
Kaak!
Gimba berkoak, seolah memberi tahu sesuatu.
Setelah melewati atas hamparan hutan yang cukup luas, pandangan Joko Tenang dan Hujabayat disuguhkan pemandangan bebatuan luas yang bercampur dengan pepohonan besar dan jurang-jurang batu yang menyeramkan.
“Sepertinya kita sudah sampai ke Rimba Berbatu,” kata Tirana kepada Ginari dan Kembang Buangi.
Namun kedua gadis yang terluka itu tidak bisa berbuat banyak untuk melihat ke bawah sana. Mereka tidak berdaya.
“Gimba, turunkan kami di tempat yang baik!” teriak Joko kepada burung rajawali raksasa itu.
Kaak!
Gimba berkoak tanda mengerti. Ia segera terbang menurun ke daerah yang penuh hamparan bebatuan raksasa. Kecepatan terbang Gimba melambat. Seiring itu, sayapnya mulai mengepak untuk melakukan pendaratan yang cantik, sebab ada beban yang harus diturunkan dengan aman ke bumi. Jika salah perhitungan, bisa-bisa bak gerobak yang menggantung itu hancur menghantam tanah keras.
Wuss wuss wuss!
Kepakan kedua sayap Gimba membuat tubuh besarnya turun dengan perlahan, tetapi juga menimbulkan angin yang begitu kencang. Angin debu tercipta kencang dan pepohonan pun terguncang kuat.
Perlahan gerobak yang menampung keberadaan Tirana, Ginari dan Kembang Buangi, mendarat ke bumi yang adalah hamparan batu besar.
Brak!
Meski sudah diturunkan dengan sehalus mungkin oleh Gimba, tetap saja gerobak itu keras mendarat ke tanah batu, mengguncang penumpang yang ada di atasnya. Selanjutnya giliran Gimba yang mendarat tidak jauh dari gerobak tersebut.
Sebelum turun dari leher Gimba, sejenak Joko berdiri gagah seraya memandang ke sekeliling. Hujabayat sudah mendahulukan diri melompat turun. Ia langsung bekerja untuk membuka simpul ikatan tali di kaki besar Gimba.
Setelah ikatan tali di kaki Gimba dilepas, Joko pun melakukan perpisahan dengan Gimba. Dipeluknya paruh besar nan tebal milik Gimba. Agak lama Joko memeluk, seperti seorang lelaki yang memeluk kekasihnya karena ingin berpisah jauh.
“Jika kau kembali, sampaikan salamku kepada Kakek Resi Putih Jiwa!” pesan Joko, merujuk kepada seorang tokoh sakti yang menguasai Alam Kahyangan, tempat hewan-hewan Alam Kahyangan seperti Gimba berasal.
Kaak!
“Baik, aku akan sering-sering memanggilmu nanti,” kata Joko sambil mengelus-elus bulu besar Gimba.
Tirana sudah menggendong Ginari di punggung, sementara Hujabayat sudah meletakkan Kembang Buangi pada kedua lengannya yang kekar.
Kaak!
__ADS_1
Gimba kembali berkoak pelan lalu menolakkan kedua kaki besarnya seiring kedua sayapnya mengembang dan mengepak.
Wuss!
Angin dahsyat menderu ke segala arah seiring terbangnya makhluk raksasa itu ke udara nan tinggi dan luas. Tirana dan Hujabayat terjajar beberapa langkah dan nyaris jatuh terdorong oleh angin Gimba. Gerobak yang sudah kosong bahkan terlempar berguling menghantam batu besar hingga hancur dan rusak.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang melihat teman-temannya dibuat sempoyongan.
Meski dibuat cukup merasa ngeri berurusan dengan Gimba, tapi Hujabayat dan para pendekar wanita itu dibuat takjub dengan keadaan makhluk tersebut.
Dari jarak yang aman, Joko terdiam terpaku sejenak menatap wajah Tirana dan Ginari. Dipandang tidak biasa seperti itu, Tirana dan Ginari juga terdiam, tapi di dalam benak keduanya bertanya-tanya. Bahkan Tirana jadi merasa malu sendiri sehingga sempat membuang pandangannya karena tidak kuat menahan gejolak asmara yang timbul tiba-tiba. Akhir dari tatapan Joko adalah seulas senyum manis, meski tidak selebar daun talas.
Tirana lalu menggerakkan sepasang alisnya kepada Joko, lalu bertanya, “Ada apa, Kakang?”
“Entahlah,” jawab Joko seraya tertawa pelan lalu berbalik dan melangkah menaiki batu besar yang miring menjulang.
“Ke mana kita akan pergi?” tanya Hujabayat agak berteriak kepada Joko yang sudah berdiri di puncak batu.
“Entahlah,” jawab Joko mengulang kata yang sama sambil memandang ke sekeliling.
“Hatiku berdebar ketika calon suami kita itu memandangi kita,” kata Tirana kepada Ginari.
“Tapi, apakah dia punya rasa terhadap perempuan?” tanya Ginari.
Setelah yang lainnya menunggu dengan sabar, tak berapa lama, Joko turun dari atas batu.
“Tirana, bagaimana menurutmu? Kau selama ini tinggal di hutan,” tanya Joko.
“Jika setiap wilayah ada pemiliknya, maka penguasanya cepat atau lambat akan mengetahui kedatangan kita. Lebih baik kita berjalan sambil mencari,” kata Tirana.
