Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 12: Tamu Lelaki untuk Tirana


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


Sebelum memusyawarakan tentang hal pernikahan, para tamu dijamu lebih dulu dengan makanan dan minuman. Hari ini mereka makan besar. Setelah itu, setiap tamu diarahkan untuk beristirahat. Mereka di berikan masing-masing satu kamar, tidak ada yang satu kamar dua orang atau dua kamar satu orang.


Setelah istirahat, barulah nanti malam akan diadakan musyawarah tentang pernikahan. Pangeran Arya Duduwani menyatakan bahwa ia akan mendanai semua biaya pernikahan dari awal sampai akhir. Itu menjadi kabar gembira bagi Ketua Perguruan Tiga Tapak dan warganya.


Pada masa menunggu waktu pertemuan rembukan, Joko Tenang memilih mengobati luka dalam Pendekar Seribu Tapak. Maka tidak butuh waktu lama, Pendekar Seribu Tapak telah sehat dan bugar kembali.


“Luar biasa ilmu pengobatanmu, Joko!” puji Pendekar Seribu Tapak.


“Itu artinya Kakek mendukung penuh aku menikah dengan Kerling Sukma?” tanya Joko, sekedar basa-basi.


“Pasti, hahaha! Tokoh tua aliran putih mana yang tidak mendamba-dambakan memiliki menantu atau suami untuk keturunannya seorang calon pemimpin dunia persilatan,” kata Pendekar Seribu Tapak.


“Maaf, Kek. Kau sudah dua kali menyebutku calon pemimpin dunia persilatan. Apakah itu hanya sekedar candaanmu?” tanya Joko curiga.


“Hehehe! Aku sudah mendengar cerita dan alasan kenapa kau harus harus menikah dengan delapan istri. Ternyata kau keturunan Dewa Kematian. Aku pernah medengar tentang ilmu Delapan Dewi Bunga. Meski aku tidak tahu banyak tentang selak-beluk ilmu itu, tetapi setahuku, pemilik ilmu itu tidak terkalahkan. Aku pernah mendengar sebuah nama yang melegenda. Namanya Rara Lembayung yang bergelar Ratu Mata Bidadari. Apakah kau pernah mendengarnya?”


“Belum pernah,” jawab Joko Tenang.


“Rara Lembayung adalah dedengkot aliran hitam dan satu masa dengan Dewi Mata Hati. Rara Lembayung tidak terkalahkan. Banyak sekali pendekar aliran putih yang mati di tangannya. Bahkan Dewi Mata Hati tidak mampu mengalahkannya. Tidak ada tokoh aliran putih yang berani adu kesaktian dengannya. Hingga akhirnya ia menantang Dewa Kematian. Ia kalah, tetapi tidak dibunuh oleh Dewa Kematian. Satu-satunya orang yang bisa mengalahkannya hanya Dewa Kematian. Karena hal itulah secara tidak langsung para pendekar aliran putih menganggap Dewa Kematian adalah pemimpin dunia persilatan. Aku yakin, kedudukan yang pernah diraih oleh Dewa Kematian akan kau raih juga,” tutur Pendekar Seribu Tapak.


“Tapi, aku merasa tidak layak untuk kedudukan seperti itu,” kata Joko Tenang jika ia mengingat bahwa dirinya adalah orang yang terlemah di dunia.


“Aku hanya mendengar cerita itu. Aku tidak tahu seperti apa kehebatan Delapan Dewi Bunga, tapi aku berharap cucu muridku bisa menjadi satu dari delapan bunga itu,” kata Pendekar Seribu Tapak. “Percepatlah menikahi delapan wanita itu.”


“Tidak semudah itu, Kek. Tidak semua wanita mau berikhlas hati untuk berbagi suami,” kata Joko Tenang.

__ADS_1


Setelah semuanya melalui masa istirahat, akhirnya Ketua Perguruan Tiga Tapak kembali mengumpulkan keluarga besar perguruan, para tamu dan keempat calon pengantin di balairung perguruan.


Pertemuan itu diterangi oleh tebaran obor dan dian minyak.


Dalam pertemuan itu mereka membahas berbagai teknis dalam pernikahan yang akan dilaksanakan. Terkadang ada hal yang mudah disepakati, tetapi tidak jarang juga ada hal yang membutuhkan perdebatan alot untuk disepakati.


Akhirnya disepakati bahwa Ki Ranggasewa akan berperan sebagai orangtua Joko Tenang. Nyi Lampingiwa akan berperan sebagai orangtua Getara Cinta. Karena Tirana tidak memiliki orang yang pantas untuk berperan sebagai orangtuanya, maka Lili Angkir dan Pangeran Arya Duduwani bersedia berlakon sebagai orangtua Tirana.


