Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
24. Nasib Kembang Buangi


__ADS_3

Dalam perjalanannya menuju kediaman Ki Demang Rubagaya, Joko Tenang dan Jagur menghadang keempat centeng yang menarik tubuh Kembang Buangi.


“Berhenti kalian!” seru Joko.


“Siapa dia, Jagur?” tanya seorang centeng kepada Jagur yang merupakan teman mereka berempat.


“Dia, dia orang yang mau membunuh Ki Demang,” jawab Jagur agak tergagap.


Mendelik sepasang mata keempat centeng itu. Dua orang yang memegang tangan Kembang Buangi langsung melepas pegangannya. Mereka berempat beralih mencabut beberapa pisau terbang yang mereka miliki. Mereka siap melepas pisau-pisaunya setiap saat.


“Itu temanku. Apakah masih hidup?” tanya Joko.


“Sudah mati!” jawab seorang centeng dengan nada berteriak, tegang.


“Berarti kalian harus membayar kematiannya!” tandas Joko datar.


“Tapi yang membunuhnya adalah Ki Demang, bukan kami!” seru centeng yang lain.


“Berarti kalian aku beri kesempatan untuk pergi,” kata Joko.


Keempat centeng itu saling pandang di antara mereka, ragu menentukan pilihan.


“Jika kalian mau tetap hidup, lebih baik kalian pergi dan jangan kembali kepada Ki Demang,” ujar Jagur memberi saran.


“Aak ...!” jerit tiba-tiba salah seorang centeng dengan nada tinggi dan panjang.


Mereka melihat Joko bergerak seperti hantu, tiba-tiba telah berdiri mencengkeram pergelangan tangan seorang di antara keempat centeng teman Jagur itu. Centeng yang diberi Sentuh Lebah Neraka, seketika berubah lemas dengan perasaan seluruh daging disengat panas-panas menyakitkan. Centeng itu jatuh berlutut dan pisau di tangannya terlepas jatuh.


“Lari!” teriak seorang centeng lainnya ketakutan sambil memilih langkah seribu.


Dua centeng yang lainnya jadi kebingungan. Namun kemudian, tanpa sepakat terlebih dahulu keduanya mau tidak mau memutuskan turut lari, meninggalkan teman mereka yang terus menjerit. Hingga akhirnya Joko melepas cengkeramannya. Centeng itu jatuh terkulai di tanah. Ia tidak bergerak, tapi dadanya masih naik turun bernapas dengan pandangan menatap kosong.


“Jagur, tarik tubuh wanita itu ke tempat nyaman!” perintah Joko sambil menunjuk tanah berumput pinggir jalan desa.


Sementara, tampak sejumlah warga desa berkumpul memperhatikan.


“Hei, kalian! Bubar!” teriak Joko kepada warga desa yang menonton.


Jagur lalu meraih tangan Kembang Buangi dan menariknya ke tanah berumput.


Dari jarak empat langkah, Joko memperhatikan kondisi Kembang Buangi yang matanya masih terbuka hidup. Namun, ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia sangat menderita kesakitan.


“Nisanak, apakah kau bisa menjawabku?” tanya Joko.


Kembang Buangi hanya melirik kepada Joko seraya mengerenyit sakit. Air matanya mengalir karena tak tahan menahan rasa sakit yang menyayat-nyayat.


“Pendekar, apakah hanya memandanginya saja?” tanya Jagur.


“Aku juga bingung harus berbuat apa,” jawab Joko. “Tapi aku harus memeriksa separah apa lukanya.”


Joko lalu menghitung jarak langkahnya kepada tubuh Kembang Buangi. Ia bidikkan tangan kanannya mengarah kepala si gadis. Joko mulai memejamkan mata dan bibirnya pun merapal.

__ADS_1


“Jagur anak kambing sakit panas. Jagur anak kambing sakit panas. Jagur anak kambing sakit panas,” rapal Joko.


Mendengar namanya dijadikan bacaan mantera, Jagur hanya heran kerutkan kening.


