
*Arak Kahyangan*
Setelah penaklukan Kampung Penerus, Sulasih memimpin rombongan pembebas itu ke Lembah Gelap.
Lokasi Lembah Gelap tidak begitu jauh dari Kampung Penerus, ibarat dua daerah yang bertetanggaan.
Jalan masuk ke Lembah Gelap biasanya dijaga oleh 20 prajurit. Namun, karena ada pertarungan di Sumur Juara, hari itu hanya separuh penjaga yang berjaga. Jalan masuk itu berupa apitan dua tebing batu yang cukup lebar.
Sejenak rombongan yang dipimpin Bidadari Seruling Kubur dan dipandu oleh Sulasih itu mengintai dari tempat yang terlindung. Setelah memastikan kondisi di pos penjagaan jalan masuk ke Lembah Gelap, Nintari segera bertindak.
“Serang!” perintah Nintari.
“Seraaang!” teriak kedelapan lelaki yang bersama mereka lebih dulu sambil berlari bersama-sama menyerbu ke arah pos jaga.
Sepuluh prajurit wanita yang berjaga jadi terkejut dan langsung bersiaga menyambut serangan. Keterkejutan mereka bertambah ketika sosok Ginari dan Kembang Buangi melesat melayang di udara. Terlebih melihat Ginari yang bisa terbang seperti burung. Kelihaian yang dimiliki Ginari di udara membuat ia dijuluki Pendekar Tikus Langit.
Sebelum kedelapan lelaki itu menemui satu pun lawan, kesepuluh prajurit wanita Hutan Kabut lebih dulu bertumbangan oleh Ginari dan Kembang Buangi.
“Hebaaat!” sorak mereka memuji dua pendekar wanita itu.
Sementara Nintari dan Sulasih telah berkelebat masuk menuju ke Lembah Gelap.
Lembah Gelap adalah daerah pertambangan emas. Maka yang mereka temukan adalah daerah berbatu yang dikelilingi oleh tebing batu. Ada banyak lubang-lubang besar yang berjurang. Ketika mereka masuk saja, mereka sudah bisa melihat para lelaki tidak berbaju bekerja keras. Tangan dan kaki mereka diberi belenggu rantai yang longgar tapi membatasi gerakan. Di leher-leher mereka pun ada tali sinar merah yang membuat mereka hanya bisa memakai tanaga fisik alami tanpa bisa mengeluarkan tenaga dalam. Terlihat pula sejumlah anak laki-laki bekerja dengan pekerjaan yang lebih ringan. Berbeda dengan kaum dewasa, mereka tidak dibelenggu rantai atau dilemahkan dengan Tali Pemupus di leher.
Para pekerja yang berkeringat itu mengangkut bebatuan yang harus dipikul dengan keranjang rotan. Medan berbatu yang tidak rata membuat mereka tidak bisa memakai gerobak. Ada pula yang bekerja menghancurkan batu dari yang besar menjadi kecil-kecil, dari yang kecil-kecil menjadi serbuk. Keranjang-keranjang berisi bebatuan juga bergerak menggunakan alat mengerek, baik dari bawah ke atas dan dari satu tebing ke tebing lain. Ada pula beberapa aliran air yang digerakkan oleh kincir kayu besar. Di pinggiran aliran air bekerja para lelaki yang berusaha mendulang emas dari serbuk batu.
Pecahan-pecahan batu di angkut dari dalam lorong-lorong batu yang ada di bawah. Pecahan-pecahan batu itu diambil di dasar lembah yang dalam lagi gelap, cukup jauh di dalam bumi batu itu. Di daerah permukaan adalah bagian penghancuran ke dalam bentuk yang lebih halus, lalu akan dimasukkan ke dalam tungku-tungku api khusus untuk memisahkan emas dari bebatuan.
Tampak banyak wanita-wanita berpakaian putih berbekal pedang di pinggang dan cambuk di tangan, Cambuk itu berfungsi untuk melecut pekerja yang terlihat malas bekerja. Mereka tersebar di titik-titik tempat para pekerja berkumpul melakukan tugasnya.
