Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Petperma 7: Kesibukan di Sanggana Kecil


__ADS_3

*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*


 


Didampingi oleh Adipati Pangeran Kubur, Putri Sagiya selaku Mantri Kesejahteraan memantau langsung pembangunan permukiman dan perkebunan di Gunung Prabu.


Sebelumnya, Pangeran Kubur dan pengikutnya memiliki satu kampung bernama Kampung Kenangan. Kampung itu diberi nama sendiri oleh Pangeran Kubur. Namun, tidak ada yang tahu alasan Pangeran Kubur memberi nama “Kenangan” pada kampung tersebut, kecuali dia sendiri.


Kampung Kenangan menampung istri-istri dan anak-anak para pendekar pengikut Pangeran Kubur. Pembagian Gunung Prabu menjadi tiga desa membuat warga Kampung Kenangan harus dipecah menjadi tiga. Dua kelompok harus pindah dan menempati dua desa lain yang diberi nama Desa Subur dan Desa Makmur. Adapun satu kelompok tetap berada di Kampung Kenangan yang berubah nama menjadi Desa Kenangan.


Desa Kenangan dipimpin oleh Kepala Desa Setan Kesurupan, Desa Subur dipimpin oleh Kepala Desa Tukang Tanam, dan Desa Makmur dipimpin oleh Kepala Desa Bala Bala. Sementara Kampung Kubur diubah menjadi kediaman tetap Adipati Pangeran Kubur.


Mahapati Turung Gali memerintahkan Senopati mengerahkan seratus prajurit, membantu warga membangun kediaman dan tempat mereka bercocok tanam. Prajurit dan warga saling bahu-membahu. Kediaman Adipati Pangeran Kubur juga diperluas dan dibaguskan.


“Adipati, kenapa namamu Pangeran Kubur?” tanya Putri Sagiya kepada Adipati Pangeran Kubur saat mereka berdua berkuda menuruni kaki gunung pergi menuju Istana.


“Untuk mengingat kenangan di masa lalu. Hamba adalah seorang buruan Kerajaan Baturaharja di masa lalu. Hamba pernah dibunuh dengan cara dikubur hidup-hidup. Namun, sebelum hamba mati, seseorang menolong hamba dengan cara mengeluarkan hamba dari dalam kubur. Hamba kemudian bersembunyi di Gunung Prabu untuk menghindari permasalahan dengan Kerajaan Baturaharja,” kisah Adipati Pangeran Kubur dengan tetap menutup identitas aslinya.


“Siapa orang yang menolongmu saat itu?” tanya Putri Sagiya.


“Ki Ageng Kunsa Pari, Gusti Putri,” jawab Adipati Pangeran Kubur.


“Oh, pantas kau bersedia dengan mudah bergabung dengan kerajaan ini,” kata Putri Sagiya.


“Gusti Putri sebagai adik Gusti Prabu Dira, tentunya tahu siapa yang membangun kerajaan ini?”


“Hihihi!” Putri Sagiya tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Lalu jawabnya, “Ini adalah pemberian ayahku kepada kakakku. Dengan bangga hati aku mengatakan, Kerajaan Sanggana milik ayahku adalah kerajaan terkuat yang pernah ada di muka bumi ini. Jika di sini ada satu orang seperti Senopati Batik Mida, maka di Kerajaan Sanggana ayahku ada seratus orang. Jika di sini ada satu orang seperti Mahapati Turung Gali, maka di kerajaanku ada seratus orang seperti Mahapati. Adipati bisa bayangkan seperti apa kuatnya Kerajaan Sanggana.”


“Lalu, kenapa Raja Sanggana tidak terlihat ketika Gusti Prabu menikah dengan Permaisuri Kusuma Dewi?” tanya Adipati Pangeran Kubur penasaran.


“Aku tidak mengerti pikiran ayahku. Aku pun baru kali bertemu dengan kakakku. Aku menduga ada tali yang putus antara ayah dan kakakku. Aku sendiri baru tahu bahwa aku memiliki seorang kakak lain ibu setelah aku dewasa. Karenanya aku datang ke sini tanpa memberi tahu Ayah. Tapi akhirnya, aku terjebak dalam urusan rumit membangun sebuah kerajaan,” kata Putri Sagiya.


Setibanya di Istana, Pangeran Kubur berpisah dengan Putri Sagiya. Putri Sagiya pergi menemui sahabatnya yang sedang berusaha mengajak Ginari berinteraksi, yakni Permaisuri Tirana.


Sementara Pangeran Kubur pergi mencari seseorang. Tidak butuh waktu lama, ia akhirnya menemukan orang yang dicarinya. Namun, ia hanya megawasi dari jarak yang jauh.


“Hihihi!” tawa Senandung Senja yang duduk bersila di punggung Gembulayu.


Gembulayu saat itu sedang berlakon sebagai seekor kerbau pembajak sawah.