Hingga akhirnya, dengan mata terpejam Joko maju kepada tubuh Kembang Buangi dan tangan kanannya langsung ditempelkan ke dahi wanita itu. Telapak tangan Joko menyala biru. Untuk beberapa saat bertahan menempel di dahi Kembang Buangi.


Joko sedang mengerahkan ilmu Serap Luka tahap pertama yang berfungsi untuk mendeteksi separah apa luka seseorang. Dengan ilmu itu, Joko bisa menakar luka seseorang, apakah ia bisa menyembuhkan atau tidak.


“Hah!” kejut Joko Tenang saat mengetahui hasil telusur ilmunya pada tubuh Kembang Buangi.


Keterkejutannya itu membuat rapalan manteranya berhenti dan gambaran imajinasinya di dalam kepala buyar. Mata Joko yang terpejam pun jadi terbuka. Hal itu membuat Joko cepat-cepat melompat mundur menjauh dari tubuh Kembang Buangi.


Kini Joko berdiri dengan napas terengah-engah dan ada peluh yang mengalir turun dari dahinya. Berdirinya pun tidak tegak, ia membungkuk memegangi lututnya. Joko seperti orang yang sangat kelelahan.


“Ada apa, Pendekar?” tanya Jagur tidak mengerti, ikut agak panik.


“Tidak apa-apa, aku hanya terkejut,” jawab Joko.


Buyarnya imajinasi dan mantera palsunya, membuat efek negatif penyakit Joko jika berdekatan dengan wanita langsung bekerja. Namun, dengan cepat kembali menjauh dari Kembang Buangi, kondisi Joko kembali membaik.


“Racun menyebar dan menyatu di semua daging tubuhnya. Kondisi itu tidak bisa aku atasi dengan ilmu Serap Luka milikku,” kata Joko.  Lalu tanyanya kepada Jagur, “Jagur, apakah Demang yang membuat gadis ini seperti ini?”


“Sepertinya iya, Pendekar. Aku menduga, gadis ini terkena Ajian Sayat Nyawa milik Ki Demang,” jawab Jagur.


“Berarti dia memiliki obat penawar racunnya. Apakah kediaman Ki Demang sudah dekat?”


“Tinggal melalui perkebunan pisang itu, lalu jika melihat ke arah selatan, maka sudah terlihat rumah besarnya,” jawab Jagur.


“Wah! Terima kasih, Pendekar, hahaha!” ucap Jagur begitu senang mendapat bayaran yang mahal.


“Aku harus cepat mendapatkan penawar racunnya. Jangan tinggalkan gadis itu!” kata Joko.


“Baik, Pendekar!” ucap Jagur lebih semangat.


Joko Tenang lalu berkelebat pergi.


Sementara itu di depan rumah Ki Demang Rubagaya, Pengemis Maling sedang membasmi centeng-centeng Ki Demang. Tubuh Pendekar Tikus Langit disandarkan di bawah pohon untuk mempermudah Pengemis Maling dalam bertarung.


Sebagian besar centeng sudah bergelimpangan tanpa nyawa. Centeng-centeng yang masih tersisa sudah kehabisan senjata pisau terbang, membuat mereka bingung menghadapi Pengemis Maling yang mengamuk. Kondisi itu juga membuat resah Ki Demang Rubagaya.


Krak! Krak! Krak!


Kedua tangan Pengemis Maling bergerak sangat cepat meremukkan tulang leher dan tengkorak kepala para begundal Ki Demang. Pada akhirnya, tinggal dua centeng yang tersisa.


Kedua centeng tersebut melompat bersamaan menerjang Pengemis Maling dalam posisi menyamping. Pengemis Maling turut melompat menyambut.


Bakr! Bakr!


Swesst! Zrekss!


“Akh!” pekik Pengemis Maling dengan tubuh terlempar keras menghantam sebatang pohon.

__ADS_1


Pada saat Pengemis Maling mendaratkan pukulannya ke dada kedua centeng tersebut hingga remuklah dada mereka, dari sisi lain Ki Demang Rubagaya melesatkan delapan sinar biru berpijar agar tidak dapat dihindari oleh Pengemis Maling. Dan hasilnya, satu sinar menghantam lambung Pengemis Maling dan beberapa sinar lainnya menghantam tubuh dua centeng terakhir.


