Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Pusesa 4: Ludah Perjaka


__ADS_3

*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*


“Sebelum kerajaan terpecah menjadi dua, Paman Kunsa Pari adalah pejabat menengah di Rimba Berbatu. Namun kemudian dia memilih pergi dan menjadi orang dunia persilatan. Saat itu aku masih kecil, tapi dia bisa mengenaliku,” tutur Getara Cinta ketika Joko Tenang bertanya.


“Setidaknya Guru tidak perlu banyak mempertanyakan tentang calon istriku jika ia sudah mengenalnya,” kata Joko Tenang.


“Kakang, malam semakin gelap. Sebaiknya kita bermalam dan beristrahat,” kata Tirana.


“Iya, Kakang. Kecuali Kakang ingin cepat-cepat menikahi Tirana,” kata Getara Cinta.


“Hihihi!” tertawa Tirana mendengar perkataan  calon madunya itu. Lalu katanya, “Sebenarnya aku ingin Ratu Getara yang lebih dulu menikah dengan Kakang sebagai calon istri yang tertua. Namun apalah daya, amanah pertama untuk melemahkan Kakang diberikan kepadaku.”


“Dasar Tirana!” rutuk Getara Cinta, tapi tersenyum lebar sambil tangan kirinnya merangkul leher Tirana.


Tirana hanya tertawa dicandai seperti itu oleh Getara Cinta.


“Di tengah sawah itu ada dangau. Kita istirahat di sana,” kata Joko yang bisa menangkap keberadaan dangau di tengah sawah yang gelap.


Getara dan Tirana mencoba melihat keberadaan dangau di tengah sawah. Mereka masih bisa melihatnya dengan bantuan cahaya langit malam yang belum begitu gelap.


Ketiganya lalu berkelebat ke tengah sawah, tempat sebuah dangau berdiri. Di dekat dangau ada sebuah kolam tanah kecil. Gemericik aliran air dari tempat tinggi ke tanah rendah menjadi musik malam bagi katak yang menguak bersahutan, yang kata orang dulu minta turun hujan.


“Kalian beristirahatlah, aku akan pergi mencari panganan,” kata Joko.


“Aku temani, Kakang!” kata Tirana cepat.


“Tidak usah, temanilah kakakmu,” kata Joko seraya tersenyum.


“Baiklah, Kakang. Hati-hati,” ucap Tirana tersenyum.


Joko Tenang lalu berkelebat pergi untuk berburu malam. Sementara Tirana mencoba mengumpulkan kayu yang bisa ia temukan di sekitar dangau. Sulit mencari ranting di tengah sawah.


Bdak!


Terkejut Getara Cinta mendengar suara patahan kayu itu, hingga mengguncang dangau yang sedang ia duduki.


“Maafkan aku, Ratu,” ucap Tirana seraya tertawa kecil. Ia tidak memikirkan sebelumnya bahwa Getara akat terkejut dengan ulahnya yang mematahkan ujung kayu dangau yang berlebih.


Getara hanya tersenyum. Ia berusaha menikmati kehidupan barunya yang sangat bertolak belakang saat menjadi seorang ratu di Kerajaan Tabir Angin. Dulu, hal sekecil apa pun akan dilakukan oleh para dayang. Namun kini, tak ada seorang pun dayang, kecuali seorang Tirana, calon istri pertama Joko.


“Aku bersedia melayani Ratu setiap hari,” kata Tirana pada saat mereka berdua berada di atas punggung rajawali.


“Tidak perlu, aku bukan ratu lagi. Aku harus melepas semua kemanjaan statusku dan beralih sebagai istri seorang pendekar,” kata Getara Cinta.

__ADS_1


Tidak mudah berburu malam di daerah pinggiran desa. Sulit menemukan hewan liar seperti yang ada di hutan. Joko akhirnya mengincar kebun pisang milik warga. Mengambil pisang sedikit untuk orang kelaparan mungkin tidak apa-apa, pikirnya. Padahal saat ini ia dan kedua gadisnya tidak dalam kondisi kelaparan.


Namun, ketika sedang mencari-cari di antara pepohonan pisang, tiba-tiba Joko mendengar suara seperti orang kedinginan. Setelah ia lebih teliti lagi, suara itu seperti suara perempuan.


“Huh huh huh...!”


Suara itu jelas terdengar gemetar.


Seketika Joko Tenang teringat dengan Suci Sari, adik Arjuna Tandang. Ia teringat kepada gadis yang dibuang di kebun pisang. Namun, gadis itu sudah mati di tangan Dewi Bayang Kematian.


“Ah, aku jadi teringat Dewi,” rutuk Joko kepada dirinya sendiri. Gadis itu memang sulit untuk dilupakan. Dalam gelapnya kebun pisang itu, Joko tersenyum sendiri. Diam-diam ia pegang area bawah perutnya. Oh, ternyata aman, mungkin karena sudah malam.


Joko kembali serius mendengarkan suara menggigil itu. Asalnya dari sisi sebelah kirinya.


Joko memungut pelepah daun pisang kering.


Blep!


Pelepah itu ia tegakkan lalu membakar atasnya dengan tenaga api. Joko Tenang lebih bisa melihat keadaan sekitarnya.


Joko Tenang melangkah perlahan mendekati sumber suara. Tidak berapa lama, ia menemukan seorang berambut pendek meringkuk seperti udang rebus memeluk tubuhnya sendiri. Orang berpakaian kuning itu menggigil hebat, hingga terdengar getaran giginya yang beradu.  


