
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
“Awalnya Joko berniat menikahi kedua calon istrinya di kediaman Setan Genggam Jiwa, tetapi ditunda karena ada tugas penting yang harus Joko segera selesaikan. Seseorang telah mencuri pusaka Setan Genggam Jiwa dan menyerangnya dari belakang, membuat Setan Genggam Jiwa musnah seluruh kesaktiannya,” tutur Helai Sejengkal yang kini berjalan bersama Kerling Sukma, Sobenta dan Robenta.
“Apa? Setan Genggam Jiwa kehilangan seluruh kesaktiannya?” kejut Robenta.
“Benar,” tandas Helai Sejengkal yang sudah dibebaskan dari semua totokannya.
“Apakah kau mengenal kedua calon istri Joko?” Kerling Sukma lebih tertarik membahas tentang calon istri Joko.
“Getara Cinta dan Tirana. Getara Cinta usianya jauh lebih tua dari Tirana, mungkin sekitar empat puluh tahun. Dia seorang ratu dan sangat cantik, tetapi dia meninggalkan keratuannya demi menikah dengan Joko….”
“Seorang ratu yang rela meninggalkan kerajaannya hanya untuk menikah dengan Joko?” ucap ulang Kerling Sukma seakan tidak percaya. “Bagaimana kau melihat hubungan antara Getara Cinta dengan Tirana?”
“Sangat akrab, seperti kakak dan adik. Mereka bahagia. Tirana bahkan menawariku untuk menjadi istrinya Joko, tapi aku menolaknya karena aku memiliki racun. Joko juga menceritakan tentangmu kepada kami. Hanya dia ragu, apakah kau masih mau menikah dengannya atau tidak, jika kau tahu bahwa Joko sudah memiliki banyak istri,” kata Helai Sejengkal, memceritakan apa yang ia dapat selama bersama Joko Tenang, Getara Cinta dan Tirana.
Kerling Sukma terdiam dalam langkahnya. Sementara ia tidak mengomentari cerita Helai Sejengkal. Pikirannya berkecamuk hebat dalam pandangan kosong yang lurus ke depan.
Karena tidak mendengar Kerling Sukma berbicara lagi menanggapi ceerita Helai Sejengkal, Sobenta dan Robenta jadi menengok memandangi adik seperguruan mereka. Tergurat jelas bahwa Kerling Sukma sedang berpikir keras.
“Adik Sukma, jika kau memang tidak bisa berbagi cinta, lebih baik lupakan Joko yang mata keranjang itu. Masih banyak pemuda yang setia dengan satu wanita, tinggal masalah waktu kau bertemu dengan jodohmu. Selama ini kau kan jarang keluar. Jangankan seorang pendekar, seorang pangeran kerajaan saja bisa bertekuk lutut jika melihat kecantikanmu,” ujar Robenta.
“Joko adalah nyawaku dan dia milikku!” tegas Kerling Sukma.
“Adik Sukma, jika kau sudi berbagi cinta dengan istri-istri Joko, apakah kau juga sudi berbagi dengan Kumala Rimbayu?” tanya Sobenta sambil tersenyum berharap.
“Kakang Sobenta, bukankah Guru sudah memmerintahkanmu untuk berhenti beurusan dengan Joko?” hardik Robenta.
“Apakah Joko mengatakan ia mau pergi ke mana bersama calon istrinya?” tanya Kerling Sukma kepada Helai Sejengkal, tanpa mengindahkan kakak seperguruannya.
“Ke kediaman Nyi Lampingiwa,” jawab Helai Sejengkal. “Sebelum kami bertemu dengan kalian, kami berencana pergi ke kediaman Nyi Lampingiwa.”
“Apakah kau tahu di mana kediaman Nyi Lampingiwa, Helai?” tanya Kerling Sukma.
“Aku tahu. Jika kau ingin ke sana, aku bersedia mengantarmu,” kata Helai Sejengkal. Lalu katanya kepada Sobenta dan Robenta, “Kalian tentu tahu kediaman guruku.”
“Baiklah. Biar aku dan Robenta pergi ke kediaman Nenek Haus Darah. Kalian pergilah ke kediaman Nyi Lampingiwa,” kata Sobenta.
“Ayo kita ke arah timur, Sukma!” ajak Helai Sejengkal.
“Jaga dirimu, Adik Sukma!” pesan Sobenta.
__ADS_1
“Kakang berdua juga,” kata Kerling Sukma pula.
Sobenta dan Robenta mengangguk seraya tersenyum.
Akhirnya mereka berpisah. Sobenta dan Robenta pergi ke kediaman Nenek Haus Darah yang merupakan guru Helai Sejengkal, sementara Kerling Sukma dan Helai Sejengkal pergi ke timur bermaksud ke kediaman Nyi Lampingiwa, guru Hujabayat.
“Ketika Tirana tahu tentangmu, ia mengatakan bahwa ia berharap bisa bersatu cinta bersamamu,” kata Helai Sejengkal saat dalam perjalanannya bersama Kerling Sukma.
“Aku jadi penasaran dengan gadis yang bernama Tirana itu. Apakah dia orang di balik kondisi Joko saat ini? Dari ceritamu, aku menyimpulkan bahwa ia begitu mudah menawarkan Joko kepada wanita lain,” kata Kerling Sukma.
“Aku sebenarnya iri dengan kemesraan kedua calon istri Joko. Seolah-olah mereka tidak memiliki masalah sedikit pun harus berbagi lelaki,” kata Helai Sejengkal.
