Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
131. Harga Diri Puspa


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Meski sudah tidak sabar untuk pergi menyusul sang calon suami, Tirana tetap harus menunaikan janjinya kepada Zhao Lii. Tirana pun harus lebih membujuk Puspa agar mau didandani lebih rapi dan cantik.


Sebagai juru bahasa, Su Ntai pun harus ikut agar komunikasi bisa berjalan baik dan tidak mengandalkan bahasa isyarat versi liar.


Tirana, Puspa, Zhao Lii, dan Su Ntai memasuki Istana. Mereka dijamu di sebuah ruangan yang besar, megah lagi luas.


“Satu yang kutunggu, dua yang datang,” ucap Kaisar Young Tua lirih. Wajahnya sumringah seraya menatap tajam pada kecantikan jelita


Tirana dan Puspa.


Saat itu, Kaisar Young Tua didampingi oleh Tangan Kanan Kaisar, Young Tan. Sementara Dao Lushan berdiri di belakangnya. Penempatan prajurit di ruangan itu tergolong banyak untuk acara jamuan makan saja. Hal itu tidak lepas dari kesiagaan sang kaisar baru, terlebih menurut Zhao Lii bahwa


kedua wanita asing itu sangat berbahaya.


“Hahaha! Selamat datang, selamat datang!” seru Kaisar Young Tua dengan ramah.


“Hormat hamba, Yang Mulia Kaisar,” ucap Zhao Lii sambil turun berlutut.


Tirana dan Su Ntai juga turun berlutut. Namun, tidak bagi Puspa. Ia tetap berdiri memandang tajam kepada sang kaisar.


Sikap Puspa itu seketika memicu reaksi Young Tan dan Dao Lushan. Sementara Kaisar Young Tua menahan marahnya di balik senyum ramahnya.


“Puspa, berlututlah!” kata Tirana setengah berbisik.


“Kenapa Puspa harus berlutut?” tanya Puspa tanpa mengindahkan ekspresi dua orang di dekat sang kaisar muda.


“Lancang!” teriak Young Tan.


“Maafkan, Yang Mulia. Puspa selama ini tinggal di hutan, jadi ia tidak mengerti tata krama,” ucap Tirana.


Su Ntai yang masih dalam posisi berlutut segera menerjemahkan perkataan Tirana.


“Menarik. Baik baik baik. Bangunlah kalian!” kata Kaisar Young Tua.


Tirana, Zhao Lii dan Su Ntai bergerak bangun. Namun, Puspa justru melangkah maju mendekati sang kaisar.


Melihat tindakan Puspa itu, Dao Lushan segera melompat ke depan Puspa dan langsung menghunuskan pedangnya ke dekat leher wanita cantik itu. Puspa terpaksa berhenti tanpa terlihat ada ekspresi gentar sedikit pun di wajahnya. Ia melirik tajam kepada Dao Lushan. Ia tempelkan kuku-kuku panjangnya ke mata pedang yang mengancam lehernya.


“Hargr!” sentak Puspa tiba-tiba menggeram sambil menghentakkan wajahnya ke depan wajah Dao Lushan.


Tindakan itu mengejutkan Dao Lushan sampai ia terjajar mundur sebanyak dua langkah.


“Hihihik!” Puspa terkekeh melihat reaksi Dao Lushan.


Melihat hal itu, Kaisar Young Tua dilanda sedikit ketegangan.


Puspa lalu beralih kepada Kaisar Young Tua. Lalu katanya, “Kau bilang akan memberi Puspa dan Tirana makan. Mana? Mana, hah?!”

__ADS_1


Tanpa diminta lagi, Su Ntai menerjemahkan perkataan Puspa.


“Oh, ya. Silakan duduk dulu!” jawab Kaisar Young Tua. Lalu serunya, “Sajikan hidangannya!”


Zhao Lii dan Su Ntai pergi duduk di meja yang


bersebelahan. Sementara Tirana dan Puspa duduk di dua meja yang berseberangan


dengan Zhao Lii dan Su Ntai. Adapun meja Kaisar dan Young Tan ada di sisi kanan


Tirana dan sisi kiri Zhao Lii.


Dao Lushan sudah kembali di posisi semula. Reaksinya terhadap gertakan wajah Puspa tadi justru membuatnya malu di hadapan Kaisar.


Para pelayan berdatangan dari luar membawa


hidangan-hidangan lezat yang masih berasap, menunjukkan bahwa rasa nikmatnya masih berada pada takaran puncaknya.


“Hihihik!” tertawa Puspa melihat banyaknya makanan lezat yang datang. Baru saja satu piring makanan diletakkan di mejanya, ia langsung comot dengan kuku-kuku panjangnya. “Kambing muda itu ternyata punya banyak makanan. Hihihi!”


Tirana hanya tersenyum mendengar Puspa menyebut sang kaisar “kambing muda”.


“Terjemahkan!” perintah Kaisar Young Tua.


