
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Tiga kuda yang ditunggangi oleh Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi, berlari cepat. Mereka sudah jauh meninggalkan Jalan Lubang Cahaya dan Desa Wongawet. Mereka harus berlomba dengan waktu.
Setiap mereka menjumpai seseorang, Joko memutuskan untuk bertanya tentang pasukan Kelompok Pedang Angin. Ternyata arah pengejaran mereka benar. Petunjuk dari satu orang dengan orang lainnya saling tersambung.
Pada tengah hari, mereka memutuskan untuk beristirahat, termasuk memberi makan dan minum kepada kuda tunggangan mereka.
“Di mana Puspa?” tanya Kembang Buangi kepada Tirana, di sela-sela istirahatnya.
“Melompat dari atas rajawali ketika sampai di Rimba Berbatu. Setelah itu, kami tidak bertemu dengannya lagi,” jawab Tirana.
“Kalian menggunakan rajawali bernama Gimba itu? Bukan dengan ilmu Gerbang Tanpa Batas?” tanya Kembang Buangi yang baru tahu.
“Permata Darah Suci yang kami cari membuat pemiliknya menjadi sakti luar biasa. Kami bertiga tidak sanggup melawannya. Kami hampir mati semua. Namun beruntung, sebelum Kakang Joko mati, Permata Darah Suci milik Ratu Getara yang ada di dalam tubuh Kakang memberi kekuatan yang luar biasa. Luka parah Puspa tidak bisa langsung sembuh, jadi dia tidak bisa menggunakan ilmunya, terpaksa kami terbang bersama Gimba yang memakan waktu beberapa hari. Mungkin, jika Puspa bisa menggunakan ilmunya hari itu, kami masih sempat tiba ke Tabir Angin sebelum serangan itu terjadi,” tutur Tirana.
“Sebenarnya, jika Ratu tidak disandera saat itu, mungkin kami masih bisa melawan. Orang yang paling berbahaya adalah perwira Kerajaan Tarumasaga,” kata Kembang Buangi, geram. “Pembantaian yang mereka lakukan harus dibayar setimpal.”
“Seperti apa kehebatan para prajurit Kelompok Pedang Angin itu?”
“Mereka hanya menggunakan satu jurus, tetapi tingkatannya memang di atas kemampuan para prajurit Tabir Angin. Ketika prajurit Pedang Angin memainkan jurus pedangnya, semua prajurit di sekitar mereka langsung terpotong-potong oleh angin dari jurus itu,” kata Kembang Buangi yang menjadi saksi langsung dari kengerian pasukan pedang Kelompok Pedang Angin.
“Ada satu hal penting yang belum aku beri tahu kepadamu.”
“Apa?” tanya Kembang Buangi cepat.
“Kakang Joko sudah menikah.”
“Denganmu?”
“Bukan. Dengan Putri Negeri Jang. Orangnya cantik dan sakti.”
“Hah! Lalu di mana dia?”
“Kami tinggalkan di negerinya.”
“Joko menikah, lalu belah durian, kemudian istrinya ditinggal?”
Tirana tertawa mendengar istilah “belah durian”.
“Dengan penyakit yang Kakang Joko miliki, apakah kau pikir dia bisa melakukannya?”
Tertawalah kedua gadis cantik itu.
“Aku mendengar apa yang kalian bicarakan,” kata Joko yang datang mendekati mereka dalam jarak terbatas.
Kedua gadis itu bukannya terdiam, tetapi justru tertawa ramai.
“Kita lanjutkan perjalanan!” kata Joko.
“Ayo!” sahut Kembang Buangi sambil bangkit berdiri.
__ADS_1
Tirana hanya tersenyum manis kepada calon suaminya.
“Setelah masalah ini selesai, sebaiknya kita langsung pulang ke kediaman Ki Ageng Kunsa Pari, Kakang,” kata Tirana.
“Kau ingin segera menikah?” tanya Joko tanpa senyuman.
“Aku tergugah melihat betapa bersemangatnya warga Desa Wongawet ingin menikah,” kata Tirana lalu tertawa rendah.
Joko Tenang menaiki kudanya yang masih merumput. Tirana dan Kembang Buangi mengikuti.
“Heah!” gebah Joko Tenang.
Tirana dan Kembang Buangi juga menggebah kudanya. Ketiga pendekar itu kembali berpacu cepat, meninggalkan gulungan debu di belakang.
Padang ilalang mereka terabas, sungai diseberangi, bukit didaki, hutan ditembus dan lembah mereka lewati.
Setelah jauh mereka berkuda, tiba-tiba Joko Tenang menghentikan lari kudanya. Tirana dan Kembang Buangi juga menghentikan lari kudanya.
Tirana segera mengerti maksud Joko Tenang berhenti, sebab ia melihat keberadaan seorang wanita berjubah merah gelap sedang mendongak di bawah pohon rambutan. Pohon itu tumbuh nyaman di area berumput setinggi pinggang. Melihat penampilan wanita berambut panjang terurai bebas itu, bisa dipastikan bahwa ia adalah orang persilatan.
Tanpa diperintah, Tirana segera melompat dan berkelebat dari atas punggung kudanya. Ia mendarat dengan ringan, tidak jauh di sisi wanita itu.
