Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
110. Teringat Calon Istri


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


“Apakah ini pendekar asing yang kau maksud, Kai’er?” tanya Kaisar Long Tsaw setelah mendekati Joko Tenang beberapa langkah. Kaisar melihat model tampang dan pakaian Joko Tenang berbeda sendiri.


“Benar, Ayahanda Kaisar. Namanya Joko Tenang dari negeri ujung selatan seberang lautan samudera. Ia memiliki kesaktian yang tinggi,” jelas Putri Yuo Kai. Kemudian dia beralih memperkenalkan Su Mai, “Wanita ini bernama Su Mai, penerjemah Pendekar Joko.”


Su Mai yang mengerti bahwa dirinya diperkenalkan, kembali menghormat dengan sedikit merendahkan sejenak tubuhnya.


“Selamat datang di Negeri Jang yang besar ini, Pendekar Joko!” ucap Kaisar Long Tsaw tersenyum kepada Joko sambil merentangkan kedua lengannya.


“Terjemahkan!” perintah Putri Yuo Kai kepada Su Mai.


“Selamat datang di Negeri Jang yang besar ini, Pendekar Joko!” terjemah Su Mai.


“Terima kasih, Yang Mulia Raja. Maafkan aku karena datang dengan cara yang tidak sopan. Aku berharap kehadiranku di negeri ini tidak mengusik kedamaian Negeri Jang,” ujar Joko Tenang juga dengan bahasa wajah yang ramah.


Tanpa diperintah lagi, Su Mai segera menerjemahkan untuk sang kaisar.


“Hahaha!” tertawalah Kaisar Long Tsaw mendengar terjemahan itu.


“Sekiranya Pendekar Joko sudi membantu Negeri Jang yang sedang diserang, aku pun tentunya tidak segan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya,” ujar Kaisar Long Tsaw.


Su Mai kembali menerjemahkan perkataan Kaisar.


Tanpa ada yang mengetahui, diam-diam Pangeran Han Tsun suka memandangi Su Mai. Dalam hati ia kagum dengan kecerdasan berbahasa gadis itu.


“Selama itu untuk kebaikan manusia banyak, tentunya dengan senang hati aku membantu tanpa pamrih, kecuali makan dan tempat tidur,” kata Joko.


“Hahaha!” tertawalah mereka semua setelah mendengar Su Mai menerjemahkan kalimat Joko, termasuk Permaisuri dan kedua selir yang agak jauh di belakang Kaisar.


“Ayahanda, maafkan aku, Pendekar Joko baru saja menempuh perjalanan jauh dan kami usai bertarung di parit selatan, aku berjanji untuk mengajaknya maka siang karena telah mengalahkan dua penjahat. Jadi izinkan kami pamit untuk membersihkan diri dan beristirahat,” ujar Putri Yuo Kai.


“Oh, baiklah,” ucap Kaisar sebagai wujud pengertiannya. Lalu katanya kepada Kepala Kasim Yo Gou, “Antarkan Pendekar Joko Tenang ke tempat istirahat dan pastikan pelayanan terbaik untuknya!”


“Baik, Yang Mulia,” ucap Kasim Yo Gou.


“Izinkan hamba untuk mohon diri, Yang Mulia Ayahanda, Ibunda,” ucap Putri Yuo Kai.


“Ananda juga mohon diri, Yang Mulia Ayahanda, Ibunda,” ucap Pangeran Han Tsun pula.


“Hamba mohon diri, Yang Mulia. Semoga Yang Mulia selalu panjang umur!” ucap Bo Fei dan Tan Ma yang sudah akrab dengan tata krama dalam istana.


Sementara Joko Tenang dan Su Mai hanya ikut menghormat.


“Silakan!” seru Kaisar Long Tsaw.


Pertemuan itupun bubar. Putri Yuo Kai akan kembali ke Istana Tua dan Joko Tenang dibawa ke Paviliun Hijau, tempat tamu-tamu khusus istana ditempatkan.

__ADS_1


Sebubarnya pertemuan, Permaisuri Fouwai dan kedua selir datang mendekati suami sekaligus kaisar mereka.


“Aku melihat ada perbedaan sikap pada Kai’er terhadap pendekar itu,” kata Permaisuri Fouwai kepada suaminya.


“Aku menilai hal yang sama, Kakak,” kata Selir Ni kepada Permaisuri.


“Biasanya Kai’er sangat dingin kepada lelaki, kecuali kepada Kaisar. Namun kali ini, ia bisa tertawa dan tersenyum merespon perkataan seorang lelaki,” kata Selir Yim pula.


“Sudah 55 lelaki yang melamarnya, tapi tidak satu pun yang tersangkut di hatinya. Apakah mungkin dia punya rasa tertarik dengan pendekar asing itu?” kata Kaisar dengan pertanyaan yang tidak berani dijawab oleh ketiga wanita itu.


“Kai’er sangat suka dengan kesaktian, bahkan setiap orang yang melamarnya selalu ditantang untuk mengalahkannya,” kata Permaisuri Fouwai.


“Jika Pendekar Joko bisa lebih sakti dari pada Kai’er, lalu seperti apa kesaktiannya?”


