Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Petperma 4: Genderang Perang untuk Jang


__ADS_3

*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*


Chang Chi Men pelan-pelan mengenakan hanfu ungu muda yang disediakan di kamar mewah itu. Luka sayatan panjang di punggungnya masih terasa sakit, setelah sepekan dirinya menjalani masa pengobatan di Istana Haram, istana keputrian yang baru saja selesai direnovasi, setelah hancur oleh hantaman Joko Tenang yang jatuh dari langit.


Setelah selesai, ia keluar dari balik tabir. Pelan-pelan ia melangkah ke pintu kamar. Ketika di pintu, ia mendengar dua suara perempuan yang berdialog menggunakan bahasa asing. Wanita separuh baya itu tidak mengerti percakapan yang ia dengar. Sumber suara percakapan itu tidak jauh dari kamar yang Chi Men tempati.


Ditilik dari suaranya, itu adalah suara Putri Yuo Kai dan Su Mai.


“Informasi dari Jaringan Ular Tanah menyebutkan bahwa Sekte Bulan Hijau tidak pernah masuk ke ibu kota He, Yang Mulia. Hal itu dilakukan karena mereka melakukan sejumlah pelanggaran hukum,” kata Su Mai dalam bahasa Tanah Jawi.


“Kau kirim pesan kepada Ular Buta untuk terus mengawasi pergerakan Sekte Bulan Hijau di kota-kota luar Ibu Kota!” perintah Putri Yuo Kai juga dengan bahasa Tanah Jawi yang sudah lancar.


“Baik, Yang Mulia,” ucap Su Mai patuh.


Waktu sebulan telah berlalu. Waktu selama itu ternyata cukup bagi Putri Yuo Kai untuk menjalani kursus kilat bahasa Tanah Jawi hingga tingkat lancar, meski masih terdengar aksen yang canggung. Untuk memperlancar dan memfasihkan, Putri Yuo Kai selalu menggunakan bahasa Tanah Jawi jika berbicara dengan Su Mai.


“Bagaimana kondisimu, Nyonya Chi Men?” tanya Putri Yuo Kai dalam bahasa Mandarin.


Chi Men yang sedang menguping pembicaraan sang putri, jadi terkejut dan agak gelagapan. Seiring itu, langkah Putri Yuo Kai sedang menuju ke arahnya, ke arah pintu kamar.


“Hamba tidak layak hidup, Yang Mulia. Hamba tidak pantas menerima kebaikan Yang Mulia Putri!” ucap Chi Men sambil turun bersujud di ambang pintu menghadap ke arah kedatangan Putri Yuo Kai dan Su Mai.


“Aku bertanya kondisimu, tapi kau justru bersujud ketakutan seperti itu,” keluh Putri Yuo Kai dengan wajah dinginnya. Ia sudah berhenti di depan Chi Men. “Ingat, kau adalah seorang pendekar ternama dengan gelar yang menakutkan.”


“Aku adalah seorang pembenci pemerintahan Jang, tetapi Yang Mulia Putri justru menyelamatkanku dari Sekte Bulan Hijau,” ucap Chi Men masih bersujud.


“Jika kau pembenci pemerintahan Jang, maka kini di hadapanmu ada orang nomor dua di pemerintahan Jang. Kau bisa menyerangku dengan kebencianmu itu,” kata Putri Yuo Kai.


“Tidak akan. Meski aku benci pemerintahan Jang, tapi aku tidak pernah menyerang para prajurit atau pejabatnya,” ucap Chi Men.


“Bangkitlah!” perintah Putri Yuo Kai.


Chi Men pun patuh, ia bangkit dan berdiri menunduk.


“Sejak beberapa hari yang lalu sudah aku katakan, aku hanya ingin menolongmu. Setelah kau sembuh, kau boleh pergi!” tandas Putri Yuo Kai.


“Tidak!” sebut Chi Men sambil kembali menjatuhkan tubuhnya berlutut lalu bersujud. “Izinkan aku, Chang Chi Men, mengabdi kepada Yang Mulia Putri!”

__ADS_1


“Aku tidak menerima permintaanmu!” tandas Putri Yuo Kai.


Dum dum dum…!


Tiba-tiba terdengar suara tabuhan genderang serentak dari seluruh menara pengawas di Ibu Kota dan Istana. Tidak hanya itu, genderang di atas benteng-benteng Ibu Kota juga ditabuh, termasuk genderang yang ada di luar aula persidangan.


Tabuhan genderang yang serentak itu mengejutkan semua penghuni Istana Kerajaan Jang dan Ibu Kota. Itu adalah genderang yang memberi tahu bahwa Ibu Kota sedang diserang.


“Yang Mulia Putri!” sebut Bo Fei yang tiba di tempat itu setelah berlari cukup panik.


Kemudian muncul pula dua pelayan pribadi Putri Yuo Kai dengan wajah tegang, yaitu Mai Cui dan Yi Liun.


“Chi Men! Ikut aku!” perintah Putri Yuo Kai kepada wanita yang masih bersujud itu.


Chang Chi Men segera bangkit dan bergegas mengikuti Putri Yuo Kai yang sudah melangkah cepat bersama iringan Bo Fei, Su Mai dan kedua pelayannya.


Putri Yuo Kai berjalan keluar melewati ruang depan utama, tempat beradanya sepuluh wanita cantik-cantik berpakaian serba merah. Mereka adalah Pengawal Angsa Merah yang kini berjumlah sepuluh orang, karena dua di antaranya telah tewas sebulan yang lalu.


