
*Cincin Darah Suci*
“Yang Mulia Putri tiba!” teriak prajurit penjaga Paviliyun Hijau.
Joko Tenang dan Su Mai terkejut. Dugaan mereka adalah pasti ada hal penting sehingga sang putri datang di waktu hari yang masih terbilang sangat pagi. Padahal Joko dan Su Mai belum membersihkan diri alias mandi.
Joko Tenang dan Su Mai segera datang menyambut. Dilihatnya Putri Yuo Kai sudah begitu cantik dengan riasan jelitanya dan pakaian ungu muda yang anggun. Aroma harum tubuhnya begitu lembut, membuat orang ingin selalu dekat dengannya.
“Hormat hamba, Yang Mulia Putri,” ucap Su Mai seraya turun berlutut.
Sementara Joko Tenang menghormat sucukupnya saja.
“Bangunlah!” perintah Putri Yuo Kai yang datang dikawal oleh Bo Fei dan dua pelayan pribadinya, Mai Cui dan Yi Liun.
“Ada hal penting apa sehingga Yang Mulia Putri sudah datang sepagi ini?” tanya Joko yang kemudian di terjemahkan oleh Su Mai.
Putri Yuo Kai tidak langsung menjawab, ia justru tersenyum malu, membuat Joko Tenang justru tersenyum melihat sikap calon istrinya itu.
“Aku hanya tidak sabar, sebab aku menahan rindu tadi malam,” jawab Putri Yuo Kai.
Ingin rasanya Su Mai tersenyum mendengar hal tersebut, tetapi ia tahan dan segera menerjemahkannya untuk Joko Tenang.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang. “Tapi kau datang tidak tepat waktu. Aku belum mandi, masih bau mimpi.”
Putri Yuo Kai tersenyum ketika Su Mai menerjemahkannya.
“Pergilah mandi, aku akan menunggumu,” kata Putri Yuo Kai lembut.
Su Mai menerjemahkan.
“Apakah perlu kami layani, Tuan?” tanya Mai Cui.
Su Mai menerjemahkan. Namun, sebelum Joko Tenang menanggapi, sang putri sudah lebih dulu berkata.
“Tidak boleh. Aku akan cemburu jika kalian melakukannya,” katanya.
Mai Cui dan Yi Liun hanya tersenyum. Joko pun tersenyum mendengar terjemahan Su Mai.
Joko Tenang lalu berbalik pergi menuju ke ruang mandi.
__ADS_1
“Maaf, Yang Mulia,” ucap Su Mai.
“Ada apa, Nona Su?” tanya Putri Yuo Kai.
“Apakah aku diperkenankan untuk mandi juga?” tanya Su Mai.
“Kau ingin mandi bersama Joko?” tanya Putri Yuo Kai curiga.
“Tidak, Yang Mulia. Aku akan mandi setelah Pendekar Joko selesai,” jawab Su Mai.
“Sambil menunggu Joko selesai, aku ingin memberitahumu. Setelah kepergian Joko nanti kembali ke negerinya, aku ingin kau mengajariku bahasa itu. Setelah kami menikah, Joko akan kembali lebih dulu ke negerinya. Setelah aku menyelesaikan permasalahan negeri ini, aku akan pergi menyusulnya,” ujar Putri Yuo Kai.
“Baik, Yang Mulia,” ucap Su Mai.
“Sepertinya Pangeran Han Tsun menaruh hati kepadamu,” kata Putri Yuo Kai tiba-tiba mengalihkan topik bahasan.
Agak melebar lingkar netra Su Mai mendengar perkataan sang putri.
“Ampuni hamba, Yang Mulia!” Buru-buru Su Mai kembali berlutut. “Hamba tidak pantas mendapatkan perhatian Yang Mulia Pangeran.”
“Aku tidak mempermasalahkan jika adikku menyukaimu, daripada dia selalu pergi menggoda perempuan-perempuan yang tidak jelas di rumah hiburan,” kata Putri Yuo Kai. Lalu perintahnya, “Bangunlah!”
Su Mai kembali bangkit.
Tidak berapa lama, urusan air Joko Tenang dan Su Mai selesai. Pagi itu Putri Yuo Kai pergi mengajak Joko Tenang untuk menikmati pagi yang dingin di Taman Selatan, tempat Putri Ling Mei diculik dua hari lalu.
Hari ini Joko Tenang memakai hanfu serba putih dengan rompi merahnya tetap terpakai. Sementara Su Mai mengenakan pakaian anggun berwarna kuning.