Kehadiran Tirana membuat wanita berkulit kencang itu beralih menengok kepadanya. Maka tampak jelaslah kematangan wajahnya, seperti wanita yang sudah berkepala empat. Namun, wajahnya tidak menunjukkan adanya kerutan.
“Maaf, Nisanak,” tegur Tirana.
“Hmm, ada apa?” tanya wanita berjubah itu tanpa senyum.
“Oh, mereka. Aku melihatnya kemarin, menuju ke arah barat,” jawab wanita berjubah, dingin tanpa tersenyum sedikit pun. Wanita itu merubah arah menghadapnya kepada Tirana. Maka terlihatlah ada sebuah kipas berlipat berwarna merah terang terselip di sabuk putihnya. “Jika mencari mereka, langsung saja datang ke Hambur Angin.”
“Hambur Angin?” ucap ulang Tirana.
“Perkampungan tempat Kelompok Pedang Angin berpusat,” tandas wanita itu. “Hei, Gadis Cantik, siapa namamu?”
“Tirana.”
“Lalu pemuda berompi merah itu?”
“Itu calon suamiku, Nisanak. Namanya Joko Tenang. Oh ya, kau pasti orang persilatan. Boleh aku tahu siapa Nisanak adanya?”
“Minati Sekar Arum,” jawab wanita berjubah itu, tanpa senyum sedikit pun. Setelah itu ia kembali mendongak melihat kumpulan buah rambutan di atas pohon. Tampak sebagian buah memang sudah berwarna merah dan kuning.
“Terima kasih atas petunjukmu, Minati,” ucap Tirana. “Aku pamit diri.”
Minati Sekar Arum hanya mengangguk tanpa menoleh lagi.
“Ke barat, Kakang,” kata Tirana kepada Joko setibanya di dekat kuda. “Dia menyarankan agar kita langsung mencari Hambur Angin, kampung tempat Kelompok Pedang Angin berpusat.”
“Ayo!” seru Joko.
Tirana segera menaiki kembali kudanya. Ketiganya kembali berlari bersama tunggangannya.
__ADS_1
Setelah jauh meninggalkan tempat tadi, mereka melewati dua orang yang sedang berjalan di pinggir jalan. Kedua orang itu adalah seorang wanita berjubat merah gelap dan seorang lelaki tua kurus berjubah hijau gelap.
“Kakang, berhenti!” teriak Tirana yang kudanya berlari di belakang kuda Joko.
Teriakan itu membuat Joko mengerem mendadak laju kudanya, sehingga kedua kaki kuda terangkat tinggi. Tirana pun berhenti dan mendekati kuda kekasihnya itu. Kembang Buangi juga mendekat.
“Ada apa?” tanya Joko.
“Kedua orang tadi mencurigakan,” kata Tirana.
Mereka pun menengok ke belakang, melihat punggung kedua orang berjubah merah gelap dan hijau gelap.
“Apa yang kau lihat, Tirana?” tanya Joko.
“Wanita berjubah merah itu seperti wanita di bawah pohon rambutan tadi,” ujar Tirana.
“Abaikan,” kata Joko.
“Baik, Kakang.”
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan, mengabaikan dua orang berjubah yang mereka lewati tadi.
Namun, setelah cukup jauh berkuda meninggalkan titik tadi, satu keadaan membuat Joko menghentikan lari kudanya, diikuti oleh Tirana dan Kembang Buangi.
“Hahahak!” tawa seorang lelaki bertubuh besar lagi gemuk penuh lemak. Lelaki berwajah bulat dan berjenggot putih itu mengenakan jubah putih besar yang menyesuaikan tubuhnya. Ia tertawa hingga tubuhnya terguncang-guncang di atas bangkai pohon besar.
Orang itu tidak sendirian asik makan buah rambutan yang banyak, tetapi ia ditemani oleh wanita berjubah merah gelap dan lelaki tua kurus berjubah hijau gelap.
“Wanita dan orang tua itu lagi,” kata Tirana, heran.
“Sepertinya ketiga orang itu punya maksud kepada kita,” kata Joko.
“Kita datangi saja, Kakang,” kata Kembang Buangi.
Joko Tenang lebih dulu mendekatkan kudanya ke dekat ketiga orang yang sedang berkumpul asik makan rambutan itu.
“Maaf, Kisanak, Nisanak!” sapa Joko Tenang, tanpa turun dari punggung kuda.
Mereka semua sontak berpaling dari kesibukannya dan memandang kepada Joko Tenang dan kedua wanitanya.
Setelah melihat Joko yang tampannya seawan, orang tua gendut tiba-tiba tertawa terbahak hingga sepasang matanya terpejam.
“Hahahak!”
Lelaki tua kurus juga ikut tertawa. Sementara wanita berjubah merah yang tidak lain adalah Minati Sekar Arum, hanya tersenyum irit.
Lelaki gemuk melambungkan sebutir buah rambutan merah kepada Joko Tenang.
Baks!
Bersamaan Joko Tenang menimang buah rambutan itu, tahu-tahu satu hantaman keras tak berwujud bersarang di dada Joko. Pemuda itu terlempar keras dari atas punggung kudanya dan jatuh terjengkang di tengah jalan.
__ADS_1
“Hahahak!” tawa orang tua gemuk. (RH)