Senandung Senja tertawa karena melihat Gowo Tungga yang sedang dipukul kakinya oleh Nyai Kisut dengan sebatang kayu kecil.


“Tahan pahamu dan turunkan bokongmu!” bentak Nyai Kisut sambil mengetuk bokong Gowo Tungga agar lebih turun sedikit.

__ADS_1


Nyai Kisut sedang mengajari Gowo Tungga teknik-teknik dasar ilmu beladiri. Sementara Gowo Tungga sudah mengerenyit menahan pegal pada kaki dan pahanya. Sejak tadi ia hanya disuruh berdiri seperti orang sedang duduk di kursi, tapi tanpa kursi. Katanya itu kuda-kuda, tapi bukan kuda-kudaan.


“Nyai, ini sampai kapan seperti ini terus?” tanya Gowo Tungga.


“Sampai kau tidak kuat lagi berdiri!” jawab Nyai Kisut galak.


“Adduh!” keluh Gowo Tungga sambil tiba-tiba jatuh terduduk. Ia meringis kesakitan. Meski ia hanya pura-pura jatuh, tetapi ia tidak tahu bahwa jatuh dengan bokong seperti itu ternyata sakit.


“Ayo bangun lagi!” bentak Nyai Kisut.


“Kakiku sudah tidak kuat lagi, Nyai!” keluh Gowo Tungga sambil meringis kesakitan.


“Jika kau mau menjadi pendekar, kau harus giat berlatih. Bagaimana kau bisa cepat menjadi jagoan jika berlatih berdiri saja kau cepat menyerah? Hilangkan saja kelelakianmu itu jika belajar berdiri saja kau tidak suka. Aku tidak akan melatihmu lagi jika berdiri saja kau tidak mau latihan!” omel Nyai Kisut kesal dengan kecepatan bicara yang cepat. Ia lalu berbalik pergi.


“Hihihi…!” tawa Senandung Senja berkepanjangan melihat kekesalan Nyai Kisut.


Sementara Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat yang sedang bekerja memperbarui perahu di dermaga, hanya tersenyum melihat Gowo Tungga.


Sementara itu, muncul senyum di wajah tua Adipati Pangeran Kubur melihat dan mendengar Senandung Senja yang tertawa-tawa sambil duduk santai di punggung Gembulayu.


“Ayo jalan, Ayu!” perintah Senandung Senja sambil menepuk bahu Gembulayu.


Dengan wajah yang merengut menggemaskan, Gembulayu berjalan pelan merangkak. Senandung Senja hanya tersenyum-senyum di atas lelaki gemuk itu.


“Aaa!” pekik Senandung Senja karena tubuhnya terlempar jatuh ke belakang.


“Hehehe! Aku lupa, aku harus menyiapkan kuda untuk Surya. Surya harus pergi ke Kadipaten Surosoh!” kilah Gembulayu sambil cengengesan, lalu berlari pergi meninggalkan Senandung Senja.


“Awas kau, Ayu!” teriak Senandung Senja. Ia lalu beralih kepada Gowo Tungga, “Gowo, kau jadi kerbau!”


“Tidak mau, Gusti. Aku harus memberi makan kuda di kandang!” bantah Gowo Tungga lalu buru-buru berlari menyusul Gembulayu.


“Loh, tadi katanya tidak kuat berdiri, tapi kok kuat berlari?” heran Senandung Senja.


Senandung Senja lalu bangkit dari duduknya di tanah. Ia memandang kepada ketiga bajak laut yang bekerja di atas perahu.


“Merak! Ayo kita pergi memancing!” teriak Senandung Senja, lalu pergi berlari dan berkelebat di udara. Ia mendarat di dak perahu.


Senandung Senja sebenarnya memiliki sedikit kesaktian, tetapi ia terlalu penakut jika sudah berhadapan dengan orang-orang Kerajaan Baturaharja, itu karena penyakit trauma yang dideritanya.


Setelah puas memandangi cucunya dari jauh, Pangeran Kubur lalu berbalik pergi.


Di satu sisi halaman Istana, Permaisuri Kerling Sukma sedang menyeleksi para pendekar yang mendaftar untuk Pasukan Pengawal Bunga dan Pasukan Hantu Sanggana.

__ADS_1


Para pendekar yang tergabung dalam Pasukan Pengawal Bunga harus memiliki tingkat kesaktian di atas Pasukan Hantu Sanggana. Pada kemudiannya, ada para pendekar yang terdaftar dalam Pasukan Pangawal Bunga harus dialihkan ke Pasukan Hantu Sanggana, demikian pula sebaliknya.


Sementara Permaisuri Kusuma Dewi melakukan penilaian terhadap lebih dari sepuluh pendekar wanita yang mendaftar dalam Pasukan Pedang Putri. Pasukan Pedang Putri telah memiliki pemimpin, yaitu Pendekar Kipas Hitam.