Joko Tenang lebih mengulurkan obor daruratnya untuk memperjelas apa yang ditemukannya.


Terlihat bahwa pakaian kuningnya basah oleh keringat yang membanjir.


“Nisanak!” panggil Joko Tenang pelan.


Mendengar ada suara lelaki yang memanggil, perempuan yang meringkuk itu cepat mengeluarkan wajahnya, mendongak melihat siapa adanya yang datang.


Maka terlihatlah oleh Joko Tenang, seorang wanita muda lagi cantik berwajah imut, tapi pucat. Wajah itu basah oleh keringat, mengerenyit menahan rasa dingin yang begitu menusuk. Bibirnya berwarna kuning gelap.


Dari warna bibir itu, Joko Tenang bisa menyimpulkan bahwa wanita itu sedang keracunan.


“Kisanak, apakah kau keracunan?” tanya Joko Tenang.


“Kisanak, tolong aku. Tolong peluk aku, aku sangat kedinginan!” ucap wanita itu dengan suara yang sangat bergetar karena pengaruh dingin yang begitu kuat.


“Apa? Peluk?” ucap ulang Joko seraya mendelik.


“Peluk aku, Kisanak. Tolong aku. Dingin ini begitu menyiksaku!” ucap wanita itu lagi.


“Aku tidak bisa memelukmu, aku ini lelaki, Nisanak. Biar aku coba untuk mengeluarkan racunmu. Bersabarlah!” kata Joko.

__ADS_1


“Tidak apa-apa kau lelaki. Tolong peluk aku, Kisanak!” kata perempuan itu, masih meringkuk dengan dalam seperti kucing tidur kedinginan.


Joko lalu meletakkan obor pelepahnya ke tanah yang kosong di antara tetumbuhan pohon pisang.


“Diamlah, jangan bergerak. Aku akan mencoba mengeluarkan racunmu!” kata Joko.


“Tidak akan bisa. Peluk aku saja, biar aku tidak kedinginan,” kata perempuan itu lagi.


Namun, Joko tidak mengindahkannya lagi. Ia telah memejamkan matanya.


“Anak kucing sekarat keracunan! Anak kucing sekarat keracunan! Anak kucing sekarat keracunan!” rapal Joko Tenang mulai menciptakan ilustrasi di dalam kepalanya, yaitu seekor anak kucing yang sedang keracunan. Entah seperti apa gambaran yang tercipta di dalam mata pikiran Joko.


“Hei! Apa yang kau lakukan, Kisanak?” tanya perempuan itu lemah. Ia semakin meringkuk. “Hei! Aku bukan anak kucing.”


“Anak kucing sekarat keracunan! Anak kucing sekarat keracunan! Anak kucing sekarat keracunan!” rapal Joko tanpa henti, tanpa mempedulikan perkataan perempuan itu.


Akhirnya si wanita pun tidak mempedulikan ulah Joko Tenang, ia lebih memilih mencoba bertahan dalam kedinginan, padahal cuaca tidak begitu dingin, hanya dingin angin malam.


“Anak kucing sekarat keracunan! Anak kucing sekarat keracunan! Anak kucing sekarat keracunan!” rapal Joko Tenang sambil maju dan menyentuhkan telapak tangan kanannya yang sudah dialiri tenaga dalam ilmu Serap Luka.


Joko Tenang mulai mendeteksi racun yang ada di dalam tubuh perempuan itu, sementara bibirnya terus merapal tanpa jeda waktu.


“Peluk aku!” ucap perempuan cantik itu sambil tiba-tiba kedua tangannya menangkap leher Joko dengan ganas.


Buyarlah rapalan dan imajinasi anak kucing Joko. Ia terkejut bukan main karena wanita itu menerkamnya seperti hewan buas. Perempuan itu seolah binatang pemburu yang diam meringkuk menggigil, ketika mangsa mendekat, ia langsung menerkam.


Seperti itulah Joko saat ini, seperti mangsa yang disergap tiba-tiba.


Namun, Joko disergap bukan untuk dicakar atau digigit dagingnya, tetapi untuk dipeluk. Dalam waktu hitungan detik, Joko Tenang sudah terkunci di dalam pelukan perempuan itu.


Ketika ilustrasi di dalam kepalanya buyar, Joko awalnya mencoba melompat mundur, tetapi pegangan tangan perempuan itu begitu kencang. Akhirnya Joko terlebih dulu lemah tidak berdaya. Maka, dengan bebasnya perempuan itu memasukkan Joko dalam pelukannya, bukan dia yang dipeluk Joko.


Ternyata, setelah beberapa saat, hal yang lebih “buruk” dialami Joko Tenang.


Seiring gigilan ditubuhnya hilang, perempuan itu justru menghajar bibir merah Joko dengan bibirnya. Joko hanya mendelik dalam ketidakberdayaan. Ia dinodai oleh seorang wanita asing.


Ternyata lagi, tidak sekedar mencium saja, tetapi perempuan itu berusaha mendapatkan sesuatu dari dalam mulut Joko.


Srep!


Terdengar suara benda cair disedot.


“Akhirnya aku dapat ludah perjaka,” ucap wanita itu sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Joko. Ia mulai melepaskan pelukannya terhadap Joko yang hanya bisa terkulai tidak berdaya. (RH)

__ADS_1


 


__ADS_2