Tanpa diperintah, Pengawal Angsa Merah segera mengikuti di belakang. Suara tabuhan genderang besar-besaran itu jelas menunjukkan situasi yang gawat.


Tempat yang langsung dituju oleh Putri Yuo Kai adalah di mana Kaisar Negeri Jang berada. Tidak perlu kereta kuda lagi, Putri Yuo Kai memilih langsung berkelebat di udara melompati tembok dan berlari di atap-atap bangunan dalam lingkungan Istana.


Ketika mereka meninggalkan istana keputrian, mereka melihat rombongan-rombongan prajurit keamanan Istana berlarian teratur menuju pos yang harus mereka tempati.


Tabuhan genderang masih terdengar berkesinambungan.


“Cepaaat! Cepaaat! Musuh sudah datang!” teriak seorang komandan prajurit meneriaki pasukannya.


Hampir di setiap sudut lingkungan Istana terlihat pergerakan pasukan yang kemudian memagari tempat-tempat penting. Mereka melindungi tempat-tempat yang telah menjadi tanggung jawab mereka untuk dijaga, termasuk ruang baca pribadi Kaisar Tutsi Long Tsaw.


Seorang prajurit pembawa pesan memacu kencang kudanya menuju ke ruang baca, tempat Kaisar Tsaw banyak menghabiskan waktu. Jalan-jalan lingkungan Istana yang kecil tidak membuat pembawa pesan memelankan lari kudanya. Kuda pembawa pesan darurat memiliki izin khusus mengendarai kuda di lingkungan Istana, bahkan diizinkan sampai ke depan tangga aula sidang.


“Pesan darurat!” teriak prajurit pembawa pesan sambil jatuh berlutut di depan barisan Pasukan Pengawal Kaisar yang memagari depan ruang baca.


“Sampaikan!” perintah Kaisar Long Tsaw. Ia berada dalam pengawalan Kepala Pengawal Kaisar Jenderal Bo Yung dan sepuluh pengawal utama.


“Musuh datang dari atas!” teriak prajurit pembawa pesan.

__ADS_1


“Apa?!” kejut Kaisar Long Tsaw bingung.


Demikian pula dengan Jenderal Bo Yung dan seluruh prajurit yang mendengar laporan. Mereka tidak bisa menggambarkan hal yang dimaksud “musuh datang dari atas” itu.


Dudum dudum dudum…!


Tiba-tiba suara tabuhan genderang berubah irama pukulnya. Pada saat itu, terjadi pergerakan di atas benteng Ibu Kota dan benteng Istana.


“Pasukan panah, bersiaaap!” teriak komandan prajurit panah.


Ratusan prajurit panah yang sudah ada di atas benteng Ibu Kota segera menarik busur-busur panah. Mereka mengarahkannya ke langit. Tindakan yang sama juga dilakukan oleh para pasukan panah di atas benteng Istana, mereka semua menatap ke langit jauh.


Tidak hanya seluruh penghuni Istana yang diliputi ketegangan, warga Ibu Kota juga dilanda kepanikan. Mereka hanya tahu bahwa musuh datang menyerang, tanpa tahu siapa yang menyerang ibu kota He tiba-tiba.


Aktivitas Ibu Kota yang ramai sebagai pusat perekonomian yang sangat sibuk, mendadak menjadi kocar-kacir dalam ketidakjelasan. Pada akhirnya, sebagian besar memilih masuk ke dalam rumah masing-masing untuk berlindung. Di jalan-jalan, ribuan pasukan bergerak teratur tapi terburu-buru.


Prajurit pesan yang ada di semua menara pengawas sibuk melaporkan perkembangan demi perkembangan.


“Lapooor! Ibu Kota diserang siluman terbang, Yang Mulia Kaisar!” lapor prajurit pembawa pesan terbaru.


“Hah!” kejut Kaisar Long Tsaw lagi. Ia tidak bisa mengomentari. Ia bingung. “Apa-apaan ini? Selama Negeri Jang berdiri, tidak pernah ada yang namanya siluman menyerang!”


Barisan Pasukan Pengawal Kaisar bergerak bergeser membuka jalan bagi Putri Yuo Kai dan rombongannya. Sang putri berjalan memasuki ruang baca Kaisar.


“Hormat hamba, Yang Mulia Kaisar!” ucap Putri Yuo Kai sambil sedikit merendahkan tubuhnya.


Sedangkan Bo Fei, Su Mai, dan Chi Men berlutut menghormat. Sepuluh Pengawal Angsa Merah tidak ikut masuk.


“Horma hamba, Yang Mulia!” ucap mereka serentak.


“Bangunlah!” perintah Kaisar Long Tsaw.


“Ayahanda, siapa yang menyerang?” tanya Putri Yuo Kai.


“Aku tidak tahu. Sejak tadi laporan prajurit tidak jelas. Ada musuh menyerang dari langit. Kemudian laporan barusan menyebutkan Ibu Kota diserang siluman terbang!” keluh sang kaisar dengan dahi berkerut tajam. Wajahnya yang menegang menunjukkan kekesalan.


“Bo Fei, cepat kau naik ke menara pengawas di Istana. lihat apa yang ada di langit!” perintah Putri Yuo Kai.

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia!” ucap Bo Fei patuh.


Bo Fei segera membungkuk menghormat sambil berjalan mundur. Setelahnya ia berbalik dan segera berkelebat pergi menuju menara pengawas yang ada di Istana. (RH)


__ADS_2