Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PAC21: Ginari VS Arjuna Tandang


__ADS_3

*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*


Belum habis kepanikan yang dibuat oleh Pendekar Tikus Langit yang tidak terlihat mengambang di angkasa, muncul Hujabayat dengan ilmu Lingkar Hantu.


Sess sess sess...!


Kedua belas sosok Hujabayat berkelebat menyebar di udara sambil masing-masing melesatkan serangkum sinar hijau berbentuk jaring laba-laba kepada pasukan Kelompok Pedang Angin yang sedang kocar-kacir.


Masing-masing sinar jaring laba-laba menangkap satu orang, memaksa orang yang terjerat jatuh terperangkap dan tidak berdaya, hampir sama seperti jala sinar biru Ginari.


Selanjutnya, kedua belas sosok Hujabayat itu mendarat di tengah-tengah ratusan pasukan Kelompok Pedang Angin yang sudah banyak berkurang. Kedua belas sosok Hujabayat bertarung langsung melawan orang-orang berpedang itu dengan gerakan masing-masing.


Hujabayat adalah pendekar yang awalnya bersenjatakan pedang, karena itu mereka langsung merebut pedang dan bertarung pedang lawan pedang.


Karena sudah berpengalaman melawan jurus Putaran Pedang Angin andalan pasukan Kelompok Pedang Angin, Hujabayat lebih bisa mengungguli pertarungan dan bagaimana menghindari putaran pedang yang sangat tajam.


“Hujabayat! Cepat pergi ke Kerajaan Tarumasaja, selamatkan Ratu Getara!”


Tiba-tiba terdengar suara seruan Ginari, tetapi tidak terlihat wujudnya. Bisa diterka bahwa suara itu bersumber dari atas.


“Aku tidak akan meninggalkanmu seorang diri, Ginari!” teriak Hujabayat yang asli lalu berkelebat rendah di atas tanah menghindari serangan Putaran Pedang Angin.


Set!


Pedangnya ditebaskan ke bagian kaki lawan hingga terpotong keduanya.


“Nyawa Ratu Getara lebih penting! Di sini aku sudah tersandera oleh lelaki licik itu! Dia tidak akan membunuhku!” kata Ginari, suaranya begitu dekat dengan posisi Hujabayat asli.


“Kau yakin kau tidak akan terbunuh?” tanya Hujabayat, lebih memelankan suaranya di antara kepungan pasukan Kelompok Pedang Angin. Meski ia tidak tahu posisi Ginari tepatnya, tapi ia yakin Ginari tidak jauh darinya.


“Aku yakin. Orang licik itu sedang tergila-gila denganku, dia tidak akan membunuhku,” kata Ginari.


“Baik!” kata Hujabayat.


Hujabayat lalu kembali membunuh seorang Pedang Angin. Setelah itu, ia berkelebat cepat.


Wuss!


Untuk membuka jalan, Hujabayat melepaskan angin pukulan yang ramai-ramai dihindari oleh orang Pedang Angin. Namun, tetap saja sejumlah orang terkena dan berpentalan.

__ADS_1


Hujabayat asli berhasil lolos ke luar tembok halaman. Setelah itu, kesebelas Hujabayat palsu menghilang dengan sendirinya, menyisakan pedang-pedang yang jatuh ke tanah.


Sementara itu, Arjuna Tandang yang sejak tadi memperhatikan jalannya pertarungan, merasa yakin bahwa ia mengetahui posisi Ginari. Maka ia pun memutuskan.


“Minggir kalian semua!” teriak Arjuna Tandang kepada pasukannya, sambil melompat maju dan menghentakkan kedua tangannya.


Wurss!


Serangkum angin keras menderu ke arah tempat yang diduga Ginari berada, tepat di tengah-tengah pasukan Pedang Angin. Akibatnya, angin itu juga menerbangkan belasan orang Pedang Angin.


Blar blar blar...!


Namun, serangan buta yang dilakukan Arjuna Tandang tidak berbuah hasil dan justru membunuh beberapa anak buahnya sendiri. Terbukti, Ginari memunculkan dirinya mengambang di angkasa sana.


Dari tempatnya mengambang, Ginari menghujani Arya Tandang dengan pukulan Tinju Menembus Gunung. Namun, gesit sekali Arya Tandang berpindah-pindah meninggalkan tempatnya yang kemudian meledak hancur.


Sreeet!


Di saat sibuk menghindar, lengan kanan Arjuna Tandang mengeluarkan sepuluh sinar biru berbentuk pedang yang langsung dilesatkan menyerang ke arah posisi Ginari di atas. Kesepuluh pedang itu melesat terbang dalam kendali pikiran Arjuna Tandang, bukan serangan sekali pakai.


Sebagai pendekar yang mengaku ketuanya dari Raja Pedang, Arjuna Tandang mulai memperlihatkan kesaktiannya. Ia memainkan ilmu Pasukan Pedang Haus Nyawa.