Mendelik Su Ntai lalu tersenyum samar.


“Kaisar tampan ternyata punya banyak sekali makanan enak,” kata Su Ntai dengan terjemahan yang diubah.


Kaisar Young Tua berhenti sejenak, bermaksud memberi kesempatan kepada Su Ntai untuk menerjemahkan perkataannya.


“Oh ya, Nona Tirana, Yang Mulia ingin bicara langsung tentang maksudnya,” kata Su Ntai kepada Tirana.


“Silakan,” jawab Tirana mengangguk seraya tersenyum.


“Nona Zhao sudah menjelaskan sedikit tentang perjalanan kalian menuju barat. Aku ingin menawarkan Nona Tirana untuk tinggal di ibu kota We, bahkan jika mau, Nona Tirana bisa tinggal di Istana megah ini,” ujar Kaisar


Young Tua.


Mendelik Nona Zhao Lii mendengar hal itu. Ia bisa langsung menyimpulkan maksud dari tawaran sang kaisar.


Su Ntai pun menerjemahkan perkataan sang kaisar.


Tirana tersenyum manis mendengar terjemahan Su Ntai, membuat Kaisar Young Tua menaruh harapan besar.


“Disangka Puspa ternak ayam!” rutuk Puspa.


“Tawaran yang sangat bagus,” kata Su Ntai memalsukan terjemahan perkataan Puspa.


“Kami sangat menghargai niat baik dan tawaran Yang Mulia Kaisar, tetapi kami sangat diburu waktu demi menyelamatkan nyawa seorang ratu. Maka dengan berat hati tawaran Yang Mulia Kaisar kami tolak,” kata Tirana santun.

__ADS_1


Su Ntai pun menerjemahkan apa adanya.


Kaisar Young Tua menghempaskan napas tanda kecewa.


“Sayang sekali,” ucapnya lemah. Namun, kemudian ia tersenyum lagi dan berkata, “Bagaimana jika aku menawarkan posisi sebagai seorang permaisuri?”


Melebar lingkar mata Young Tan, Zhao Lii dan Su Ntai mendengar tawaran Kaisar Young Tua. Kemudian Su Ntai menerjemahkan dengan benar.


“Cuih!” Tiba-tiba Puspa meludahkan makanan yang ada di mulutnya, mengejutkan semua orang. Puspa mendadak berdiri, “Dikira puspa


monyet yang mau makan semua dedaunan! Penghinaan!”


“Ini tidak bisa dicegah,” gumam Tirana. Ia yakin dirinya tidak akan bisa mencegah Puspa jika marah serius seperti itu. Ia juga


bisa memaklumi kemarahan Puspa yang merasa terhina oleh tawaran sang kaisar. Ia


pun turut berdiri.


Brakr!


“Tikus!” maki Puspa setelah senendang meja di depannya.


Maka meja kayu itu melambung berputar-putar di udara lewat di atas kepala Su Ntai. Sementara seluruh hidangannya berhamburan di udara lalu jatuh berserakan.


“Penghinaan!” teriak Young Tan murka seraya berdiri marah.


Meski tidak mengerti dengan perkataan Puspa, tetapi tindakan wanita itu yang bringas menyinggung rasa kehormatan Kaisar You Tua. Sang kaisar pun berdiri marah.


“Prajurit!” teriak Young Tan.


Tanpa tata krama lagi, Puspa berjalan membelakangai sang kaisar hendak pergi.


“Maafkan kami, Yang Mulia. Aku tidak bisa mengendalikan temanku,” kata Tirana kepada Kaisar Young Tua tanpa penghormatan lagi.


Su Ntai segera menerjemahkannya.


Puspa menghentikan langkahnya, sebab berlapis-lapis prajurit telah bergerak masuk mengepung tempat itu. Pasukan khusus berseragam hitam-hitam yang wajahnya ditutupi topeng kain hitam, berbaris membentuk barisan benteng melindungi Kaisar Young Tua dan Young Tan.


“Sepertinya ini jebakan, Kaisar!” sahut Tirana.


Pikirnya, jika jamuan itu tidak punya niat buruk, tidak mungkin dalam waktu singkat sudah tersedia jumlah pasukan yang besar.


Su Ntai menerjemahkan perkataan Tirana.


“Hahaha!” Kaisar Su Ntai tertawa pendek, seolah membenarkan dugaan Tirana. Lalu katanya, “Mau sukarela atau paksa, Nona Tirana harus menjadi permaisuriku!”


Su Ntai menerjemahkan lagi. Tirana hanya tersenyum.


“Nona Zhao, apa kau akan ikut? Jika kau memilih tinggal, aku pikir jiwamu akan terancam,” kata Tirana kepada Zhao Lii yang

__ADS_1


turut tegang melihat kondisi itu.


Buru-buru Su Ntai menerjemahkan untuk Zhao Lii. Situasi semakin panas. (RH)


__ADS_2