Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Kersak 14: Tawa dan Tegang di Perahu


__ADS_3

*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*


 


Semburat merah telah tumpah di langit barat, saat matahari mulai tenggelam. Suasana langit memberi pemandangan yang indah pada Telaga Fatara.


Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat melompat naik ke atas salah satu dari empat perahu yang tertambat di dermaga. Mereka masing-masing telah membawa pancingan di tangan.


“Ternyata tidak sia-sia kita ikut mengabdi kepada Gusti Prabu Joko…” kata Kurna Sagepa.


“Gusti Prabu Dira!” sergah Garis Merak meralat.


“Iya, maksudku itu. Tidak sia-sia kita ikut mengabdi kepada Gusti Prabu Dira, karena kita juga pada akhirnya tinggal di sekitar air. Jika sejak awal kita tahu akan tinggal di sebuah telaga, Mata Samudera dan Ikan Kecil pasti memilih ikut dengan kita,” kata Kurna Sagepa.


“Penampilanku tadi memang memukau. Hahaha!” timpal Swara Sesat lalu tertawa senang.


“Siapa yang membicarakan penampilanmu? Sampai seribu hari ke depan, penampilanmu tidak akan pernah memukau dengan perut gendut seperti ini!” kata Kurna Sagepa lalu terakhir ia mencubit perut Swara Sagepa.


“Hahaha!” tawa Swara Sagepa. “Seandainya kita berdua tadi telat datang, kau pasti sudah habis dimakan oleh kelima orang itu!”


“Kalau kalian tidak datang, ada Gusti Senopati yang datang menolongku!” kata Kurna Sagepa.


“Hahaha…!” Tiba-tiba Swara Sesat tertawa keras dan panjang, sampai perahu ikut bergoyang, karena si gendut itu tertawa sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tepian perahu.


“Apa yang lucu, Swara?” tanya Garis Merak seraya tersenyum melihat tingkah sahabat gendutnya.


“Kurna jatuh cinta kepada wanita bersenjata keris itu. Hahaha…! Cinta memang tidak mengenal rupa, tetapi cinta pasti mengenal yang lain. Hahaha!” kata Swara Sesat sambil terus tertawa.


“Hihihi…!” Garis Merak ikut tertawa panjang.


Kurna Sagepa jadi bingung sendiri. Ia tidak mengerti maksud perkataan Swara Sesat, kecuali bahwa dia dituding jatuh cinta kepada gadis pendekar bergigi tonggos.


“Kau mengerti perkataan Swara, Kurna? Hihihi!” tanya Garis Merak sambil masih tertawa dan ia menepuk bahu kanan pemuda tampan berambut keriting itu.


Kurna Sagepa hanya menggeleng dengan kerutan kening di wajahnya.


“Maksud Swara Sesat, kau jatuh cinta kepada gadis bergigi itu bukan karena wajahnya, tetapi karena dadanya. Hihihi…!” jelas Garis Merak lalu kembali terkikik geli.


“Kau jangan memfitnahku jadi lelaki mesum, Swara!” teriak Kurna Sagepa sewot. Ia bergerak memiting leher berlemak Swara Sesat yang hanya terus tertawa. “Aku ini bajak laut paling tampan, mana mungkin aku melirik wanita jahat seperti itu!”


“Baik buruknya seorang pengikut, tergantung pemimpinnya, Kurna. Mereka itu hanya mengikuti perintah, jadi tidak bisa kau sebut gadis pujaanmu itu wanita jahat. Ketika kita mengikuti Biru Segara setelah matinya, kita menjadi jahat, apalagi setelah mengikuti Ratu Ginari. Kini kita mengikuti pemimpin sakti yang baik, maka kita pun menjadi baik. Jika pendekar-pendekar seperti itu memiliki pemimpin yang baik, pasti mereka juga akan menjadi baik,” tutur Garis Merak.


“Iya sih. Tapi aku tidak sudi dibilang jatuh cinta dengan wanita seksi itu!” kata Kurna Sagepa, masih memiting leher Swara Sesat yang hanya tertawa-tawa kegelian.