Sementara pasukan Kelompok Pedang Angin hanya menyaksikan aksi kejar-kejaran itu.


Setelah melesat ke sana dan ke sini menghindari kejaran sepuluh pedang biru. Ginari akhirnya menemukan ide.


Tiba-tiba, dari jauh Ginari melesat cepat mendatangi Arjuna Tandang. Sementara di belakang Ginari melesat sepuluh pedang sinar biru. Terlihat telapak tangan kanan Ginari bersinar kuning dari ilmu Tapak Purnama Merah.


Mendelik Arjuna Tandang melihat taktik gadis jelita yang membuatnya jatuh hati itu. Ia pun bersiap untuk menghadapi serangan Ginari. Kedua tangannya telah memegang bola sinar merah.


Clap!


Namun, ketika jarak Ginari tinggal tiga tombak dari Arjuna Tandang, tiba-tiba dia menghilang dari pandangan mata. Sementara kesepuluh pedang sinar terus melesat ke arah tuannya sendiri.


Cepat pikiran Arjuna Tandang mengendalikan pedang-pedangnya sehingga berhenti melesat, ketika jaraknya tinggal dua jengkal dari wajah dan tubuh tuannya.


“Kurang ajar!” maki Arjuna Tandang sambil menghilangkan kesepuluh pedangnya.


Arjuna Tandang cepat bersiaga lagi.

__ADS_1


Terbukti, tiba-tiba Ginari muncul tepat di belakang Arjuna Tandang dan melesatkan sinar biru berbentuk jala. Arjuna Tandang tidak bisa mengelak. Tubuhnya seketika terjerat dan jatuh.


“Kau tidak bisa membunuhku!” seru Arjuna Tandang cepat kepada Ginari. “Jika aku mati, kau juga akan mati!”


Perkataan Arjuna Tandang membuat Ginari berhenti. Pasukan Kelompok Pedang Angin segera bergerak mengepung posisi Ginari dan Arjuna Tandang.


“Ingat, jika kau pergi jauh, kau akan mati. Jika kau membunuhku pun, kau akan ikut mati!” tegas Arjuna Tandang.


Sret!


Tiba-tiba dari dalam tubuh Arjuna Tandang berkeluaran sejumlah sinar berwujud mata pedang berwarna merah. Namun, yang keluar hanya setengah badan pedang saja yang memutus jala sinar biru milik Ginari hingga berputusan. Setelah itu, pedang-pedang sinar merah itu masuk kembali ke dalam tubuh Arjuna Tandang. Itulah ilmu yang bernama Jebakan Pedang.


Arjuna Tandang bergerak bangkit dan menghadap ke arah Ginari.


“Nisanak, hentikan mencoba kabur atau memberontak!” ujar Arjuna Tandang mencoba menghentikan pertarungan itu, meski ia kehilangan banyak anggota pasukan, termasuk wakilnya.


Sebenarnya Ginari mulai lelah, karena ia begitu banyak mengerahkan tenaga saktinya. Sedangkan menurutnya, Arjuna Tandang belum tentu bisa dikalahkan. Selain pemuda tampan itu sakti, ia juga licik.


“Baik, aku akan berhenti, dengan syarat,” kata Ginari.


“Baik, katakan!” kata Arjuna Tandang cepat.


“Siapkan satu kamar untukku dan jangan sekalipun kau menggangguku sampai ketika calon suamiku datang. Aku akan menjadi milikmu jika kau bisa mengalahkan calon suamiku dengan cara sebagai seorang pendekar!” ujar Ginari.


Arjuna Tandang terdiam sejenak, ia mencoba untuk mencerna baik-baik perkataan Ginari.


“Baik, aku setuju!” kata Arjuna Tandang.


“Aku ingin pertarungan itu disaksikan oleh para pendekar dunia persilatan untuk mencegahmu melakukan kelicikan. Aku sangat yakin bahwa kau akan melakukan cara curang apapun untuk mendapatkanku,” tambah Ginari. “Ketika pertarunganmu terlaksana, dunia persilatan berhak menghukummu jika ternyata kau berbuat curang. Bagaimana?”


“Baik, aku tidak takut. Tapi ingat, kau harus memenuhi janjimu!” kata Arjuna Tandang.


“Akan aku penuhi!” tegas Ginari.


Ginari berani menawarkan pertaruhan kepada Arjuna Tandang karena ia begitu yakin dengan kesaktian Joko Tenang. Dengan cara bertarung di depan mata para tokoh dunia persilatan, maka kecil kemungkinan Arjuna Tandang untuk melakukan pelanggaran  dan cara licik.


“Bubar semua!” perintah Arjuna Tandang kepada pasukannya.


Pasukan Kelompok Pedang Angin segera membubarkan diri, sambil mengurusi rekan-tekan mereka yang telah tewas. (RH)

__ADS_1


__ADS_2