
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
Adi Manukbumi, Mumu Kedalang dan Luring berhenti beristirahat dengan terengah-engah. Mereka berhenti di bawah tiang suluh desa. Suasana Desa Gatalangot sudah sepi pada malam itu.
“Ini hal besar, Manuk! Ini benar-benar nyata bahwa di Telaga Fatara ada dedemitnya!” kata Luring menggebu-gebu. Kondisinya masih basah kuyup setelah terjebur ke air telaga, sama seperti Mumu Kedalang.
“Lalu kalau ada dedemitnya kenapamu?” tanya Mumu Kedalang sewot, sebab hampir saja mereka mati di malam itu.
“Eh, itu artinya kita pemilik cerita paling kuat tentang dedemit penunggu telaga,” jelas Luring.
“Jelas itu bukan manusia,” kata Adi Manukbumi, masih tegang.
“Sejak tadi kita menyebut dedemitmu, bukan manusiamu, Manukmu!” tandas Mumu Kedalang.
“Lalu apa selanjutnya?” tanya Adi Manukbumi.
“Kita harus menyerang sarangnya!” tandas Luring.
“Satu dedemit saja kita hampir mati, bagaimana mau menyerang sarangnya? Di sarangnya pasti ada dedemit emak, dedemit bapak, dan dedemit anak. Belum lagi kalau ada dedemit nenek. Lagi pula, apakah kau tahu sarang dedemit itu?” tanya Adi Manukbumi.
“Sebelum kau datang membuat ulahmu, kami melihat di seberang Telaga Fatara ada apimu. Setahu kitamu, di seberang tidak pernah ada orang yang tinggalmu. Tapi tiba-tiba di sana ada nyala apimu!” kata Mumu Kedalang.
“Apakah benar yang dikatakan Mumu, Luring?” tanya Adi Manukbumi.
“Benar, Manuk,” jawab Luring.
“Jika benar kalian melihat sarang dedemit itu, kita sebagai seorang pendekar, harus berani membuktikan dengan jelas. Kita sebagai pendekar tingkat tinggi, harus berani tampil untuk memberantas kejahatan dan membela kebenaran. Mungkin saja dedemit itu hanya kuat di malam hari, tetapi kalau di siang hari dia loyo seperti kulit pisang bekas,” kata Adi Manukbumi bersemangat.
“Kau benar, Manukmu!” dukung Mumu Kedalang.
“Jadi bagaimana?” tanya Luring.
“Ya besok pagi kita datangi sarangnya di seberang telaga!” tandas Adi Manukbumi.
“Masalahnyamu, jika kita naik perahu, mungkin kita akan diserang oleh dedemit itumu. Tapi jika memutarmu, kita akan melewati kawasan Hutan Malam Abadimu. Sangat berbahaya, Manukmu,” kata Mumu Kedalang.
“Aaah, kalian ini! Penghuni Hutan Malam Abadi sama seperti kita, para pendekar sekita-kita juga. Ceritanya sengaja ditambah-tambah agar tidak ada orang lain yang berani masuk. Orang-orang yang tinggal di sana pasti menyembunyikan banyak perempuan hasil culikan. Karena mereka takut orang Kerajaan Walangan mengetahui kejahatan mereka, jadi dibuatlah cerita-cerita berlebihan, seolah-olah mereka adalah orang-orang yang sakti mandraguna,” kata Adi Manukbumi dengan gaya cibirannya.
“Baik, kita lewat Hutan Malam Abadi besok pagimu!” kata Mumu Kedalang.
“Setuju!” kata Luring pula.
Maka, keesokan paginya, ketiga pendekar kampung itu telah bersiap untuk melakukan perjalanan menelusuri pinggiran Telaga Fatara. Mumu Kedalang dan si botak Luring berbekal golok panjang, berbeda dengan Adi manukbumi yang tidak membawa senjata apa-apa. Ia memang memiliki kesaktian di jenis pukulan dan ketahanan tubuh.
“Kakang mau ke mana?” tanya seorang perempuan yang datang mendekati mereka.
