan kerajaan, yang porak-poranda oleh angin Badai Malam dari Selatan milik Joko Tenang. Namun, sudah tidak terlihat ada mayat yang berserakan.
Tampak Mahapatih Yudi Mandala dan putranya duduk gagah di atas kudanya dengan latar belakang ratusan prajurit bersenjata tombak dan pedang, jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah prajurit Tarumasaga yang dihabisi oleh Joko dan para wanitanya.
__ADS_1
Puspa berdiri menyeringai menghadap kepada Mahapatih Yudi Mandala dan pasukannya. (RH)