Nintari, Ginari, Kembang Buangi, dan Sulasih langsung berinisiatif menyerang para prajurit wanita yang mereka temui. Kedelapan lelaki juga ikut memberikan serangan.
Satu per satu prajurit wanita dilumpuhkan, bahkan dibunuh. Pertarungan yang terjadi di area atas membuat para prajurit wanita Hutan Kabut yang ada di bawah dan tempat lainnya segera berlari menuju atas untuk membantu.
Nintari berkelebat di udara dan mendarat di jalan sempit yang kanan dan kirinya jurang berbatu. Di sana dia menghadang lari tiga prajurit.
“Hiaat!” pekik tiga prajurit wanita bersama-sama menyerang Nintari dengan pedang terhunus.
Namun, dengan kaki kanan menghentak ke bumi, Nintari melepas satu gelombang tenaga dalam dari tubuhnya. Ketiga prajurit wanita itu terdorong bersama hingga hilang keseimbangan tubuh. Ketiganya bersama-sama pula jatuh ke bawah dan menabrak bebatuan hingga tewas serempak.
“Hei, para lelaki! Hari ini adalah kebebasan kalian sebagai budak! Lakukan perlawanan!” teriak Nintari yang mengandung tenaga dalam tinggi, sehingga suaranya menggema keras ke seantero lembah berbatu itu.
Seruan itu mengejutkan para pekerja. Mereka seketika berhenti bekerja dan melihat apa yang sedang terjadi. Mereka dapat melihat terjadinya pertarungan di sisi atas lembah. Melihat para prajurit Hutan Kabut bertumbangan, sekelompok pekerja segera menghempaskan alat kerja mereka. Lalu mereka bersama-sama berlari menyerbu prajurit wanita yang masih berjaga di dekat mereka.
Tindakan itu kemudian diikuti oleh pekerja lain yang tersebar di lembah. Anak-anak remaja lelaki juga turut serta berlari.
“Siapa yang berani memberontak?!” teriak satu suara wanita yang membahana keras.
Seiring itu, dari dalam bangunan rumah kayu berkelebat cepat di udara satu sosok berpakaian putih yang langsung menyerang Nintari.
Ctas!
Satu lecutan cemeti sinar merah menyerang Nintari. Gesit Nintari melompat mengelak. Kini, dua wanita saling berhadapan di atas jalan batu yang sempit itu. Nintari yang bertubuh mungil harus berhadapan dengan seorang wanita bertubuh tinggi besar. Nintari hanya setinggi dada wanita yang bernama Dewika itu. Ia adalah Kepala Lembah Gelap.
“Siapa kau yang berani menyerang Lembah Gelap?” tanya Dewika dengan mata mendelik.
__ADS_1
“Aku adalah utusan Dewa Kematian!” jawab Nintari lalu melesat cepat ke depan.
Dewika yang pada faktanya kalah tingkat kesaktian dengan Bidadari Seruling Kubur, mendelik melihat kecepatan tubuh Nintari. Dengan langkah mundur kelabakan, Dewika menangkis semua serangan Nintari yang mendesak.
Hingga akhirnya Dewika memilih melompat mundur sambil lecutkan cemetinya. Nintari cepat melenting ke udara menghindari ujung cemeti sinar merah.
Begg! Wezz!
Ketika Nintari kembali mendarat di tanah batu, dua aliran sinar hijau langsung melesat dari bawah telapak kaki Nintari. Dua sinar itu menjalar cepat di permukaan tanah batu ke arah Dewika.
Dewika buru-buru melompat tinggi menyelamatkan kakinya dari sinar menjalar itu.
Zerzrzz!
“Aakh!” pekik Dewika tinggi di udara.
Ternyata, cara kerja sinar dari ilmu Jalar Kematian adalah ketika ujungnya sampai di bawah posisi tubuh lawan, dia melesat naik dan menyetrum lawan di udara. Karenanya, tubuh Dewika sejenak terdiam di udara karena tersetrum oleh dua sinar hijau yang merambat di seluruh tubuhnya.
