
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Mega Kencani memutuskan untuk pergi meninggalkan Grayugantang yang sedang berada di dalam Gua Darah. Yang terpenting adalah kondisinya sudah sembuh dari luka dalam akibat bertarung dengan Nini Silangucap.
Mega Kencani berkelebat naik ke atas bibir jurang dengan dua kali tolakan. Sesampainya di atas, ia segera berjalan pergi.
Blaarr!
Setelah puluhan tombak Mega Kencani meninggalkan bibir jurang, tiba-tiba ia mendengar suara ledakan yang sumbernya cukup jauh.
“Suaranya seperti dari jurang tadi,” gumam Mega Kencani. “Pasti terjadi sesuatu di gua.”
Mega Kencani cepat berbalik dan berkelebat pergi, kembali ke bibir jurang.
Setibanya di bibir jurang, buru-buru Mega Kencani menundukkan tubuhnya dan berlindung di balik sebatang pohon besar.
“Nenek Haus Darah! Keluar kau!” teriak Sobenta yang sudah berdiri di depan mulut gua bersama Robenta. Ia baru saja menghancurkan dinding mulut gua sehingga lubangnya semakin melebar.
Wuss!
Bukan jawaban yang didapat Sobenta dan Robenta, tetapi suara deruan angin berbau anyir. Kedua murid Dewi Mata Hati itu segera melompat naik ke udara membiarkan angin berbau itu menerpa ruang kosong dan tumpukan bongkahan batu di depan mulut gua.
Angin bau itu tampak tidak menimbulkan efek apa-apa, tetapi jika terkena, akan menjadi masalah karena mengandung Racun Darah.
“Kalian datang pasti untuk menuntut kematian Mayilayi, adik seperguruan kalian!” terka Nenek Haus Darah sambil melayang turun di depan gua seperti burung merpati mendarat.
“Benar!” tandas Robenta yang sudah mendarat di tanah, demikian pula dengan Sobenta.
“Kenapa kau membunuh adik seperguruan kami?” tanya Sobenta.
“Karena dia begitu menjengkelkan,” jawab Nenek Haus Darah seenaknya sambil tersenyum sinis.
“Nyawa balas nyawa!” berang Sobenta.
“Jangankan kalian dua bocah tua, Dewi Mata Hati saja takut menghadapiku. Hihihi!” kata Nenek Haus Darah sesumbar.
“Aku sumpal mulutmu dengan kematian, Haus Darah!” gusar Sobenta lalu bergerak.
Namun, tiba-tiba….
“Satu lawan satu!” teriak Grayugantang yang tiba-tiba muncul berkelebat dari belakang tubuh Nenek Haus Darah.
Grayugantang datang langsung menyerang Robenta dengan dua pedang airnya di tebaskan bersamaan.
Trak!
Meski terlihat seperti kumpulan air yang dicetak, kedua pedang Grayugantang menjadi keras saat ditangkis oleh tongkat merah Robenta.
Setelah itu, Robenta langsung mengibaskan tendangannya yang memutar, disusul oleh kibasan tongkat merahnya. Namun, Grayugantang alias Malaikat Pedang Air sanggup menghindarinya, yang kemudian balas mencecar dengan permainan pedang airnya yang jadi senjata hebat.
Sobenta, dengan kecepatan yang tinggi nyaris tidak terlihat, menyerang Nenek Haus Darah. Sebagai tokoh aliran hitam yang sakti, Nenek Haus Darah dapat melihat dengan jelas semua gerak serang Sobenta yang memainkan Tarian Penghuni Laut.
Meski demikian, tetap saja Nenek Haus Darah harus kerepotan menghadapi jurus Sobenta. Ia cukup terdesak masuk ke dalam Gua Darah.
Sreet!
Nenek Haus Darah melesatkan belasan senjata yang tidak terlihat. Namun, Sobenta bisa merasakan serangan senjata-senjata yang wujudnya adalah Jarum-Jarum Hijau beracun. Sambil melesat mundur, Sobenta melintangkan seruling panjangnya, membuat 12 Jarum-Jarum Hijau itu menancap semua di tongkat bambu itu.
Cweetts!
__ADS_1
Nenek Haus Darah langsung menyusulkan serangannya dengan ilmu Belalai Darah. Sambil melesat maju memburu Sobenta, empat sinar merah berwujud belalai melesat memanjang dari balik punggung.