“Hei! Jangan bertengkar!” teriak satu suara wanita tiba-tiba.


Belum lagi Kurna Sagepa dan Swara Sesat melihat siapa yang berteriak, sosok Senandung Senja sudah datang melompat ke atas dak perahu besar itu.


“Sesama sahabat tidak boleh bertengkar!” kata Senandung Senja sambil meraih tangan Kurna Sagepa agar lepas dari leher Swara Sesat.


“Hahaha! Gadis idamanku dataaang!” teriak Swara Sesat gembira sambil melepaskan diri dari Kurna Sagepa. Ia bergerak ke belakang punggung gadis cantik belia itu.


“Hei, Swara! Jangan kurang ajar kau, Senandung Senja itu seorang putri!” hardik Kurna Sagepa.


“Siapa sudi jatuh cinta kepada si nenek-nenek itu!” kata Swara Sesat yang pendengarannya selalu tersesat.


“Hihihi…!” tawa Senandung Senja mendengar perkataan Swara Sesat. Suara tawanya yang nyaring seperti kuntil emak itu membuat suasana kian ramai.


“Siapa yang menyebut Nyai Kisut, hah?! Pendengaranmu selalu menimbulkan kesesatan!” hardik Kurna Sagepa.


“Siapa yang menyebut namaku?!” tiba-tiba terdengar suara wanita lain.


Sedetik kemudian satu sosok wanita tua muncul berkelebat dan mendarat di antara mereka.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan terhadap Putri Wilasin?!” sentak wanita tua yang tidak lain adalah Nyai Kisut sambil mendorong tubuh Swara Sesat.


“Hihihi…!” tawa Garis Merak dan Senandung Senja melihat situasi kacau itu.


“Kalian lihat sendiri, si nenek ini begitu membenciku. Bagaimana mungkin aku jatuh cinta kepadanya?” kata Swara Sesat.


“Hai! Siapa yang membencimu? Aku mendorongmu karena kau terlalu dekat dengan Putri Wilasin! Aku sebagai pelindung Yang Mulia Putri, berhak menjauhkan siapa pun yang mendekat. Putri sudah melalui kehidupan yang penuh penderitaan, jadi aku harus sangat waspada dengan para lelaki berhidung merah seperti kalian. Pasti kalian berencana membawa Putri ke tengah telaga agar kalian bisa berbuat macam-macam!” kata Nyai Kisut dengan pengucapan kata-kata yang cepat dan rapat, tetapi tidak sampai lidahnya tersandung atau terpeleset.


“Swara, kau dengar apa yang dikatakan Nyai Kisut?” tanya Kurna Sagepa.


“Iya, dia mengatakan lebih memilihmu daripada aku yang gendut seperti ikan buntal,” jawab Swara Sesat.


“Hihihi…!” Garis Merak dan Senandung Senja makin tertawa terkikik mendengar perdebatan ngawur itu.


Sementara Kurna Sagepa dan Nyai Kisut mendelik melotot kepada Swara Sesat.


“Woiii!” teriak seseorang dari kejauhan.


Mereka semua menengok ke arah sumber teriakan. Mereka melihat jauh di dermaga, Surya Kasyara berdiri sambil melambai-lambai tangan kepada mereka yang ternyata sudah meluncur meninggalkan dermaga cukup jauh.


“Hah! Sejak kapan perahunya berjalan?” kejut Senandung Senja. Ia tidak mengetahui sedikit pun bahwa perahu itu telah berjalan, karena ia sibuk menertawakan drama Korea di depannya.


Garis Merak dan Kurna Sagepa hanya tertawa rendah melihat keterkejutan Senandung Senja.


“Aku ikuuut!” teriak Surya Kasyara sambil lambai-lambai tangan.


Garis Merak lalu memberi bahasa isyarat kepada Swara Sesat, memberitahunya bahwa Surya Kasyara mau ikut. Swara Sesat manggut-manggut.


