Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 14: Ginari yang Lain


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


Keramaian malam di Perguruan Tiga Tapak telah berlalu, berganti oleh kegelapan sunyi hanya berhias suluh. Tetap ada beberapa prajurit yang terlihat berjaga di malam yang bisu, hanya berteman segelas kopi campur madu.


Lili Angkir dan suaminya, Pangeran Arya Duduwani, memilih pulang ke kediaman mewahnya. Besok pagi mereka akan datang kembali membawa berbagai keperluan pesta.


Bagi para tamu, jauhnya perjalanan yang mereka tempuh, membuat raga menuntut istirahat setelah melepas rindu. Mereka berharap, ketika mata terjaga di paga hari semua mimpi buruk telah berlalu.


Di dalam keheningan dan kesunyian, di saat mereka benar-benar terlelap dalam buaian, ada satu orang yang melakukan pergerakan, mengendap-endap di dalam kegelapan.


Orang itu tidak lain adalah Kerling Sukma, gadis bermata hijau nan cantik jelita. Senyumnya yang mekar menunjukkan rasa hatinya yang gembira, langkahnya menuju area tempat kamar Joko Tenang berada.


Sukma tetap waspada dan bertindak pelan-pelan. Meski tidak masalah jika ia ketahuan, tetapi tentunya akan menjadi pertanyaan, kenapa tengah malam keluyuran, di waktu semua orang seharusnya tertidur bercengkerama dalam impian.


Brakr!


Tiba-tiba keheningan itu dirobek oleh suara benda kayu dirusak dengan keras. Sejumlah orang yang tertidur sontak terbangun. Para penjaga segera berlarian. Kerling Sukma lebih cepat melesat laksana menghilang.


Kerling Sukma berhenti dengan keterkejutan. Di langit malam ia melihat sosok berpakaian serba biru terbang menjauh meninggalkan perguruan. Sosok tidak dikenal itu membawa satu badan manusia. Ketika Kerling melihat ke kamar Joko Tenang, ternyata pintunya sudah terbuka kosong melompong.


Tanpa berpikir dua kali, atau menunggu tibanya para penghuni, Kerling Sukma memilih melesat pergi, mengejar sosok misterius yang menculik sang calon suami.


“Penculik itu begitu cepat, dari suara mendobrak pintu dengan kepergiannya begitu singkat jaraknya,” pikir Kerling Sukma yang dalam lesatan pengejarannya bisa melihat samar-samar sosok berpakaian biru terang di dalam kegelapan.


Sementara itu, mereka yang ketinggalan tiba di dekat kamar Joko Tenang, hanya bisa terkejut melihat kerusakan dan raibnya Joko Tenang.


“Ke mana Pangeran Joko Tenang, Salalu?” tanya Jaga Manta kepada murid yang berjaga di sekitar tempat itu.


“Kami tidak tahu, Ketua. Tapi, tadi ada bayangan biru terbang di langit!” kata murid yang bernama Salalu, mewakili teman-temannya yang juga berjaga pada malam ini.


“Ke mana perginya bayangan itu?” tanya Getara Cinta cepat.


“Timur!” jawab Salalu tegang.


Clap!


Serentak. Tirana, Getara Cinta dan Putri Sri Rahayu menghilang dari tempatnya seperti setan, bahkan sedikit mengejutkan orang-orang di sekitarnya.


“Aku juga akan pergi mengejar!” ucap Turung Gali kepada Jaga Manta.

__ADS_1


Ketua perguruan muda itu mengangguk.


Clap!


Maka Turung Gali pun lenyap dari tempatnya, menunjukkan tingkat kesaktiannya.


“Di mana Sukma, Ketua?” tanya Gatri Yandana cemas. Ia tidak melihat keberadaan putrinya.


Para murid yang berjaga pun tidak melihat keberadaan dan kepergian Kerling Sukma.


Gatri Yandana segera berkelebat pergi ke kamar putrinya. Namun, ia harus terkejut mendapati Sukma tidak ada. Dengan membawa kepanikan, ia kembali datang kepada Jaga Manta.


“Adikmu tidak ada, Ketua!” lapor Gatri Yandana.


“Apa?!” kejut Jaga Manta. Ia lalu memberi perintah, “Tembas Rawa, segera kumpulkan para murid lelaki untuk melakukan pencarian terhadap Pangeran Joko dan Kerling Sukma!”


“Baik, Ketua!” sahut Tembas Rawa.


“Biarkanlah yang muda-muda bekerja,” kata Pendekar Seribu Tapak kepada Ki Ranggasewa. Keduanya baru saja tertidur sebelum kejadian setelah berbincang panjang lebar di kediaman Pendekar Seribu Tapak.


Sementara itu, Joko Tenang terkulai lemah di atas bahu wanita kuat yang menculiknya. Dalam kondisi lemah seperti itu, Joko Tenang bisa merasakan aroma harum yang tajam dari wanita tersebut. Namun, Joko tidak mengenali jenis aroma harum itu. Meski tajam, tetapi enak di penciuman.