Blegk!
Tubuh Dewika jatuh berdebam tanpa gerak lagi. Tubuhnya hangus menyebarkan bau sangit.
Kematian Dewika membuat semua tali sinar merah yang menjerat leher para pekerja tambang di lembah batu itu hilang dengan sendirinya. Tali Pemupus di leher-leher para pekerja adalah miiliknya. Kematiannya membuat Tali Pemupus hilang dengan sendirinya di leher-leher para pekerja.
“Kita bebas! Seraaang!” teriak seorang pekerja yang semangat perlawanannya memuncak saat merasakan Tali Pemupus di lehernya lenyap. Seketika tenaga dalamnya bisa ia munculkan kembali. Dia langsung berkelebat menyerang seorang prajurit wanita dan membunuhnya dengan sekali pukul bertenaga dalam.
Para lelaki lain yang memiliki kesaktian, segera pula beraksi.
Bangkitnya para pekerja tambang untuk melawan membuat kondisi dengan cepat dikendalikan. Para prajurit wanita Hutan Kabut dengan cepat dibasmi.
Tidak hanya di area luar, di dalam lorong-lorong gelap di perut bumi juga terjadi perlawanan dari para pekerja. Hilangnya Tali Pemupus di leher mereka dijadikan kesempatan untuk melawan dan mengeroyok para prajurit yang jumlahnya lebih sedikit.
“Seraaang!”
Suara teriakan ratusan lelaki yang keluar dari lubang-lubang batu penambangan mengejutkan Nintari, Ginari dan Kembang Buangi. Sejenak mereka pusatkan perhatian ke mulut-mulut lubang batu yang gelap.
Tidak berapa lama, ratusan lelaki tua dan muda muncul berlarian keluar dari lubang-lubang dengan penuh semangat bercampur kemarahan. Namun, mereka tiba-tiba berhenti setelah menyaksikan suasana lembah. Mereka menyaksikan kemenangan telah tercipta di lembah itu.
“Kita bebas!” teriak seorang pemimpin pekerja kepada para pekerja yang baru keluar melihat cahaya matahari.
“Kita bebas!” sorak mereka serentak penuh rasa kemenangan.
“Turuuung!” teriak Sulasih kencang memanggil satu nama. Sejak tadi ia belum menemukan anak yang dicarinya.
“Ibuuu!” teriak seorang anak remaja menyahut. Ia keluar dari balik tubuh para lelaki dewasa. Remaja tidak berbaju itu cepat berlari sambil menangis menanjaki jalan berbatu untuk sampai kepada ibunya, Sulasih.
“Turuuung!” panggil Sulasih seraya menangis haru. Ia lalu berkelebat turun untuk menyambut kedatangan anaknya.
Pada satu titik, ibu dan anak itu bertemu. Mereka saling berpelukan dan melepas tangis haru, setelah mereka dipisahkan selama tiga tahun.
Keresahan tampak terlihat di wajah dan sikap Kembang Buangi. Pandangannya sejak tadi memandang ke sana dan ke mari. Ia mencari sosok dan wajah pemuda yang dicintainya, tetapi belum jua ia temukan.
“Kakang Hujabayat!”
Kembang Buangi akhirnya berteriak memanggil. Namun, tidak ada seorang pun yang menjawab panggilan Kembang Buangi. Gadis itu kerutkan kening dan jadi penasaran.
__ADS_1
“Kakang Hujabayat!” teriak Kembang lagi, seraya pandangannya menyapu kepada kumpulan laki-laki yang ada di lembah itu.
Namun, lagi-lagi tidak ada suara yang menyambut panggilan itu.
“Apakah Hujabayat tidak berada di sini?” tanya Ginari kepada Kembang Buangi yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban.
“Mungkin,” kata Kembang Buangi bernada lemas.