__ADS_1
Ketiganya berhenti melangkah. Wajah mereka dihadapkan kepada wanita muda dan cantik yang datang. Gadis cantik berwajah putih bersih itu mengenakan pakaian putih ala pendekar, tapi sederhana. Ia membawa sebuah busur dan setabung bambu berisi penuh oleh anak panah. Tabung bambu itu memiliki tali yang diselempangkan di dada, membuat dua bentuk bukit kembar si gadis terkesan sangat menonjol.
“Eh, Asih Marang!” sebut Adi Manukbumi seraya tersenyum dengan sikap jantan yang seketika berubah agak melembek. “Ini, hehehe, Kakang mau ke seberang telaga bersama Mumu dan Luring.”
“Untuk apa?” tanya gadis yang bernama Asih Marang, yang katanya kekasih Adi Manukbumi.
“Kami mau menyerang sarang dedemp!” kata Luring, tetapi mulutnya cepat dibekap oleh Adi Manukbumi dari belakang, sehingga kalimatnya tidak sempurna.
“Ada sarang dedemit di seberang telagamu, Asihmu. Jadi kami mau menyerangnya agar telaga menjadi amanmu,” jawab Mumu Kedalang.
Adi Manukbumi mengerenyit tanpa rasa sakit, sebab ia membekap Luring, tetapi justru Mumu Kedalang yang menjawab.
“Sarang dedemit?” sebut ulang Asih Marang dengan tatapan curiga.
“Iyamu. Tadi malam kami diserang oleh dedemit Telaga Fatara saat sedang memancingmu….”
“Ah? Memancingku?” kejut Asih Marang tambah tidak mengerti.
“Eh, maksudkumu, saat kami sedang memancing di Telaga Fataramu, dedemit menyerang kamimu. Untumg ada Manukmu. Selamat kitamu!” kata Mumu Kedalang bercerita penuh semangat.
“Bagaimana kalian tahu letak sarangnya?” tanya Asih Marang lagi.
Luring dengan kesal melepaskan tangan Adi Manukbumi dari wajahnya.
“Kami melihatnya tadi malam ada di seberang telaga,” jawab Luring setelah mulutnya bebas dari intervensi teman besar gendutnya itu.
Mendelik ketiga pemuda itu.
“Jangan jangan jangan!” seru Adi Manukbumi sambil bergerak ke depan gadis itu. “Ini urusan dedemit, bukan urusan manusia nyata. Jadi, ini sangat berbahaya!”
“Aku suka karena aku penasaran,” kata Asih Marang.
“Tapi, aku rasa Demang Wulung Kura tidak akan mengizinkanmu pergi,” kata Luring.
“Belasan tahun aku pergi meninggalkan ayahku, maka ia tidak akan merasa kehilangan jika aku meninggalkannya hanya sehari dua hari,” kilah Asih Marang.
“Tapi ini sangat berbahayamu, Asihmu. Kita akan melewati Hutan Malam Abadimu,” kata Mumu Kedalang pula.
“Aku lebih berbahaya daripada bahaya itu sendiri!” tandas Asih Marang seraya mendelik kepada ketiga pemuda di depannya.
“Ba… baiklahmu, kau boleh ikutmu!” kata Mumu Kedalang memutuskan.
Mau tidak mau, ketiga pemuda itu akhirnya tidak bisa menolak keikutsertaan Asih Marang.
Mereka memilih jalan sepanjang pesisir. Namun, ketika jalan itu tidak bisa dilalui, barulah mereka menjauhi pantai telaga untuk mencari jalan.
Ketika mereka berjalan di pinggiran telaga, mereka melihat ke arah seberang, ke titik tempat keberadaan api yang tadi malam Mumu Kedalang dan Luring lihat sebelum mereka terjebur.
__ADS_1
“Coba lihat, bentuk sarang dedemit itu saja aneh. Seperti itulah gaya rumah dedemit, atapnya seperti batok kelapa,” kata Luring saat mereka bersama-sama melihat kepada bangunan di seberang telaga yang jauh.
Jauhnya jarak membuat mereka hanya melihat adanya bangunan aneh, tanpa bisa melihat jelas apakah di sana ada aktivitas kehidupan atau tidak. Bangunan yang mereka lihat dan duga sebagai sarang dedemit itu tidak lain adalah Istana Kerajaan Sanggana Kecil.