Seeet!


Swara Sesat lalu melesatkan satu senjatanya. Satu besi kecil bersenar melesat terulur cepat dari pergelangan tangan kanan si gendut.


Melihat hal itu, Surya Kasyara cepat menolakkan kakinya. Tubuhnya berkelebat cepat meninggalkan dermaga.


Ujung kaki kanannya menjejak permukaan air telaga sebagai tolakannya. Tingkat ilmu peringan tubuh Surya Kasyara membuat sepergelangan kakinya masuk ke air, tetapi ia berhasil naik kembali ke udara. Tangannya cepat menggapai senjata Swara Sesat.


Senar kuat berbandul besi kecil itu berhasil menangkap dan melilit tangan Surya Kasyara.


Jbuur!


“Hahaha…!” Mereka yang berada di atas perahu semua tertawa melihat Surya Kasyara jatuh ke air, lalu diseret cepat.


Surya Kasyara yang berubah seperti ikan dipancing, jadi kelabakan karena wajahnya tidak siap menyelam dan meminum air.


“Huuh! Swara Sesat dapat ikan besar! Hihihi!” teriak Garis Merak bersorak, membuat mereka kian tertawa.


“Cidukan! Cidukan!” teriak Kurna Sagepa pula, seolah gembira melihat nasib Surya Kasyara.


Senandung Senja yang ikut gembira, buru-buru mencari alat penciduk ikan.


“Biar aku! Biar aku! Hihihi!” teriak Senandung Senja gembira sambil begerak sudah membawa jaring tebal bergagang kayu untuk menciduk ikan. Padahal mustahil cidukan itu cukup untuk menjaring tubuh Surya Kasyara.


“Hei! Ikan apa itu!” teriak Nyai Kisut kencang sambil menunjuk agak jauh di dalam air.


Semua yang ada di atas perahu cepat melihat ke arah tunjukan Nyai Kisut, termasuk Senandung Senja.


“Wah!” pekik Kurna Sagepa dan Swara Sesat saat mereka melihat bayangan hitam di dalam air yang sedang meluncur cepat mendekati posisi tubuh Surya Kasyara. Bayangan itu lebih besar dari tubuh mereka.


“Itu ikan besar!” teriak Garis Merak tegang dengan pandangan yang bersemangat. “Kurna, bersiaaap!”


“Sore yang menguntunggkan!” teriak Kurna Sagepa liar. Tampak ia bersemangat dan telah mencabut kedua senjata pengaitnya.


Sementara itu, Swara Sesat juga bersiap dengan senyum menyeringai. Ini adalah suasana yang sangat digemari oleh ketiga bajak laut itu.

__ADS_1


Senandung Senja dan Nyai Kisut menjadi tegang. Makhluk besar di dalam air yang berenang cepat, mengincar tubuh Surya Kasyara yang terseret tidak berdaya.


Adapun Surya Kasyara sendiri tidak tahu akan bahaya yang mengancamnya. Ia sibuk mengatur pernapasannya agar tidak terlalu banyak air telaga yang masuk ke tubuhnya.


Kurna Sagepa dan Swara Sesat benar-benar telah bersiap.


Bayangan ikan besar di dalam telaga terus melesat dari samping kiri Surya Kasyara. Dan ketika bayangan ikan itu melesat naik ke permukan dengan mulut bergigi-gigi tajam yang terbuka lebar, hendak memangsa tubuh Surya Kasyara, Swara Sesat menggulung cepat senar senjatanya. Senar itu tergulung sendiri sangat cepat di pergelangan tangan Swara Sesat, membuat tubuh Surya Kasyara tersentak tertarik tepat ketika sosok ikan besar memunculkan wujudnya ke permukaan, menerkam ruang kosong yang ditinggalkan oleh tubuh Surya Kasyara.


“Kena kau!” teriak Kurna Sagepa keras sambil ia melompat jauh ke belakang perahu.


Teb teb!