Blets! Blets!
Dua belalai sinar berhasil menjerat kedua kaki Sobenta.
Tas tas!
Blar! Blar!
Seruling panjang Sobenta bersinar kuning lalu dipukulkan ke dua belalai sinar merah yang membelit kakinya, membuatnya terlepas.
Sementara tangan kiri Sobenta menghantamkan bola sinar putih berlidah api putih kepada dua belalai sinar merah lainnya, menimbulkan suara ledakan nyaring sebanyak dua kali.
Peraduan Api Putih Sobenta dengan Belalai Darah membuat Nenek Haus Darah termundur.
Wuss!
Nenek Haus Darah kembali melepas Angin Darah-nya. Gesit Pendekar Seruling Panjang menjauh dari jalur angin beracun itu.
Sress!
Ketika Sobenta masih berada di udara, Nenek Haus Darah menghentakkan sepasang lengannya dengan telapak tangan terbuka mencengkung.
Pada saat yang sama, tubuh Sobenta tertahan di udara. Darah di dalam tubuhnya seolah tersedot hendak keluar melalui pori-pori tuanya.
“Heaaat!” teriak Sobenta mengerahkan tenaga dalam tingkat tingginya untuk melawan daya sedot dari ilmu Isapan Gaib.
Wuut!
Namun, upaya Nenek Haus Darah tidak dapat lebih lama mengerahkan ilmu Hisapan Gaib-nya. Tongkat atau seruling panjang Sobenta yang bersinar kuning melesat berputar-putar menyerang Nenek Haus Darah.
Wanita berpakaian merah itu berjumpalitan ke belakang menghindari tongkat bambu Sobenta.
Cweetts!
Nenek Haus Darah kembali melesatkan Belalai Darah-nya. Seiring itu, Sobenta juga melesatkan selarik sinar kuning tanpa putus dari tusukan serulingnya.
Keempat Belalai Darah si nenek berhasil menjerat leher, kedua tangan dan satu kaki Sobenta. Pada saat yang bersamaan, sinar kuning tanpa putus dari ujung seruling mengenai tepat dada Nenek Haus Darah.
“Akkr!” jerit Sobenta sambil bertahan melawan sengatan panas pada keempat anggota tubuhnya. Kulitnya terasa terbakar. Ia harus cepat berbuat sesuatu untuk menghentikan lilitan belalai sinar itu.
“Aaa!” jerit Nenek Haus Darah pula. Ia merasakan jantungnya sakit terkena sinar kuning itu. Ia pun harus melakukan sesuatu untuk menghentikan sinar dari seruling Sobenta sebelum jantungnya berhenti berdegup.
Sess! Sreet!
Ctar! Treb!
Pada saat yang bersamaan, Sobenta melesatkan Api Putih dari tangan kirinya dan Nenek Haus Darah melesatkan sejumlah Jarum-Jarum Hijau.
Untuk selamat dari bola api putih, Nenek Haus Darah harus mengerahkan ilmu perisainya yang berupa kiblatan lapisan sinar merah di depan tubuh. Hal itu harus membuatnya menghentikan Belalai Darah-nya. Satu ledakan terjadi di depan tubuh si nenek ketika Api Putih menghantam ilmu perisainya.
Sobenta juga harus menghentikan serangan sinar kuningnya demi menangkis semua jarum si nenek dengan batang serulingnya.
Nenek Haus Darah terjengkang menabrak bongkahan batu merah, membuatnya jatuh dengan sudut bibir yang merembeskan darah kental.
Melihat kondisi Nenek Haus Darah, Sobenta cepat merangsek memburu. Namun….
Wusss!
__ADS_1
Nenek Haus Darah menghentakkan sepasang lengannya, melepaskan angin pukulan yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Angin kali ini tidak mengandung racun. Sobenta tidak bisa menghindar. Tubuhnya diterbangkan cukup jauh hingga berguling-guling sampai ke luar mulut gua.
“Kakang Sobenta!” sebut Robenta terkejut melihat kakak seperguruannya.
Pertarungan Robenta melawan Malaikat Pedang Air berlangsung lebih seimbang.
Fii uuu fuuu uuu…!