Saat itu Joko Tenang hanya terkulai lemah karena ia bersentuhan dengan wanita. Ia benar-benar dibawa terbang menerobos gelapnya angkasa malam seperti sedang dibawa oleh seekor burung.


“Kau mengenaliku, Kakang?” tanya wanita itu.


Suara itu membuat Joko Tenang tersenyum di dalam lemahnya. Ia mengenali suara itu adalah miliki Ginari.


“Kenapa kau lakukan ini, Sayang?” tanya Joko Tenang, masih dengan suara yang lemah, seperti orang yang mau pingsan.


Tersentuh hati wanita itu ketika disebut “Sayang”. Hanya ia yang tahu bahwa pada saat itu air matanya terburai terbang oleh kencangnya ia terbang.


“Kau adalah milikku, Kakang. Aku tidak mau kau dimiliki oleh gadis yang lainnya,” jawab Ginari.


“Kenapa kau berubah?” tanya Joko Tenang lagi.


“Aku tidak tahu, yang jelasnya aku tidak suka jika milikku dimiliki oleh orang lain. Aku tidak akan segan menyingkirkannya!” desis Ginari.


Terkejutlah perasaan Joko Tenang mendengar perkataan Ginari itu.

__ADS_1


“Kau bukan Ginari yang sebelumnya aku kenal. Apa yang terjadi denganmu, Sayang?” tanya Joko.


”Jangan membuat dalih untuk membuangku, Kakang. Kau telah tega menguburku di saat aku belum mati. Kini kau berdalih seperti itu saat semakin banyak wanita cantik yang ingin kau nikahi!” kecam Ginari bernada benci.


“Tidak, pasti sesuatu telah terjadi kepadamu, Sayang!” tandas Joko Tenang.


“Tenanglah, Kakang. Kau akan aku bawa sejauh mungkin, agar kita bisa hidup berdua saja tanpa orang ketiga,” kata Ginari.


“Kau sudah tahu bahwa ini semua terjadi karena untuk kesembuhanku dan menguasai ilmu Delapan Dewi Bunga,” kata Joko.


“Delapan Dewi Bunga hanyalah omong kosong sebagai dalih agar kau bisa berganti-ganti wanita!” tukas Ginari.


“Ginari, sadarlah, luruskan pikiranmu!” seru Joko, tapi dengan nada yang lemah.


“Diamlah, Kakang! Jika kau memang mencintaiku, maka turuti keinginan orang yang kau cintai!” hardik Ginari.


“Kau bukan Ginari,” ucap Joko Tenang.


“Aku adalah Ginari, Pendekar Tikus Langit, murid Setan Genggam Jiwa!” teriak Ginari, nada tingginya menunjukkan bahwa ia sedang marah. “Akulah yang berhak membunuh Mega Kencani! Dan akulah yang berhak memilikimu karena kaulah orang yang pertama menyetubuhiku, Kakang!”


Terkesiap Joko Tenang mendengar Ginari mengungkit kembali tudingan palsu di masa-masa awal mereka kenal.


“Bagaimana bisa Ginari kembali menganggap dirinya telah dinodai olehku, padahal dia telah mengakui kesalahan itu? Apakah khasiat dari Kalung Tuju Roh milik Raja Kera memiliki pengaruh buruk?” pikir Joko Tenang. Namun, ia hanya bisa menebak-nebak. “Pasti ada hal yang bisa dilakukan untuk meluruskan pikirannya.”


“Kau cukup denganku, Kakang,” kata Ginari dengan nada suara yang kembali lembut. “Aku akan setia melayani sampai kau puas. Hihihi!”


“Bagaimana kau bisa membuatku puas jika aku lemah saat bersamamu?” tanya Joko.


“Aku akan mencarikan ilmu yang bisa menyembuhkan penyakitmu,” kata Ginari.


“Tirana sudah memiliki caranya untuk menyembuhkan penyakitku, Sayang,” kata Joko.


“Jangan sebut namanya!” teriak Ginari marah. “Aku benci dengan wanita yang dengan kecantikan dan kesaktiannya dia merebut calon suamiku!”


Sest!


Tiba-tiba satu gelombang tenaga dalam tinggi tanpa wujud datang menyerang lesatan tubuh Ginari dan Joko dari samping.


Namun, Pendekar Tikus Langit dengan lihainya bisa menolakkan ujung kakinya di udara kosong, sehingga tubuhnya tiba-tiba berkelebat ke samping, membuat tenaga pukulan jarak jauh itu lewat tidak jauh dari tubuhnya.

__ADS_1


Kini, Ginari berdiri anggun di atas ujung daun dahan sebuah pohon. Jelas terlihat seolah tubuhnya tidak memiliki bobot berat.


Sementara beberapa tombak di depan pohon, berdiri sosok Kerling Sukma yang mendongak memandang ke atas. Ia menatap marah kepada wanita bercadar itu. (RH)


__ADS_2