“Baik, kita ke timur!” seru Joko lalu berjalan lebih dulu di sela-sela batu besar dan pepohonan yang seolah menyatu hidup berdampingan.
Tirana mengikuti Joko lebih tiga langkah di belakang. Kemudian menyusul Hujabayat yang telah memindahkan Kembang Buangi ke punggungnya.
Joko terus berjalan memilih jalan yang mudah dilalui. Mereka mendaki bebatuan kemudian menuruninya. Namun, terkadang pula harus mengerahkan peringan tubuh untuk melompat. Sesekali ilalang tinggi mereka lalui dan terkadang berjalan di antara batang-batang pohon besar. Binatang-binatang liar sesekali tampak yang kemudian lari bersembunyi. Suara burung-burung yang berbeda beberapa kali terdengar berkicau. Belum terlihat ada tanda-tanda kehidupan manusia di daerah liar itu.
“Kakang, aku melihat di beberapa pohon dan batu yang baru kita lewati ada tanda yang sama,” kata Tirana kepada Joko.
“Waspadalah!” kata Joko sambil terus berjalan.
__ADS_1
Tirana memang melihat sejumlah guratan yang tidak alami dan serupa di beberapa batang pohon besar yang mereka lalui. Ia juga melihat ukiran serupa di beberapa batu yang dilalui.
Sementara matahari sudah mulai berada di puncaknya. Mereka telah berjalan selama satu jam. Mereka belum menemukan tanda-tanda adanya penghuni manusia di daerah itu.
“Coba kau lihat ukiran di batu ini,” kata Tirana kepada Ginari seraya berhenti sejenak di batu yang setinggi bahunya.
Tirana menunjukkan adanya ukiran bergambar lingkaran kecil di batu yang warnanya sudah termakan angin dan hujan.
“Ukiran seperti itu aku lihat ada beberapa di batu lain. Itu diukir, bukan tercipta sendiri. Mungkin sebagai tanda wilayah atau bisa juga tanda yang lainnya,” kata Tirana.
“Tampaknya kita memasuki daerah berbahaya,” duga Ginari seraya memandang area di depan mereka.
Joko dan rombongan kini dihadapkan hutan yang penuh dengan pohon besar dan posisi tumbuhnya begitu rapat. Banyak batang-batang pohon yang tumbuh saling beradu dan bahkan ada yang saling menyilang. Dahan-dahannya seolah tumbuh untuk saling mengusik sehingga tercipta payung alam yang membuat hutan itu tampak gelap.
“Angker,” ucap Hujabayat yang hanya didengar oleh Kembang Buangi yang pasrah di punggungnya.
“Kakang, apakah kau benar-benar mencintaiku atau hanya karena iba kepadaku?” tanya Kembang Buangi tiba-tiba tanpa mengindahkan ucapan Hujabayat tentang hutan lebat di depan.
Pertanyaan itu membuat si pemuda berhenti melangkah sejenak. Pertanyaan itu seolah membutuhkan jawaban yang yang harus dipikirkan lebih dulu. Hujabayat kembali berjalan.
“Sebenarnya aku sudah lama mencintaimu. Namun kala itu, cintaku belum sepenuhnya. Sekarang cintaku sudah penuh untukmu, Kembang,” kata Hujabayat.
“Apakah karena Pendekar Tikus Langit kini jadi milik Joko?” tanya Kembang Buangi, langsung menembak pemuda itu.
“Apakah kau tidak suka kondisi ini?” Hujabayat justru balik bertanya.
“Ya,” jawab Kembang Buangi lemah. “Namun, dalam kondisi di ambang kematian seperti ini, bagaimana bisa aku tawar-menawar? Kakang kini menjadi harapanku satu-satunya untuk berusaha bertahan. Mungkin sudah takdirku berakhir dengan kemalangan seperti ini.”
“Tidak. Meski aku siap korbankan nyawaku asalkan kau bisa hidup, tapi kau harus bertahan karena kau masih memiliki banyak hal yang harus diselesaikan, Kembang,” kata Hujabayat.
“Sekarang tidak ada lagi artinya untuk mengetahui siapa sebenarnya orangtuaku. Jika keajaiban kudapat, aku bermimpi untuk hidup membuka lembaran baru bersama orang yang aku cintai.”
“Dan orang yang kau cintai itu adalah aku,” kata Hujabayat yakin.
“Aku pun tidak bisa menolakmu, Kakang,” kata Kembang Buangi pula.
Bahagialah perasaan Hujabayat mendengar kepastian dari Kembang Buangi. Meski gadis cantik itu dalam ancaman kematian oleh racun, tapi kini ia berada di punggungnya. Kembang Buangi menyatu dengannya. Persatuan tubuh mereka menjadi masa yang begitu penuh rasa kasih sayang setelah cinta itu jelas saling menyambut dalam pertukaran lisan yang jelas.
Hal yang sama juga dirasakan oleh hati Kembang Buangi.
__ADS_1
“Mati pun aku tidak menyesal setelah cintaku jelas kepada siapa dan orang yang mencintaiku ada bersamaku,” kata Kembang Buangi lirih di telinga Hujabayat.
Bisikan itu membuat Hujabayat ingin rasanya berhenti dan beralih memeluk erat gadis yang digendongnya itu sebagai luapan rasa kegembiraannya. Namun, mereka harus terus mengikuti Joko, sebab mereka memasuki daerah yang tampak angker. (RH)