“Jika mereka tidak masalah berbagi lelaki, apakah aku menjadi buruk jika mempermasalahkan Joko membagi dirinya dengan banyak wanita?” tanya Kerling Sukma.
“Aku tidak bisa menilainya, Sukma,” kata Helai Sejengkal.
“Setiap hendak memejamkan mata, aku selalu memeliharanya dalam rinduku, hayalku, dan harapanku, agar cintaku tidak terkikis oleh waktu. Namun, sungguh tidak aku sangka, ternyata kumbang yang aku lepas memilih hinggap di bunga-bunga yang lain. Apakah aku yang terlalu bodoh begitu percaya kepadanya?” tutur Kerling Sukma.
“Tirana bercerita kepadaku bahwa Joko baru saja kehilangan calon istrinya yang lain, yaitu murid Setan Genggam Jiwa,” kata Helai Sejengkal.
“Apakah muridnya Setan Genggam Jiwa mati?”
“Ya. Jika aku tidak salah menilai, Setan Genggam Jiwa tidak menunjukkan penentangan terhadap kondisi Joko yang datang membawa dua calon istri di saat ia membawa berita duka pula. Bahkan pernikahan akan dilaksanakan di kediaman Setan Genggam Jiwa.”
“Apa?” kali ini yang terkejut adalah Helai Sejengkal.
“Kata Guru, Joko adalah cicit Dewa Kematian dan dia akan seperti Dewa Kematian. Kata Guru, Dewa Kematian memiliki delapan istri,” tambah Kerling Sukma.
“Jika dilihat gelagatnya, mungkin bisa benar,” kata Helai Sejengkal. “Jika aku tidak mengidap racun, mungkin aku tidak akan menolak menjadi selir seorang pemuda setampan Joko Tenang, asalkan aku mendapatkan cintanya.”
“Sebenarnya racun apa yang ada di dalam tubuhmu, Helai?” tanya Kerling Sukma.
“Racun Naga Es, akan bereaksi jika aku kelelahan. Obatnya hanya ludah perjaka. Jika aku menikah dengan Joko, maka ludah Joko nanti tidak bisa menjadi obat bagiku. Tidak mungkin aku mencari ludah lelaki lain yang masih perjaka di saat aku menjadi istri Joko,” jelas Helai Sejengkal.
“Apakah racunmu tidak bisa dihilangkan?” tanya Kerling Sukma.
“Setahuku tidak, tapi entahlah,” jawab Helai Sejengkal.
“Siapa yang memberikan racun itu?”
“Guruku.”
__ADS_1
“Apa?” kejut Kerling Sukma.
“Guruku menginginkan cucu dariku. Dia meracuniku agar aku suatu saat diperkosa oleh seorang perjaka dan hamil….”
“Guru macam apa sebenarnya gurumu itu?!” tanya Kerling Sukma jadi naik pitam.
“Nasibku. Aku juga tidak bisa melawan. Sejak bayi aku diasuh olehnya,” kata Helai Sejengkal. Lalu ia mengalihkan topik pembicaraan kembali tentang Joko. “Oh ya, apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan Joko?”
“Aku akan mengejar dan memukulnya karena sudah membuatku menangis!” jawab Kerling Sukma mantap.
“Aku lupa mengatakan bahwa Joko sudah punya seorang istri,” ujar Helai Sejengkal.
“Apa?!” pekik Kerling Sukma lebih kencang.
Gadis jelita bermata hijau itu berhenti berjalan. Ia terdiam sambil mengulum kedua bibirnya ke dalam mulut dan menekannya. Ia kemudian turun berjongkok dengan sepasang mata yang berkaca-kaca. Ia menepuk-nepuk pelan dada atasnya, berusaha menahan rasa sakit di hatinya dan tsunami kesedihan di dalam pikirannya.
“Kau jangan mengedepankan tangismu. Kau harus menemui Joko dan menanyakan.”
Pesan Dewi Mata Hati tiba-tiba terngiang di dalam benak Kerling Sukma.
Kerling Sukma segera menyeka air matanya yang sudah sebulir jatuh di pipi halusnya.
“Iya, Guru. Aku tidak akan mengedepankan tangisku,” ucapnya lirih kepada dirinya sendiri. Ia kembali bangkit berdiri. Lalu katanya kepada Helai Sejengkal, “Kita lanjutkan perjalanan.”
“Baiknya kita bergegas agar kita tidak kesorean tiba di kediaman Nyi Lampingiwa,” kata Helai Sejengkal.
“Kau duluan,” kata Kerling Sukma.
Maka Helai Sejengkal melesat berlari lebih dulu. Ia menggunakan ilmu peringan tubuhnya. Kerling Sukma yang memiliki kesaktian jauh di atas Helai Sejengkal mampu dengan mudah mengimbangi lari teman barunya itu.
Hingga akhirnya mereka tiba di kaki sebuah bukit.
“Kediaman Nyi Lampingiwa ada di atas bukit ini,” kata Helai Sejengkal kepada Kerling Sukma.
Namun, belum lagi mereka berkelebat naik ke punggung bukit, tiba-tiba ….
“Helai!”
Satu suara lelaki tiba-tiba memanggil dari arah belakang.
“Seperti suara Joko,” ucap Helai Sejengkal kepada Kerling Sukma.
__ADS_1
Deg!
Terkejutlah Kerling Sukma dengan jantung tiba-tiba berdebar kencang dan darah mengalir cepat, seolah menjadi titik kritis bagi perasaannya. Ketika Helai Sejengkal cepat berbalik, Kerling Sukma tiba-tiba terpaku, seolah tidak sanggup untuk berbalik ke belakang. (RH)