Lagi-lagi ketiga wanita itu tidak berani menjawabnya.


Sementara itu, Su Mai diperintahkan oleh Putri Yuo Kai untuk terus bersama dengan Joko.


Kepala Kasim Yo Gou mengantar Joko dan Su Mai sampai ke kamar tamu yang indah, nyaman dan luas di Paviliun Hijau, lengkap diberikan dua pelayan wanita. Namun, Joko menolak penyediaan dua pelayan itu.


Akhirnya Kepala Kasim Yo Gou memberikan seorang kasim.


“Duduklah!” kata Joko kepada Su Mai.


“Terima kasih, Tuan,” ucap Su Mai.


“Namamu siapa, Nisanak?” tanya Joko.


“Su Mai, jangan mendekatiku kurang dari empat langkah,” pesan  Joko.


“Baik, Tuan.”


“Bagaimana kau bisa menguasai bahasa dari negeriku yang nun jauh di seberang lautan?” tanya Joko seraya tersenyum.


“Sejak kecil aku ikut ayah berpetualang mengarungi lautan. Ketika kami sampai di Tanah Jawi, ayah menikah dengan wanita Jawi dan menetap tujuh tahun lamanya. Lalu kami memutuskan kembali ke utara bersama,” tutur Su Mai.


“Dari senjatamu menunjukkan bahwa kau juga orang persilatan, Su Mai?” terka Joko merujuk pada dua pisau melengkung yang terselip di belakang pinggang Su Mai.


“Tuan Joko tidak salah.”


“Jangan sebut aku Tuan, sebut saja namaku, aku rasa kita tidak jauh terpaut umur,” kata Joko.


“Baik, Joko,” ucap Su Mai patuh yang membuat Joko tersenyum manis, yang justru menggetarkan hati wanita cantik itu.


“Siapa namamu, Kasim?” tanya Joko kepada pria berpakaian kasim yang berdiri tidak jauh di belakangnya.


Su Mai segera menerjemahkan pertanyaan Joko kepada kasim tersebut.

__ADS_1


“Lo Yoh, Tuan,” jawab kasim yang usianya lebih tua dari mereka berdua.


“Duduklah, Lo Yoh. Jangan berdiri terus,” kata Joko yang kemudian diterjemahkan oleh Su Mai.


“Terima kasih, Tuan. Tapi, memang tugas hamba berdiri,” kata Lo Yoh yang kemudian diterjemahkan oleh Su Mai.


“Baiklah,” kata Joko. Ia lalu kembali berbicara kepada Su Mai. “Aku jauh-jauh datang ke negeri ini untuk mencari sesuatu dan harus aku temukan secepatnnya.”


“Apa yang kau cari, Joko?” tanya Su Mai.


“Namanya Permata Darah Suci. Apakah kau pernah mendengarnya?” tanya Joko.


Su Mai terdiam sejenak. Ia mencoba mengorek-ngorek memori di dalam otaknya. Kemudian dia menjawab, “Baru kali ini aku mendengarnya.”


“Berarti tidak ada petunjuk sama sekali,” ucap Joko lirih kepada dirinya sendiri.


Joko terdiam sejenak. Mendadak wajah Joko terhentak halus, ia teringat sesuatu.


“Aku lupa menanyakan kepada Putri Yuo Kai tentang calon istriku!” ucap Joko Tenang yang baru saja tersadar.


“Calon istri?” sebut ulang Su Mai.


“Benar. Seharusnya aku datang bersama dua orang wanita. Yang satu calon istriku, dan yang satu sahabatku,” jelas Joko lalu ia bangun berdiri. “Aku harus kembali menemui Putri Yuo Kai.”


“Tuan! Ada pelayan Putri Yuo Kai ingin bertemu!” seru prajurit penjaga di luar pintu.


Su Mai segera menerjemahkan pemberitahuan itu.


“Silakan masuk!” sahut Joko, yang kemudian di terjemahkan oleh Su Mai.


Maka, pintu depan terbuka. Masuklah seorang wanita cantik berseragam pelayan. Wanita muda itu tidak lain adalah Yi Liun, salah seorang dari dua pelayan pribadi Putri Yuo Kai.


“Ah, kau lagi, siapa namamu?” tanya Joko langsung ketika mengenali Yi Liun yang sempat berusaha mencegah Joko tidak pergi keluar dari Istana Tua sebelum pergi ke parit selatan.


“Siapa namamu?” kata Su Mai menerjemahkan.


“Hamba Yi Liun, Pendekar Joko,” jawab Yi Liun sambil menjura hormat.


“Aku mau bertemu dengan putrimu,” ujar Joko yang segera diterjemahkan.


“Tuan Putri mengundang Pendekar Joko untuk makan siang,” kata Yi Liun.


Su Mai menerjemahkan.


“Makan siang? Baik. Aku perlu mandi terlebih dahulu,” kata Joko yang kemudian diterjemahkan.


“Biar aku layani, Pendekar,” kata Yi Liun.

__ADS_1


“Jangan jangan jangan!” seru Joko cepat setelah Su Mai mengartikan perkataan Yi Liun.


Yi Liun dan Su Mai hanya tersenyum melihat reaksi Joko. (RH)


__ADS_2