Tepat ketika separuh tubuh ikan besar itu muncul ke permukaan menerkam Surya Kasyara, tubuh Kurna Sagepa mendatangi ikan dan menancapkan kedua pengaitnya pada dua sisi kepala si ikan.


Surya Kasyara berhasil selamat. Alangkah terkejutnya ia ketika tahu dirinya nyaris diterkam ikan besar.


Sementara itu, Kurna Sagepa yang memegang kuat gagang senjatanya, terbawa berenang oleh ikan besar yang kepalanya ditancapi dua besi pengait. Ikan besar itu berenang liar, menimbulkan ombak cukup besar.


“Besar sekali!” jerit Senandung Senja histeris.


“Hiaaat!” pekik Garis Merak pula sambil mengayunkan kailnya yang telah bersinar putih.


Seeet!


Mata kail Garis Merak melesat jauh menargetkan ikan besar yang berenang liar karena kesakitan oleh dua lukannya. Terlihat jelas bahwa ikan lebih besar dari tubuh Kurna Sagepa.


Tek!


Mata kail Garis Merak mengait kuat tepat di bagian belakang ikan, dekat ekor. Buru-buru Garis Merak meletakkan kakinya pada pinggiran perahu guna menahan tarikan ikan. Tenaga tarikan kail gadis manis itu justru terbawa oleh tenaga renang si ikan.


“Swaraaa!” teriak Garis Merak sambil sekuat tenaga menahan tarikan kailnya.


Tarikan ikan yang kuat, membuat perahau ikut tertarik. Sementara Swara yang dipanggil tidak mendengar teriakan Garis Merak, ia sibuk membantu Surya Kasyara naik ke perahu dalam kondisi basah kuyup.


“Swara Sesaaat!” teriak Garis Merak lagi, sebab ia merasa kewalahan untuk melawan daya tarik si ikan.


Ternyata, Swara Sesat masih belum mendengar teriakan Garis Merak. Atau mungkin dia mendengar, tetap merasa bukan dirinya yang disebut.


Melihat hal itu, Senandung Senja cepat menepuk keras bahu Swara Sesat. Si gendut itu cepat menengok kepada Senandung Senja lalu tersenyum. Senandung Senja cepat menunjuk kepada pemandangan menegangkan yang sedang terjadi.


“Wuaaah!” pekik Swara Sesat terkejut saat melihat terjadi aksi tarik-menarik.


Seeet seeet!


Swara Sesat melesatkan dua senjatanya. Kedua besi kecil berwujud lancip itu melesat cepat dan tepat menembus dua titik pada tubuh si ikan besar.


Kurna Sagepa yang kini bisa duduk di punggung ikan, juga mencabut satu pengaitnya, lalu menghujamkannya lagi ke kepala ikan berulang-ulang. Darah segar ikan mengalir lalu larut dalam air telaga.


Pada akhirnya, ikan besar itu melemah. Daya renangnya perlahan berkurang, membuat Garis Merak kini unggul dalam menarik kailnya. Demikian pula dengan tarikan kedua senar tangan Swara Sesat. Perlahan ikan besar itu tertarik kian mendekat ke perahu yang sudah tidak tertarik lagi.


“Yeaah! Hihihi!” teriak Senandung Senja lalu tertawa gembira, melihat ikan yang akhirnya tidak berdaya.


“Tangkapan dahsyaaat!” teriak Kurna Sagepa yang kini duduk bersantai di badan ikan besar itu.


“Huuuh!” Mereka bersorak ramai dan gembira.


Sementara langit semakin meredup seiring mentari yang tenggelam penuh.


“Kita pulaaang!” teriak Garis Merak.


“Hah! Jadi aku datang hanya untuk jadi umpan ikan?” kejut Surya Kasyara. Ia baru saja naik, tetapi mereka memutuskan langsung pulang.


Di dermaga, terlihat berdiri sosok Permaisuri Tirana menyaksikan aksi seru para abdi tersebut. Di sisinya berdiri Ginari yang hanya menatap kosong ke tengah telaga. (RH)

__ADS_1


__ADS_2