Mereka juga sepakat melakukan beberapa ritual sebelum acara pernikahan. Disepakati bahwa empat hari masa pranikah dan tiga hari masa nikah.


Acara siraman akan dilakukan dalam satu waktu sekaligus bagi keempat calon pengantin. Ritual-ritual lain sebelum hari pernikahan akan mereka lakukan, tetapi tetap menyesuaikan dengan kondisi para pasangan.


Pada tiga hari pernikahan akan diadakan pesta dengan nanggap gamelan dan para penari selama tiga hari tiga malam.


Karena Joko Tenang tidak memiliki harta apa pun untuk diserahkan kepada calon istrinya, ia diberi waktu selama empat hari untuk memikirkan dan mendapatkan harta apa yang akan ia berikan kepada Tirana, Getara Cinta dan Kerling Sukma.


Ketiga calon istri Joko Tenang pun sepakat bahwa mereka menginginkan hadiah atau mahar dari calon suami mereka. Biarkan itu menjadi pembuktian cinta Joko terhadap mereka. Joko Tenang tidak dapat menolak.


Ketika urun rembuk itu mendekati pembahasan akhir, tiba-tiba….


“Minggiiir! Pesan daruraaat!” teriak Sigangga dari atas punggung kudanya. Kali ini ia sampai dengan selamat hingga pintu utama pertama bersama kuda tunggangannya. Seperti biasa, ia berlari kencang sekencang-kencangnya dari pos penjagaan terjauh.


Hingga ke halaman luas itu, Sigangga masih menggebah kencang kudanya. Semua orang yang berkumpul di balairung segera mengalihkan perhatian kepada kedatangan Sigangga, murid penjaga pos yang terkenal kecepatan dan ketangkasannya dalam membawa pesan.


Bdak! Tak!


“Akk!”

__ADS_1


“Hahaha…!”


Ketika semua bersyukur bahwa Sigangga sudah bisa tiba dengan selamat bersama kudanya, tetap saja ada insiden. Kuda Sigangga menyenggol tangga yang sedang dipakai murid yang lain untuk memasang batang bambu panjang pada tiang bambu yang sudah ditancapkan.


Alhasil, murid yang sedang memegangi batang bambu di tangga terjatuh. Otomatis batang bambu yang dipegangnya di atas juga jatuh dan menimpa kepala Sigangga. Pemuda beradrenalin tinggi itupun terjatuh ke tanah dari punggung kudanya.


Murid-murid Perguruan Tiga Tapak yang sedang bekerja membangun tenda besar sontak tertawa. Sementara para tetua hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Lapor, Ketua!” teriak Sigangga sambil mengerenyit dan mengusap-usap kepalanya. Ia tidak berani naik ke balairung, ia agak trauma dengan tangganya.


“Ada pesan darurat apa, Sigangga?” tanya Jaga Manta.


“Anu, Ketua…” ucap Sigangga agak lupa.


“Anumu kenapa, Sigangga?” tanya Jaga Manta serius.


“Anuku tidak kenapa-kenapa, Ketua. Tapi anu…. Apa tadi, ya?” Sigangga bingung sendiri. Ia lupa.


“Siapa yang datang?” tanya Jaga Manta menerka.


“Aaah! Benar, Ketua. Ada laki-laki yang datang mencari Nden Tirana!” lapor Sigangga yang jadi teringat seratus persen.


Mendengar laporan Sigangga itu, terkejutlah Tirana. Bagaimana mungkin ada lelaki yang mencarinya? Pikirnya. Selama meninggalkan Kerajaan Sanggana, ia hanya akrab dengan calon suaminya. Bersahabat pun dengan Hujabayat, tetapi jelas ia masih di dalam perjalanan menuju kediaman gurunya setelah berpisah dengan mereka di Lembah Cekung.


Joko Tenang jadi memandang kepada Tirana. Pandanganya bertanya tanpa kata. Demikian pula dengan Getara Cinta, Kerling Sukma dan Putri Sri Rahayu, mereka juga memandang kepada Tirana. Semuanya seolah bertanya “Siapa lelaki itu?”


“Siapa lelaki itu, Sigangga?” tanya Jaga Manta lagi guna memperjelas laporan Sigangga.

__ADS_1


“Dia mengaku ayahnya Tirana,” jawab Sigangga.


“Ayah?!” ucap Tirana terkejut tetapi sumringah. Ia begitu senang. Jika benar yang datang adalah ayahnya, jelas adalah waktu yang sangat tepat, di kala ia akan menikah. (RH)


__ADS_2