Lambung Pengemis Maling jebol membiru. Orang tua itu tidak dapat bangkit lagi.


Seperti itulah siasat licik Ki Demang Rubagaya. Di saat perhatian Pengemis Maling tertuju pada kedua centeng, Ki Demang melepaskan serangan maut yang tidak mungkin dihindari.


“Licik kau, Demang!” teriak Pengemis Maling seraya menahan sakit dalam sekaratnya. Luka di lambungnya begitu parah.


“Nasibmu tidak akan semujur dulu. Ilmu Taburan Mautku tidak seperti dulu. Memang sudah waktunya kau ******, Tua Bangka!” kata Ki Demang Rubagaya.


Di saat itu, sesosok tubuh berkelebat di udara dan menjejakkan kakinya di tengah-tengah halaman rumah yang sudah ramai oleh geletakan mayat-mayat centeng Ki Demang.


“Demang Rubagaya! Keluar kau!” teriak sosok pemuda bercaping yang baru sampai.


“Aku Demang Rubagaya!” jawab Ki Demang.


“Ah, kau rupanya,” kata Joko sambil menunjuk Ki Demang. Melihat keberadaan Nenek Kerdil Raga, Joko juga menunjuk wanita tua itu. “Dan kau, Nenek Kerdil! Kalian harus bertanggung jawab!”


“Aku tidak peduli siapa kau, Kisanak. Kedatanganmu ke mari hanya untuk mengantar nyawa!” kata Ki Demang.


“Joko keparat!” teriak Pengemis Maling yang keberadaannya belum dilihat oleh Joko.


Joko cepat menengok. Ia agak terkejut melihat kondisi Pengemis Maling. Buru-buru ia datang menghampiri Pengemis Maling.


“Orang tua, lukamu parah sekali, sepertinya tidak ada harapan,” kata Joko setibanya di dekat Pengemis Maling. “Seandainya kondisimu baik-baik saja, aku ingin buat perhitungan terhadapmu. Tega-teganya kau menyebarkan fitnah bahwa aku memperkosa cucumu.”


“Siapa yang memfitnamu? Bukankah kau telah menodai Ginari? Seandainya aku tidak mau mati seperti ini, ingin sekali aku menghajarmu,” kata Pengemis Maling terengah-engah.


“Ah, sudahlah. Aku maafkan. Aku harus segera menyelamatkan cucumu dari Nenek Kerdil Raga,” kata Joko.


“Ginari ada di sana,” ucap Pengemis Maling lalu dengan lemah menunjuk ke sisi jauh.


Joko segera berpaling ke arah tunjukan Pengemis Maling. Dilihatnya di bawah pohon, Pendekar Tikus Langit duduk tersandar antara sadar dan tidak.


“Tunggulah di sini, biar aku buat perhitungan kepada kedua orang itu,” kata Joko sambil bergerak bangkit.


“Joko!” kata Pengemis Maling sambil menangkap pergelangan tangan Joko. “Aku bisa mati lebih dulu sebelum aku titipkan wasiatku kepadamu.”


Joko Tenang kembali berjongkok di depan Pengemis Maling.


“Dengarkan baik-baik, Joko. Kau harus menyelamatkan cucuku Ginari. Nenek itu telah memberinya Pil Gerogot Jantung dan tidak ada obat penawarnya. Sulit....”


Pengemis Maling semakin lemah, tatapan dan suaranya mulai terputus-putus.


“Sulit menyembuhkannya. Hanya Arak Kahyangan.... Hanya itu... yang bisa mengobatinya....”


“Iya, nanti aku belikan di tukang arak,” kata Joko.


“Dan pesanku yang terakhir... harus kau... lakukan. Ginari sejak kecil... nyaris tidak... pernah bahagia. Sejak kecil... ia menjaga kesuciannya. Kaulah orang pertama... yang merenggutnya dan... melihat wajahnya. Karenanya, demi aku, demi Ginari, nikahilah Ginari.”


Mendelik Joko mendengar pesan Pengemis Maling. (RH)

__ADS_1


__ADS_2