
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
Kusuma Dewi duduk diam termenung di atas pembaringan. Tatapannya seolah kosong menembus dinding ruangan itu. Ia duduk sambil memeluk pedang samurai kesayangannya, pedang yang ia beli mahal dari seorang pedagang asing dari Negeri Yamato (Jepang).
Wajah cantiknya tampak lebih bersih dan cerah dalam kemurungan. Rambutnya masih tampak lembab usai mandi membersihkan diri. Kini ia mengenakan baju merah dan celana putih. Untung saja kain di pinggangnya berwarna kuning, sehingga dia tidak disangka bendera upacara.
Sejak tadi, hanya Joko Tenang yang mendominasi pikirannya. Ia tidak bisa beralih ke permasalahan lain. Urusan Gerombolan Kuda Biru tidak bisa ia pikirkan lagi. Hanya tentang Joko Tenang dan Joko Tenang lagi. Sejak tadi ditahan-tahan, akhirnya air mata tumpah dua garis di wajah sedihnya.
“Joko, kenapa kemunculanmu begitu membuatku sakit? Jika seperti ini, aku lebih memilih tidak ingin bertemu denganmu selamanya. Apakah kau menyangka aku sudah mati di jurang sehingga kau tidak pernah mencariku lagi? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menunjukkan diri dan mengatakan bahwa aku masih hidup?” pikir Kusuma Dewi dalam keterdiamannya.
“Kusuma Dewi!” panggil Lanang Jagad sambil berlari masuk ke ruangan pengobatan itu.
Namun, Lanang Jagad berhenti seketika karena melihat ada air mata di wajah Kusuma Dewi, meski gadis itu tidak terisak.
Kusuma Dewi buru-buru menyeka air matanya dengan ujung jarinya.
“Kenapa kau menangis, Kusuma?” tanya Lanang Jagad. Hatinya terenyuh melihat gadis cantik itu sampai meneteskan air mata. Ia menduga bahwa masalah yang dihadapi oleh Kusuma Dewi pasti sangat sulit, sehingga bisa membuat seorang pendekar wanita menangis.
“Ada apa?” tanya Kusuma Dewi tanpa menjawab pertanyaan Lanang Jagad.
Lanang Jagad segera sadar diri, itu artinya Kusuma Dewi tidak mau berbagi permasalahan hati kepadanya.
“Guru memanggil kita berdua ke pendapa,” jawab Lanang Jagad.
Terkejutlah Kusuma Dewi.
“Bukankah di sana ada Joko Tenang? Apa yang harus aku lakukan? Ataukah Joko Tenang sudah pergi?” tanyanya panik di dalam hati. “Tidak, tapi tadi Nini Rukiah mempersiapkan kamar untuk Joko Tenang dan ketiga istrinya.”
“Ayo!” ajak Lanang Jagad.
“Tapi aku….”
“Guru sudah tahu kau siapa!” tandas Lanang Jagad memotong perkataan Kusuma Dewi yang mencoba mencari alasan.
Mendeliklah Kusuma Dewi mendengarnya.
“Tidak mungkin lagi untuk tidak bertemu dengan Joko, tetapi… dia akan tahu aku adalah orang jahat…” pikir Kusuma Dewi. Lalu ia pun bangkit seraya berkata kepada dirinya sendiri, “Biarkan nasib menjadi bubur, biarkan raga berkalang kubur, biarkan cinta terpecah hancur!”
Kusuma Dewi berjalan melewati Lanang Jagad dengan wajah yang keras, sorot matanya tajam dan tangan kanannya kuat menggenggam gagang pedangnya. Lanang Jagad segera mengikuti.
__ADS_1
“Aku harap kau bisa menahan diri, Kusuma!” pesan Lanang Jagad.
“Apa pedulimu, Lanang? Jika kau tidak menolongku, mungkin aku sudah mati. Kau memang menolongku, tetapi kau justru membawaku masuk ke sarang musuh. Mati pun tidak mengapa!” kata Kusuma Dewi.
“Aku peduli karena aku me…” kata Lanang Jagad, tapi terputus, seolah ia berat berterus terang.
“Karena kau menyukaiku?” terka Kusuma Dewi sambil terus berjalan menuju pendapa, tempat tadi ia sempat melihat keberadaan Joko Tenang. “Apakah kau berani mengatakan itu di depan kekasihku?”
Mendelik bingung Lanang Jagad sambil mengiringi langkah gadis cantik itu.
“Kekasihmu? Siapa, Kusuma?” tanya Lanang Jagad tidak mengerti sekaligus tidak siap untuk mengerti.
Kusuma Dewi tidak menjawab. Ia terus berjalan cepat menuju ke pendapa. Lanang Jagad pun yang jadi gelisah sulit untuk mendesak.
Sementara itu, orang-orang di pendapa menunggu kedatangan Lanang Jagad dan Kusuma Dewi. Ranggasula sudah ada di sana lagi. Tadi ia hanya memanggil Lanang Jagad.
“Biar aku yang memanggil Kusuma Dewi, Guru,” kata Lanang Jagad menawarkan diri saat Ranggasula berniat pergi memanggil Kusuma Dewi. Karenanya, Ranggasula tidak pernah sampai ke kamar Kusuma Dewi.
Akhirnya Kusuma Dewi dan Lanang Jagad telah melihat pendapa yang mereka tuju. Keduanya cukup terkejut melihat keramaian di pendapa. Mereka melihat semua orang di sana memandang kepada kedatangan mereka, seolah keduanya memang sedang ditunggu-tunggu.
Pandangan Kusuma Dewi langsung terfokus kepada wajah Joko Tenang, pemuda yang bertahun-tahun ia tunggu kedatangannya atau ia harapkan bisa bertemu.