Di pagi itu, para pejabat Negeri Jang sedang berkumpul di Istana Naga Langit. Meski bukan jadwal sidang, tetapi Kaisar Long Tsaw akan menjatuhkan titah menunjuk jenderal yang akan memimpin 60.000 pasukan ke perbatasan timur. Lima utusan khusus juga akan ditunjuk pagi ini untuk dikirim ke negeri-negeri sahabat.
“Keunggulan Taman Selatan ini dari taman-taman lain yang ada di Istana adalah kelima pohon permaisuri itu,” tunjuk Putri Yuo Kai kepada lima pohon permaisuri yang sedang berada di masa mekarnya, memberi keindahan warna ungu.
Percakapan Joko Tenang dan Putri Yuo Kai diperlancar oleh terjemahan otomatis dari Su Mai.
“Taman yang indah,” kata Joko Tenang seraya senyum selalu mekar di bibir merahnya.
Suara kicau burung menjadi musik pagi yang begitu indah dan natural. Udara pagi nan segar menjadi energi kehidupan yang nikmat, memenuhi rongga-rongga dada mereka.
Di sebuah gazebo yang besar, telah tersedia perlengkapan minum teh yang tinggal digunakan. Bahkan ada sebuah tungku kecil tempat teko berisi air teh dipanaskan.
Formasi duduk sama seperti kemarin siang di taman Istana Tua. Kursi untuk Joko agak menjauh dari meja.
__ADS_1
“Jika kau pergi menyusul Tirana dan Puspa di saat keduanya sedang menuju ke mari, aku khawatir kalian akan berselisih jalan, yang justru akan mempersulit pertemuan kalian,” ujar Putri Yuo Kai.
“Yang Mulia memang benar adanya, tetapi alangkah lamanya harus menunggu sepekan lamanya,” kata Joko.
“Kita bisa menyibukkan diri mempersiapkan pernikahan kita. Seperti kata Ayahanda kemarin, segala persiapan kita tuntaskan lebih dahulu. Jadi, saat Tirana tiba, kita tinggal langsung menikah,” kata sang putri.
“Tidak aku sangka, pernikahan pertamaku justru terjadi di sini. Padahal, aku sudah berjanji kepada Tirana dan Ginari, sepulang dari mendapatkan Permata Darah Suci, kami akan menikah di hadapan guruku di Bukit Geluguk,” tutur Joko.
Buoom!
Terkejut semua penghuni Istana Jang mendengar suara dentuman yang menggema keras dan terasa mengguncang istana luas itu.
“Ada dua orang sakti yang datang,” ucap Putri Yuo Kai dengan wajah serius.
Cuss! Cuss!
Ctar! Ctar!
Dua suar merah meroket ke angkasa lalu meledak di langit. Posisinya tepat di atas Istana Naga Langit.
“Bahaya! Ayahanda!” ucap Putri Yuo Kai terkejut.
Dum dum dum...!
Suara tabuhan genderang terdengar ramai dan menegangkan. Tabuhan genderang kali ini berbeda dari biasanya. Semua menara pengawas, baik yang ada di Istana atau yang ada di Ibu Kota luar Istana, semuanya menabung genderang yang menyatakan situasi sangat gawat.
“Istana diserang!”
Itulah bunyi pesan yang disiarkan oleh semua menara pengawas.
Kepanikan seketika melanda seluruh Pasukan Naga Hitam yang ada di dalam lingkungan Istana dan Pasukan Naga Merah yang ada di seluruh sudut Ibu Kota.
Seluruh anggota keluarga Kaisar langsung dikurung oleh keamanan yang ketat, meski ancaman itu baru terdengar, belum terlihat. Keresahan tampak pada wajah-wajah Permaisuri dan kedua selir.
Pasukan Pengawal Kaisar di bawah pimpinan Jenderal Bo Yung segera memagari Kaisar Long Tsaw hingga tiga lapis.
Para pejabat tinggi yang sudah berkumpul di dalam ruang sidang terlihat panik dan bingung, penuh pertanyaan. Suara dentuman itu terasa begitu dekat dan guncangannya lebih terasa. Ditambah terdengar suara ramai pergerakan pasukan di luar ruang sidang.
Kaisar Long Tsaw segera menuju ke luar yang kemudian diikuti oleh para pejabatnya. Mereka ingin melihat apa yang telah terjadi.
“Yang Mulia, ada penyusup berhasil masuk ke Istana!” kata Jenderal Bo Yung berdasarkan bunyi pesan yang disampaikan menara pengawas.
__ADS_1
“Apa ini?!” ucap Kaisar Long Tsaw terkejut, saat tiba di luar. Posisinya tetap dalam kurungan puluhan prajurit yang menjelma menjadi perisai hidup.
Para pejabat pun terkejut melihat arena di depan sana. Satu kondisi yang jelas-jelas mengancam langsung kekaisaran Negeri Jang. (RH)