“Hai, para lelaki!” seru Nintari dengan suara yang bertenaga dalam. Ia berdiri di jalan yang tinggi, sehingga para pekerja harus memandang ke atas kepadanya. “Bersiaplah membentuk pasukan!”
“Hei! Siapa kau!” teriak seorang lelaki bertubuh kekar berkeringat. Usianya berkisar 50 tahun. Rambutnya gondrong diikat di belakang. Ia adalah tokoh para pekerja di Lembah Gelap itu. Namanya Badak Jawara.
“Aku Bidadari Seruling Kubur, orang yang memimpin penyerbuan dan pembebasan ini. Jika kalian ingin benar-benar bebas, kalian harus menyerbu Kerajaan Hutan Kabut!” seru Nintari.
“Tidak! Kami tidak mau diperbudak lagi di bawah perintahmu!” seru Badak Jawara.
“Dasar lelaki tidak tahu diuntung!” umpat Nintari.
“Kau harus lebih dulu mengalahkanku, baru aku tunduk!” teriak Badak Jawara lalu berlari mendaki dan kemudian melompat sekali lompat lalu mendarat tepat di hadapan Nintari.
Lelaki model seperti ini yang bisa memancing kemarahan Nintari. Karenanya, Nintari tidak mau berlama-lama meladeni Badak Jawara.
Nintari melakukan lompatan kilat. Satu tinju bertenaga dalam tinggi langsung mengincar dada Badak Jawara. Kecepatan lompat Nintari yang bertubuh kecil membuat Badak Jawara terbelalak kaget. Akhirnya ia hanya bisa menamengi dirinya dengan silangan lengannya di depan dada. Tenaga dalam ia kerahkan.
Bug! Krak!
“Akk!”
Tinju Nintari menghantam batang tangan Badak Jawara. Kuatnya tinju itu membuat tulang hasta kanan Badak Jawara patah. Seiring itu, Badak Jawara terpental ke belakang lalu jatuh di pinggir jalan batu tersebut. Namun, tangan kiri Badak Jawara masih sanggup berpegangan pada bibir jalan batu itu.
Nintari melangkah menghampiri posisi Badak Jawara.
“Kau mau tunduk atau mati ke bawah?” tanya Nintari menawarkan.
“Aku mau tunduk!” teriak Badak Jawara sambil mencoba bertahan agar tidak jatuh ke bawah.
“Bagus!” puji Nintari lalu berbalik dan memandang kepada ratusan kaum lelaki yang berkumpul di sisi bawah.
Dua orang lelaki segera berkelebat naik ke jalan lalu berlari mendapati tangan kiri Badak Jawara. Keduanya membantu Badak Jawara dengan menariknya naik.
“Siapa namamu?” tanya Nintari kepada Badak Jawara setelah berhasil dinaikkan.
“Badak Jawara. Aku bekas komandan prajurit di Kerajaan Tabir Angin,” jawab Badak Jawara.
“Ratu Getara Cinta pasti menduga kau telah mati,” kata Nintari. “Kau atur pasukan menjadi beberapa kelompok, lalu ikut kami menyerang ke Hutan Kabut!”
“Baik, Pendekar!” ucap Badak Jawara patuh, kesombongannya telah takluk.
Sulasih bersama putranya yang bernama Turung datang menghampiri Nintari.
“Aku akan kembali ke Kampung Penerus untuk membentuk pasukan di sana lalu pergi menyusul ke kerajaan,” ujar Sulasih.
“Baiklah. Biarkan Ginari bersamamu,” kata Nintari. Ia lalu ia berkelebat ke posisi Ginari dan Kembang Buangi berada. Ia lalu bertanya kepada Kembang Buangi, “Bagaimana dengan kekasihmu?”
“Dia tidak ada di sini.”
__ADS_1
“Berarti tinggal istana Hutan Kabut yang harus kau periksa,” kata Nintari. Lalu katanya kepada Ginari, “Aku memintamu untuk bersama Sulasih.”
“Baik.” (RH)