Sobenta kini memainkan ilmu pamungkasnya. Ia meniup seruling panjangnya memainkan irama merdu yang syahdu mengalun-alun. Serangan dari permainan seruling itu ternyata tidak hanya menyerang Nenek Haus Darah, tetapi juga menargetkan Grayugantang.
Dalam hitungan detik, Nenek Haus Darah dan Grayugantang terpengaruh. Keduanya merasakan kantuk yang dahsyat.
“Sial!” maki Nenek Haus Darah yang mencoba menahan pengaruh suara seruling itu. Namun, pengaruhnya begitu cepat. Ia tidak bisa melangkah karena kedua kelopak matanya lebih dulu tertutup.
Hal yang sama terjadi terhadap Grayugantang. Ia pun akhirnya berdiri dengan mata tertutup karena tidur.
Namun, sebelum Robenta melakukan sesuatu, tiba-tiba….
Zersss!
Tiba-tiba dari sisi atas belakang Sobenta dan Robenta, selarik sinar hijau yang meliuk-liuk tidak beraturan menyerang punggung Sobenta. Hanya sekejap.
Sobenta sempat terkejut, membuatnya berhenti meniup seruling. Robenta cepat melihat ke atas bibir jurang. Ia melihat sosok Mega Kencani berdiri menatap ke bawah. Tangan kanannya memegang sebuah senjata bersinar hijau.
“Pembokong busuk!” maki Robenta.
Sess! Bluar!
Robenta cepat melesatkan bola sinar Api Putih ke arah Mega Kencani. Namun, bukan Mega Kencani yang terkena, tetapi tanah bibir jurang, membuat tanah longsor cukup banyak dan tubuh Mega Kencani tidak sempat menyelamatkan diri. Ia turut terbawa jatuh ke bawah.
Fuuu!
Sobenta terkejut bukan main. Tiupan serulingnya terdengar seperti tiupan biasa tanpa ada pengaruh tenaga dalam sedikit pun. Saat itu juga, Nenek Haus Darah dan Malaikat Pedang Air telah terbangun, lepas dari pengaruh ilmu seruling Sobenta.
Suus!
Ketika dirinya telah sadar, Nenek Haus Darah langsung melesatkan satu sinar merah gelap berbentuk kerucut kepada Sobenta.
Karena terkejut dengan tiupan serulingnya yang hilang kekuatan, Sobenta tidak sempat menghindar. Terpaksa ia harus melawan dengan Api Putih.
“Hah!” kejut Sobenta, karena tidak ada sedikit pun tenaga dalam yang ia rasakan ada pada dirinya.
Baks! Bugk!
Akibatnya, sinar merah gelap Nenek Haus Darah menghantam dada Sobenta. Kakek botak itu terlempar kencang menghantam bongkahan batu besar. Ia jatuh dengan mulut langsung menyemburkan darah panas.
“Kakang Sobenta!” teriak Robenta terkejut. Ia cepat mendapati tubuh Sobenta.
“Tenaga dalam dan kesaktianku lenyap semua, Sobenta!” ucap Sobenta seraya menahan kesakitan dan memegangi dadanya. “Cepat bawa aku pergi!”
Meski Robenta tidak mengerti apa yang terjadi dengan Sobenta, tetapi tidak ada waktu untuk berpikir memikirkannya. Ia tahu-tahu melesat laksana menghilang meninggalkan dasar jurang itu. Seruling panjang Sobenta bahkan ditinggal begitu saja.
Nenek Haus Darah dan Grayugantang pun tidak sempat untuk mencegah kepergian dua murid Dewi Mata Hati itu.
“Mereka berhasil kabur!” rutuk Nenek Haus Darah geram. “Apa yang terjadi dengan Pendekar Seruling Panjang itu?”
“Entahlah,” jawab Grayugantang, karena ketika Mega Kencani menyerang dengan Pusaka Serap Sakti mereka berdua dalam kondisi tertidur.
“Kalian berdua beruntung aku selamatkan!” kata Mega Kencani, tiba-tiba muncul dari balik batu. Ia berjalan dengan kondisi tubuh kotor oleh tanah. Ia berjalan agak terpincang.
__ADS_1
Nenek Haus Darah dan Grayugantang saling pandang.
“Pendekar Seruling Panjang telah kehilangan kesaktiannya. Aku membokongnya dari atas!” ujar Mega Kencani. (RH)