Jika Kusuma Dewi sudah tidak merasakan rasa indahnya pertemuan setelah kerinduan, maka Joko Tenang masih merasakan rasa desiran indah di hatinya ketika dari jauh sudah menangkap wajah cantik Kusuma Dewi. Masa-masa indah dan sedih bersama Kusuma Dewi di masa lalu, seketika terkenang kuat saat itu.
“Kusuma Dewi,” ucap Joko Tenang lirih seraya tersenyum dengan pandangan berbinar. Ketiga istrinya bisa mendengar ucapannya itu.
“Habisi begundal Kuda Biru itu!” teriak Kayuni Larasati tiba-tiba sambil berkelebat menghadang Kusuma Dewi dan Lanang Jagad yang sudah mendekati pendapa.
Sedetik kemudian, Surya Kasyara, Arya Permana dan Rara Sutri berkelebat pula dan mengepung posisi Kusuma Dewi dan Lanang Jagad.
Kusuma Dewi memasang kuda-kuda dan menyiapkan pedang yang sudah tegak berdiri di sisi wajahnya, sementara tatapannya tajam tetap fokus kepada Joko Tenang yang didampingi oleh ketiga wajah jelita istrinya.
Sebenarnya Kusuma Dewi terkejut dalam hati melihat keberadaan Reksa Dipa di pendapa itu, tetapi ia lebih fokus kepada Joko Tenang. Hatinya kembali terasa teriris-iris melihat pemuda yang ia klaim sebagai kekasihnya itu, didampingi oleh wanita-wanita lain yang kecantikannya tidak perlu ikut audisi lagi, langsung ke babak final.
“Tidak aku sangka kau bersembunyi di sini, Betina Liar!” hardik Kayuni Larasati, karena memang dialah yang memiliki permusuhan paling dalam dengan Kusuma Dewi.
Kusuma Dewi tidak membalas perkataan Kayuni Larasati. Joko Tenang jadi terkejut melihat kondisi Kusuma Dewi justru dikepung seperti menyergap penjahat.
Lanang Jagad pun jadi bingung.
__ADS_1
“Ada apa ini, Arya, Kayuni?!” tanya Lanang Jagad.
“Jelas karena dia adalah orang Gerombolan Kuda Biru!” jawab Kayuni lugas.
“Gerombolan Kuda Biru sudah menyerang Kadipaten tanpa ampun, maka sepantasnya pula dia merasakan hal yang sama!” kata Arya Permana.
“Aku pikir kau sudah mati oleh tendangan guruku, Kusuma!” kata Rara Sutri pula.
“Aku yang membawa Kusuma Dewi ke padepokan ini, jadi Kusuma Dewi dalam lindunganku! Jika kalian berani menyentuh sehelai rambutnya saja, aku tidak akan segan-segan!” teriak Lanang Jagad yang mulai terbawa suasana.
“Lanang Jagad! Sekian lama kau menyangkar di dalam Padepokan, sekali kau bertemu dengan siluman ini, kau langsung tersihir!” hardik Kayuni Larasati tidak surut sengitnya. Lalu teriaknya sambil merangsek maju menyerang Kusuma Dewi, “Tidak peduli siapa pun yang melindungimu! Hiaat!”
Tak tak! Wuut!
Sebelum serangan Kayuni sampai kepada Kusuma Dewi, Lanang Jagad lebih dulu bergerak menghadang Kayuni Larasati. Ia menangkis dua pukulan Kayuni Larasati lalu kibaskan tendangan bertenaga kuat. Kayuni Larasati mau tidak mau memilih melompat mundur menghindar.
“Hentikan!” teriak Lanang Jagad marah sambil memandangi keempat pengeroyok satu per satu.
“Dasar anak muda!” rutuk Tabib Rakitanjamu mengelus dada melihat apa yang terjadi.
“Para pendekar, tolong biarkan Kusuma Dewi!” seru Joko Tenang dari pendapa.
“Tidak, Pangeran! Dia adalah bagian dari Gerombolan Kuda Biru. Dia harus mati seperti anggota Kuda Biru yang lainnya!” tolak Arya Permana.
Mendelik samar Kusuma Dewi mendengar Joko Tenang disebut “Pangeran”.
“Pangeran? Apakah Joko seorang pangeran?” tanya Kusuma Dewi, tapi di dalam hati.
“Dia adalah kekasihku!” sahut Joko Tenang tanpa ragu.
Terkejutlah mereka semua yang belum tahu hubungan Joko Tenang dengan Kusuma Dewi.
Kusuma Dewi terkejut tapi gembira. Ia tidak menyangka bahwa Joko Tenang akan seberani itu menyebutnya sebagai kekasih di depan publik, padahal jelas-jelas identitasnya sebagai anggota Gerombolan Kuda Biru sudah terbongkar nyata. Namun, ia juga gembira. Ternyata Joko Tenang mengakuinya sebagai kekasih, yang artinya pemuda itu masih mencintainya.
Namun, berbeda bagi Lanang Jagad. Klaim Joko Tenang itu seolah adalah petir yang menyambar kakinya.
“Kusuma Dewi adalah kekasih pemuda beristri tiga itu?” ucap batin Lanang Jagad. Batinnya syok. Jika Joko Tenang masih lajang, mungkin ia bisa maklumi, artinya ia yang terlambat hadir di hati Kusuma Dewi. Namun ini, Joko Tenang sudah beristri tiga.
“Karena Kusuma Dewi adalah kekasihku, maka dia berada sepenuhnya di dalam perlindunganku!” seru Joko Tenang lagi. (RH)
__ADS_1