“Setahun lalu, di sana tidak ada bangunan apa-apa. Tapi lihat, dalam setahun tiba-tiba ada bangunan besar. Apa lagi jika bukan bangunan dedemit. Mana mungkin manusia bisa membangun sarang besar sesperti itu dalam waktu cepat?” kata Luring.
“Benar juga kaumu. Manusia tidak akan bisa membangun dalam waktu cepat seperti setan itumu. Baru kali ini aku melihat bangunan aneh seperti itumu,” kata Mumu Kedalang. Lalu hardiknya kepada Adi Manukbumi, “Hei, Manukmu! Kenapa kau tiba-tiba menjadi menjadi sakit gigimu? Jarang bicaramu.”
“Ah, tidak, hehehe! Aku hanya sedang memikirkan bagaimana cara menaklukkan dedemit itu,” jawab Adi Manukbumi sambil cengengesan.
“Aku tahu, kenapa dia keberatan jika Asih Marang ikut, karena jika kekasihnya itu ikut, dia akan berubah menjadi daun putri malu, hahaha!” kata Luring lalu tertawa.
“Hahaha!” tawa Mumu Kedalang pula.
“Jaga bicara kalian!” hardik Adi Manukbumi kepada kedua sahabatnya itu.
“Apa yang kalian tertawakan?” tanya Asih Marang yang berjalan agak lebih dulu di depan. Ia menengok ke belakang saat mendengar Mumu Kedalang dan Luring tertawa.
“Kami menertawakan Manukmu!” jawab Mumu Kedalang sambil menyisakan tawanya.
Setelah terus berjalan menelusuri sepanjang pantai telaga dan melewati satu desa lain yang bersinggungan langsung dengan telaga, mereka akhirnya behenti di pinggir hutan lebat yang sarat dengan pepohonan besar.
Pohon-pohon besar yang tumbuh berdekatan membuat langit tertutupi oleh kerindangan daun. Hal itulah yang membuat hutan itu selalu gelap di kala siang hari. Meski demikian, tetap saja ada lubang-lubang cahaya yang tercipta di atas.
Di saat ketiga pemuda itu berhenti terlebih dahulu untuk memperhatikan kondisi hutan yang akan mereka masuki, Asih Marang justru berjalan masuk tanpa ragu ke dalam hutan.
Untuk sampai ke Istana Sanggana Kecil, mereka harus melewati hutan besar itu atau berenang lewat air. Meski air telaga tidak seberombak lautan, tetapi tetap saja terkesan mengerikan dengan isu dedemit penghuninya.
Asih Marang berpaling ke belakang saat tidak merasakan keberadaan ketiga rekannya.
Melihat Asih Marang memandangi mereka dengan tatapan bertanya, Adi Manukbumi cepat menepuk bahu kedua rekannya agar melanjutkan perjalanan.
Selangkah demi selangkah mereka menerobos hutan, hingga tanpa terasa mereka sudah cukup jauh masuk ke dalam.
Hingga matahari mulai tergelincir ke barat, mereka tidak menemukan hal-hal aneh di dalam hutan. Yang mereka jumpai hanyalah medan hutan yang cukup menantang dan makhluk-makhluk hutan yang biasa ada, seperti keberadaan ular, burung, tupai, serangga hutan, sampai babi hutan.
Sreek!
Tiba-tiba terdengar suara seperti dedaunan kering diinjak di sebelah kanan mereka. Asih Marang refleks langsung memasang satu anak panah di busurnya. Ia langsung dalam posisi siap bidik.
Mumu Kedalang dan Luring segera cabut golok panjang yang mereka bawa.
Mereka berempat agak tegang, sebab suara itu sangat jelas seperti suara pijakan kaki terhadap dedaunan kering.
Seet seet!
Tiba-tiba tidak jauh dari posisi mereka, berlesatan tali-tali panjang yang menambatkan diri ke batang-batang pohon. Kemunculan tali-tali berwarna kuning itu mengejutkan Asih Marang dan ketiga pemuda itu.
__ADS_1
Dalam beberapa hitungan, ternyata mereka berempat sudah dikurung oleh pagar tali yang menggunakan batang-batang pohon sebagai tiang pagar. (RH)