Memang terbukti, Manik Cahaya memiliki kesaktian di atas rekan-rekannya sesama pendekar dari Gunung Prabu. Bahkan Permaisuri Kusuma Dewi menilai, kesaktian Manik Cahaya bisa saja lebih unggul dari kesaktiannya jika ia tidak memiliki Cincin Mata Langit.


Di saat di luar Istana ramai acara tes kemampuan para pendekar, di dalam salah satu ruangan Istana, Permaisuri Mata Hati sedang menjadi hakim yang galak dengan ancaman hukuman mati.


“Jumlah kamar penjara yang dimiliki Kerajaan Sanggana Kecil ini tidak cukup untuk menampung kalian semua. Sebagai cara agar penjara itu bisa menampung kalian semua, maka mereka yang tidak bersedia mengabdi kepada kerajaan ini akan dihukum mati!” ujar Permaisuri Nara kepada puluhan pendekar asal Hutan Malam Abadi yang berbaris teratur dalam posisi berlutut.


Para tawanan itu, lelaki dan wanita, berlutut di depan sebuah singgasana yang posisinya lima undak tangga lebih tinggi dari lantai sidang.


Di sepanjang pinggir ruangan berdiri para prajurit. Di sisi yang lain duduk Ratu Getara Cinta menyaksikan langsung persidangan.


Mendengar ancaman hukuman mati, seketika puluhan pendekar itu jadi panik. Tidak ada pilihan lain selain mengabdi kepada Kerajaan Sanggana Kecil.


Mereka yang disidang hari ini adalah pengikut dari Penagih Nyawa yang kondisinya tidak lumpuh atau terluka.


Setelah mengucapkan janji setia, para tawanan itu lalu resmi dibebaskan dan diperintahkan untuk mendaftar sebagai prajurit atau warga biasa. Meski mereka semua adalah orang berkesaktian, tetapi ada pula yang memilih untuk menjadi warga biasa, dengan alasan ingin hidup lebih bebas.


Persidangan bagi tawanan yang lain akan dilakukan setelah mereka yang terluka atau lumpuh kondisinya sudah stabil.


Mahapati Turung Gali sendiri, hari itu sedang mengamati kerja sekelompok prajurit di Hutan Malam Abadi. Mereka sedang membuka akses jalan dari wilayah Kerajaan Walangan ke Kerajaan Sanggana Kecil agar lebih nyaman dilalui. Sebab pada hari itu juga, Adi Manukbumi dan Luring sedang menyebarkan pengumuman di tujuh desa sekitar Telaga Fatara, pengumuman tentang dibukanya pendaftaran menjadi prajurit dan tenaga pelayan di Kerajaan Sanggana Kecil.


Karena pengumuman itu memberi iming-iming upah bulanan, maka hasilnya pun luar biasa. Adi Manukbumi dan Luring langsung kebanjiran pendaftar. Lebih dari separuh warga tujuh desa mendaftarkan diri.


“Besok pagi datanglah ke Kerajaan Sanggana Kecil lewat Hutan Malam Abadi. Hutan itu sudah aman!” seru Adi Manukbumi kepada para warga yang mendaftar di setiap desa.


Sejumlah pendekar kampung yang semodel Adi Manukbumi dan Luring pun antusias untuk mendaftar, karena dalam woro-woronya, Adi Manukbumi mengumbar kehebatan-kehebatan para orang sakti di Kerajaan.


Sementara Asih Marang, hari itu resmi berangkat sebagai Utusan Kerajaan Sanggana Kecil menuju Desa Wongawet, desanya para pendekar yang memiliki ikatan emosional dengan Joko Tenang dan Tirana. Ia dikawal oleh empat pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana, dua pendekar lelaki dan dua pendekar wanita.


Iblis Takluk Arwah hari itu sudah mulai menjalani tapanya kembali di dalam sebuah ruangan. Tempat tertutup itu dibuat memiliki cela-cela yang membuat angin dari Telaga Fatara bisa berembus masuk.


Di saat pemerintah Kerajaan Sanggana dan rakyatnya dalam masa-masa menata dan membangun seperti itu, tanpa mereka ketahui, satu pasukan besar sebuah kerajaan sedang bergerak melakukan perjalanan menuju Gunung Prabu. (RH)


***********


Sekedar pemberitahuan


Author InsyaAllah konsisten untuk up. Namun jika terjadi keterlambatan up, itu berarti terjadi sesuatu. Bukan karena Author diajak duel oleh pendekar lain atau diserang kerajaan lain, tapi biasanya lebih karena ada kegiatan di dunia nyata atau karena kelelahan setelah menjalani tugas lapangan.


Harap para Readers memaklumi jika terjadi keterlambatan up. 

__ADS_1


__ADS_2